
Reza menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, separah itu pikirnya Zarow sampai tak mengetahui jika dirinya sedang jatuh cinta.
Memang ini untuk yang pertama kalinya bagi sahabatnya tersebut jatuh cinta tetapi seharusnya Zarow tak separah itu sampai tak mengenali perasaannya sendiri.
Zarow yang baru saja keluar dari arah dalam berdiri tertegun melihat kearah Pelangi, ia masih berusaha meyakinkan diri apakah benar yang di katakan Reza.
" mas " kata Pelangi yang langsung berdiri.
Begitu melihat Zarow keluar dari ruangan dokter Reza ia langsung berdiri & menghampiri Zarow yang terlihat nampak agak syok.
Pelangi sangat khawatir dengan keadaan Zarow, ia cukup lama menunggu di luar bahkan Zarow sampai dua kali harus masuk ke dalam ruangan dokter Reza entah karena apa.
Saat ia Pelangi akan menghampiri dirinya ia langsung mencegah Pelangi & menyuruhnya untuk duduk kembali di tempat dengan bahasa tangannya.
Pelangi yang di perintah Zarow untuk tetap berada di tempat hanya menurut begitu saja, ia lantas kembali lagi duduk sesuai dengan perintah Zarow.
Zarow kemudian duduk di sebelahnya dengan wajah agak bingung, Pelangi semakin khawatir melihat keadaan Zarow, ia masih terus fokus melihat kearah Zarow.
" mas kenapa? " tanya Pelangi.
Saat mendengar pertanyaan Pelangi ia sontak menoleh kearah Pelangi, melihat wajah Pelangi dengan tatapan lembut jantungnya pun berdetak kembali.
Terlalu dahsyat ternyata reaksi seseorang pada saat sedang jatuh cinta, bahkan ia juga bisa nampak gerogi saat bersama Pelangi padahal dirinya adalah seseorang yang memiliki kepercayaan diri penuh.
" mas " panggil Pelangi kembali sambil menarik lengan kemeja Zarow.
Karena tak kunjung mendapatkan jawaban Pelangi pun menarik lengan baju Zarow agar menyadarkannya. Entah seberapa berat perasaan yang ia rasakan setelah mengetahui penyakit apa yang saat ini sedang bersarang di tubuhnya.
Lamunannya pun seketika membuyar, karena terus-terusan bengong Pelangi pun menarik lengan kemejanya, mungkin saat ini Pelangi sangat khawatir dengan keadaannya.
" mas kamu sakit apa?, cerita aja sama aku jangan di simpen sendiri " kata Pelangi
" aku gak sakit apa-apa kok, aku baik-baik aja " jawab Zarow.
" kamu serius mas? " tanya Pelangi.
" bohong banget Zarow Ngi " kata Reza tersenyum
Reza yang akhirnya keluar lagi dari ruangannya ikut berkomentar mendengar kata-kata Pelangi, Reza berbohong tentang kondisi kesehatan Zarow.
Ia melihat kearah Reza yang baru saja keluar dari ruangannya, Reza nampak tersenyum sambil memperlihatkan sederetan gigi putihnya.
Reza berkata jika Zarow sedang berbohong tentang keadaannya sekarang, namun ekspresi Reza tak menunjukkan jika Zarow sedang dalam keadaan tidak baik pikir Pelangi.
" lo apaan sih Za, orang gue baik-baik aja " kata Zarow.
" Row lo jangan tutup-tutupin kondisi lo sama Pelangi, Pelangi berhak tau kali " kata Reza masih berbohong, " Ngi saran gue lo harus terus-terusan ada buat Zarow, jangan lupa ingatin dia dalam setiap hal, makan, minum, lagi dimana & lain-lain " lanjut Reza berbicara pada Pelangi.
Zarow hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar kebohongan Reza, bagaimana mungkin Reza justru berkata seperti itu pada Pelangi.
Mendengar kata-kata Reza ia masih diam menatap kearah Zarow, pria yang sebentar lagi akan menjadi imam dalam rumah tangganya tersebut juga melihat kearahnya.
" kamu beneran sakit mas? " tanya Pelangi serius.
Kali ini Pelangi sepertinya percaya dengan perkataan Reza, ia berpikir saat ia memang benar-benar sakit apakah Pelangi masih akan mau menerima dirinya sebagai calon suaminya.
" kalo aku sakit emang kamu masih mau jadi calon istriku? " tanya Zarow balik.
" ya emangnya kenapa mas aku harus gak terima kamu? " kata Pelangi menjawab dengan pertanyaan balik pada Zarow.
" ya siapa tau aja kamu bakal ngebatalin pernikahan kita " jawab Zarow.
Meskipun separah apa penyakit yang di derita Zarow ia tak mungkin akan meninggalkan Zarow begitu saja. Ia menerima Zarow sebagai calon suaminya karena ia percaya jika Allah telah menakdirkan ia bersama dengan Zarow.
Saat ia selalu meminta petunjuk Allah selalu memberikan petunjuk dengan menghadirkan Zarow, saat ia meminta di jauhkan tetapi ia malah selalu di dekatkan dengan Zarow, meskipun cintanya belum tumbuh pada Zarow ia tak akan pernah membatalkan pilihannya sendiri.
" gimana mungkin aku bakal ngebatalin mas, aku sudah nerima pinangan kamu & gak akan mungkin buat aku ngebatalin itu cuman gara-gara aku tau kamu sakit " kata Pelangi
Mendengar jawaban Pelangi ia justru menjadi tambah kagum dengan Pelangi, ternyata luar biasa ketulusan serta kebaikan hati Pelangi pikir Zarow.
__ADS_1
" Masya Allah, beruntungnya aku bisa punya calon istri seperti kamu, cantik & baik, tentunya sholeha juga " gumam Zarow tersenyum.
Baru kali ini Reza melihat Zarow bisa tersenyum seperti itu dengan seorang wanita, dugaannya tak salah & benar adanya jika Zarow memang sedang jatuh cinta.
" hemmmm " dehem Reza.
Seketika Zarow langsung melihat kearah Reza, terlihat Reza tersenyum sambil menganggukkan kepala serta menyatukan kedua tangannya karena ditatap sinis olehnya.
" sorry brow....sorry " kata Reza meminta maaf karena telah mengganggu ke bucinan Zarow.
Ia hanya menggaruk-garuk kepalanya karena merasa tak enak dengan Zarow, ia seolah menjadi seorang sahabat yang tak pengertian.
" mas jadi kamu beneran sakit? " tanya Pelangi memastikan kembali.
" kamu gak usah dengerin Reza, aku gak sakit kok, ya udah yu kita balik sebelum sholat dzuhur " ajak Zarow.
Reza hampir menganga mendengar kata-kata sahabatnya, sahabatnya tersebut biasanya tak perduli dengan waktu sholat, bahkan selama ini Zarow tak pernah sekalipun melaksanakan ibadah sebagai umat muslim.
" gak salah denger apa gue, Zarow bilang sholat dzuhur, dia gak pernah sholat tapi ko bisa tau sebentar lagi sholat dzuhur " gumam Reza.
" apa lo ngeliatin gue begitu Za? " kata Zarow sinis.
Merasa tatapan Reza aneh terhadapnya Zarow menjadi sewot tak terima karena di pandang seperti itu.
" enggak brow, enggak....anu gue cuman agak kaget aja lo bisa ngomong kaya gitu " kata Reza sambil tersenyum & menggaruk-garuk kepalanya.
" kenapa?, lo kaget liat orang bejat bisa insaf?, emang gak boleh apa? " tanya Zarow.
Sangking hapalnya dengan dirinya rupanya Reza kaget mendengar kata-katanya sampai-sampai Reza bereaksi seperti tadi. Sebenarnya jika diingat-ingat bagaimana dirinya wajar saja orang tak akan menyangka.
Tetapi ini memang kenyataannya kini ia telah berubah menjadi lebih baik, seperti seorang anak bayi yang baru lahir ke dunia kini ia mulai berusaha belajar semuanya kembali.
Zarow menatap kearah Pelangi yang saat ini ia yakin sedang memikirkan dirinya karena tau jika dirinya sedang sakit, padahal ia tak sedang sakit semua itu hanyalah bualan Reza semata.
" kamu kenapa bengong? " tanya Zarow pada Pelangi.
" aku? " tanya Pelangi.
Mendengar Zarow mengucapkan kalimat istighfar lagi-lagi Reza tercengang kaget, ia merasa jika pria yang berwajah Zarow yang berada di dekatnya ini bukan lah sahabatnya alias orang yang berbeda tetapi berwajah sama.
Zarow yang berada di hadapannya jelas berbeda dari Zarow yang ia kenal, sahabatnya adalah pria dingin yang tak mengenal agama apalagi kalimat istighfar seperti saat ini.
" tunggu-tunggu, gue gak salah denger kan?, lo tadi ngomong apa Row? " tanya Reza mencoba memastikan.
" iya lah kamu " kata Zarow.
" bukan-bukan, yang sebelumnya " kata Reza.
Zarow mengerutkan keningnya sambil melihat kearah Reza, mengapa Reza menjadi lebih resek pikirnya sekarang, asik mengobrol dengan Pelangi justru Reza meminta ia mengulang kata-kata yang ia sampaikan pada Pelangi sebelumnya.
" apa sih Za, lo resek banget sih gangguin aja " kata Zarow agak marah.
Spontan Reza menepuk jidatnya karena Zarow nampak sangat kesal dengannya, bukannya takut Reza malah cengengesan.
Pelangi yang masih duduk disebelah Zarow hanya diam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan dua orang pria yang bersahabat tetapi terus-terusan bersitegang.
" anu brow santai jangan ngegas gitu lah, tar tensi naik lo " kata Reza tersenyum.
" astaghfirullah " kata Zarow sambil mengelus dadanya.
Lagi-lagi Reza mendengar Zarow mengucapkan kalimat istighfar dengan sangat jelas, ternyata ia memang tak salah dengar tadi pikirnya, sahabatnya tersebut benar-benar mengucapkan kalimat istighfar.
" lo bilang astaghfirullah Row? " tanya Reza, " gue gak salah dengerkan?, soalnya udah dua kali lo bilang astaghfirullah sama yang ini " lanjut Reza.
" Za lo ada masalah sama gue gak?, dari tadi gue ngerasa lo resek banget loh, emang salah ya kalo gue istighfar? " tanya Zarow.
Begitulah gaya Zarow saat berbicara seolah sedang marah tetapi sebenarnya ia tak sama sekali sedang marah, pribadinya tak suka main-main atau berlemah lembut dengan seseorang.
Zarow selalu to the poin jika ingin mengatakan sesuatu bahkan terkadang ia lebih memilih diam & tak menyampaikan sesuatu jika menurutnya itu tak penting.
__ADS_1
" ya gak lah, cuman gue kaget aja lo istighfar, kan biasa lo kalo ngomong " kata Reza terputus.
" apa?, maksud lo gue kalo ngomong selalu kasar gitu? " celah Zarow, " setiap orang berhak kan berubah menjadi lebih baik? " lanjut Zarow.
Benar kata Zarow setiap orang berhak berubah menjadi lebih baik pikir Pelangi, ia pun tersenyum mendengar kata-kata Zarow, kini pria yang berada di sebelahnya sangat berbeda dari pria yang sebelumnya ia temui satu bulan yang lalu.
" ya udah yuk pulang, kita udah kelamaan loh disini " ajak Zarow.
Sudah sekitar satu jam ia & Pelangi menghabiskan waktu di rumah sakit, ia tak ingin jika karena terlalu lama mereka akan terjangkit virus-virus penyakit yang ada di rumah sakit.
Pelangi hanya mengangguk sambil tersenyum kearah Zarow, mengingat saat ini Zarow sedang sakit pasti akan lebih baik jika Zarow segera pulang untuk beristirahat pikirnya. Pelangi & Zarow pun segera berdiri dari duduknya,
" Za kita balik dulu " pamit Zarow.
" jaga kesehatan brow " kata Reza sambil menepuk bahu Zarow.
" apaan sih " kata Zarow singkat.
Reza terkekeh karena Zarow lagi-lagi nampak emosi dengannya, bukan karena Reza jail tapi karena Zarow tidak bisa diajak bercanda.
" sekali lagi lo ngomong gue tutup rumah sakit lo " kata Zarow.
" idih ngancem lo " kata Reza.
Ia tau betul jika sahabatnya tersebut tak bersungguh-sungguh mengatakan hal tersebut, itu hanyalah ancaman main-main semata.
" ah sudah lah ngomong sama lo itu gak bakal ada habisnya & gak ada serius-seriusnya " kata Zarow, " ya udah yu pulang yu " ajak Zarow lagi pada Pelangi.
" ok baik lah " kata Reza.
" ka balik ya " pamit Pelangi pada Reza.
" salam ayah sama ibu kamu ya Ngi " kata Reza sambil tersenyum.
Pelangi hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum juga kearah Reza tanpa menjawab dengan kata-kata. Ia lalu membalikkan tubuhnya & berjalan duluan tanpa menunggu Zarow.
Zarow masih tetap di tempat memperhatikan kepergian Pelangi lalu melihat ke arah sahabatnya. Reza masih saja tersenyum sambil memandang kearah kepergian Pelangi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
" kenapa lo? " tanya Zarow.
" kenapa? " tanya Reza balik.
" pake nanya balik lagi, tuh ngapain lo senyum-senyum sambil geleng kepala liat Pelangi?, masih ada rasa lo? " tanya Zarow
Kembali lagi Reza tertawa karena sikap cemburu Zarow, padahal ia sudah tak sedikit pun memiliki rasa lagi pada Pelangi, ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya karena ia berpikir Pelangi sangat hebat bisa menaklukan pria keras seperti Zarow.
" lo kenapa cemburuan banget si Row, gue cuman kagum aja sama Pelangi bisa naklukin playboy macam lo " kata Reza.
Zarow lantas terdiam bukan hanya dirinya yang takluk bahkan kedua orangtuanya beserta adiknya juga. Saat pertama kenal & bertemu dengan Pelangi keluarganya sudah sangat jatuh cinta dengan Pelangi.
Tak salah ayahnya menjatuhkan hatinya untuk menjodohkan dirinya dengan Pelangi karena Pelangi adalah wanita yang sangat luar biasa, meskipun awalnya ia menolak, sekarang ia sangat bersyukur karena telah menerima perjodohan yang ayahnya tawarkan padanya.
" apaan sih lo " kilah Zarow gengsi mengakui, " itu tadi ngapain lo bohong sama Pelangi bilang gue sakit, sok-sok care sama gue? " kata Zarow.
" hahahahaha, astaga yang itu masih lo tanya, ya jelas buat dapetin simpatik Pelangi lah Row, gitu aja lo gak paham " kata Reza.
Melihat Pelangi ia tau jika Pelangi belum memiliki rasa terhadap Zarow berbeda dengan Zarow yang saat ini sudah bucin dengan Pelangi. Untuk mendapatkan perhatian Pelangi jelas saja dengan berpura-pura sakit Zarow akan mendapatkan perhatian lebih dari Pelangi.
" tanpa pura-pura sakit gue juga yakin kali kalo Pelangi itu bakal jatuh cinta sama gue " kata Zarow percaya diri.
Jika mengingat siapa Zarow dengan sejuta kelebihan, wajah yang tampan serta kekayaan yang melimpah gadis mana pun dengan gampang akan jatuh cinta padanya.
" iya tau gue, lo ganteng lo kaya, tapi Pelangi gue rasa gak mandang itu dari lo " kata Reza.
" emang " kata Zarow.
" terus kenapa lo percaya diri bakal bisa taklukin hati Pelangi? " tanya Reza.
" gue yakin karena gue bakal pasrahkan semua sama yang di atas, karena gue yakin cuman Allah yang mampu membolak-balikkan hati hambanya " kata Zarow serius.
__ADS_1
Reza pun tercengang sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena mendengar kalimat Zarow yang barusan, setelah beberapa kali mendengar Zarow mengucapkan istighfar kini ia mendengar dengan jelas jika Zarow menyerahkan takdirnya hanya kepada Allah semata.
" ya udah ya, gue balik dulu " kata Zarow meninggalkan Reza yang masih diam bak patung di tugu monas.