Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda

Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda
Bab 16


__ADS_3

Begitu melihat Pelangi yang baru saja datang & masuk, Zerin langsung berjalan menghampiri Pelangi sambil tersenyum & memeluk Pelangi, ia sangat senang bisa bertemu dengan Pelangi hari ini.


Saat ini Pelangi datang dengan temannya yang sama saat ia menyelamatkan Zerin beberapa saat lalu, melihat teman pria Pelangi Zerin yakin jika mereka berdua memiliki hubungan yang khusus.


Zarow menatap kearah Pelangi yang baru saja datang dengan seorang pria bermasker yang tak terlihat wajahnya dengan jelas, tertera Nik nama di dada sebelah kanannya yang berhasil ia baca, yaitu Rifaldo Faiiq Ghaffar.


Sontak ia membuang muka setelah membaca Nik nama tersebut, pria tersebut adalah Aldo, pria yang tengah dekat dengan Pelangi. Perasaannya saat ini sedikit kesal karena melihat kedekatan Pelangi dengan pria lain, seolah Pelangi tak menghargai lamaran darinya beberapa saat lalu.


Pelangi yang dipeluk oleh Zerin membalas pelukan Zerin sambil tersenyum meskipun senyumnya tak terlihat karena tertutupi oleh masker yang telah ia kenakan, Pelangi mengusut-ngusut punggung Zerin tanda sayang.


Ia tak keberatan dipeluk oleh Zerin karena ia juga sangat menyukai Zerin, melihat Zerin seharusnya ia juga memiliki seorang adik seumuran Zerin tetapi sayangnya ia tak memiliki seorang adik atau seorang saudara pun karena kebetulan ia adalah anak tunggal.


" Zerin kenapa gak pake masker?, ini rumah sakit loh, bahaya dek, tadi udah cuci tangan belum? " Pelangi sangat mengkhawatirkan Zerin yang tak memakai masker saat ini.


" sudah pake Hs kok kak, tadi Zerin lupa pake masker " jawab Zerin sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Diambilnya sebuah masker yang masih bersegel dari dalam tasnya, Pelangi membuka masker tersebut dari bungkusnya & ia pakaikan pada Zerin, di selipkannya rambut Zerin kebelakang telinganya untuk memudahkan nya mengaitkan tali masker tersebut di telinga Zerin.


Dimasa pandemi Covid seperti ini siapapun harus tetap waspada, tetap terus harus mematuhi protokol kesehatan, salah satunya yaitu masih harus terus memakai masker saat keluar dari rumah agar terhindar dari virus corona.


" kalo keluar rumah wajib pake masker ya, tetap jaga kesehatan " kata Pelangi tersenyum setelah memakaikan masker kepada Zerin.


Pelangi lalu menoleh kearah Zarow yang juga tak memakai masker, kembali ia mengambil satu masker yang masih bersegel untuk ia berikan kepada Zarow lewat Zerin.


" ini kasih abang kamu ya, suruh abang kamu juga pake masker " Sambil memberikan masker ia tersenyum kembali kepada Zerin.


" makasih ya kak, kak Pelangi perhatian banget sih " Zerin mengucapkan terimakasih kepada Pelangi sambil memeluk Pelangi kembali.


Zerin sangat kagum dengan Pelangi, sosok wanita yang terlihat tegas & berwibawa dengan seragam Satpol yang ia kenakan tersebut, Pelangi sangat perhatian pada siapapun, ia sangat baik & ramah sehingga Zerin sangat menyukai Pelangi.


Pak Abdulah tersenyum melihat kearah Pelangi sambil mengangguk-anggukan kepalanya, ia bersyukur memiliki seorang anak seperti Pelangi yang selalu perduli kepada sesamanya.


" ayah " Pelangi menghampiri ayahnya sambil memeluk.


" pelan-pelan Pelangi " bu Melati mulai membuka suara melihat anaknya yang baru saja datang & memeluk ayahnya.


" iya bu, Pelangi inget kok " jawab Pelangi yang sekilas menatap kearah ibunya.


Bu Melati menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kearah Pelangi yang berada di sebelah ayahnya sambil memeluk ayahnya, sebagai anak semata wayang Pelangi memang sangat akrab dengan mereka berdua sebagai orang tua.


Bu Melati masih sibuk membereskan barang-barang yang mereka bawa dari rumah seperti termos air panas, bantal & lain-lain. Sekilas ia melihat kearah tuan muda Zarow yang sudah datang lebih lama dari Pelangi sekitar satu jam yang lalu.


Ia tak menyangka pemuda yang baru saja meminta orangtuanya untuk melamar Pelangi beberapa saat lalu merupakan pemuda yang ramah, selain ramah tuan muda Zarow juga sangat sopan.


Bu Melati benar-benar tak menyangka kedatangan tuan muda Zarow ke rumah sakit ini adalah demi untuk menjemput mereka pulang ke rumah mereka secara khusus.


" saya bantu ya bu? " tanya Aldo


Aldo yang datang bersama Pelangi akhirnya berjalan mendekat kearah bu Melati yang terlihat masih sibuk dengan beberapa barang yang akan dibawa pulang, Aldo menawarkan bantuan untuk membantu bu Melati.


" oh gak usah nak Aldo, ini udah selesai juga " jawab bu Melati.


Zarow melihat kearah Aldo yang saat ini seolah mencari perhatian pada bu Melati, baginya Aldo merupakan satu-satunya saingan yang tak bisa dianggap remeh, mengingat Aldo juga satu kantor dengan Pelangi & bisa bertemu kapan saja.


" kak " panggil Zerin memegang pundak kakaknya tersebut sambil menyodorkan masker dari Pelangi.

__ADS_1


Tatapannya pindah kearah sebelah, dimana sudah ada Zerin duduk di dekatnya, tepat disisi kirinya sambil memberikan sebuah masker yang masih terbungkus dengan plastik. Ia menerima masker yang diberikan oleh Zerin lalu ia letakan di atas meja yang berada tepat di depannya & kembali memperhatikan Aldo yang sedang bersama dengan bu Melati.


Zerin ikut melihat kearah dimana mata kakaknya tertuju, mata Zerin bolak balik melihat kearah teman Pelangi lalu kembali lagi ke Zarow untuk memastikan apakah kakaknya sebenarnya sedang memperhatikan teman pria Pelangi.


Mata Zarow saat ini terlihat seperti memendam amarah, seolah berapi-api, Zerin tak mengerti apa yang menyebabkan tatapan mata kakaknya tersebut seperti amat kesal melihat teman Pelangi yang jelas-jelas tidak ia kenal.


Melihat mata kakaknya yang saat ini tak juga kunjung berkedip melihat kearah teman Pelangi, ia kemudian berdiri menuju arah Pelangi yang saat ini duduk di sebelah pak Abdullah untuk mencuri perhatian agar perhatian tertuju kepadanya & pada kakaknya kembali.


" kakak " kata Zerin manja.


Dengan sikapnya yang manja & sangat manis tentu saja dengan sangat mudah semua mata kini kembali tertuju kepadanya.


" kenapa dek? " tanya Pelangi pada Zerin yang telah berdiri di sebelahnya, " sini duduk " kata Pelangi lagi mempersilahkan Zerin duduk disebelahnya.


Pak Abdullah lupa menyampaikan niat kedatangan tuan muda Zarow siang ini bersama adiknya ke rumah sakit, karena hari ini ia sudah diperbolehkan untuk pulang tuan muda Zarow sengaja datang untuk menjemputnya & mengantarkannya pulang kerumahnya.


" Pelangi siang ini pak Zarow datang khusus ke sini katanya buat ngejemput bapak " jelas pak Abdulah yang mengingat niat tuan muda Zarow datang ke rumah sakit siang ini.


Merasa namanya disebut oleh pak Abdullah ia sontak menoleh kearah pak Abdullah & tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, didekat pak Abdullah saat ini sudah ada adiknya bersama dengan Pelangi duduk bersebelahan.


" maaf pak jangan panggil saya pak Zarow lah, kan saya tadi udah bngomong, saya juga masih muda, panggil aja Zarow " jelas Zarow pada pak Abdullah ramah.


Saat pada waktu jam kerja memang Zarow adalah atasan tertinggi sekaligus pemilik perusahaan tempat pak Abdullah bekerja, tetapi saat diluar kantor Zarow hanyalah pemuda biasa seperti pada umumnya.


Zarow tersenyum sambil menganggukan kepalanya untuk menyapa Pelangi, ini adalah pertemuannya yang ketiga dengan Pelangi secara langsung tetapi sampai saat ini ia belum juga pernah sekalipun mengobrol dengan Pelangi.


" lagian ini kan di luar kantor pak, jadi jangan terlalu formal " jelas Zarow lagi.


Pak Abdullah hanya manggut-manggut mengerti, meskipun tuan muda Zarow berkata seperti itu tetap saja ada perasaan canggung untuk memanggil atasannya dengan sebutan nama biasa.


Saat pertemuan pertamanya dengan Zarow ia berpikir jika pemuda tersebut adalah pria kaya yang sombong & tak memiliki etika, bahkan ia nampak terlihat galak & sok kaya, Pelangi sedikit tersenyum karena saat ini ia sedikit lebih tau jika sebenarnya Zarow tak sepenuhnya tidak baik.


" baik pak, eh nak Zarow " kata pak Abdullah canggung.


Aldo yang masih berdiri di dekat bu Melati melihat kearah tuan muda Zarow yang notabenenya adalah bos sekaligus pemilik perusahaan dimana ayah Pelangi bekerja.


Mengetahui niat kedatangan tuan muda Zarow siang ini ke rumah sakit untuk menjemput ayah Pelangi ia cukup mengerti, ini adalah sebagai bentuk pertanggung jawaban atasan sekaligus pemilik perusahaan kepada karyawannya.


Apalagi selama ini yang ia dengar bahwa pemilik perusahaan tersebut memang sangat mengutamakan keselamatan kerja karyawannya, sehingga pada saat ada musibah seperti pihak perusahaan pasti akan bertanggung jawab dengan baik.


" kakak nanti balik bareng Zerin ya? " ajak Zerin


Pelangi melihat kearah Zerin lalu melihat kearah Aldo, siang ini Aldo sengaja ikut ijin pulang cepat bersamanya agar bisa membantu dirinya untuk membawa ayahnya pulang ke rumah mereka, tak menyangka sudah ada tuan Zarow yang telah datang duluan untuk menjemput ayahnya.


Jujur saja saat ini ia bingung harus seperti apa, selain tak enak dengan Aldo ia juga tak enak dengan tuan muda Zarow, ia ditempatkan di antara pilihan yang sangat sulit & membuatnya jadi serba salah.


Aldo hanya menganggukkan kepalanya mengisyaratkan iya pada Pelangi, ia yakin saat ini Pelangi pasti sedang tak enak dengannya, Aldo sangat mengerti jika Pelangi harus ikut pulang bersama tuan muda Zarow sebagai bentuk jika mereka menghargai niat baik Zarow.


Melihat Aldo yang telah mengisyaratkan iya dengan menganggukkan kepalanya, Pelangi semakin tak enak, meskipun terlihat dari tatapan Aldo jika ia sangat tulus saat ini, apalagi Aldo sudah repot-repot ikut ijin segala untuk ikut dengan dirinya.


" kakak ikut ya? " tanya Zerin lagi, sambil menggoyang tangan Pelangi.


Ia tersadar dari pikirannya sendiri karena tangannya digoyang oleh Zerin, ia lalu menoleh kearah Zerin sambil memegang tangan Zerin, dengan tatapan lembut ia menganggukkan kepalanya meskipun dengan hati tak enak.


Zerin tersenyum senang akhirnya ia bisa membujuk Pelangi untuk ikut pulang bersama dengannya, melihat teman pria Pelangi mengangguk barusan kearah Pelangi sebelum Pelangi menjawab, ia tau sebenarnya Pelangi & temannya sudah punya rencana lain sebelumnya.

__ADS_1


Mungkin saja keduanya sebenarnya berencana akan membawa pak Abdullah pulang bersama sebelumnya, tetapi karena di rumah sakit sudah ada ia & kakaknya duluan datang untuk menjemput pak Abdullah, Pelangi jadi bingung harus bagaimana.


Demi membuat Pelangi bersatu dengan Zarow ia tak perduli jika harus memisahkan Pelangi dari teman prianya tersebut, Zerin tau jika sebenarnya sikapnya ini egois tetapi demi bisa menjadikan Pelangi menjadi kakak iparnya ia juga harus sedikit berusaha keras untuk mendekatkan Pelangi dengan Zarow tanpa ada satu orang pun yang menghalangi.


" kata Dokter jam berapa ayah boleh pulangnya bu? " tanya Pelangi pada ibunya.


" katanya si nanti sore ya, tunggu resep obatnya baru boleh pulang " jawab bu Melati.


Siang tadi setelah Dokter mengatakan pak Abdullah sudah boleh pulang, perawat pun langsung membuka jarum infus yang berada ditangan pak Abdullah, saat ini mereka masih ada di rumah sakit karena masih menunggu resep obat sekaligus menunggu berkas sebagai ijin jika sudah boleh pulang.


" tapi ayah sudah sehat kan? " tanya Pelangi memastikan.


" ya seperti yang kamu liat lah gimana? " jawab pak Abdullah yang sudah merasa agak sehat.


Meskipun belum pulih benar tetapi keadaannya saat ini sudah lebih baik dari sebelumnya, karena kondisinya saat ini telah membaik sehingga seterusnya ia hanya perlu berobat jalan saja untuk memulihkan kondisinya seperti sediakala.


" kali ini Pelangi mohon ya yah, please jangan sok baik-baik aja, Pelangi gak mau ayah kenapa-napa " wanti-wanti Pelangi yang tak ingin jika ayahnya kenapa-napa.


" bu tolong kasih tau anakmu ini, kasih tau dia kalo ayah ini sudah sehat, ya walaupun jalannya masih pincang-pincang, lagian lama-lama di rumah sakit bukannya sembuh malah makin sakit ayah " tutur pak Abdullah panjang lebar.


Bu Melati hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat suaminya yang sebenarnya memang sudah sangat tak sabar ingin pulang ke rumah mereka, begitu tahu jika ia sudah boleh pulang pak Abdullah terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya.


" di rumah sama di rumah sakit enak di rumah Pelangi, di sini makannya bubur, ayah gak suka makan bubur " terang pak Abdullah.


Reflek Pelangi menepuk jidatnya, sambil menahan tawanya, ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melihat kearah ayahnya.


" selamat sore pak Abdullah " kata perawat yang baru saja datang berjalan kearah mereka.


" iya sus "


" ini sudah boleh pulang ya, ini resep obatnya, nanti bisa ditebus sama istri atau anaknya, & ini surat-surat untuk berobat jalannya ya, disini sudah tertera tanggal berapa jadwal berobatnya " jelas perawat tersebut.


" oh terimakasih sus, jadi ini udah boleh pulang kan sus? " tanya Pelangi.


" iya mba, kalo begitu saya permisi dulu ya " pamit perawat tersebut.


Setelah kepergian perawat tadi, Pelangi langsung membaca surat yang diberikan oleh perawat tersebut kepadanya, serta membaca resep obat yang harus ia tebus.


Zarow berdiri untuk melihat resep obat yang harus di tebus karena semua yang menyangkut pak Abdullah saat ini masih menjadi tanggung jawab perusahaan.


" boleh liat? " tanya Zarow singkat


Pelangi melihat kearah Zarow yang saat ini sudah berdiri mepet di sebelahnya yang saat ini juga sudah berdiri, ia agak menggeserkan kakinya agar tak terlalu dekat dengan Zarow.


" iya boleh " jawab Pelangi sambil memberikan kertas resep obat serta berkas rumah sakit kepada Zarow.


Diambilnya kertas yang disodorkan oleh Pelangi padanya, Zarow membaca berkas dari rumah sakit tersebut, setelah membaca berkas tersebut, lalu ia mengembalikan berkas-berkas dari rumah sakit saja pada Pelangi lagi sedang resep obat pak Abdullah masih ia pegang.


" ini si tebus sekarang kan? " tanya Zarow pada Pelangi.


" iya " jawab Pelangi sambil mengangguk.


" bisa temanin buat tebus obat pak Abdullah? " tanyanya to the poin.


Mendengar pertanyaan Zarow sontak Pelangi menoleh kearah Zarow yang juga sedang menatap kearahnya dengan serius & menunjukan resep obat yang ada ditangannya.

__ADS_1


__ADS_2