Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda

Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda
Bab 23


__ADS_3

Berkali-kali ia berusaha memejamkan matanya untuk melupakan permasalahannya sejenak, kegusaran yang ia rasakan saat ini membuatnya gelisah & tak bisa tidur, terngiang-ngiang di kepalanya tentang keputusan apa yang harus ia berikan esok pada keluarga Zarow.


Ia terus teringat obrolannya dengan tuan muda Zarow saat menjemputnya sore tadi, pria yang telah meminang dirinya untuk menjadi calon istri beberapa hari yang lalu ternyata tak mengerti sedikitpun tentang agama, bahkan ia juga tak pernah melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim dengan menunaikan ibadah sholatnya.


Zarow sangat bertolak belakang dengan kriteria suami yang ia idamkan, selama ini ia selalu berdoa agar mendapatkan suami yang seiman dengannya, bukan hanya itu ia juga sangat menginginkan seorang suami yang bisa membimbingnya menjadi seorang muslim yang sesungguhnya & tak semata-mata hanya mengejar dunia saja.


Mengingat hal itu pun keraguannya untuk menerima Zarow semakin menjadi-jadi, meskipun beberapa saat lalu tuan Yonso telah menuturkan bahwa mereka tak pernah mengajarkan tentang agama kepada anak-anaknya termaksud Zarow.


Ada sebelah sisi hatinya yang tak bisa menerima Zarow karena tak bisa menjalankan perintah agamanya dengan baik padahal dalam islam sholat merupakan hal yang wajib, bagaimana mungkin seorang pria yang seharusnya menjadi seorang imam tak memiliki bekal agama.


Tapi ada sedikit di sebelah hatinya yang lain merasa sangat kasihan dengan Zarow yang tak mengerti tentang agamanya, Pelangi berpikir jika Zarow juga perlu belajar kembali untuk mengerti & mengenal tentang agama yang dianutnya bukan semata-mata agamanya islam hanya dalam KTP saja.


Tok...tok...


" Ngi "


Lamunannya seketika buyar mendengar suara panggilan & ketukan dari balik pintu kamarnya, ia mulai berdiri berjalan kearah pintu setelah tepat berada di depan pintu ia mulai membuka pintu kamarnya, sudah ada ibunya berdiri di depan pintu kamarnya sambil tersenyum.


" iya bu kenapa? " tanya Pelangi sambil melihat kearah ibunya.


" kamu gak makan?, ini udah malem loh tapi ibu dari tadi gak liat kamu pergi kedapur buat makan " tanya bu Melati.


Jam telah menunjukan pukul 09.45 malam, karena tak melihat anaknya sedari tadi tak makan malam ia sengaja datang ke kamar anaknya untuk bertanya secara langsung.


" Pelangi kenyang bu " jawab Pelangi singkat.


Nampak wajah risau Pelangi saat ini yang membuat bu Melati faham dengan permasalahan apa yang saat ini sedang anaknya tersebut pikirkan.


Bu Melati memegang tangan putrinya sambil mengelus-ngelusnya & tersenyum, ia sangat berharap jika anaknya tersebut tak menjadikan beban keputusan yang harus ia ambil, ia tak pernah memaksakan apapun nantinya keputusan anaknya tersebut.


" kamu kenapa?, hmmmm " kata bu Melati yang akhirnya bertanya tentang Pelangi, " kamu pasti bingung sama jawaban yang harus kamu jawabkan? " kata bu Melati lagi.


Pelangi mendengus membuang nafas kasarnya dari mulutnya, baginya ini sangat berat, ia sudah berdoa kepada allah agar dijauhkan dari Zarow jika memang Zarow bukan lah pilihan yang tepat, tapi akhir-akhir ini ia & Zarow malah seolah di dekatkan.


" iya bu, Pelangi bingung jawaban apa yang harus Pelangi kasih " jawab Pelangi.


Lagi-lagi ibunya hanya tersenyum sambil terus memegang tangannya & melihat kearahnya, dengan pandangan mata yang teduh & sangat hangat membuatnya seketika menjadi agak tenang meskipun ibunya belum mengatakan sepatah katapun untuk menenangkan dirinya.


" boleh ibu masuk kedalam kamar? " tanya bu Melati.


Pelangi hanya menganggukkan kepalanya & menggandeng ibunya untuk masuk kedalam kamar, ia terus memandang ibunya yang saat ini masih saja melukiskan senyum diwajahnya.


Pelangi merupakan anak semata wayangnya sehingga bu Melati sering kali menempatkan dirinya bukan hanya sebagai orang tua saja bagi Pelangi tetapi ia juga berusaha menjadi teman maupun sahabat untuk putrinya sendiri, mereka berdua lalu duduk di tepi ranjang setelah berada didalam kamar.


" kalo boleh ibu tau apa yang bikin kamu bingung Ngi? " tanya bu Melati.

__ADS_1


Pelangi menatap kearah ibunya yang saat ini telah duduk disebelahnya, ia mulai memeluk ibunya & menyenderkan kepalanya di bahu ibunya untuk mendapatkan rasa tenang.


" Pelangi belum terlalu yakin sama keputusan Pelangi bu " jawabnya terus terang, " bu " katanya lagi yang sudah melepaskan pelukannya dari ibunya & memegang tangan ibunya.


" hemmm " jawab ibunya singkat yang juga melihat ke arah Pelangi.


" bu kalo seandainya Pelangi gak terima mas Zarow ibu sama ayah gak papa kan? " tanyanya.


Bu Melati gantian memeluk putrinya yang terlihat nampak sangat terbebani, ia tak ingin jika putrinya tersebut salah mengambil keputusan, apapun keputusan putrinya ia akan terus mendukungnya, selama keputusan yang ia putuskan merupakan yang terbaik untuknya.


" Ngi, apapun keputusan kamu ibu gak masalah kok, ibu yakin itu keputusan yang terbaik yang sudah kamu pikirkan matang-matang, lagian kamu sudah dewasa buat menentukan pilihan kamu sendiri, apapun itu pasti itu yang terbaik buat kamu ibu yakin itu " kata Bu Melati sambil tersenyum, " & ibu juga yakin ayah mu juga punya pemikiran yang sama kaya ibu, jadi jangan kamu jadikan beban keputusan yang bakal kamu ambil ya, sekarang banyak-banyak berdoa supaya diberi petunjuk sama allah semoga keputusan kamu nantinya adalah yang terbaik buat kamu & juga buat pak Zarow " kata bu Melati lagi panjang lebar.


Pelangi tersenyum sambil memeluk ibunya kembali, mengenai perihal keputusan pinangan yang datang padanya kedua orangtuanya memang sepenuhnya mempercayakan keputusan tersebut padanya.


Kedua orangtuanya tak sedikitpun ikut campur & tak memaksa untuk harus menerima pinangan tersebut meskipun meraka tau Zarow merupakan orang terkaya di Indonesia & cukup berpengaruh, hanya saja Pelangi takut jika ia menolak Zarow akan berimbas kepada ayahnya.


Ia harus bisa menerima kemungkinan jika ayahnya akan dipecat dari perusahaan jika ia menolak Zarow, ia tak bisa membayangkan bagaiman jika ayahnya dipecat dari perusahaan secara tidak hormat.


" kamu tadi udah sholat belum? " tanya bu Melati.


" udah lah bu, ini udah malem banget mas iya Pelangi belum sholat sih " jawabnya.


" ya udah kalo gitu ibu keluar dulu ya, habis ini kamu tidur aja, gak usah begadang, gak usah terlalu dipikirin masalah kamu, tar kalo terlalu kamu pikirin malah kamu yang stres " tutur bu Melati panjang lebar.


Pelangi hanya mengangguk & tersenyum, ia cukup senang mendengar nasehat-nasehat ibunya, nasehat tersebut membuat dirinya menjadi tenang, pikirannya sedikit agak lega saat ini meskipun hal tersebut tetap saja masih menjadi beban pikiran untuknya.


" Ngi " panggil bu Melati.


" iya bu " jawab Pelangi yang langsung berbalik kembali melihat ke arah ibunya.


" kamu sholat istikharah lagi ya nanti malam, minta keyakinan untuk jawaban kamu sama yang maha kuasa " kata bu Melati.


Sebaiknya ia memang harus melakukan sholat istikharah sekali lagi untuk meminta keyakinan diri untuk jawaban yang akan ia berikan seperti yang ibunya katakan.


" iya bu " jawabnya singkat sambil tersenyum.


" ya udah masuk gih " perintah bu Melati.


Setelah mengingatkan putrinya agar melakukan sholat istikharah lagi, bu Melati kemudian kembali berjalan menuju arah kamarnya.


Pelangi mulai menutup pintu kamarnya & merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, ditatapnya kembali langit-langit kamarnya, beberapa hari mengenal Zarow sebenarnya tak sepenuhnya pria kaya tersebut sifatnya buruk.


Masih ada beberapa hal positif yang bisa dilihat dari tuan muda Zarow, yang ia tau dari Zerin sebenarnya Zarow merupakan sosok yang sangat menyayangi keluarganya meskipun ia tak pernah menuturkan hal tersebut, karena Zarow lebih suka menunjukan sesuatu dengan tindakan dari pada dengan kata-kata.


Zerin juga menuturkan jika kakaknya tersebut tak suka berbicara panjang lebar, setiap apa yang ia rasakan hanya bisa ia ekspresikan dari raut wajahnya saja, tetapi bagi Pelangi hal tersebut tak sepenuhnya benar karena selama ini yang ia tahu Zarow merupakan pria tercerewet yang pernah ia kenal.

__ADS_1


" kenapa dari tadi otak gue isinya Zarow mulu sih, kenapa gue gak bisa mikirin yang lain aja, kerjaan kek, masalah apa kek, kenapa juga harus gue yang dia pilih buat jadi istrinya, di dunia ini banyak perempuan kenapa harus gue, jadi ribet gini rasanya hidup gue " kata Pelangi sendiri.


Selama beberapa minggu ini ia memang selalu memikirkan jawabannya untuk Zarow & secara otomatis itu membuatnya terus-terusan memikirkan setiap hal baik maupun buruknya tentang pria tersebut.


******


Di tempat lain seorang pria juga merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya sambil menatap langit-langit kamarnya, sudah beberapa hari semenjak mengenal seorang gadis berseragam Satpol dirinya sangat susah tidur, ia saat ini sedang mengidap insomnia.


Zarow tak mendapatkan istirahat yang cukup selama seminggu ini, pikirannya terus tertuju pada Pelangi begitupun malam ini, malam ini ia sangat gelisah karena khawatir jika esok jawaban yang diberikan gadis Satpol tersebut tak sesuai dengan yang ia harapkan.


Teringat beberapa saat lalu saat ia menjemput Pelangi untuk mengantarkannya pulang kerumahnya, di perjalanan gadis tersebut menanyakan perihal agamanya, tentang ibadah sholatnya.


Selama ini Zarow hanya berpikir jika ia berbuat baik saja itu sudah cukup bagi kehidupan karena baik kepada sesama juga sangat penting, namun pada kenyataannya kita bukan hanya dianjurkan untuk berbuat baik saja kepada sesama kita juga perlu melakukan hal lainnya sesuai norma-norma dalam agama karena kita bukan akan hidup sepanjang hayat di dunia saja namun pada akhirnya kita juga akan menjalani kehidupan diakhirat.


Pelangi mengingatkan dirinya tentang kematian, hidup tidaklah selamanya kekal di dunia untuk itu kita juga perlu memiliki bekal untuk menuju akhirat, apa saja bekal menuju akhirat, bekal menuju akhirat yaitu menjalankan perintah-perintah agama seperti menunaikan ibadah sholat.


Selama ini tak ada yang mengingatkan dirinya tentang kematian, ia sibuk mengejar dunia saja selama ini tanpa sedikitpun mencaritahu tentang agama yang dianutnya, kedua orangtuanya tak pernah mengajarkannya tentang agama apalagi selama ini ia besar & tumbuh dikalangan orang-orang yang bukan beragama muslim.


Zarow baru kembali dari luar negeri selama beberapa puluh tahun setelah menyelesaikan pendidikannya diluar negeri, setelah berada di indonesia ia juga langsung disibukkan dengan urusan kantor & tak sedikitpun ingat jika dirinya juga punya tuhan yang tentunya harus ia sembah.


Sampai saat ini Zarow terus terngiang-ngiang dengan kata-kata Pelangi, saat telah sedewasa ini baru ada yang mengingatkan dirinya tentang tuhannya & agamanya, ia berpikir apakah ia masih pantas untuk belajar mengenal kembali agamanya.


Hatinya kali ini benar-benar berhasil tergetarkan oleh Pelangi, mengapa baru kali ini ada seorang wanita yang menurutnya tak begitu menarik dari segi penampilannya tetapi ia mampu membuat Zarow seolah ingin menangis karena teringat setiap dosa yang ia perbuat.


Hanya beberapa menit membahas tentang agama sudah mampu membuat hatinya agak terbuka, ia mulai berniat untuk mempelajari tentang agamanya kembali, tetapi ia ragu apakah setiap dosa yang ia lakukan akan di ampuni oleh tuhannya.


Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sambil memejamkan matanya, sebenarnya Zarow bingung harus belajar dari mana dulu jika ia ingin mempelajari agamanya kembali. Jika ia belajar kembali tentang islam ia harus memulainya kembali dari nol, ia benar-benar sudah lupa bagaimana cara mengerjakan sholat apalagi mengaji.


" ya tuhan apa aku masih pantas untuk kembali mengenal dirimu, apakah tobatku ini gak terlambat, tuhan tolong bimbing aku untuk bisa kembali mengenal ajaranmu " kata Zarow sendiri.


Jam telah menunjukan pukul 10.00 malam, sampai saat ini ia belum juga merasakan kantuk, ia lalu bangun dari tidurnya & keluar menuju pintu balkon kamarnya, dihirupnya udara malam yang berhembus segar.


Ia mulai mengambil sepuntung rokok & dibakarnya, sebenarnya ia bukanlah seorang perokok yang aktif hanya saja saat ia merasa banyak pikiran sesekali ia akan menyalakan rokok.


" uhuk-uhuk " batuknya.


Tiba-tiba ia terbatuk saat mengisap rokok yang berada ditangannya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya & mematikan rokok tersebut.


" ah rokok pun rasanya jadi aneh gini "


Ia bersedakep menatap kosong kearah depan, satu kata yang terus ia ingat yang dikatakan oleh Pelangi sore tadi, jika hidup tanpa ilmu agama maka hidupnya tak akan berarti apa-apa meskipun sepanjang apapun usia manusia tersebut tutur Pelangi.


Usianya lebih tua dari Pelangi tetapi bahkan ia tak sedikitpun mengerti tentang agama, ia cukup malu dengan Pelangi, itu lah mengapa kedua orangtuanya menginginkan Pelangi menjadi menantu di keluarganya.


Ia baru sadar apakah keistimewaan yang dimiliki Pelangi, kini malah giliran dirinya yang merasa tak pantas jika harus bersanding dengan Pelangi tetapi ia juga tak rela jika ia tak memiliki Pelangi karena baginya Pelangi diibaratkan bagai sebuah berlian.

__ADS_1


Keegoisannya untuk menjadikan Pelangi menjadi pendamping hidupnya semakin menjadi-jadi, ia tak akan melepaskan Pelangi jatuh ke pelukan pria manapun, apapun akan ia lakukan agar bisa mendapatkan Pelangi.


" gue tau gue gak pantes buat jadi pendamping lo, tapi gue butuh lo supaya gue bisa kembali belajar tentang agama, lo yang ngingetin gue soal agama jadi gue berharap lo juga yang harus ngedampingi gue buat ngejalani ini dengan baik " kata Zarow sendiri.


__ADS_2