Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda

Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda
Bab 8


__ADS_3

Keesokan harinya jam 06.30


Sudah rapi dengan seragam Satpol nya Pelangi masih tetap duduk di dalam ruangan dimana tempat ayahnya dirawat, semalam ia & ibunya menginap di rumah sakit untuk menjaga ayahnya. Pagi ini ayahnya telah membuka matanya & sudah bisa mengobrol meskipun suaranya masih terasa seperti didalam.


Tak menyangka pria yang sangat ia cintai ini bisa terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit seperti ini, padahal ayahnya merupakan sosok pria terkuat yang pernah ia kenal. Ayah nya adalah orang yang paling menjaga kesehatan, ia selalu berkata bahwa dirinya tak boleh sakit karena jika ia sakit tak akan ada yang menjaga Pelangi & ibunya.


Sedari tadi Pelangi masih terus menggenggam tangan ayahnya sambil berbincang ringan, wajah ayahnya terlihat sangat pucat pasih karena kemarin terlalu banyak kehilangan darah. Senyumnya masih saja menyungging di wajahnya berusaha terlihat kuat padahal Pelangi tau betapa sakit yang ayahnya saat ini rasakan.


" kamu berangkat aja sana, nanti terlambat " Pak Abdullah berkata lirih.


Pelangi masih tetap diam tak bergerak dari tempatnya sedikitpun, rasanya ia enggan meninggalkan ayahnya jauh-jauh sedetikpun saat ini.


" sudah berangkat aja sana, ayah gak papa kok " masih lirih terdengar suara Pak Abdullah.


Pak Abdullah sangat bersyukur karena sampai saat ini ia masih bisa membuka matanya & bernafas, terbayang-bayang dibenaknya bagaimana naasnya tubuh terpental saat ia menyelamatkan pak Aryan selaku atasannya dari kecelakaan maut yang hampir menimpanya.


Alih-alih menyelamatkan pak Aryan justru dirinya lah yang menjadi amukan sebuah mobil hilux tipe G keluaran tahun 2019 yang melaju tak terkendali menabrak tubuhnya hingga terpental jauh, Pak Abdullah masih ingat saat itu tubuhnya sempat terseret beberapa detik setelah tertabrak sebelum akhirnya mobil itu menabrak sesuatu & terbalik.


Beruntung nyawanya masih bisa diselamatkan & cidera yang dia alaminya tak seberapa parah, meskipun ia sempat menjalani operasi pada kakinya karena luka di kakinya yang menganga terdapat beberapa butiran kerikil kecil.


" iya Pelangi kamu berangkat aja, biar ayah mu ibu yang jaga " ibu tersenyum sambil memegang pundak Pelangi dari arah belakang.


Ibunya tau jika Pelangi saat ini sangat mencemaskan keadaan ayahnya yang masih terbaring lemah di rumah sakit, mengingat keadaan suaminya saat ini sudah tidak perlu ada yang di khawatirkan, ia menyuruh anaknya untuk tetap bekerja hari ini.


" iya Pelangi, ayah di jaga ibu aja, kamu lebih baik berangkat kerja sekarang, jangan sampe terlambat "


Pelangi masih diam melihat kearah ibunya lalu melihat kearah ayahnya, dalam hatinya ada sedikit rasa tak tega jika harus membiarkan ibunya merawat ayahnya sendiri di rumah sakit.


" ibu beneran gak papa kalo aku tinggal sendiri jaga ayah disini? " Pelangi mulai membuka suaranya.


" iya gakpapa, sudah sana berangkat "


Seolah mengusir dirinya ibunya terus-terusan menyuruhnya untuk lekas pergi ke kantor, padahal sejujurnya ia tak ingin pergi ke kantor hari ini karena ingin terus berada di samping ayahnya.


" gak baik mangkir dari kerjaan, kan kamu sendiri yang bilang cari kerja itu susah " pak Abdullah kembali mengingatkan anaknya dengan kata-kata yang pernah diucapkan anaknya tersebut sendiri.


" ah ya sudah lah, aku berangkat kalo gitu " Pelangi akhirnya berdiri dari duduknya.


Ia tersenyum kearah ayah & ibunya yang saat ini juga tersenyum kearahnya, Pelangi akan tetap bekerja hari ini meskipun hatinya tak ingin.


Ayahnya selalu mengajarkan pada dirinya untuk pentingnya selalu bertanggung jawab dengan pekerjaan, seberat apapun profesi yang kita geluti kita harus tetap profesional menjalaninya dengan baik.


" tapi janji ya ayah harus baik-baik aja "


Pelangi benar-benar takut jika ayahnya kenapa-napa saat ia pergi nantinya, selayaknya cerita di sinetron televisi yang sering ia tonton, pada saat adegan kecelakaan seperti ini pada akhirnya yang mengalami kecelakaan pasti akan mati setelah ditinggal sebentar oleh keluarganya untuk mencari sesuatu.


Bayangan-bayangan penggalan sinetron-sinetron yang ia rasa agak lebay tersebut terus terputar di otaknya membuatnya semakin enggan untuk pergi ke kantornya, ia kembali lagi mendudukkan bokongnya ke kursi yang sama yang ia duduki tadi.


" lah kok malah duduk lagi? " kata ibu sambil menggelengkan kepalanya.


" hari ini aja ya, please Pelangi gak mau ke kantor "


Ia berusaha memohon kepada kedua orangtuanya agar ia bisa tetap berada disini & tak perlu pergi ke kantor untuk hari ini.


" kamu mau ngpain gak kerja, kamu kan liat sendiri kalo ayah sudah baik-baik aja, ngeliat kamu gak kerja nanti ayah malah sakit " Pak Abdullah berusaha membujuk putrinya agar tetap menjalankan tugasnya hari ini.


Melihat ayahnya yang terlihat nampak baik-baik saja akhirnya Pelangi berdiri kembali, mungkin hanya pikirannya saja yang terlalu takut sehingga berpikiran yang tidak-tidak seperti adegan lebay ala-ala sinetron di televisi.


" ya udah ya bu, yah, Pelangi berangkat nih, kalo ada apa-apa hubungi Pelangi cepat ya, Assallamualaikum " cerocos Pelangi sambil menyalami tangan kedua orangtuanya sebelum pergi.

__ADS_1


" Wallaikumsalam " jawab ayah ibunya bersamaan.


*******


Ditempat lain pukul 08.00 pagi


Zarow telah duduk di ruangannya dengan santai, pagi-pagi sekali ia berangkat kekantor untuk menghindari kemacetan tanpa sarapan pagi, sesuai perkiraannya ia sampai di kantor dengan tepat waktu sekitar satu jam lalu tanpa harus terjebak kemacetan.


Di seruputnya segelas kopi hitam tanpa gula yang telah berpindah dari meja ke tangannya, hari ini Zarow merasakan kantuk karena semalaman ia tak bisa tidur terus-terusan memikirkan kata-kata ayahnya yang ingin dirinya menikah.


Yang jadi permasalahan bagi Zarow bukan masalah pernikahannya tetapi siapa wanita yang harus ia nikahi, ia hanya di beri waktu selama dua hari untuk mengenal Pelangi, baginya mengurusi persoalan wanita adalah keahliannya, ia merasa sangat penasaran kenapa ayahnya harus memilih Pelangi, gadis yang ia harus per istri sedangkan masih banyak gadis cantik diluar sana yang pastinya lebih cocok bersanding dengannya dibanding Pelangi.


Zarow mengetuk-ngetuk mejanya sendiri sambil terus berpikir apa yang harus ia berikan saat ini agar bisa membuktikan bahwa Pelangi sama saja dengan gadis lainnya yang memandang setiap pria dari segi materinya, setelah memberikan sesuatu pada Pelangi ia yakin Pelangi akan langsung bertekuk lutut dikakinya.


Jika dalam dua hari ini ia merasa tak tertarik dengan Pelangi maka ayahnya tak akan memaksakan dirinya untuk menikahi gadis Satpol tersebut.


Zarow mengambil telepon di ruangannya yang telah tersambung dengan otomatis dengan sekertaris nya yang bernama pak Amar.


" hallo pak Amar, tolong bapak siapkan sebuah hadiah mewah & bungkus dengan rapi, saya tunggu 30 menit dari sekarang " Zarow memerintahkan sekertaris nya untuk


" baik pak, akan segera saya siapkan " Jawab pak amar dari seberang teleponnya.


Zarow meletakan telepon tersebut & menyunggingkan senyumnya merasa seperti tak masuk akal karena telah menuruti keinginan ayahnya untuk mendekati Pelangi.


Tak ingin terus berpikiran tentang Pelangi Zarow lalu berdiri berusaha menyibukkan dirinya sendiri. Sebenarnya sedari tadi sudah banyak tumpukan berkas yang sudah menunggu untuk ia tanda tangani, karena terus menerus memikirkan Pelangi ia justru melupakan pekerjaannya.


******


Jam 10.00 pagi


Sikap profesionalnya sebagai seseorang yang mempunyai tanggung jawab untuk sebuah pekerjaan telah ia penuhi, Pelangi masih dengan sigap mengerjakan tugas hari ini, ia masih duduk di mejanya untuk membuat laporan sebuah kegiatan yang beberapa saat lalu sudah meraka laksanakan diluar.


Pelangi masih tetap fokus berkutat di depan leptop nya & mengetik kata demi kata yang harus ia tuliskan untuk laporannya, sejauh ini pekerjaannya masih tetap lancar meskipun sesekali ia mengingat ayahnya.


" hem " Doni yang sedari tadi memperhatikan Pelangi saat ini telah berdiri didepan meja Pelangi.


Pelangi melihat sekilas kearah Doni yang telah berada di depan mejanya sambil berdehem, tanpa menghiraukan Doni Pelangi kembali lagi fokus dengan ketikan demi ketikannya di leptop.


" serius amat sih, sampe gue gak di heranin, bisa gak lo ngerjainnya? " karena berada di satu bidang maka Doni tau jika saat ini Pelangi sedang mengerjakan laporan kegiatan yang telah berlangsung beberapa hari lalu.


" bisa lah " kata Pelangi tersenyum.


" bisa tapi mukanya tegang amat " Doni mengejek.


" bisa gak lo gak bawa-bawa amat, kasian tuh yang namanya amat pasti keselek terus, hahahah " Kata Pelangi bercanda sambil tertawa.


Doni reflek menepuk jidatnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tau Pelangi pasti bisa mengerjakan setiap laporan yang harus ia kerjakan, hanya saja saat ini pikiran Pelangi pasti sedang terbagi-bagi mengingat ia baru mengalami musibah.


Doni masih tak mengerti mengapa teman dekatnya ini malah tetap masuk kerja padahal ayahnya sedang mengalami kecelakaan & harus dirawat di rumah sakit saat ini.


" kalo ada yang gak bisa lo kerjain kasi tau gue ya, tar gue yang kerjain " kata Doni tersenyum.


" siap "


" bokap lo di rumah sakit sama sapa Ngi?, kok lo malah kerja? " tanya Doni yang sedari tadi sudah sangat ingin tahu.


" sama ibu Don " jawab Pelangi sambil terus mengetik panel tombol huruf serta angka yang ada pada laptopnya.


" gue heran sama lo, kenapa lo malah kerja, kenapa gak ijin aja? "

__ADS_1


Pelangi menghentikan aktifitasnya & menatap kearah Doni, ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena meras temannya ini sudah sangat cerewet.


" tadinya gue juga gak mau kerja Don, ya lo tau sendiri gimana disiplinnya bokap gue & gimana bertanggung jawabnya dia sama pekerjaan, dia gak mau gue bolos kerja atau ijin kerja cuman gara-gara hal yang gak sebegitu mendesak, apa lagi keadaan ayah sekarang udah baik-baik aja " terang Pelangi panjang lebar.


" hhhhmmmm, sukur lah kalo bokap lo baik-baik aja, tapi ini kalo lo butuh bantuan kasih tau gue ya, jangan sungkan-sungkan " Kata Doni tersenyum.


" sip " jawabnya singkat.


Pelangi kembali lagi pada pekerjaannya yang harus ia selesaikan saat ini juga, masih belum beranjak Doni masih duduk di dekatnya.


" Permisi "


Seorang pria berpakaian rapi baru saja masuk kedalam ruangan tersebut dengan membawa sebuah paper bag, Pelangi & Doni hanya saling pandang setelah melihat pria tersebut masuk kedalam ruangannya.


" permisi mbak " kata pria yang telah berada di depan meja Pelangi.


" iya pak, ada yang bisa saya bantu? " kata Pelangi sambil melihat kearah pria tersebut.


" mbak yang namanya Pelangi kan? " katanya lagi.


Pelangi lagi-lagi melihat kearah Doni & begitu pula Doni yang lagi-lagi juga melihat kearahnya, ia bingung mengapa pria tersebut tau jika dirinya lah yang bernama Pelangi.


" iya pak saya Pelangi, ada apa ya? " kata Pelangi yang sudah penasaran.


" ini mba saya disuruh mengantar kan oleh pak Zarow, silahkan diterima " kata pria tersebut sambil memberikan sebuah paper bag berwarna pink kepada Pelangi.


" tapi apa ini pak? "


Pelangi penasaran apa isi paper bag yang baru saja ia terimanya tetapi masih belum membukanya.


" silahkan dibuka saja mba " kata pria tersebut lagi.


Pelangi lalu membuka paper bag tersebut yang didalamnya sudah ada sebuah kotak yang sepertinya sebuah kotak sepatu, saat ia mengeluarkan kotak tersebut benar saja sebuah kotak sepatu dengan merek brand ternama.


Doni hanya memperhatikan Pelangi membuka paper bag yang berisi sesuatu dari tuan Zarow, ia agak berpikir mengapa tuan Zarow tiba-tiba mengirimi Pelangi barang dengan harga yang sangat lumayan fantastis baginya yang cuman seorang PNS dengan gajih yang tidak ada apa-apanya di bandingkan tuan Zarow yang notabenenya seorang yang memang kaya raya.


" Sepatu? " Pelangi melihat ke arah bapak-bapak yang membawa barang tersebut tadi.


Untuk apa tuan Zarow memberikan dirinya sepatu pikirnya padahal ia & tuan Zarow tak pernah berkenalan secara langsung satu sama lain.


" maaf pak, ini maksudnya apa? " kata Pelangi mencoba memastikan.


" itu buat mba Pelangi mbak, tuan Zarow secara langsung menyuruh saya untuk mengantarkan itu ke mba Pelangi "


Sepatu tersebut sangat pas dengan ukuran kakinya, Pelangi heran mengapa Zarow bisa tau ukuran kakinya, dilihat dari brandnya jelas sepatu tersebut sangat mahal sekali harganya, Pelangi lalu memasukan kembali sepatu tesebut kedalam kotaknya & memasukan kembali kedalam paper bag nya lagi.


" maaf pak tolong kembalikan sepatu tersebut sama pak Zarow, saya tidak bisa menerima pemberian tuan anda " kata Pelangi yang sudah berdiri & mengembalikan paper bag tersebut kepada pria yang berada di depan mejanya.


" tapi mba kalo nanti saya bakal di marahi pak Zarow kalau mba gak terima pemberian pak Zarow " kata pria agak takut.


" saya yang bertanggung jawab kalo bapak dimarahi, tolong kembalikan saja karena saya gak bisa menerima barang sembarangan " tegasa Pelangi.


Doni menggelengkan kepalanya tatkala melihat teman dekatnya tersebut tak menerima barang mahal pemberian tuan Zarow, padahal jika dipikir-pikir Pelangi tak akan Pernah bisa membeli barang tersebut sendiri dengan uangnya mengingat harganya yang mahal.


" baik kalo begitu mba saya kembali dulu " kata pria tersebut berpamitan.


Setelah pria tersebut pergi Pelangi menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tuan Zarow adalah pemilik perusahaan dimana ayah nya selama dua puluh tahun ini bekerja.


" gila lo, itu sepatu mahal banget lo tolak gitu aja, ckkckkkckkk " kata Doni sambil menggelengkan kepalanya heran.

__ADS_1


" gue gak mau terima sembarangan barang dari orang yang gak bener-bener gue kenal ya Don, pertanggung jawabannya juga susah nanti diakhirat, mana tau barang tersebut belinya dari uang yang gak halal, gue gak mau kena dosanya " kata Pelangi.


Doni untuk kesekian kalinya hanya menggelengkan kepalanya, jika saja bukan Pelangi tadi yang dikirimi barang tersebut oleh tuan Zarow pasti sudah di terima dengan sangat senang hati.


__ADS_2