Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda

Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda
Bab 59


__ADS_3

Pagi ini Zarow harus berangkat ke kantornya, ada sebuah meeting lumayan penting dengan kliennya, ada beberapa masalah yang harus mereka bahas menyangkut anak perusahaannya yang berada di sebelah barat.


Jam telah menunjukan pukul 06.30 pagi, seharusnya sebagai pengantin baru ia masih harus berada dirumah menghabiskan waktu mengobrol bersama dengan istrinya.


Dengan bersantai sambil minum secangkir teh atau kopi & bermanja-manjaan, tapi semua itu hanya hayalan Zarow semata. Semalam saja ia hanya menghabiskan waktu malam pertamanya dengan menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi selama beberapa hari ini.


Bersyukur kesalahpahaman tersebut kini telah selesai, awalnya Pelangi tak mempercayai penjelasannya tetapi setelah ia memperlihatkan vidio yang diambil dari cctv malam itu akhirnya Pelangi percaya juga.


Sudah berbaikan dengan Pelangi baginya sudah cukup, bisa melihat senyumnya bahkan bisa berbincang seperti biasa lagi sudah membuatnya sangat gembira.


Zarow masih duduk ditepi ranjang menunggu


Pelangi yang masih berada didapur membantu menyiapkan sarapan pagi bersama ibunya, saat ini ia hanya mengenakan baju dalam & celana kolor karena ia tak tau dimana Pelangi menyinpan baju miliknya.


Didapur Pelangi sudah meletakan beberapa masakan yang dihidangkan untuk sarapan pagi, sedari tadi ia memperhatikan pintu kamarnya yang tak kunjung terbuka, Zarow belum juga keluar dari kamar mereka padahal suaminya harus pergi ke kantornya untuk memimpin sebuah rapat.


Bu Melati yang terus memperhatikan putrinya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, pandangan putrinya sedari tadi tak lepas dari pintu kamarnya, dasar pengantin baru pikir bu Melati.


" Kenapa ngi?, ko ibu liat dari tadi ngeliat kearah kamar terus? " bu Melati akhirnya bertanya.


" ha... " kata Pelangi tak mendengar pertanyaan ibunya.


Untuk kesekian kalinya bu Melati kembali tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, sebegitu fokusnya memikirkan Zarow sampai-sampai tak mendengar apa yang saat ini ibunya katakan.


" hmmmm, anak ibu gak fokus banget sih, badannya aja disini pikirannya kemana? " goda ibu tersenyum.


" is ibu nih, Pelangi cuman mikir ko mas Zarow gak keluar-keluar dari kamar padahal kan mau ke kantor katanya " kata Pelangi jujur.


" Masya Allah pengantin baru, di cek dong suaminya lagi apa " goda ibu lagi.


Pelangi menghelakan nafasnya karena terus digoda oleh ibunya sambil menggelengkan kepalanya sambil tersipu malu, bagaimanapun juga ia harus memperhatikan suaminya karena itu adalah salah satu kewajibannya sebagai seorang istri.


" ya udah deh bu aku masuk dulu ya?, mau ngecek mas Zarow dulu " ijin Pelangi.


" iya, sana gih, sapa tau suami mu memang butuh bantuan " kata ibu.


Pelangi lantas meninggalkan meja makan menuju arah kamarnya, sebelum masuk ia mengetuk pintu kamar terlebih dahulu seperti adab yang dilakukan Zarow saat akan masuk kedalam kamar.


Tok....tok....


" mas " singkat Pelangi memanggil Zarow.


Mendengar suara ketukan pintu & suara Pelangi ia langsung berdiri & berjalan menuju arah pintu untuk membuka pintu tersebut, Zarow nampak heran mengapa Pelangi harus mengetuk pintu kamarnya sendiri seolah Pelangi seperti sedang minta ijin untuk masuk padahal seharusnya ia tak perlu malakukan itu karena ini adalah kamar mereka berdua.


Krek....


Pelangi kaget melihat Zarow masih belum siap dengan kemejanya, terlihat santai Zarow masih mengenakan kaos dalam serta calana kolornya padahal ia sendiri tadi yang berkata jika ia harus pergi kekantor pagi ini.


" loh katanya mau kekantor mas?, ko belum siap? " kata Pelangi bertanya.


" ya gimana mau siap-siap bajunya aja gak disiapin " kata Zarow sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


" Astaghfirullahaladzim, ya Allah kenapa aku bisa lupa, maaf ya mas? " kata Pelangi sambil menepuk jidatnya.


Pelangi bergegas menuju lemari gantungan & mengambil sebuah jas beserta kemeja lengakap dengan dasi yang sebenarnya sudah ia rapikan & diletakan kembali didalam lemari, karena sibuk membantu ibu ia sampai lupa menyiapkan pakaian itu kembali.


" ini mas " kata Pelangi sambil menyodorkan stelan kemeja beserta jas pada Zarow, "sekali lagi aku minta maaf ya mas, padahal kan ini harus buru-buru ya? " kata Pelangi lagi dengan penuh penyesalan.


Zarow pun tersenyum menerima pakaian yang disodorkan oleh istrinya, terlihat wajah Pelangi penuh sesal karena lupa menyiapkan pakaiannya, tentu saja hal ini akan dijadikan kesempatan untuk Zarow agar Pelangi terbiasa dengan dirinya.

__ADS_1


Menerima pakaian dari Pelangi tak membuat Zarow langsung mengenakan pakain tersebut, dengan cepat ia mempunyai ide agar Pelangi bisa mengurus dirinya sebelum berangkat ke kantor.


" ya udah mulai sekarang kamu harus bantu aku pake semua ini kalau mau kerja biar kamu gak lupa " kata Zarow menunjuk pakaiannya dengan wajah tegas agar Pelangi menuruti kemauannya.


Ia yakin Pelangi tak akan menolak permintaannya ini, dalam hati Zarow tertawa senang penuh kemenangan karena terlihat jelas diwajah Pelangi yang tak bisa menolak keinginannya.


" mas gak ada yang lain apa? " kata Pelangi.


Zarow memicingkan matanya tajam masih dengan wajah seriusnya padahal itu hanya trik Zarow saja agar Pelangi tak menolak keinginan Zarow.


" jadi kamu mau nolak?, gak takut dosa? " kata Zarow mengingatkan.


" Astaghfirullah " jawab Pelangi sambil mengelus dada.


Zarow menyodorkan kembali pakaiannya kepada Pelangi & memberi isyrat dengan menganggukan kepalanya agar Pelangi menerima kembali pakaian tersebut.


Pelangi akhirnya mengambil pakaian tersebut sambil menggelengkan kepalanya & membuang nafas kasarnya, memang dosa besar pikirnya jika ia sampai lalai dengan kewajibannya apalagi menolak permintaan suaminya pikirnya.


Zarow merentangkan tangannya agar Pelangi mulai memakaikan kemeja untuknya, Pelangi hanya menurut sambil memakaikan kemeja untuknya, Zarow pun tersenyum sangat puas karena berhasil.


Dengan lembut Pelangi memasangkan satu persatu kancing baju suaminya agar tak kusut, bagaimanapun ia tak ingin jika suaminya tersebut yang merupakan seorang pimpinan diperusahaan terbesar memakai pakaian tak rapi.


" kalau ngelayani suami itu yang ikhlas, jangan cemberut, senyum gitu biar pintu syurga terbuka lebar " kata Zarow sambil menatap Pelangi yang masih memasang kancing kemeja milik Zarow sambil tertunduk.


Pelangi pun menengadahkan kepalanya mendengar kata-kata Zarow, Zarow sedari td ternyata terus melihat kearahnya memperhatikannya memasangkan kancing-kancing kemeja. Tentunya Pelangi sangat ikhlas melayani Zarow sebagai suaminya sendiri bahkan ia tak merasa jika saat ini ia sedang terpaksa.


" bisa gak senyum? " kata Zarow lagi.


Karena tak mendapatkan respon Zarow pun mengulang lagi perkataannya, ia ingin Pelangi melakukan tugasnya membantunya memakaikan pakaian dengan ikhlas seperti tanpa paksaan karena ia adalah suami Pelangi meskipun sebenarnya ini juga atas kemauannya sendiri & bukan kemauan Pelangi.


" iiiiii, udah kan mas " kata Pelangi memperlihatkan sederetan giginya.


" senyumnya yang ikhlas " kata Zarow sambil memegang dagu Pelangi.


Pelangi pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, ia sudah sangat hapal dengan sifat tuan muda Zarow yang sangat otoriter tapi baginya apa pun itu kini ia harus siap & menerima semua sifat-sifat suaminya sendiri agar selalu mendapatkan ridho sang illahi.


Melihat Pelangi tersenyum manis membuat Zarow semakin jatuh cinta dengan istrinya, ia sangat bangga bisa menjadikan Pelangi menjadi istrinya, ia pun berharap bisa menjadi imam yang baik untuk Pelangi.


" kamu ikut kekantor ya? " ajak Zarow.


Ia pikir dari pada Pelangi hanya duduk diam dirumah lebih baik ikut bersamanya, lagi pula jika Pelangi ikut dengannya akan membuat dirinya tak bepikiran ingin segera pulang untuk bertemu dengan Pelangi.


Seperti biasa Zarow merasa gelisah jika tak cepat-cepat bisa bertemu dengan Pelangi, oa selalu berpikir ingin selalu dekat dengan Pelangi terlebih mereka berdua telah sah menjadi suami istri sekarang.


" kamu habis ini ganti baju ya, lagian kamu juga cuti kan sampe resepsi kita minggu depan? " kata Zarow lagi.


" buat apa aku ikut kamu kekantor mas?, apa gak lebih baik aku dirumah aja, lagian dari pada aku bosan sendiri disana nanti, mending aku dirumah aja " jawab Pelangi sambil merapikan dasi Zarow.


Zarow melepaskan tangan Pelangi dari dasi yang sudah terpasang rapi dilingkar kerah kemejanya, ia memegang kedua tangan Pelangi sambil menatap kedua mata Pelangi sebaliknya pun Pelangi.


" kamu bisa gak nurut sekali aja kalau aku ngomong?, aku suami kamu loh sekarang " kata Zarow lembut.


Pelangi tak bisa berkata apa-apa untuk menjawab perkataan Zarow, mulutnya serasa terkunci karena tatapan mata Zarow yang begitu dalam seolah akan membunuhnya, jantungnya berdebar-debar karena Zarow menggenggam lembut jari jemarinya.


Pelangi serasa lemas tak berdaya sehingga ia hanya bisa mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Zarow, entah perasaan nyaman apa yang saat ini ia rasakan, ucapan Zarow begitu lembut diterdengar ditelinga Pelangi membuatnya seketika terhipnotis.


" anak pinter " kata Zarow tersenyum sambil mengelus kepala Pelangi yang telah tertutup jilbabnya.


Ia cukup senang karena Pelangi cukup menurut dengannya, jujur saja ia hampir saja lepas kendali karena terus menerus berdekatan seintens itu dengan Pelangi, untung saja ia masih bisa menahan gejolak jiwanya.

__ADS_1


Zarow tak ingin memaksa kehendaknya terlebih ia yakin jika istrinya belum siap menerima keberadaannya dengan status mereka yang sekarang sebagai suami & istri.


Ia pun berjalan menjauh dari Pelangi memberi ruang untuk dirinya agar ia tetap bisa terus terkendali, ia berdiri didepan cermin sambil merapikan dasi yang telah dipakaikan Pelangi.


" kamu siap-siap juga gih, dari pada tar mas telat kekantor " perintah Zarow lagi.


" aku siap-siap? " jawab Pelangi polosnya.


Zarow lalu berbalik sambil berkacak pinggang kembali melihat kearah Pelangi tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia lalu menggelengkan kepalanya sambil membuang nafas kasarnya.


" ok, aku siap-siap " jawab Pelangi dengan senyuman.


Sambil terus tersenyum ia berjalan perlahan kearah lemari pakaian, sebisa mungki Pelangi tak ingin membuat suaminya, ia tak ingin benar-benar berdosa karena tak menurut dengan suaminya pikirnya.


Pelangi pun mengambil sepasang pakaian untuk ia kenakan, tetapi ia tak segera berganti mengingat Zarow masih berada dikamar bersama dengan dirinya, ia hanya diam ditempat sambil memeluk pakaiannya.


Ia bingung harus bagaiman, tak mungkin ia membuka & mengganti pakaiannya dihadapan Zarow pikirnya, ia masih nampak malu & belum siap untuk melakukan hal-hal yang terasa asing saat ini padahal sebenarnya sah-sah saja jika ia lakukan karena Zarow adalah suaminya.


Pelangi masih diam tertegun sambil memeluk pakaiannya membuat Zarow keheranan, apa yang sedang dipikirkan Pelangi pikirnya sambil memicingkan matanya.


" kamu kenapa malah bengong?, bukannya cepet ganti baju? " kata Zarow.


" emm anu mas, kamu duluan ya keluar nanti aku nyusul, aku mau siap-siap dulu " jawab Pelangi tersenyum kaku.


Zarow pun mengerti dengan maksut Pelangi, mereka berdua telah sah menjadi suami istri tetapi sejak kemarin Pelangi tak pernah membuka auratnya sedikit pun pada Zarow, bahkan saat akan tidur Pelangi tetap mengenakan jilbabnya.


" kamu mau ganti baju? " tanya Zarow.


Pelangi hanya mengangguk sambil tersenyum kearahnya, Zarow melihat anggukan Pelangi dari arah depan kaca tanpa melihat kearah istrinya tersebut, ia lalu melangkah agak menjauh dari depan kaca.


" ok " kata Zarow sambil menghembuskan nafas kasarnya.


Mendengar kata ok dari Zarow ia pun tersenyum senang, Zarow pengertian sekali pikirnya, ia cukup peka dengan apa yang saat ini ia pikirkan.


Pelangi masih berdiri didekat lemari pakaiannya sambil terus melihat kearah Zarow yang berjalan menjauh, tapi bukannya keluar Zarow malah duduk diatas tempat tidur mereka.


Dengan santainya ia duduk sambil membenarkan kancing tangan kemejanya yang sebenarnya sudah terpasang rapi, Pelangi pun terdiam terpaku memandang kearah Zarow, seharusnya ia tak perlu merasa malu karena cepat atau lambat ia harus menjalankan kewajibannya pikirnya, ia pun tertunduk karena merasa belum mampu menjadi seorang istri yang baik.


Sambil duduk ditepi ranjang Zarow sengaja pura-pura membenarkan kancing yang ada ditanga kemejanya, setelah ia sibuk dengan dirinya ia kemudian melihat kearah Pelangi kembali yang tengah tertunduk.


" loh ko gak ganti, ganti sana cepetan, aku tunggu disini " kata Zarow.


" mas " kata Pelangi singkat.


" apa? " kata Zarow.


Pertanyaan Zarow membuat ia menjadi panas dingin, hanya dengan satu kata pamungkas sudah membuatnya bingung harus menjawab apa dari pertanyaan tersebut.


" mati lah aku " batin Pelangi sambil menepuk jidatnya.


" kamu mau bikin aku telat apa?, apa mau aku yang gantiin baju kamu? " kata Zarow sambil berdiri.


" eh enggak-enggak, gak usah repot-repot mas, aku bisa pake sendiri ko, mas duduk aja disitu gak usah macem-macem " jawab Pelangi panik.


Zarow menutup mulutnya dengan kepal tangannya menahan tawa, ternyata inilah nikmatnya menjadi suami pikirnya, pagi-pagi sudah bercanda gurau dengan istri meskipun ini bukanlah devinisi bergurau yang sesungguhnya pikir Zarow, ini hanya keisengan Zarow semata saja pada istrinya.


" hmmmmm " dehem Zarow agar kembali terlihat serius, " ya udah kalau gak mau dibantu buruan ganti bajunya, jangan bikin suami mu ini nunggu lama, bentar lagi telat " kata Zarow sambil melihat kearah jam.


" iya suami " jawab Pelangi

__ADS_1


Ia lalu membalikan tubuhnya agar saat ia berganti pakaian Zarow hanya melihat bagian belakangnya saja, sebenarnya ini semuah adalah kebodohan Pelangi, apapun itu yang ada pada dirinya adalah hak suaminya mengapa sampai ia seperti ini pikirnya.


" maaf ya mas aku belum bisa jadi istri yang baik untuk kamu, tapi jika kamu meminta siap atau tidak siap pasti aku tak akan berani menolakmu, karena aku juga tak siap menangung dosa apapun itu karena tak patuh denganmu " gumam Pelaangi dalam.


__ADS_2