Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda

Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda
Bab 58


__ADS_3

Beberapa jam berlalu setelah akad nikah yang telah usai diselenggarakan dengan baik ia masih enggan mengajak tuan muda Zarow berbicara, meskipun ia & Zarow sesekali duduk bersebelahan & bahkan beberapa saat lalu sempat melaksanakan ibadah sholat berjamaah dengan kluarga bersama.


Ia masih kaku bahkan terlihat nampak tak siap menjadi nyonya dari seorang tuan muda Zarow, terlebih mengingat masalah yang belum ada kejelasannya sampai kini, entah pernikahan ini benar atau salah pikirnya.


Kini Pelangi hanya duduk diam didalam kamarnya, ia masih sibuk dengan lamunan pikirannya sendiri diatas ranjangnya, sedang Zarow berada di luar tepatnya di ruang tamu masih asik mengobrol dengan ayah Pelangi.


Pelangi masih terus menerus berpikir apakah malam ini ia harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, air matanya tak terasa menetes. Pelangi benar-benar belum siap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.


" ya Allah, dosakah hamba jika malam ini hamba tidak menjalankan kewajiban hamba?, hamba belum siap ya allah " , gumam Pelangi dalam hati.


Ia sama sekali tak merasakan kebahagian seperti yang dirasakan pengantin baru saat telah sah menjadi seorang istri, justru kebimbangan makin berkecemuk dipikirannya.


Tok....tok...


Suara ketukan pintu membuat lamunannya seketika membuyar, Pelangi menoleh kearah pintu sambil menghapus air matanya, siapa pikirnya yang mengetuk pintu kamarnya.


" masuk " singkat Pelangi.


Mendengar suara jawaban Pelangi dari dalam yang mengizinkannya untuk masuk ia pun segera membuka pintu kamar untuk masuk ke dalam kamar.


Kreeeeekkkkkkk......


Tak lupa Zarow menutup kembali pintu kamar tersebut, terlihat Pelangi sedang menatap kearahnya dengan mata yang terlihat masih basah, Zarow yakin jika Pelangi baru saja menangis & tentu saja ia tau apa penyebabnya.


Sebenarnya Zarow juga masih kaku berada disatu ruangan yang sama dengan Pelangi terlebih lagi malam ini ia & Pelangi harus berbagi tempat tidur yang sama.


Begitu melihat Zarow lah yang membuka pintu kamarnya ia pun langsung mengalihkan pandangannya, seharusnya ia tak patut melakukan hal ini pada suaminya sendiri, ia tahu ini adalah sebuah dosa besar untuknya.


Sambil menggaruk kepala akhirnya Zarow yang sedari tadi terpaku melihat Pelangi akhirnya berjalan mendekat & duduk di tepi ranjang yang berada di sebelah Pelangi, terlihat Pelangi mengalihkan pandangannya kearah lain dengan raut wajah sedihnya.


" Aku tau kamu masih salah faham sama aku, tapi aku mau kamu percaya sama aku kalau aku sudah berubah, karena aku bukan pria bejat seperti yang dulu, tapi aku bingung bagaimana cara menjelaskan semuanya sama kamu, aku yakin kamu pasti kecewa & gak akan pernah mau mendengarkan penjelasan dari aku, maafin aku Pelangi mungkin aku telat kasih penjelasan sampai-sampai kesalah fahaman ini berlarut-larut sampai sekarang, seharusnya ini adalah hari bahagia kita ", batin Zarow.


Ia hanya mampu menatap Pelangi tanpa bisa mengatakan sepatah kata pun, jujur ia bingung bagaimana cara menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya pada Pelangi. Terus memperhatikan Pelangi tanpa ada obrolan diantara mereka akhirnya Pelangi pun berdiri.


Zarow yakin jika Pelangi berusaha menghindar dari dirinya, bagaimanapun juga Zarow tak ingin Pelangi terus menerus bersikap acuh tak acuh padanya seperti ini, baginya sudah cukup beberapa hari ini ia merasa merana karena tak bisa berbincang & bertemu dengan Pelangi seperti biasanya.


Belum sempat Pelangi beranjak dari tempatnya Zarow dengan cepat menarik jari jemari Pelangi untuk mencegah Pelangi pergi. Tarikan tangan Zarow membuat Pelangi tak seimbang sampai akan terjatuh, beruntung Zarow dengan sigap cepat bergerak menangkap tubuh Pelangi yang oleng.


Saat akan beranjak tiba-tiba dari arah belakang Zarow menarik jemarinya sehingga membuat tubuhnya tak seimbang & tumbang menghadap kearah belakang, ia menutup matanya karena merasa akan terjatuh.


" Allahu Akbar " kata Pelangi


Terasa tangan Zarow melingkar di pinggangnya untuk menangkap tubuhnya yang tak seimbang sehingga tubuhnya jatuh kedalam pelukan Zarow, ia hanya bisa pasrah tanpa perlawanan sedikitpun.


Saat membuka mata ia sudah berada diatas tubuh Zarow, mata mereka saling pandang, terlihat sebuah ketulusan dimata Zarow, sebuah tatapan yang lembut yang penuh arti, menatap mata Zarow seperti ini ia merasa yakin jika sebenarnya pria yang telah menjadi suaminya tersebut adalah pria baik-baik.


Zarow terpana melihat mata indah Pelangi & wajah cantiknya sedekat ini, untuk pertama kalinya setelah mengenal Pelangi dalam waktu singkat & pada akhirnya mempersuntingnya menjadi istri baru kali ini ia benar-benar bisa menyentuh tangan serta memeluk tubuh Pelangi.


" Astagfirullah " tersadar Pelangi lalu bangkit & berusaha melepaskan tangan Zarow dari tubuhnya.


Pelangi pun lantas duduk tepat disamping tubuh Zarow yang saat ini msih terlentang menatap dirinya, terlihat Zarow tersenyum matanya sedikit menyipit entah apa yang sedang dipikirkan oleh Zarow.


" kenapa? " tanya Pelangi heran karena senyum Zarow.

__ADS_1


" alhamdulillah " jawab Zarow sambil menutup matanya kewajahnya.


Mendengar Zarow mengucapkan kalimat hamdallah tentu saja membuat Pelangi makin heran, mengapa tiba-tiba Zarow terlihat seperti merasa senang pikirnya.


" ih kamu sengaja ya bikin aku jatuh biar kamu bisa modus " oceh Pelangi.


Mendengar ocehan Pelangi Zarow tentu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, ini adalah hal yang paling ia rindukan, ia sangat merindukan ocehan Pelangi padanya, kini ia telah mendengarkan hal itu lagi.


" hem, kamu lupa apa kalo aku ini suami kamu?, emang kenapa kalo suami modusin istri?, aku rasa sah-sah aja kan? " jawab Zarow datar.


Tentu saja jawaban Zarow membuat Pelangi mati kutu, ia tak bisa menjawab kata-kata Zarow karena yang dikatakan Zarow sepenuhnya adalah benar terlebih mereka berdua sudah sah.


" lagian kamu punya badan lemah banget sih, aku heran kenapa kamu bisa ditempatkan dilapangan jadi pasukan Dalmas, baru juga ditarik gitu aja udah tumbang kaya kurang makan aja " kata Zarow, " oh jangan-jangan kamu ya yang sengaja pengen ngerasain pelukan aku " goda Zarow yang tiba-tiba bangun sambil menyilangkan tangannya & menaik-naikkan alisnya.


" ih apaan sih!, siapa coba yang sengaja?, lagian kan kamu mas yang narik tangan aku, wajarlah aku jatuh lagian kamu narik tangan aku kuat banget, sengaja banget mau buat aku jatuh " Jawab Pelangi.


Zarow sedari tadi tersenyum tak ada hentinya, baginya ocehan Pelangi seperti bunyi lagu cinta yang melantun indah ditelinganya yang sudah lama tak ia dengarkan.


" iya memang aku sengaja, masalah? " kata Zarow.


" ya masalah lah, gimana tadi kalo aku jatuhnya kelantai terus aku cidera, gak kebayangkan itu sakitnya kaya apa?, kamu tuh membahayakan tau mas " kata Pelangi.


Pelangi terus mengomel karena merasa seperti dipermainkan oleh Zarow, semakin ia mengomel Zarow malah semakin tertawa kegirangan, melihat Zarow kegirangan Pelangi pun kembali berdiri, ia berniat meninggalkan Zarow ditempatnya seperti beberapa menit yang lalu.


Lagi-lagi Pelangi berniat untuk meninggalkan dirinya, dengan gerakan cepat Zarow kembali menghalangi niat Pelangi dengan memegang satu tangan Pelangi dengan lembut.


" kamu mau kemana? " tanya Zarow lembut.


Pelangi melotot terkejut karena Zarow lagi-lagi memegang tangannya seolah ia tak bisa bergerak & menjadi patung, untuk kedua kalinya Zarow menyentuh tangannya kembali, dengan cepat Pelangi melepaskan tangannya dari tangan Zarow.


Zarow menaikan alisnya mendengar jawaban Pelangi yang terbata-bata & terputus karna Pelangi sedang mencari alasan agar bisa menghindar darinya.


" hem " deheman Zarow sebelum mengawali pembicaraannya.


Ia lantas turun dari tempat tidur & berdiri sangat dekat dengan Pelangi bahkan seolah tak ada jarak diantara mereka, Pelangi mencoba mundur untuk mendapatkan jarak darinya tapi Zarow terus mendekat ke arah Pelangi.


" kamu tau gak kalau bohong itu dosa?, sudah pasti tau kan?, apalagi kalau bohong sama suami sendiri, kan aku suami kamu nih, otomatis semua dosa kamu aku yang nanggung kan?, tapi kalo dosa karena bohong sama suami sendiri apa suami juga ya yang nanggung?, kan kasian tuh suami, udah dibohongi, nanggung dosanya pula " Zarow lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, " kasian ya jadi suami? " lanjut Zarow.


Jelas saja perkataan Zarow bener-benar langsung terkena dihati Pelangi, benar saja kata Zarow, segala dosa yang ia lakukan semua akan ditanggung oleh Zarow. Ia pun mengucapkan istighfar di dalam hatinya, ia berpikir bisa-bisanya ia hampir melakukan sesuatu yang sepele padahal itu juga adalah dosa besar baginya.


" Astaghfirullahaladzim " gumam Pelangi beristighfar sambil memejamkan matanya.


Setidakny Zarow sebagai suami telah mengingatkan apa hal yang tak baik untuknya & tak harus ia lakukan apalagi jika mengarahkan ia kepada dosa meskipun hanya dosa kecil sekecil duri. Pelangi lantas bergerak sambil tertunduk untuk kembali ketempat tidurnya.


" mau kemana lagi? " tanya Zarow kembali sambil memegang jari jemari Pelangi.


Lagi & lagi Zarow memegang tangan Pelangi, & kembali lagi ia reflek menarik tangannya dari sentuhan tangan Zarow tetapi kali ini Zarow tak membiarkan tangan Pelangi lepas dari genggamannya.


" kamu mau kemana? " tanya Zarow sekali lagi dengan tatapan tajamnya.


Zarow tak sama sekali kesal pada istrinya perlakuan Pelangi ini tak lepas dari kesalahannya juga yang tak bisa menjelaskan permasalahan yang selama ini mengganggu hati & pikiran Pelangi. Zarow masih berusaha tersenyum untuk mencairkan suasana kaku didalam kamar mereka.


" aku mau duduk mas, ini bisa lepas gak?, atau mau gandengan kaya gini terus kaya orang mau nyebrang? " kata Pelangi ketus

__ADS_1


" emang ada masalah kalo aku mau gandeng tangan kamu?, aku gak perduli itu mau kaya orang mau nyebrang ke atau apa ya, bukannya kita sudah sah?, gak ada larangan kan kalo aku mau pegang tangan kamu, bahkan gak ada larangan juga kalaupun aku mau sentuh kamu " terang Zarow.


Sontak mata Pelangi terbelalak mendengar kata-kata Zarow, ia adalah istri sah dari tuan muda Zarow tentu saja bukan sebuah dosa jika Zarow menyentuh dirinya, justru dialah yang akan berdosa karena berusaha menolak & menghindar.


Mental Pelangi tiba-tiba menciut karena perkataan Zarow yang barusan, ia pun tak ingin melakukan dosa tapi ia benar-benar tak siap dengan ini pikirnya.


" kenapa diam? " tanya Zarow lagi.


" ih kenapa kamu jadi bawel sih mas, ini mau terus berdiri disini apa?, kaki aku pegel pengen duduk, tapi kalau kamu masih mau berdiri ya udah kamu berdiri sendiri aja mas " kata Pelangi.


Zarow masih terus memandang kearah mata Pelangi lekat-lekat, jantungnya berdetak tak karuan, jika saja ia mempunyai kekuatan ia ingin sekali memeluk Pelangi & berterimakasih karena Pelangi telah bersedia menjadi istrinya.


" kenapa bengong? " tanya Pelangi


Lamunannya seketika membuyar karena pertanyaan Pelangi, Zarow hanya menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum. Ia sangat suka mendengar setiap kata-kata yang diucapkan Pelangi saat ini kerinduannya telah terobati kini.


Ia pun menyodorkan tangannya mempersilahkan Pelangi untuk kembali keatas tempat tidurnya, Pelangi pun beranjak dari tempatnya & kembali naik keatas tempat tidurnya kemudian Zarow juga bergerak mendekat kearah dimana saat ini Pelangi berada.


Pelangi menoleh sambil melotot kaget karena Zarow malah duduk menempel dengannya, padahal tempat tidur masih sangat luas bahkan disisi sebalah masih kosong.


" kenapa?, gak boleh apa kalau aku dekat-dekat kamu? " tanya Zarow sambil menatap kearah Pelangi.


" aku kesempitan mas, kamu kan bisa duduk disebelah sana " tunjuk Pelangi.


Zarow melihat kearah Pelangi tangan Pelangi menunjuk, bisa saja ia duduk ditempat tersebut sebenarnya tapi baginya berada dekat disisi Pelangi adalah tempat terbaik baginya.


" aku maunya disini " kata Zarow.


" iiiiii, masya Allah " kata Pelangi grigitan.


Berkali-kali ia beristighfar didalam hati agar tak terpancing emosi sambil mengusut dadanya & menggelengkan kepalanya, ia kemudian menggeser tubuhnya untuk mendapatkan ruangnya, tapi semakin ia bergeser Zarow pun juga ikut bergeser mendekat kearahnya lagi.


" mas apaan sih?, itu loh disebelah kamu masih luas, kenapa geser kesini sih?, kamu mau buat aku jatuh lagi apa? " kata Pelangi.


" iya " jawab Zarow.


" apa?, kamu mau bikin aku jatuh?, jahat banget sih, iiiiiiih " kata Pelangi sambil memukul Zarow dengan bantal.


Zarow menepis bantal tersebut & memegang kedua tangan Pelangi serta memandang jauh kedalam bola mata Pelangi yang indah.


" iya, aku pengen buat kamu jatuh, tapi bukan jatuh yang sakit, melainkan jatuh yang bikin kamu bahagia, aku pengen buat kamu jatuh cinta sama aku " kata Zarow serius.


Pelangi terbengong mendengar kata-kata gombal pria kaku yang berada dihadapannya, ia serasa tak percaya jika Zarow mampu mengucapkan kata-kata segombal itu. Pelangi memegang kepala Zarow untuk memeriksa suhu tubuh Zarow.


" kamu gak sakit ko, tapi omongan kamu ko ngelantur? " kata Pelangi.


" Ngi " kata Zarow kembali memegang kedua tangan Pelangi, " aku serius, liat mata aku, emang kamu liat kalo didalam mata aku ini ada kebohongan? " kata Zarow masih serius.


Pelangi pun terhipnotis menatap kedua bola mata Zarow, sebenarnya ia ingin sekali percaya tapi dari kejadian sebelumnya saja sampai saat ini belum ada kejelasan pikirnya kembali.


" mas, gimana aku mau percaya sama kamu?, kejadian... " belum sempat melanjutkan kata-katanya Zarow memegang bibirnya dengan satu jari telunjuknya.


" mas bakal jelasin ke kamu, ya sebelumnya mas minta maaf kalau mas terlambat buat ngejelasin tapi mas harap kamu percya dengan semua penjelasan mas tentang kejadian malam itu, karena apa yang kamu liat itu gak bener " pinta Zarow.

__ADS_1


Dari tatapan mata Zarow yang sangat bersungguh-sungguh Pelangi merasa jika memang Zarow tidak bersalah.


__ADS_2