
Keesokan harinya
Sudah seharian ini ia berada di lapangan untuk melakukan rajia masker kembali bersama para Polisi, kegiatan hari ini memang merupakan kegiatan gabungan antara Satpol PP & Polisi, dengan atribut lengkap serta tak lupa memakai masker Pelangi telah berdiri di sebelah Doni.
Terik matahari masih panas-panasnya membakar Bumi, peluh keringat mengalir dibalik pakaian yang ia kenakan, sudah berjam-jam Pelangi berdiri bersama rekan kerja lainnya, tak sedikit pengendara roda dua maupun roda empat yang masih tetap melanggar protokol kesehatan dengan tak memakai masker bahkan banyak juga pejalan kaki yang terdata tak menggunakan masker saat berjalan keluar rumah sekarang.
Pelangi agak berteduh dibalik tubuh Doni, sambil agak menunduk & menutup matanya dengan tangannya karena silaunya matahari. Tinggal beberapa menit lagi kegiatannya hari ini akan segera berakhir.
Dari seberang jalan didalam mobilnya Zarow sedari tadi memperhatikan Pelangi yang nampak sudah mulai kelelahan, terlihat gadis Satpol tersebut agak berteduh di balik tubuh teman pria disebelahnya.
" pak " panggil Zarow
" iya tuan muda " jawab pak Handoko
Zarow terus memperhatikan pria disebelah Pelangi, terlihat jika Pelangi nampak akrab dengan pria tersebut sambil sedikit mengerutkan keningnya.
" siapa laki-laki disebelah Pelangi pak?, apa bapak tau siapa dia? " tanya Zarow yang sudah sangat penasaran.
Pak Handoko melihat kearah tuan mudanya dari arah kaca spion diatasnya merasa tuannya bertanya kepadanya.
" maaf tuan sepertinya laki-laki itu yang namanya Doni tuan muda " jawab pak Handoko menebak.
Pak Handoko sebenarnya juga tak kenal dengan pria yang memakai seragam Satpol yang berdiri di sebelah Pelangi. Sedari tadi pak Handoko cukup penasaran mengapa tuan mudanya memintanya untuk menepikan mobilnya & mengawasi Pelangi dari dalam mobil saat ini, bahkan tuan mudanya tak mengedipkan matanya melihat kearah Pelangi.
" apa mungkin selera tuan muda Zarow sudah berubah " dalam hati pak Handoko berbicara sambil menggelengkan kepalanya.
Melihat keunikan gadis bernama Pelangi tersebut Zarow tak ingin melepaskan Pelangi, ia ingin segera menyunting Pelangi untuk menjadi istrinya, ia ingin mengetahui bagaiman bisa gadis seperti Pelangi tak pernah memandang seseorang dari segi materinya.
Pelangi menoleh kearah mobil hitam yang sedari tadi sudah terparkir cukup lama di tepi jalan diseberang jalan, agak aneh baginya karena saat mobil tersebut menepi beberapa jam yang lalu tak ada satu orang pun yang keluar dari sana. Karena kaca mobil tersebut warnanya juga hitam Pelangi tak bisa melihat apakah ada seseorang didalam mobil tersebut atau tidak.
" kenapa lo Ngi? " Doni heran melihat Pelangi yang terus-terusan menyipitkan matanya.
" gak papa, ini cuman agak silau aja " kilah Pelangi.
Merasa tak percaya Doni terus menatap Pelangi sambil menyipitkan sedikit matanya, melihat tingkah Pelangi tak mungkin jika Pelangi tak sedang memikirkan apa-apa.
" gak percaya ya udah, lagian emang benerkan silau " Pelangi masih berusaha berbohong
Doni hanya menggaruk-garuk kepalanya, sebenarnya memang benar jika saat ini matahari begitu menyilaukan.
" iya juga sih " kata Doni tersenyum.
Pelangi ikut membalas senyum Doni yang sudah percaya dengan kata-katanya, tak ingin Doni bertanya lagi Pelangi tak memperhatikan mobil tersebut lagi.
" lo kalo capek neduh aja sana " Doni yang melihat Pelangi yang sepertinya sudah sangat kelelahan menyuruhnya untuk berteduh & beristirahat.
Doni mengingat kalau sudah dua malam ini Pelangi menginap di rumah sakit untuk menunggui ayahnya sehingga saat ini pasti Pelangi sedang kekurangan tenaga karena ia juga pasti tak mendapatkan istirahat yang cukup.
" enggak ah gak enak sama yang lain, bentar lagi juga kita balik " Pelangi memang suka tak enakan dengan yang lainnya.
" masih kuat lo? " tanya Doni tak yakin melihat Pelangi.
" kuat lah, gue sehat kali "
Meskipun sebenarnya ia juga lelah tetapi ia tak bisa seenaknya saja meninggalkan yang lainnya untuk berteduh & beristirahat sendiri sedangkan rekan lainnya masih terus berdiri dijalan.
*********
Di rumah sakit
Keadaan pak Abdullah saat ini sudah lumayan membaik, ia sudah mulai bisa menggerakan sedikit demi sedikit kakinya untuk bergeser, meskipun agak terasa keram kakinya saat ini ia tetap harus terus berusaha menggerak-gerakkan kakinya agar kakinya tak seberapa kaku.
Sudah dua malam istri & anaknya ikut menemaninya bermalam di rumah sakit, kata Dokter jika besok keadaannya semakin membaik dirinya bisa langsung pulang kerumahnya & hanya perlu rawat jalan saja untuk memeriksa lukanya sampai jahitan dikakinya bisa dilepas benang-benangnya.
__ADS_1
" bu bisa ambilkan ayah minum? " pak Abdullah meminta bantuan kepada istrinya untuk mengambilkannya minum.
Bu Melati menoleh kearah suaminya yang meminta tolong kepadanya untuk mengambilkan minum, ia kemudian berjalan untuk mengambilkan segelas air putih untuk suaminya. Bu Melati bersyukur keadaan suaminya saat ini berangsur membaik bahkan luka-luka kecil ditubuh suaminya sudah agak mengering sekarang.
" ini yah " kata Bu Melati menyerahkan segelas air putih kepada suaminya.
Pak Abdullah menerima segelas air putih yang diberikan istrinya, setelah ia habiskan air didalam gelasnya ia memberikan gelas yang telah kosong itu kepada istrinya kembali.
" kalo butuh apa-apa panggil aja ibu ya yah " kata Bu Melati sambil tersenyum.
" maaf ya bu ayah sudah ngerepotin ibu sama Pelangi " pak Abdullah merasa bersalah kepada istri & anaknya.
Selama dua hari berada di rumah sakit istri serta anaknya nampak kurang beristirahat karena harus mondar-mandir hanya untuk mengurusi dirinya karena hal itulah pak Abdullah merasa agak bersalah karena merepotkan istri & anaknya.
" masya allah, kenapa ayah minta maaf sih, kan sudah kewajiban ibu sama Pelangi buat rawat ayah kalo ayah sakit kaya gini " jawab Bu Melati, " ayah mending istirahat aja sekarang ya, gak usah mikir yang macem-macem biar ayah cepat pulih " kata Bu Melati lagi.
Pak Abdullah hanya tersenyum & menganggukan kepalanya, ia sangat bersyukur karena memiliki istri & seorang anak yang baik.
tok...tok....
" Assalamuallaikum "
" waallaikumsalam "
Pak Abdullah & bu Melati menoleh kearah pintu, disana sudah ada tuan Yonso & nyonya Arini masuk & berjalan menuju arah mereka sambil tersenyum.
Sore ini tuan Yonso sengaja datang berkunjung kerumah sakit bersama nyonya Arini untuk mengunjungi pak Abdullah. Selain ingin melihat bagaimana keadaan pak Abdullah sore ini tuan Yonso juga akan menuturkan niatnya untuk mempersunting Pelangi untuk Zarow putra sulungnya sesuai permintaan Zarow kemarin malam.
" mari pak, bu silahkan duduk " bu Melati mempersilahkan tuan Yonso & nyonya Arini untuk duduk.
Nyonya Arini & tuan Yonso lalu duduk di kursi yang kebetulan berada di kamar pak Abdullah, nyonya Arini tersenyum melihat kearah pak Abdullah yang sepertinya kondisinya semakin membaik.
" gimana pak keadaannya? " tanya nyonya Arini.
" syukurlah kalau begitu pak, oh iya pak maaf saya baru bisa menjenguk bapak hari ini " kata Pak Yonso.
Setelah insiden kecelakaan tempo hari baru hari ini lagi ia mengunjungi pak Abdullah kembali, memang dilihat saat ini keadaan pak Abdullah sudah lebih baik dari sebelumnya.
" tidak apa-apa pak, saya justru merasa gak enak soalnya pak Yonso sudah repot-repot menjenguk saya "
Seperti kabar yang beredar ternyata tuan Yonso memang lah seseorang yang sangat perduli dengan karyawan yang bekerja di perusahaan miliknya, dijenguk oleh bos besarnya pak Abdullah merasa sangat terhormat mengingat posisinya di perusahaan milik pak Yonso tak seberapa tinggi hanya sebagai seorang driver biasa.
" ngomong-ngomong Pelangi jam berapa ya pulang dari kantor pak? " kata tuan Yonso.
Tanpa berbasa-basi tuan Yonso akan mengungkapkan maksud & tujuannya datang menemui pak Abdullah selain ingin menjenguk pak Abdullah.
" biasanya sih Pelangi pulangnya jam empat pak, kalo agak lambat berati masih ada tugasnya di kantornya, ya namanya juga Satpol pak, Pelangi tuh tergabung jadi pasukan Dalmas pak, tugasnya kebanyakan keluar kantor gak didalam kantor " kata pak Abdullah
Tuan Yonso hanya menganggukan kepalanya mengerti tanpa mengatakan apa-apa, sebenarnya pekerjaan Pelangi pasti memiliki banyak kendala diluar sana, bukan hanya kecaman bahkan hinaan & perlakuan tidak baik pasti pernah ia alami, meskipun semua kegiatan yang dilakukan Pelangi diluar sana pastinya sudah atas perintah atasannya tetapi tetap saja profesi sebagai Satpol PP banyak yang membenci karena dianggap sebelah mata oleh masyarakat seolah-olah mereka adalah yang paling buruk.
" termaksud kuat Pelangi pak jadi Satpol, apa lagi setau saya kalo yang tugasnya diluar itu pasti berat banget " kata tuan Yonso.
" ya begitulah pak, tapi mau gimana lagi, apa lagi di jaman yang susah cari kerjaan kaya gini " jawab pak Abdullah.
Nyonya Arini menyenggol tuan Yonso untuk mengingatkan tentang niatnya datang kemari selain menjenguk pak Abdullah, ia ingin segera tau bagaimana pendapat pak Abdullah dengan niat baik mereka saat ini yang ingin mempersunting Pelangi untuk putra sulung mereka.
Tuan Yonso menengok kearah nyonya Arini yang seolah sedang mengode dirinya agar segera mengatakan niat kedatangan mereka saat ini. Sebenarnya pak Yonso sengaja mengulur waktunya agar bisa secara langsung menanyakan kepada Pelangi apakah ia mau menerima pinangan tersebut atau tidak.
" begini pak, bu sebenarnya ada niat lain kedatangan saya & istri saya kali ini selain menjenguk bapak " tuan Yonso akan mulai membicarakan niat utama mereka kepada pak Abdullah.
Pak Abdullah hanya diam menyimak sambil melihat kearah istrinya, sebenarnya dirinya mulai penasaran dengan kata-kata tuan Yonso.
" jadi begini pak Abdulah & ibu Melati, saya & istri saya berniat melamar anak ibu Pelangi untuk putra saya Zarow, kebetulan Zarow sendiri lah yang meminta saya untuk meminang Pelangi hari ini, saya harap bapak & ibu menerima pinangan ini " kata tuan Yonso menjelaskan.
__ADS_1
Pak Abdullah sangat terkejut mendengar maksud & tujuan tuan Yonso yang sebenarnya kali ini, ia sungguh tak menyangka tuan Yonso berniat meminang anaknya untuk dijadikan istri anak sulungnya.
Pak Abdullah menoleh kearahnya, kali ini ia tak kalah terkejutnya dengan suaminya mendengar kata-kata tuan Yonso, permasalahan masa depan Pelangi hanya Pelangi lah yang bisa memutuskan, sebagai orang tua bu Melati & pak Abdullah hanya bisa mendukung apapun yang telah menjadi keputusan Pelangi.
" Saya sebagai orang tua Pelangi sangat merasa terhormat & sangat senang menerima niat baik bapak untuk meminang putri kami Pelangi, saya sangat menyambut baik niat baik bapak ini, tapi sekali lagi semua keputusan kami serahkan pada Pelangi pak, bu, nanti kita sama-sama dengar bagaimana jawaban Pelangi " jawab Pak Abdullah menjelaskan.
Tuan Yonso & nyonya Arini tersenyum sambil mengangguk mendengar respon positif dari kedua orang tua Pelangi, mereka berdua bersyukur jika niat baiknya disambut dengan sangat baik.
" Saya sangat senang kalau memang Pelangi mau menerima pinangan ini pak bu, mengingat Pelangi gadis yang baik " kata nyonya Arini.
" iya bu kami juga senang mendapatkan pinangan dari pak Yonso & bu Arini, tapi apakah anak kami memang benar-benar pantas untuk putra bapak & ibu " kata bu Melati.
Keluarga tuan Yonso merupakan keluarga terpandang & terkaya di Indonesia sehingga bu Melati merasa jika tak pantas anaknya bersanding dengan anak tuan Yonso & nyonya Arini.
" tentu saja anak ibu & bapak pantas untuk kami pak, Pelangi gadis yang istimewa, sebab itulah kami sangat berharap sekali jika melati mau menikah dengan Zarow " jawab tuan Yonso.
Pelangi adalah gadis sederhana yang memang sangat pantas bersanding dengan putra mereka, selain kepribadiannya yang unik Pelangi juga seorang gadis yang tak suka neko-neko & gila harta.
Tok...tok....
" Assalamuallaikum " Pelangi yang barus saja datang mengucapkan salam & masuk ke kamar rawat ayahnya.
Saat berada di depan pintu Pelangi melihat tuan Yonso & nyonya Arini sudah berada didalam kamar rawat ayahnya sambil tersenyum menoleh kearahnya, Pelangi lalu berjalan mendekati mereka untuk menyalami tangan kedua orangtuanya & tangan nyonya Arini serta tuan Yonso.
" ini yang diomongin akhirnya datang juga " kata pak Abdullah.
Pelangi hanya tersenyum mendengar bahwa sedari tadi saat ia belum datang ia menjadi topik pembicaraan kedua orangtuanya & tuan Yonso serta istrinya.
" Pelangi sini dulu, ayah mau ngomong penting " pak Abdullah akan langsung menanyakan pendapatnya tentang pinangan yang baru saja disampaikan tuan Yonso untuk Pelangi.
Pelangi hanya menurut mendekat ke arah ayahnya yang sudah nampak serius, sepertinya ayahnya akan membicarakan sesuatu yang penting pikirnya.
" Pelangi " kata pak Abdullah memanggil nama putrinya yang sudah berada didekatnya.
" iya yah " jawab singkat Pelangi.
" jadi pak Yonso & istrinya datang kemari mempunyai niat baik lain selain menjenguk ayah "
Pelangi masih terus diam mendengarkan kata-kata ayahnya, ia terus fokus melihat kearah ayahnya yang masih akan menjelaskan.
" pak Yonso & istrinya datang buat melamar kamu untuk anak sulung mereka " terang pak Abdullah.
Pelangi agak terkejut mendengar kata-kata ayahnya, Pelangi melihat kearah ibunya lalu bergantian kearah tuan Yonso & nyonya Arini.
" kami harap kamu mau menerima pinangan tersebut Pelangi " tuan Yonso sangat berharap Pelangi mau menerima pinangan tersebut.
Pelangi pelan-pelan membuang nafasnya & berusaha menenangkan pikirannya sejenak sebelum menjawab, terlebih lagi ini merupakan pinangan yang mendadak & tanpa perantara.
" om, tante, saya sudah mengenal keluarga om & tante, sejauh ini yang saya tau keluarga kalian sangat baik, saya sangat senang & merasa beruntung karena om & tante memilih saya, sebagai seorang wanita saya juga ingin calon imam saya baik, saya rasa pak Zarow baik & dari keluarga baik-baik, bukan hanya baik saya juga ingin kalau calon saya mengerti agama " jawab Pelangi panjang lebar.
" jadi apa kamu mau menerima lamaran ini? " kata Pak Abdullah
" Pelangi, anak kami memang tak seberapa mengerti soal agama, selama ini kami tak pernah mengajari soal agama, saya harap kamu bisa membuatnya mengerti soal agama " kata nyonya Arini.
Pelangi agak berpikir ia memang membutuhkan seorang suami yang mengerti agama tetapi tak ada salahnya jika ia & calon suaminya sama-sama belajar mendalami agama.
" bagaimana Pelangi " kata Bu Melati
" baik saya mau menerima lamaran tersebut, tapi ijin kan saya mengenal pak Zarow terlebih dahulu sebelum kami menikah " jawab Pelangi menerima.
" maksudnya? " tuan Yonso tak mengerti
" apa kamu minta ta'aruf dulu Pelangi " kata Nyonya Arini.
__ADS_1
" iya tante, ijinkan kami berta'aruf untuk mengenal satu sama lain sebelum kami menikah " jawab Pelangi sambil tersenyum