Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda

Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda
Bab 21


__ADS_3

" ia kan Ngi? " tanya Doni memastikan.


Ia melihat kearah temannya yang saat ini sedang bertanya kepadanya, ia sudah melupakan pria yang pernah singgah & melukai hatinya bertahun-tahun lalu.


Bahkan ia tak pernah sedikitpun menyimpan dendam atau pun sakit hati kepada Satria meskipun telah berkhianat & berselingkuh dengan Adriana beberapa tahun yang lalu.


" kayanya sih, ya udah yuk balik " ajak Pelangi yang mengajak Doni untuk kembali ke kantor mereka.


Doni berjalan mengikuti Pelangi yang telah berjalan duluan di depannya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil sesekali menoleh ke belakang melihat ke arah Satria kembali.


Ia cukup heran melihat Pelangi yang tak pernah mau membahas lagi tentang Satria, bahkan saat di tanya mengenai masa lalunya dengan Satria ia hanya tersenyum & berkata bahwa ia telah melupakan semua yang telah terjadi antara ia & Satria.


Bagi gadis yang berjalan tepat di depannya ini, masa lalunya merupakan pembelajaran hidupnya, ia selalu menuturkan jika sesakit apapun masa lalu itu tak baik jika terus menyimpan dendam karena dendam hanya akan membuat bumerang bagi diri sendiri.


Betapa besar hati yang dimiliki Pelangi pikir Doni & Aldo pasti pria beruntung yang bisa memiliki Pelangi untuk di jadikan pendamping hidupnya.


Pelangi menoleh ke arah Doni yang masih terus berjalan dibelakangnya sambil menatap ke arahnya, saat ini temannya tersebut terlihat sedang memikirkan sesuatu & entah apa itu.


Pelangi pun berhenti di tempatnya sambil menunggu Doni yang saat ini mulai mempercepat langkahnya karena melihat dirinya berhenti ditempat untuk menunggu Doni.


" pasti lo nyesel ya ikut gue kesini terus gak dapat apa-apa, cuma buang-buang waktu aja sampe gak cari makan siang, maaf ya Don? " Pelangi akhirnya meminta maaf pada Doni.


Ia merasa tak enak dengan Doni karena kepergiannya ke kantor induk Zarow untuk mengambil ponsel miliknya tak membuahkan hasil karena mereka tak bisa bertemu langsung dengan tuan muda Zarow.


Doni tertegun mendengar kata-kata teman baiknya ini yang tiba-tiba meminta maaf padanya, saat ini Pelangi justru berpikir jika dirinya kesal karena kepergian mereka berdua kali ini hanya membuang-buang waktu.


" lah sapa yang nyesel Ngi, apaan lagi pake acara minta maaf, lagian gue nemenin lo ikhlas tanpa ada paksaan, masalah perut mah gampang, gak juga bakal gue mati gara-gara gak makan siang hari ini, tenang aja " terang Doni.


Pelangi hanya diam menatapnya tanpa menjawab apapun seolah masih tak percaya jika apa yang Pelangi pikirkan tentang dirinya saat ini salah, sontak Doni hanya mengangguk agar temannya tersebut percaya jika yang ia pikirkan tentang Doni adalah salah.


" ya udah yuk " ajak Doni lagi untuk melanjutkan perjalanan.


Setelah berada di motornya, tanpa menunggu lama mereka segera pergi kembali ke kantor mereka lagi dengan berboncengan kembali seperti saat tadi, Doni masih berada di kemudinya fokus melihat kedepan melewati jalan raya.


Sekilas Doni melihat Pelangi dari kaca spion yang berada di stang motornya, terlihat Pelangi sedang memperhatikan jalanan, wajahnya sama sekali tak gundah setelah melihat Satria, bahkan ia nampak terlihat biasa-biasa saja.


Doni berpikir jika mungkin benar yang di katakan temannya jika ia tak pernah menyimpan dendam sedikitpun pada Satria, Pelangi telah menutup kisah lampaunya & tak ingin membukanya kembali pikirnya.


" Ngi " panggil Doni yang masih sibuk di kemudinya.


" emmmmm " jawab Pelangi


Ia mulai melihat kearah Doni merasa namanya sedang di sebut oleh Doni, dilihatnya Doni masih terus melihat kearah Depan, fokus mengemudi.


" apa Don? " tanya Pelangi yang masih setia melihat kearah Doni.


" gue mau nanya tapi lo jangan marah ya? " kata Doni.


Doni kembali lagi melihat kearah spionnya untuk melihat Pelangi yang terlihat melihat kearahnya, Doni ingin menanyakan perihal ponsel miliknya yang saat ini sedang di bawa oleh tuan muda Zarow.


" masya allah, kalo mau nanya ya nanya aja kali Don, lagian emang gue pernah apa marah sama lo? " jawab Pelangi seraya bertanya kembali kepada Doni sambil menggelengkan kepalanya.


" ya engga sih, hehehehe " kata Doni sambil meringis.


Pelangi sama sekali tak pernah marah padanya, bahkan selama mereka berteman gadis yang saat ini ia bonceng ini sangat terlihat sabar menghadapi siapapun, pribadinya yang dewasa dalam menyikapi permasalahan membuat siapapun kagum padanya.


" emang lo mau nanya apa sih?, insya allah bakal gue jawab kok " tanya Pelangi lagi.


" ini gue cuma mau tau kenapa hp lo bisa sama pak Zarow ya? " Doni mulai menanyakan pertanyaannya.


Ia memang belum menceritakan pada Doni tentang bagaimana ponsel miliknya bisa berada di tangan tuan muda Zarow, ini semua salahnya yang melupakan ponselnya, ia lupa meminta ponselnya yang sedang di ambil oleh tuan muda Zarow kemarin saat di rumah sakit.

__ADS_1


" iya jadi kemaren pas di rumah sakit ada pak Zarow mau jemput ayah gitu " terang Pelangi.


" loh jadi kemaren lo ama Aldo gak jadi jemput ayah lo dong Ngi? " tanya Doni lagi.


" enggak, tetep jadi kok, bahkan bang Aldo yang bawa ayah pulang " jelas Pelangi.


Kemarin memang ayahnya serta ibunya pulang bersama dengan Aldo sedang dirinya & tuan muda Zarow pergi untuk menebus obat yang harus diminum ayah.


" lah terus lo enggak ikut bareng gitu? " tanya Doni lagi


" Enggak gue nebus obat ayah nemenin pak Zarow " jawab Pelangi lagi.


" ooooohhhhh " kata Doni yang hanya ber oh saja .


Sambil memanggut-manggutkan kepalanya ia seolah mengerti mengapa ponsel milik Pelangi bisa di bawa oleh tuan muda Zarow, mungkin saja ponsel milik Pelangi tak sengaja tertinggal di mobil tuan muda Zarow & tak sengaja dibawa pulang oleh tuan muda Zarow pikirnya.


Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di area parkiran yang ada di kantor mereka, setelah memarkirkan motor mereka segera berjalan bersama kembali kearah kantor mereka.


Sambil terus berjalan menuju arah meja meraka berdua ia & Doni masih asik bercerita sambil tertawa cekak-cekikikan, merasa konyol dengan kejadian siang ini.


**********


Di tempat lain jam 02.00 siang


Zarow tersenyum memutar-mutar ponsel milik Pelangi yang saat ini sudah di reset ulang bahkan ia juga telah menyadap ponsel milik Pelangi, semua data-data yang akan masuk ke ponsel Pelangi sudah di kaitkan langsung ke ponsel miliknya.


Kemana pun Pelangi pergi ia juga akan tau dengan mudah karena di ponsel Pelangi telah di setel sebuah pelacak & tentunya Pelangi tak akan tahu hal ini. Ia mengetuk- ngetuk mejanya dengan jari-jarinya & terus memperhatikan ponsel milik Pelangi.


Dilihatnya jam di tangannya saat ini, ia sudah tak sabaran untuk mengantarkan ponsel milik Pelangi saat ini tetapi masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan siang ini juga.


Zarow mulai membuka laci mejanya untuk melihat sesuatu yang telah ia simpan disana, di lihatnya masker dari Pelangi yang ia pakai kemarin tanpa ia ambil dari laci, lalu di tutupnya kembali laci mejanya kembali setelah melihat masker tersebut.



Kembali lagi ia fokus ke pekerjaannya, ia mulai membuka dokumen yang harus ia periksa, beberapa berkas mengenai anak perusahaan, saat sedang bekerja ia tak akan memikirkan hal lainnya.


Zarow mengangkat gagang telponnya untuk menghubungi sekertaris nya, saat ini ia membutuhkan secangkir kopi pahit untuk menyegarkan otaknya kembali.


*Tut....tut.


" hallo pak Amar, tolong suruh bagian Ob untuk membawakan saya kopi keruangan saya sekarang " perintahnya.


" baik pak " jawab pak Amar


Ia kemudian meletakkan kembali gagang telepon tersebut ke tempatnya & kembali fokus melihat lembaran demi lembaran yang ada di hadapannya.


*Tok...tok


" masuk " kata Zarow yang mendengar pintu ruangannya saat ini sedang di ketuk.


" permisi pak " kata seorang Ob sambil membawa nampan yang berisikan secangkir kopi.


" heeeemmm " jawab Zarow


Seperti biasa saat sedang banyak pekerjaan ia selalu ditemani dengan segelas kopi pahit seperti saat ini. Zarow hanya melirik kearah Ob yang meletakkan secangkir kopi untuknya ke atas mejanya,


" apa ada lagi yang perlu saya kerjakan pak? " tanya Ob tersebut.


" sudah cukup, bapak bisa pergi " jawabnya sekenanya.


" baik pak saya permisi dulu " pamit Ob tersebut.

__ADS_1


Setelah Ob tersebut pergi & menutup pintu ruangannya ia kemudian mengangkat cangkirnya untuk menikmati kopi pahit tersebut, ia mulai menyeruput sedikit demi sedikit & meletakan cangkirnya kembali.


Disenderkannya tubuhnya di atas kursi kerjanya untuk mendapatkan rasa nyaman, lehernya merasa agak sedikit tegang karena seharian ini jadwalnya cukup padat.


Dilihatnya kembali jam di tangannya saat ini, jam telah menunjukan pukul 03.00sore, melihat pekerjaannya sudah hampir selesai ia lalu berdiri dari duduknya & berjalan menuju arah luar ruangannya.


tak ingin terlambat untuk mendatangi Pelangi ke kantornya ia berpikir untuk meninggalkan kantor secepatnya meskipun pekerjaannya belum sempat ia selesaikan.


" pak tolong nanti bapak liat berkas-berkas di atas meja saya, sebagian sudah saya periksa tapi ada sebagian yang belum saya periksa, untuk yang belum saya periksa yang belum ada TTD saya ya pak seperti biasa, tolong nanti bapak pisahkan, saya mau pulang dulu " perintah Zarow panjang lebar.


Zarow yang berada di depan meja pak Amar langsung memberikan perintah untuk pak Amar agar memisahkan berkas di atas mejanya agar esok tak membuatnya mengulang membaca berkas yang sudah dibaca & di tanda tangani.


Pak Amar sudah berdiri di tengah-tenga mejanya & tempat duduknya begitu melihat tuan muda Zarow keluar dari ruangannya & menghampirinya, tua Zarow memberinya sebuah perintah sebelum ia pulang cepat hari ini.


" baik pak saya akan segera pisahkan setelah ini " jawab pak Amar sambil menganggukkan kepalanya.


" ok " kata Zarow singkat


Tanpa berbasa-basi lagi ia lalu pergi menjauh dari meja pak Amar menuju arah pintu lift. Setelah berada di pintu lift ia segera menekan tombol 1 untuk menuju lantai dasar.


Ia masih punya waktu beberapa puluh menit sebelum Pelangi pulang dari kantornya, karena kantor Pelangi tak jauh dari perusahaannya, tak butuh waktu yang lama untuk menuju perjalanan ke kantor Pelangi.


Seperti biasa para karyawan saat ini sedang memberikan salam padanya sambil menundukkan & membungkukkan tubuhnya, ada beberapa yang tak mengenakan masker yang memberi salam sambil tersenyum.


Zarow terus melangkah kearah ruang sekuriti untuk mendatangi pak Handoko, di lihatnya pak Handoko dari kejauhan langsung berdiri begitu melihat kearahnya yang saat ini sedang datang menghampirinya.


" pak kita pulang sekarang " kata Zarow singkat.


" oh baik tuan muda, mari silahkan " kata pak Handoko mempersilahkan tuan muda Zarow untuk masuk ke dalam mobil.


Mobil segera berjalan menuju arah luar gerbang, pak Handoko sekilas melihat ke arah tuan mida Zarow yang terlihat nampak agak lebih baikan dari beberapa hari belakangan ini yang terlihat nampak kacau.


" pak kita ke kantor Satpol dulu ya pak " perintah Zarow.


" baik tuan " jawab pak Handoko singkat.


Tujuan utama Zarow pulang cepat dari kantornya memang lah untuk pergi ke kantor Satpol, ia akan mengembalikan ponsel milik Pelangi yang saat ini sudah ada ditangannya.


Di dalam ponsel milik Pelangi ia telah menambahkan nomer ponselnya bahkan ia juga telah menyimpan nomer ponsel milik Pelangi di ponsel miliknya juga.


Zarow melipat tangannya satu ke dadanya sambil memegang ponsel milik Pelangi, ponsel milik Pelangi terlihat sudah agak usang, tipe hp lama yang baginya harganya tak seberapa.


Meskipun ia membelikan ponsel baru untuk Pelangi belum tentu gadis tersebut akan menerima barang pemberian darinya seperti yang sudah-sudah pikirnya.


Setelah beberapa menit akhirnya mobil miliknya sampai juga tepat di depan kantor Satpol, ia lalu keluar dari mobilnya & berdiri di sisi mobilnya sambil membenarkan jasnya.


" pak tunggu di sini dulu ya,saya gak lama kok, saya mau ke sana dulu, mau nemuin seseorang " kata Zarow


" baik tuan muda " jawab Pak Handoko lagi.


Zarow lalu berjalan kearah pintu kantor Satpol, setelah berada di depan pintu kantor tersebut ia segera masuk & melihat ke segala arah untuk menemukan Pelangi, dilihatnya gadis berseragam Satpol dengan mengenakan jilbab yang tak lain adalah Pelangi masih duduk anteng di depan mejanya.


Zarow lalu melanjutkan langkahnya kembali & berjalan perlahan menghampiri kearah meja Pelangi sambil terus memperhatikan kearah Pelangi yang tak melihat kearahnya, semakin dekat di meja Pelangi namun gadis tersebut masih belum menyadari kehadirannya karena matanya terus terfokus ke layar leptop nya.


" hemmmm " dehem Zarow.


Pelangi menoleh kearah suara deheman yang cukup keras di sebelahnya, ia melihat dari arah bawah menuju atas untuk melihat siapa seseorang yang saat ini berdiri di dekat mejanya.


Ia terkejut melihat tuan muda Zarow yang berdiri di dekat pojok mejanya sambil bersedakep, sontak ia berdiri & hampir terjatuh, saat ia hampir terjatuh tiba-tiba tuan muda Zarow menangkap kedua tangannya untuk menyelamatkannya.


" awas hati-hati " kata Zarow yang memegang kedua tangan Pelangi sampai seperti hampir memeluk tubuh kurus Pelangi.

__ADS_1


Bukannya berterimakasih Pelangi malah berusaha melepaskan tangannya dari tangan Zarow & mundur agak menjauh darinya sambil tertunduk, Zarow hanya menatap heran kearah Pelangi saat ini.


__ADS_2