
" loh bang lo belum pulang? " tanya Doni yang melihat Aldo baru saja berjalan melewati meja kerjanya.
Aldo yang merasa di ajak bicara oleh Doni menghentikan langkahnya, ia kemudian menoleh kearah meja Pelangi yang sudah nampak kosong, kemudian melihat kearah Doni kembali.
" iya ini juga baru mau pulang, itu sih Pelangi udah pulang atau kemana? " tanya Aldo.
Sedari tadi saat ia berjalan menuju arah luar ia terus memperhatikan meja kerja Pelangi yang sudah kosong saat ini, padahal saat ia pergi ke toilet tadi Pelangi masih duduk di tempatnya.
" pulang bang, gue pikir Pelangi balik sama lo tadi soalnya lo gak ada di meja udahan " jawab Doni.
Ia tadi memang benar-benar berpikir jika Pelangi akan pulang bersama Aldo sehingga ia tak bertanya panjang lebar kepada Pelangi tadi saat temannya tersebut berpamitan untuk pulang padanya.
" enggak tadi gue ke toilet " kata Aldo.
Padahal tadinya Aldo akan mengajak Pelangi pulang bersama karena menurut penuturan Pelangi pagi tadi motornya mengalami bocor ban & sedang berada di bengkel itu lah sebabnya pagi tadi ia datang terlambat.
" waduh, berati tuh anak balik naik gojek dong, sian banget dia, kalo tau tadi biar balik bareng gue deh " kata Doni sendiri.
Mendengar kata-kata Doni yang berbicara sendiri ia hanya diam menatap kearah Doni tanpa berkata apapun, ia berpikir seharusnya Pelangi pulang bersamanya kali ini & entah sudah dimana dia sekarang.
Ia mulai mendengus membuang nafas kasarnya sambil melihat kearah luar kantornya, ia berdoa dalam hatinya semoga Pelangi saat ini sudah sampai di rumahnya dengan selamat.
" lo itu belum selesai? " tanya Aldo sambil menunjuk kearah laptop Doni.
Mata Doni ikut tertuju kearah laptopnya mendengar pertanyaan Aldo, tugasnya sudah hampir selesai sebentar lagi, ia hanya tinggal memeriksanya saja
" oh ini juga bentar lagi selesai, tinggal diperiksa aja bang " jawab Doni.
" emmm, gitu " kata Aldo sambil memanggut-manggutkan kepalanya, " kalo gitu gue duluan ya? " lanjut Aldo pamit.
" silahkan bang " kata Doni mempersilahkan.
Tanpa berbasabasi lagi Aldo langsung membalikan badannya & berjalan menjauh dari meja kerja Doni ke arah luar. Adzan pun berkumandang Aldo cepat-cepat menyalakan kendaraannya menjauh dari parkiran agar bisa mampir sholat ke masjid terlebih dahulu.
Doni yang baru selesai memeriksa tugasnya segera menutup laptop miliknya serta merapikan meja kerjanya, ia juga buru-buru karena mendengar adzan mulai berkumandang.
Ia mulai menggendong tas ransel miliknya & berjalan kearah luar, di lihatnya jam ditangannya sambil berjalan cepat kearah parkiran, masih ada waktu pikirnya untuk sholat berjamaah di masjid.
******
Ditempat lain
Setelah selesai menunaikan ibadah sholat berjamaah Zarow merasa seperti mendapatkan sesuatu, ia seperti merasa tenang & damai, untuk pertama kalinya lagi ia menunaikan ibadah sholatnya.
Pak Handoko benar-benar gembira luar biasa melihat tuannya tadi juga berada di barisan tepat di belakangnya saat sholat berjamaah, ia bersyukur akhirnya tuannya membuka pintu taubatnya juga saat ini.
Ia tersenyum melihat kearah Pelangi, ia benar-benar ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada Pelangi serta keluarganya yang telah membukakan hati tuan muda Zarownya untuk menunaikan ibadah sholatnya.
Setelah selesai menunaikan ibadah sholat mereka segera keluar menuju arah ruang tamu, kecuali Pelangi yang akan masuk kedalam kamar untuk meletakkan mukenah yang ia pakai tadi.
Saat akan masuk ke dalam kamarnya ia melihat pak Handoko tersenyum padanya, melihat pak Handoko tersenyum ia pun membalas senyum tersebut sambil menganggukkan kepalanya.
Zarow yang sudah duduk diruang tamu bersama pak Abdullah & pak Handoko hanya bisa diam sambil memandang kearah Pelangi yang masuk kedalam kamarnya.
" pak kayaknya sudah waktunya saya pamit pulang " kata Zarow kepada pak Abdullah, " soalnya sudah terlalu sore juga " lanjutnya lagi sambil melihat jam ditangannya.
" oh iya silahkan " kata pak Abdullah menjawab.
Zarow & pak Handoko lalu berdiri untuk berpamitan, Zarow agak mendongakkan kepalanya melihat kearah kamar Pelangi yang tak kunjung terbuka sedari tadi.
Pak Abdullah menoleh kearah kemana mata tuan muda Zarow tertuju, ternyata tuan muda Zarow melihat kearah kamar Pelangi, mungkin saat ini Pelangi sedang berganti pakaian pikir pak Abdullah.
" itu Pelangi kayaknya lagi ganti baju makanya lama keluarnya, gak nunggu Pelangi dulu nak? " terang pak Abdullah sambil bertanya.
Mendengar kata-kata pak Abdullah Zarow hanya menganggukkan kepalanya mengerti, sebenarnya ia akan mengucapkan terimakasih kepada Pelangi sebelum ia pulang karena telah mengajarinya tentang tahapan berwudhu & sholat tadi.
__ADS_1
Berkat Pelangi ia tak terlihat bodoh di hadapan kedua orang tua Pelangi, ia bisa mengerjakan sholat berjamaah dengan baik & khusuk berkat arahan Pelangi.
" gak usah aja pak, ya udah pak pamit aja " kata Zarow.
Tak ingin menunggu lama Zarow lalu keluar dari rumah pak Abdullah setelah menyalami pak Abdullah & berpamitan kepadanya tanpa menunggu Pelangi keluar dari kamarnya.
" mari pak, Assalamuallaikum " salam pak Handoko.
Pak Handoko mengucapkan salam setelah berpamitan kepada pak Abdullah, saat mengucapkan salam tuan mudanya melihat kearahnya tertegun.
Zarow yang mendengar pak Handoko mengucapkan salam tiba-tiba terdiam, ia kebingungan apakah ia harus mengucapkan salam yang sama seperti yang diucapkan pak Handoko.
Mulutnya tiba-tiba serasa terkunci, lidahnya terasa kaku, sangat berat untuk mengucapkan salam tersebut yang tak pernah ia ucapkan sebelumnya.
" assa..la..mu..allaikum, assala...muallaikum, assallamuallaikum " kata Zarow dalam hati diulang-ulang.
" assalamuallaikum " kata Zarow kemudian mengeluarkan ucapan salam sambil tersenyum.
" waallaikumsalam " jawab pak Abdullah.
Zarow lalu berbalik menuju arah mobil yang pintunya telah dibuka oleh pak Handoko seperti biasa, setelah ia masuk pak Handoko lalu ikut masuk kedalam mobil tepat di kursi kemudinya.
Pak Handoko cukup terkejut tuan mudanya bisa mengucapkan salam yang tak biasa ia lakukan sebelumnya saat akan pergi atau pulang kerumahnya, perubahan yang sangat amat drastis pikirnya.
Pelangi mengintip dari balik pintunya seolah tak menyangka baru saja tuan muda Zarow mengucapkan salam saat berpamitan kepada ayahnya. Padahal biasanya tuan muda Zarow tak pernah mengucapkan salam saat datang atau pergi dari rumahnya.
Di dalam mobil yang sudah berjalan menjauh dari rumah pak Abdullah Zarow menoleh melihat pak Abdullah yang masih terus berdiri di depan rumahnya memperhatikan kepergian mobil yang dinaiki oleh tuan muda Zarow.
Ia mengingat kembali bagaimana ia serta keluarga Pelangi & pak Handoko melakukan sholat berjamaah tadi, betapa ia sangat bahagia sampai-sampai ingin menitikkan air matanya.
" pak " kata Zarow
Pak Handoko melihat kearah tuan muda Zarow yang baru saja memanggil namanya dari arah kaca yang terletak diatasnya.
" bapak sudah cari orang buat ngajari saya mengaji & sholat belum pak? " tanya Zarow memastikan.
Sebelumnya ia telah memerintahkan pak Handoko untuk mencari seseorang yang faham agama untuk mengajari dirinya kembali, ia akan mulai belajar agama kembali.
" sudah tuan, kemungkinan besok malam pak ustadnya udah mulai datang buat ngajarin " tutur pak Handoko.
" ok, tapi ini beneran paham agama kan pak? " tanya Zarow kembali memastikan.
Ia tak ingin belajar agamanya dengan salah, ia benar-benar ingin belajar agamanya dengan bersungguh-sungguh untuk bekal kehidupannya dimasa yang akan datang.
" insyallah tuan muda, ini pak ustadnya tau banget soal agama soalnya pak ustadnya ini lulusan terbaik dari pesantren darul ulum, hafiz quran pula " jawab pak Handoko.
Pak Handoko tau jika tuan mudanya saat ini bersungguh-sungguh ingin mempelajari agamanya kembali sehingga pak Handoko tak mencari orang yang sembarangan & asal-asalan untuk tuan mudanya tersebut.
" hafiz quran itu maksudnya apa ya pak? " tanya Zarow
" hafiz quran itu penghafal alquran tuan " jawab pak Handoko.
Pak Handoko melihat tuan mudanya hanya mengangguk-angguk mengerti dengan apa yang ia sampaikan.
" terimakasih pak " kata Zarow tulus.
Pak Handoko lagi-lagi melihat kearah kaca spion kembali untuk melihat tuan muda Zarownya, baru kali ini ucapan tuan mudanya terdengar sangat tulus membuat dirinya tersentuh.
" sama-sama tuan muda, saya cukup senang bisa membantu tuan muda, apalagi untuk hal-hal yang baik seperti ini " tutur pak Handoko.
Zarow tersenyum mendengar kata-kata pak Handoko, selama ini ia benar-benar buta dengan agama, bahkan ia tak tahu bagaimana cara mensyukuri apa yang ia dapatkan.
Ia hanya beranggapan jika ia menyenangkan dirinya sendiri serta keluarganya dengan cara menikmati hasil yang ia dapat itu sudah cukup, tanpa berpikir sebenarnya masih ada yang perlu ia sembah untuk mengucapkan terimakasih atas segala nikmat yang telah ia terima.
" pak " ucap Zarow lagi memanggil nama pak Handoko.
__ADS_1
" iya tuan " jawab pak Handoko singkat.
Lagi-lagi pak Handoko melihat dari arah kaca spionnya kearah tuan muda Zarow yang masih menatap kearahnya sambil terus mengemudikan mobilnya.
" pak, apa bapak yakin ibadah saya akan diterima sama tuhan nantinya? " tanya Zarow.
" allah akan menerima ibadah siapapun umatnya tuan " jawab pak Handoko.
" meskipun sudah banyak dosa yang saya perbuat? " tanya Zarow lagi.
Pak Handoko tersenyum mendengar pertanyaan Zarow yang merasa tak yakin jika tobatnya kali ini tak akan diterima oleh allah, padahal allah adalah tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang.
" allah itu maha pemaaf tuan, meskipun umatnya selalu berbuat zalim kepadanya, allah maha pengasih lagi maha penyayang, ia akan senantiasa merangkul umatnya yang berusaha ingin dekat padanya " jawab pak Handoko menjelaskan.
" bagaimana caranya agar saya bisa dekat dengan allah pak? " tanya Zarow lagi.
" dengan cara beribadah tuan " jawabnya singkat.
Sebenarnya banyak pertanyaan yang perlu ia tanyakan mengenai agama karena ia belum puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan pak Handoko, meskipun yang dijelaskan pak Handoko cukup jelas.
" besok tuan tanyakan semua yang mau tuan tanyakan sama pak ustad aja tuan biar lebih jelas, kalo saya bisanya menjelaskan apa yang saya tau aja tuan " kata pak Handoko.
Melihat tuan mudanya terlihat jelas masih banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin ia tanyakan kembali, sebagai seseorang muslim biasa tentulah pak Handoko hanya bisa menjawab pertanyaan tuan muda Zarow sesuai yang ia pahami saja.
Zarow mengangguk-angguk mendengar kata-kata pak Handoko, mungkin lebih baik memang ia bertanya langsung kepada orang yang benar-benar paham kepada agama pikirnya agar ia mendapatkan kepuasan dalam setiap pertanyaannya.
*********
Di rumah Pelangi.
Setelah kepergian Zarow beberapa puluh menit lalu Pelangi pergi kedapur untuk membantu ibunya mempersiapkan beberapa kudapan untuk menyambut kedatangan keluarga Zarow malam nanti.
" ada yang bisa Pelangi bantu gak bu? " tanya Pelangi.
" bisa, itu aja tuh tolong kamu jagain opor ayam ibu, masukin santannya, nanti jangan lupa irisan bawang gorengnya masukin ya " jawab ibu.
Dengan sigapnya Pelangi menghadap kearah depan kompor & memasukan perasan santan kelapa kedalam opor ayam buatan ibunya sambil mengaduk-aduk. Pelangi sudah biasa membantu ibunya di dapur sehingga ia tak canggung saat berada di dapur untuk membantu ibunya.
" emang kamu beneran udah siap kasih jawaban nanti malam Ngi? " tanya ibu.
Bu Melati terus menatap kearah Pelangi yang fokus berada didepan opor ayam yang masih berada di atas kompor yang menyala. Selama beberapa hari Pelangi terlihat bimbang bahkan beberapa kali Pelangi meminta pendapat padanya.
Mendengar pertanyaan ibunya Pelangi lalu menoleh, beberapa hari ini Pelangi kerap berkeluh kesah kepada ibunya tentang lamaran Zarow, tetapi kini ia telah yakin dengan jawaban yang akan ia berikan malam nanti.
" insyallah bu, Pelangi udah siap kasih jawaban, lagian kalo lama-lama takutnya entar orang malah kecewa sama Pelangi, di pikir Pelangi terlalu menggantungkan jawaban, soalnya udah terlalu lama " tutur Pelangi panjang lebar.
Sebelumnya ia memang hanya meminta waktu kepada keluarga Zarow beberapa hari saja untuk mempertimbangkan lamaran tersebut & inilah waktunya untuk ia memberikan jawaban.
" alhamdulillah kalo kamu udah siap kasih jawaban, semoga jawaban kamu kali ini bener-bener tepat ya nak " kata bu Melati sambil tersenyum.
Bu Melati bersyukur anaknya benar-benar telah siap memberikan jawaban untuk keluarga Zarow tentang lamarannya beberapa saat lalu, ia berharap apapun keputusan anaknya nanti adalah yang terbaik untuk anaknya.
Ia juga berharap apapun keputusan Pelangi nanti keluarga Zarow juga akan menerima dengan baik meskipun tak sesuai dengan harapan mereka.
Pelangi mengeluarkan nafas kasarnya lega sambil tersenyum, akhirnya ia mendapatkan keyakinan saat ini untuk menerima lamaran dari keluarga Zarow.
Ia berharap untuk kedepannya kehidupannya dengan Zarow setelah menikah akan menjadi lebih baik & Zarow akan menjadi imam yang baik.
Pelangi berharap tuan muda Zarow bisa belajar agama suatu hari nanti & sama-sama mencari ridho ilahi yang lebih baik dari sebelumnya.
Setelah menyaksikan untuk pertama kalinya tepat dihadapannya, Zarow melakukan ibadah sholatnya, Pelangi berharap Zarow akan mendapatkan hidayahnya.
Meskipun sebelumnya Zarow menuturkan bahwa selama ini ia tak pernah menunaikan ibadah sholatnya, kali ini Pelangi menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Zarow bersimpuh & bersujud menunaikan sholat berjamaah bersama tadi.
" ya allah berikan hidayah untuk dia yang hamba pilih menjadi imam hamba kelak, tuntun lah dia untuk dekat denganmu & jadikan ia imam yang baik untuk hamba & anak-anak hamba kelak, buatlah kami selalu berada dalam ridho mu untuk terus menjalankan segala perintah mu & menjauhi laranganmu " kata Pelangi dalam hati.
__ADS_1