Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda

Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda
Bab 30


__ADS_3

" sudah siap? " tanya tuan Yonso yang saat ini sudah rapi.


Tentunya saat ini mereka semua sudah sangat siap untuk segera pergi ke rumah Pelangi, terkecuali dirinya yang tiba-tiba merasa tak siap untuk mendengar jawaban penolakan dari Pelangi.


Kekuasaannya tak akan membuat keputusan Pelangi berubah jadi kata " iya " meskipun ia memaksakan kehendaknya, tapi satu hal yang ia bisa lakukan, dari kekuasaan yang ia miliki, ia bisa membuat siapa pun pria yang dekat dengan Pelangi nantinya pergi menjauh dari gadis tersebut.


Memang ini terdengar sangat jahat tetapi mau tidak mau ia harus tetap melakukan hal tersebut jika Pelangi menolaknya karena hanya dengan cara seperti itu maka Pelangi bisa menjadi pendamping hidupnya seperti harapannya.


Tuan Yonso melihat kearah Zarow yang masih saja diam seolah sibuk dengan pikirannya sendiri, baru kali ini wajah putranya terlihat amat gusar seperti tak percaya diri, ia lalu mendekat kearah Zarow & menepuk pundak Zarow.


" ayo kita berangkat " ajak tuan Yonso pada Zarow.


Lamunannya seketika buyar karena tepukan yang didaratkan ayahnya di bahu sebelah kanannya, ayahnya tersebut mengajak untuk segera berangkat ke rumah Pelangi, ia hanya mengangguk untuk menjawab tanpa berkata apa-apa.


Di depan pekarangan rumah pak Handoko telah berdiri siap menunggu tuannya saat ini, pak Handoko mempersilahkan tuannya bersama anggota keluarganya untuk masuk kedalam mobil.


" silahkan tuan " kata pak Handoko sambil menundukkan kepalanya.


" terimakasih pak " kata tuan Yonso.


Seperti biasa saat pergi bersama seperti ini tuan Yonso akan duduk di sebelah pak Handoko, sedang istri & kedua anaknya akan duduk di bangku belakang.


Bagi tuan Yonso pak Handoko sudah sama seperti keluarga sendiri karena sudah terlalu lama pak Handoko bekerja dirumahnya & menjadi orang paling mereka percaya. Tuan Yonso tersenyum kepada pak Handoko yang telah siap dengan kemudinya.


" jalan pak " kata tuan Yonso memberi perintah.


" baik tuan " jawab pak Handoko.


Pak Handoko segera menjalankan mobil menjauh dari pekarangan rumah menuju jalan raya setelah mendapatkan perintah dari tuan Yonso, pandangannya terus fokus ke depan tetapi sesekali ia menoleh kearah samping.


Jalanan malam ini cukup padat, banyak kendaraan roda dua mau pun empat masih berlalu lalang, sorotan cahaya lampu yang nyala dari kendaraan-kendaraan tersebut terasa silau dimata.


Pak Handoko menoleh kearah tuan Yonso yang duduk di bangku sebelahnya, ia agak khawatir jika tuannya merasa terganggu dengan pemandangan ini karena sudah cukup lama tuannya tak pernah pergi keluar rumah pada malam hari seperti ini selama pensiun dini.


Tuan Yonso masih duduk santai melihat kearah depan menatap gemerlapnya lampu-lampu kendaraan di sepanjang jalan, kira-kira sudah hampir tiga tahun setelah semua urusan perusahaan ia limpahkan kepada putranya Zarow ia jarang keluar pada malam hari seperti ini.


Ia hanya bisa keluar sesekali saat makan bersama keluarga kecilnya diluar & itu pun saat putra sulungnya memiliki waktu senggang. Sebagai seorag CEO pekerjaan yang di emban Zarow memang cukup padat bahkan putranya tersebut hampir tak memiliki waktu senggang untuknya sendiri.


Sementara di bangku tengah Zarow yang saat ini telah duduk di kursi pinggir dekat pintu merasa tiba-tiba tubuhnya seperti panas dingin, jantungnya berdetak tak karuan sedari tadi, keringat di tubuhnya terus berkucuran padahal jelas-jelas AC di dalam mobil tersebut menyala.


Zarow pun mulai merasa kegerahan saat ini di lepasnya satu kancing kemeja yang ia kenakan sambil melihat kearah luar, sesekali ia mengelap peluh yang hampir menetes dari jidatnya dengan beberapa lembar tisu yang baru saja ia ambil.


" nih kenapa tiba-tiba jadi panas kaya gini sih " kata Zarow dalam hati.


Zarow mengibas-ngibas kemeja yang ia kenakan kemudian mendengus mengeluarkan nafas kasarnya sambil terus menatap kearah luar, entah mengapa rumah Pelangi terasa sangat jauh malam ini pikirnya.


" kenapa sayang? " tanya nyonya Arini


Nyonya Arini yang duduk ditengah diantara putranya serta putrinya menatap kearah putranya yang terlihat gelisah tak menentu.


Zarow menoleh kearah ibunya & membenarkan duduknya serta mengancing kembali kancing kemejanya yang telah ia lepas bagian atasnya tadi.

__ADS_1


" gak papa mi " jawab Zarow singkat.


" yakin gak papa? " kata nyonya Arini bertanya kembali.


Ia merasa khawatir dengan putranya saat ini yang terlihat tak seperti biasanya, bahkan ia tadi melihat Zarow mengancing kembali kancing kemejanya yang sepertinya sengaja ia buka.


" gak papa mi " jawab Zarow mengulang kembali kata-katanya berusaha meyakinkan ibunya.


" oh, mami pikir kenapa? " kata Nyonya Arini tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya melihat kearah putranya tanpa bertanya apapun kembali.


Setelah beberapa saat akhirnya mobil yang dikendarai oleh pak Handoko yang berisikan keluarga tuan Yonso akhirnya sampai juga dipekarangan rumah Pelangi.


Zarow menatap lega saat mobil yang ia naiki akhirnya menepi juga tepat di depan pekarangan rumah Pelangi. Ia beserta kedua orangtuanya serta adiknya kemudian turun dari dalam mobil.


Setelah berada di luar mobil mereka segera berjalan menuju pintu rumah Pelangi yang sudah terbuka lebar terkecuali Zarow yang masih berdiri tak bergeming di tempatnya. Terlihat pak Abdullah serta bu Melati berdiri di pintu tersebut menyambut kedua orangtuanya serta adiknya.


Pelangi yang melihat keluarga tuan Yonso telah tiba segera menghampiri untuk menyambut juga seperti kedua orangtuanya yang saat ini tersenyum ramah bersalaman dengan tuan Yonso beserta yang lainnya.


Saat mempersilahkan keluarga tuan Yonso untuk masuk kedalam rumah Pelangi tertegun melihat Zarow yang masih tetap diam berdiri di dekat mobilnya melihat ke arahnya.


deg...deg....deg....deg....deg ...deg.... suara detak jantung Zarow


Sesaat mata mereka menjadi saling pandang saat di lihatnya Pelangi ikut menyambut orangtuanya yang menyambut orangtuanya, Zarow kemudian memegang dadanya reflek karena kembali berdetak tak menentu dengan cepat.


Dengan langkah gamang ia pun berjalan secara perlahan menuju arah dimana orangtuanya serta Zerin berada. Sebelum Zarow masuk kedalam rumah Pelangi ia terlebih dahulu mengucapakan salam.


" Assalamuallaikum " kata Zarow memberikan salam.


" waallaikumsalam " Jawab keluarga Pelangi bersama.


Ia memandang kearah istrinya yang saat ini juga melihat kearahnya, ia yakin istrinya pasti juga tak kalah terkejutnya dengan dirinya, istrinya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Entah sejak kapan putranya tersebut mulai membiasakan dirinya mengucapkan salam seperti saat ini. Nyonya Arini berpikir jika semua ini berkat Pelangi, ia memang tak salah pilih untuk menjadikan Pelangi menjadi calon istri putranya pikirnya lagi.


Pelangi tersenyum menjawab salam yang di ucapkan oleh Zarow, ia tau ini adalah hal yang tak mudah untuk Zarow karena ini adalah kali keduanya Zarow mengucapkan salam setelah berpamitan tadi sore.


Pelangi berharap bukan hanya salam saja yang akan Zarow pelajari saat ini tetapi juga tentang ibadah serta apapun itu tentang agama.


" silahkan duduk mas " kata Pelangi yang mempersilahkan Zarow untuk duduk sambil tersenyum.


Zarow membalas senyum Pelangi sambil menganggukkan kepalanya kemudian duduk di sofa yang masih kosong tepat di sebelah Zerin.


Pelangi bersama dengan ibunya pergi arah dapur untuk membuat minuman untuk disuguhkan kepada tamu meraka saat ini, setelah selesai membuat beberapa cangkir teh hangat ia lalu keluar dengan membawa teh hangat tersebut di atas nampan.


Sedangkan ibunya membawa beberapa toples kue kering yang dibuat tadi sore dengan bantuan darinya, dengan senyum manisnya Pelangi memindahkan cangkir-cangkir yang berada di atas nampan ke atas meja.


" silahkan di minum om, tante, Zerin, mas " kata Pelangi mempersilahkan tamunya untuk meminum teh hangat buatannya.


" oh iya " kata tuan Yonso.


Ia bersama ibunya kemudian duduk bersebelahan bergabung dengan yang lainnya, ia terus mengucapkan istighfar di dalam hatinya agar mendapatkan ketenangan diri.

__ADS_1


Tangannya sudah terasa sangat dingin bahkan jantungnya berdetak sangat cepat, tak terasa ini lah detik-detik dimana ia akan memberikan jawaban.


" pak Abdullah gimana pak sudah baikan? " Tanya tuan Yonso membuka pembicaraan.


" alhamdulillah pak, seperti yang bapak liat sekarang " jawab pak Abdullah.


" syukurlah pak, saya ikut senang ngeliatnya " jawab tuan Yonso, " oh iya maaf pak kayanya langsung aja ya kita bicarakan tentang kedatangan kami malam ini berkunjung kemari kembali, seperti janji putri bapak Pelangi beberapa hari yang lalu kami datang kembali untuk mendengar jawaban dari lamaran kami kepada ananda Pelangi, kami datang untuk mendengar secara langsung jawaban dari keluarga bapak, apakah lamaran kami beberapa saat lalu akan dilanjutkan atau di tolak " lanjut tuan Yonso panjang lebar.


Pak Abdullah menoleh kearah putrinya yang memang sebelumnya menuturkan padanya bahwa ia memang sudah siap dengan jawaban yang akan ia sampaikan malam ini.


" maaf pak " kata pak Abdullah terputus.


Mendengar kata maaf pak Abdullah hatinya benar-benar kecawa, bagai di sambar oleh petir disiang bolong ia sangat merasa kesakitan yang tiba-tiba, hatinya seperti dicucuk-cucuk oleh jarum, ternyata apa yang ia pikirkan benar jika dirinya pasti akan ditolak pikir Zarow.


" tuhan beri ke ajaiban " kata Zarow dalam hati yang terus menatap kearah Pelangi.


Tuan Yonso berusaha mencerna kata-kata yang akan di katakan oleh pak Abdullah, ia cukup penasaran mengapa pak Abdullah mengucapkan kata maaf saat ini, mungkinkah lamaran mereka akan ditolak saat ini pikir tuan Yonso.


" maaf pak Yonso, bu Arini, nak Zarow, sekali lagi saya minta maaf sebesar-besarnya karena sebagai orang tua saya & istri saya tak bisa memberi jawan untuk lamaran yang datang kepada anak kami beberapa saat lalu " kata Pak Abdullah panjang lebar.


" maksudnya anak saya ditolak pak? " tanya tuan Yonso.


" oh enggak pak, bukan begitu, maksud saya jawaban gak bisa kami berikan karena semua kami serahkan pada putri kami karena Pelangi lah yang akan memberikan jawabannya sendiri, kami sebagai orang tua hanya bisa memberikan dukungan apapun itu keputusan putri kami Pelangi " tutur Pak Abdullah panjang lebar menjelaskan


Pak Abdullah tersenyum kepada putrinya yang saat ini telah menatap kearahnya, harapannya terhadap masa depan putrinya sangat sederhana, ia hanya berharap putrinya akan selalu hidup bahagia seperti saat hidup bersama mereka saat ini meskipun tak bergelimangan harta.


" iya benar pak Yonso, kami berdua menyerahkan semuanya pada Pelangi karena ini menyangkut masa depannya sendiri, apapun jawabnnya nanti kami berdua pasti akan menyetujuinya " kata bu Melati yang sependapat dengan suaminya.


Zarow bersyukur ternyata dugaannya tadi ternyata tidak benar, pak Abdullah & bu Melati hanya menyampaikan jika mereka berdua menyerahkan semuanya kepada Pelangi.


" ah, kirain tadi udah bakal di tolak, ya tuhan tolong buat hati Pelangi tergerak untuk saya " kata Zarow terus berdoa dalam hati.


Pandangan mata Zarow sedari tadi tak lepas dari Pelangi, ia terus menatap ke arah Pelangi, ia sungguh berjanji pada dirinya sendiri jika kali ini Pelangi menerima lamaran yang datang darinya ia akan membahagiakan Pelangi dengan bersungguh-sungguh pikirnya.


Tak banyak di dunia ini wanita memiliki sifat seperti yang di miliki Pelangi, tak hanya unik Pelangi adalah wanita yang membuatnya membuka mata & hatinya untuk terbuka jika tak hanya harta & tahta di dunia ini yang harus kita kejar karena pada hakikatnya kita semua pasti akan kembali kepangkuan sang maha kuasa & pada saat itu harta serta tahta kita tak akan lagi ada gunanya.


Tuan Yonso mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum, ia sangat senang mendengar jawaban dari pak Abdullah & bu Melati yang mengatakan jika mereka berdua menyerahkan semua keputusan pada Pelangi.


Bukan karena pak Abdullah & bu Melati tak perduli dengan Pelangi tetapi tuan Yonso mengerti mereka melakukan hal tersebut karena mereka berdua sangat menyayangi Pelangi & ingin memberikan kesempatan pada Pelangi untuk memutuskan apakah lamaran tersebut pantas ia terima atau tidak.


Pelangi menundukkan kepalanya sambil menutup matanya, tak sedikitpun ia lepas dari bacaan istighfarnya di dalam hatinya, semakin kesini ia semakin yakin jika apa yang akan ia putuskan adalah jawaban yang benar, ia kemudian membuka matanya & melihat kearah tuan Yonso.


" om sebelum saya menjawab sekali lagi saya mau mengucapkan terimakasih karena om & keluarga mau memberikan waktu untuk saya berpikir sebelum memberikan keputusan, terimakasih juga om Yonso & keluarga sudah sabar menunggu keputusan saya " tutur Pelangi panjang lebar.


Secara bergantian Pelangi melihat kearah tuan Yonso & nyonya Arini lalu kearah Zerin & kearah Zarow, di sanalah matanya sejenak terpaku, banyak harapannya pada Zarow jika memang ia adalah pria yang dikirim kan allah untuk jadi jodohnya suatu saat nanti.


Meskipun untuk saat ini Zarow belum seperti jodoh yang ia harapkan tapi ia yakin jika kelak allah pasti akan memberikan pintu hidayah kepada Zarow & membuka pintu taubat untuknya.


" seperti janji saya beberapa hari yang lalu malam ini saya akan menjawab lamaran yang datang dari om & tante buat saya " kata Pelangi.


Sebelum melanjutkan kata-katanya Pelangi menarik nafas panjangnya lalu mengeluarkan nafas kasarnya dari hidungnya, kembali lagi ia menutup matanya.

__ADS_1


" bismillahirahmanirohim, ya allah hamba yakin apapun nantinya jalan takdir hamba pastilah itu yang terbaik untuk hamba " kata Pelangi dalam hati sambil menutup matanya lalu membukanya kembali.


" saya menerima lamaran tersebut om " jawabnya dengan senyumannya.


__ADS_2