Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda

Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda
Bab 45


__ADS_3

" Bentar dulu Za, gue mau nanya sama lo, dari mana lo kenal sama Pelangi? " tanya Zarow tak ingin semakin penasaran.


Reza menundukkan kepalanya sambil tersenyum lalu melihat kearah Zarow, ayahnya & ayah Pelangi sudah bersahabat lama, bahkan ia kerap ikut bersama ayahnya dulu saat ayahnya pergi ke rumah Pelangi.


Setelah ia pergi berkuliah keluar kota hingga menjadi dokter ia sudah tak pernah lagi ikut ayahnya untuk menemui pak Abdullah beberapa tahun belakangan ini.


Dulu sebenarnya ayahnya berniat meminta pak Abdullah untuk menjodohkan dirinya dengan Pelangi, karena pada saat itu Pelangi masih duduk di bangku sekolah menengah pertama & ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas niatan perjodohan mereka pun di undur.


Sampai pada akhirnya Reza lulus sekolah & pergi ke kota lain untuk berkuliah lalu Pelangi masuk ke sekolah menengah atas & mereka tak pernah lagi bertamu sampai pada akhirnya mereka dipertemukan disini.


Pelangi sedari dulu memang seorang gadis yang cantik & baik, pribadinya yang lembut membuat siapa pun akan mudah jatuh cinta padanya, sama seperti dirinya dulu yang sebenarnya diam-diam menyimpan rasa pada Pelangi.


" oi Za " kata Zarow sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Reza.


Seketika lamunannya buyar karena bunyi jentik tangan Zarow, ia pun tersenyum sambil menggaruk-garuk tengkuknya, bagaimana pun itu hanyalah masa lalu baginya.


" jangan bilang lo dulu pernah naksir sama Pelangi? " kata Zarow.


Zarow langsung menembak pertanyaan kepada Reza secara langsung karena begitulah dirinya tak pernah berbasa-basi saat berbicara.


" dulu kali Row, gak usah cemburu lo, masih jamannya gue alay, sekarang mah gue gak berani, apa lagi tau kalo Pelangi calon bini lo " kata Reza sambil cengengesan.


" tapi lo bukan mantannya kan? " tanya Zarow.


Zarow menaikan satu alisnya dengan tatapan tajamnya, ia merasa jika Reza pasti sebenarnya punya hubungan dengan Pelangi dulu.


" enggak brow, sumpah, berani mati kena korona gue kalo gue bohong, gue gak pernah pacaran sama Pelangi, cuman dulu bokap gue pernah punya niatan buat ngejodohin kita berdua, tapi gak jadi karena Pelangi dulu masih SMP gue SMA, hehehehe " kata Reza.


" sukur lah gak jadi " kata Zarow sambil membenarkan jasnya.


Kini ia lega karena ternyata Reza bukan lah mantan pacar Pelangi, bahkan mereka juga sudah lama tak berjumpa & ini adalah pertemuan mereka untuk pertama kalinya kembali.


" sukur kenapa lagi " kata Reza


" ya sukur lah, kalo lo jadi di jodohin sama Pelangi dulu udah pasti Pelangi sekarang udah jadi bini lo kan & gue gak bakal bisa sama Pelangi " kata Zarow, " untung Pelangi jodoh gue sekarang " lanjut Zarow sambil tersenyum.


" dih kenapa lo tiba-tiba berubah gini, perasaan terakhir ketemu satu bulan yang lalu, lo gak gini deh, lo masih Zarow si pecinta wanita satu malam, lah ko tiba-tiba lo jadi berubah gini " kata Reza panjang lebar.


Reza merasa jika Zarow pasti telah tergila-gila & jatuh cinta dengan Pelangi sehingga ia telah berubah & lupa bagaimana dirinya sebelumnya.


" gue udah tinggalin yang begituan, takut dosa gue " kata Zarow.


Reza terkejut mendengar kata-kata Zarow yang mengatakan jika dirinya takut dosa, sejak kapan seorang Zarow tau dengan kata dosa pikirnya.


" tunggu....tunggu, gue gak salah denger kan? " tanya Reza memastikan, " lo takut dosa? " kata Reza lanjut bertanya.


" Za gue kesini bukan mau konsultasi soal dosa atau mau curhat ya, gue kesini mau periksa paham " kata Zarow dengan serius.


Zarow benar-benar tak ingin membahas masa lalunya karena ia berusaha untuk fokus dengan ibadah & hijrahnya, ia tak ingin terjerumus kedalam kelamnya kehidupannya sebelumnya & tak bisa istikomah dalam hijrahnya.


" ok....ok...jadi lo kenapa kesini?, lo ada keluhan apa? " kata Reza.


Tanya Reza kini serius menempatkan dirinya sebagai dokter saat ini, sebagai seorang dokter tentu saja ia harus memeriksa pasiennya dengan bersungguh-sungguh agar tak salah diagnosa.


" begini dokter, akhir-akhir ini gue ngerasa jantung gue jadi gak beraturan " kata Zarow menjelaskan keluhannya.


Reza masih mendengar keluhan Zarow ia sepertinya mulai berpikir jika Zarow memiliki gejala sakit jantung ringan, sesuai dengan yang ia tutur kan saat ini.


" tapi anehnya jantung gue tuh gak beraturan kalo gue lagi sama Pelang atau lagi mikir Pelangi " kata Zarow.


Reza meletakan pulpennya & menutup bukunya dengan penuh emosi, ia sudah serius mendengarkan keluhan Zarow tetapi saat ini Zarow justru mempermainkan dirinya.


" brow gue udah serius ngedengerin keluhan lo tapi lo malah main-main sama gue, jadi apa keluhan lo, jangan main-main lah " kata Reza serius.


Zarow masih diam melihat kearah Reza, padahal ia sudah serius mengatakan keluhannya tapi Reza malah menganggap dirinya main-main.

__ADS_1


Zarow bukanlah pribadi orang yang suka bermain-main seharusnya Reza tau itu tetapi kali ini justru Reza menganggap dirinya bercanda.


Ia memegang kepalanya sambil melihat kearah lain, ia benar-benar nampak sedikit agak kesal karena saat ini ia benar-benar tak sedang bercanda.


" Za lo kira gue bercanda apa?, gue serius tau " tutur Zarow.


Reza hanya menggelengkan kepalanya karena keluhan Zarow nampak seperti keisengan semata, ia membuang nafas kasarnya & berusaha mendengarkan keluhan Zarow kembali.


Ia mulai mengambil buku serta pulpennya kembali untuk mencatat segala keluhan yang akan disampaikan Zarow agar tak salah mendiagnosa.


" silahkan " kata Reza mempersilahkan Zarow untuk menyampaikan keluhannya kembali.


" jadi gini Za, jantung gue tuh akhir-akhir ini berdebar-debar gak karuan, suka ngerasa panas pada hal AC mobil udah kenceng, tapi anehnya gue ngerasain kaya gitu kalo pas gue lagi sama Pelangi " jelas Zarow.


Lagi-lagi Reza meletakkan pulpennya, kini ia tau penyakit apa yang sedang melanda Zarow, ia mulai mengambil alat Stetoskopnya & menempelkan ke dada Zarow untuk memeriksa detak jantung Zarow.


Saat ini detak jantung Zarow masih terdengar normal & tak menunjukan gejala penyakit jantung, Reza pun tersenyum & melepas alat Stetoskopnya lalu duduk kembali ketempat duduknya.


" jantung lo berdetak gak beraturan akhir-akhir ini, terus anehnya gejala itu muncul kalo lo lagi sama Pelangi, terus lo juga ngerasa kalo udara terasa panas padahal AC udah nyala " kata Reza mengulang penjelasan Zarow


Zarow hanya mengangguk mendengar gejala yang ia sampaikan di ulang oleh dokter Reza, sepertinya dokter Reza telah menemukan diagnosanya.


" kalo lo liat Pelangi lagi sama cowok lain lo ngerasa kaya panas terus emosi lo jadi gak terkendali gak? " tanya Reza.


" iya bener " kata Zarow dengan polosnya.


Mendengar jawaban jujur Zarow ia pun lantas tertawa, ternyata sahabat baiknya tersebut mengalami penyakit bucin yang gak akan ada obatnya selain orang yang membuatnya seperti itu.


" hahahahhahahahahahah " tawa nyaring Reza.


Sambil bersedakep Zarow masih tetap diam mendengarkan tawa Reza yang sangat nyaring, entah hal lucu apa yang membuat Reza tertawa saat ini.


Tiba-tiba Reza terdiam karena tatapan Zarow seolah-olah seperti akan membunuhnya, ia menghentikan tawanya & kembali lagi fokus dengan bukunya.


Setelah Reza terdiam Zarow lalu membenarkan duduknya & meletakan tangannya di atas meja yang berada di hadapannya.


Reza hanya menggaruk-garuk kepalanya karena Zarow nampak terlihat marah karena tawanya, ia tak benar-benar tak bisa menahan tawanya.


Bagaimana mungkin sahabatnya tersebut tak mengetahui jika dirinya sedang jatuh cinta & malah beranggapan jika dirinya sedang mengalami gejala penyakit jantung.


" sorry brow " kata Reza sambil tersenyum.


" jadi gue sakit apa? " kata Zarow bertanya.


Penyakit apa yang sedang menyerang dirinya sebenarnya pikirnya, ia benar-benar penasaran saat ini, bukannya cepat menjelaskan diagnosanya Reza malah justru tertawa membuat dirinya geram.


" jadi lo sebenernya gak sakit apa-apa Row, tapi " kata Reza terhenti.


" tapi apa? " tanya Zarow.


" hemmm, tapi lo sekarang lagi jatuh cinta " kata Reza melanjutkan kata-katanya.


" jatuh cinta? " kata Zarow mengulang, " ah ngaco lo mana mungkin gue jatuh cinta, hahahahah " lanjut Zarow.


Kini giliran Zarow yang tertawa karena mendengar diagnosa Reza yang tak masuk akal, bagaimana mungkin ia bisa jatuh cinta sedangkan selama ini ia tak pernah tau bagaimana itu cinta.


" apa yang gak mungkin coba, ini udah terbukti kalo lo jatuh cinta sama Pelangi, lo jangan ngelak, yang lo rasain sekarang itu namanya cinta " jelas Reza meyakinkan.


Mendengar penjelasan Reza ia masih terus mencernanya, tetapi ia yakin jika dirinya tak sedang jatuh cinta, ia benar-benar merasa jika saat ini dirinya memang tak sedang jatuh cinta.


Ia menyipitkan matanya sambil melihat kearah Reza yang masih serius melihat kearahnya juga saat ini, ia berpikir bagaimana Reza bisa mendiagnosa dirinya sedang jatuh cinta.


" lo masih gak percaya sama omongan gue kalo lo lagi jatuh cinta sama Pelangi? " tanya Reza.


" jelas lah, lo dokter tapi sembarangan aja ngediagnosa gue, emang orang jatuh cinta periksa nya di lo juga? " kata Zarow seraya bertanya.

__ADS_1


" iya, nih lo barusan jatuh cinta periksa nya di gue " kata Reza, " ya udah gini aja kalo lo gak percaya sama omongan gue kalo lo emang lagi jatuh cinta, ikutin gue " lanjut Reza mengajak Zarow keluar dari ruangannya.


Zarow lalu berdiri mengikuti Reza keluar, dilihatnya Reza sedang menghampiri Pelangi yang sedang duduk tepat di luar ruangan Reza masih setia menunggu Zarow.


Ia tersenyum bahagia begitu melihat Pelangi, entah mengapa ia bisa sebahagia itu saat melihat Pelangi, ia merasa jika dirinya saat ini sudah seperti orang tak waras.


Begitu keluar Reza langsung menemui Pelangi, gadis tersebut pun langsung berdiri sambil melihat kearah belakang Reza untuk memastikan keberadaan Zarow.


" jadi mas Zarow sakit apa kak? " tanya Pelangi


" tadi sudah gue aku kasih tau dia ko Ngi, oh iya Ngi boleh minta no hp kamu gak? " kata Reza sambil meminta nomer ponsel Pelangi.


Reza sengaja mengetes Zarow dengan meminta nomer ponsel Pelangi untuk meyakinkan jika Zarow memang telah jatuh cinta pada Pelangi.


" apaan lo Za minta-minta nomer hp Pelangi? " ketus Zarow.


" ya sapa tau ada kepentingan atau mau silaturahim ke rumah kapan-kapan " kata Reza masih terus memancing Zarow.


" apaan silaturahim, gak ada...gak ada " kata Zarow melarang.


" sapa tau aja kalo sewaktu-waktu gue ada perlu sama Pelangi brow " pancing Reza lagi.


Sahabatnya tersebut benar-benar bereaksi & menunjukan rasa cemburu serta sifat posesifnya, Reza masih berusaha menahan tawanya saat ini.


" apaan sewaktu-waktu, gak ada sewaktu-waktu ya Za, kalo lo ada perlu sama Pelangi lo hubungi aja gue, omongin sama gue, biar gue yang sampein ke Pelangi " cerocos Zarow.


" oke, bisa masuk ikut gue lagi gak brow " kata Reza kembali mengajak Zarow kearah ruangannya kembali.


Melihat Reza masuk kembali kedalam ruangannya Zarow hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, untuk apa lagi pikirnya Reza mengajaknya ke dalam ruangannya lagi.


" kalian kenapa si mas? " kata Pelangi bertanya.


" aku juga gak ngerti " kata Zarow, " ya udah aku masuk dulu lagi, kamu tunggu bentar aja lagi disini ya " lanjut Zarow.


Pelangi hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, bagai mana pun ia memang harus menunggu Zarow kembali agar sakit nya bisa disembuhkan.


Setelah menyuruh Pelangi untuk menunggu sebentar lagi ia lalu masuk kedalam ruangan Reza lagi. Sahabatnya tersebut sudah duduk bersantai di kursi kerjanya tepat di depan meja sambil tersenyum.


" gak usah senyum-senyum, apa maksud lo minta-minta nomer hp Pelangi?, lo hilang ingatan apa kalo tadi gue bilang kalo Pelangi calon gue? " kata Zarow emosi.


" gue cuman mau mastiin kalo diagnosa gue bener atau gak, & ternyata bener lo memang lagi jatuh cinta sama Pelangi " kata Reza tersenyum.


Zarow menaikan satu alisnya masih tak mengerti apa maksud dari perkataan Reza barusan, baru saja Reza membuat dirinya kesal tapi di dalam ruangannya Reza malah seperti tak merasa sedikit pun bersalah.


" lah lo ko jadi lemot sih Row, gue tadi minta nomer hp nya Pelangi cuman buat ngetes lo, & ternyata lo uring-uringan kan itu tandanya lo cemburu & asal lo tau cemburu itu tanda cinta & sayang, jadi diagnosa gue kalo lo itu jatuh cinta emang bener, paham lo? " kata Reza gemas.


Bagaimana ia tak gemas dengan sahabatnya tersebut yang tiba-tiba menjadi seorang idiot karena cinta, ia lalu menepuk jidatnya reflek sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


" lo yakin Za kalo gue bukan sakit tapi gue lagi jatuh cinta? " tanya Zarow memastikan.


" ya yakin lah, lo itu gak sakit, lo itu sehat seger buger " terang Reza.


Zarow bingung harus berkata apa ia hanya menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal sambil melihat kearah lain agar tak terlihat bodoh di depan Reza.


Baru kali ini ia merasakan begini lah yang namanya rasanya jatuh cinta, kadang ia memang merasa tak tenang jika jauh dari Pelangi.


" buruan sekarang lo keluar, kan lo udah denger kan diagnosa gue buat lo, kasian tuh Pelangi nunggu lo di luar dari tadi, keburu ada cowok lain nyamperin dia terus minta nomer hpnya, hahahaha " kata Reza sambil tertawa.


" brengsek lo, ya udah gue keluar " kata Zarow berdiri.


Ia mulai berjalan kearah pintu sambil membenarkan bajunya yang terlihat agak sedikit kusut karena terlalu lama duduk di ruangan Reza, saat sudah berada di depan pintu Zarow membalikan tubuhnya kembali kearah Reza sebelum membuka pintu tersebut.


" Za lo gak main-main kan bilang kalo gue jatuh cinta? " tanya Zarow sekali lagi untuk memastikan.


Reza menepuk jidatnya kembali reflek karena mendengar pertanyaan Zarow, pada hal ia pikir Zarow sudah percaya tadi dengan perkataannya.

__ADS_1


" Row gue gak bercanda ya, yang gue omongin tadi itu bener, udah sana lo keluar deh buruan samperin Pelangi " kata Reza.


Zarow kemudian berbalik lagi & membuka pintu untuk menemui Pelangi yang saat ini masih tetap berada di tempat yang sama.


__ADS_2