
" oh jadi nak Zarow datang kemari pagi ini mau ajak Pelangi buat cari cincin? " tanya pak Abdullah.
Setelah ikut sarapan pagi bersama dengan keluarga Pelangi, kini ia & pak Abdullah duduk di ruang tamu sambil mengobrol. Zarow menyampaikan maksud & tujuannya pagi ini datang ke rumah pak Abdullah.
" iya pak, tapi itu pun kalau bapak mengijinkan saya untuk pergi bersama Pelangi " jawab Zarow.
Pak Abdullah mengangguk-anggukkan kepalanya, segala persiapan sedikit demi sedikit memang harus segera dicicil mengingat singkatnya waktu untuk mempersiapkan pernikahan Zarow & Pelangi.
Zarow berharap mendapatkan ijin dari pak Abdullah untuk bisa pergi bersama Pelangi karena bagaiman pun ia tak mungkin menerka-nerka ukuran jari Pelangi.
Cincin yang akan di kenakan mereka berdua saat menikah nanti harus pilihan mereka berdua tak seperti cincin yang saat ini dikenakan oleh Pelangi.
Cincin yang yang dikenakan oleh Pelangi adalah cincin pilihan dari pak Amar satu bulan yang lalu saat ia menguji Pelangi dengan memberikan barang-barang mewah & berharga mahal.
Karena cincin itu di kembalikan oleh Pelangi ia sengaja menyimpan cincin tersebut & ternyata pada akhirnya cincin tersebut juga lah yang ia pakaikan di jari manis Pelangi.
" nanti terserah Pelangi nya aja ya nak Zarow, kalo bapak pasti mengijinkan lah karena bapak percaya kok sama nak Zarow " kata pak Abdullah.
Pak Abdullah sangat percaya jika Zarow akan menjaga Pelangi & tak akan melakukan hal yang aneh-aneh pada Pelangi. Melihat bagaimana cara bersikap sudah pasti Zarow sangat bertanggung jawab.
Pelangi yang baru saja keluar dari arah belakang tak sengaja mendengar percakapan yang baru saja di sampaikan ayahnya pada Zarow.
Meskipun ia mendengar sesuatu yang membuatnya penasaran ia tak langsung menyambar untuk menanyakan apa yang sedang dibahas oleh ayahnya & Zarow karena ia pikir itu adalah perbuatan yang tidak sopan.
Ia hanya berdiri terdiam tak jauh dari ruang tamu, ia bingung apa kah ia harus menghampiri ayahnya dengan Zarow atau harus masuk ke dalam kamarnya.
Bu Melati yang juga baru saja keluar dari arah dalam melihat Pelangi hanya terdiam di tempat memperhatikan ayahnya serta Zarow. Ia segera menghampiri Pelangi & memegang bahu putrinya.
Pelangi menoleh ke arahnya, ia tersenyum pada putrinya begitu juga putrinya, entah apa yang sedang dipikirkan Pelangi saat ini sehingga hanya terdiam di tempat.
" kenapa malah diam disini?, ayo ke sana " kata bu Melati kepada Pelangi.
" enggak ah bu, kayanya ayah lagi ngomong serius sama mas Zarow gak enak kalo ngeganggu " kata Pelangi.
Pak Abdullah melihat istri serta putrinya berdiri mengobrol tak jauh dari ruang tamu, sepertinya baru saja keduanya keluar dari arah dalam bersamaan pikirnya.
" bu, Ngi, sini, kok malah berdiri disitu?, ini nak Zarow nungguin lo dari tadi " kata pak Abdullah memanggil.
Bu Melati melihat kearah suaminya yang barusan memanggil dirinya serta putrinya, ia kemudian melihat lagi kearah Pelangi sambil menganggukkan kepalanya memberikan isyarat pada putrinya.
Melihat isyarat dari ibunya yang menganggukkan kepalanya ke arahnya Pelangi lalu menggandeng tangan ibunya & berjalan bersama kearah ayahnya.
Zarow melihat kearah Pelangi yang mendekat kearah ruang tamu bersama dengan bu Melati. Senyun Pelangi membuat jantung Zarow berdetak tak karuan, semakin hari senyum Pelangi ia rasa semakin manis pikirnya.
" mikir apaan sih gue, kaya gak pernah liat cewek senyum aja, perasaan udah sering liat Pelangi senyum " gumam Zarow dalam hati, " tapi kalo diperhatiin terus emang manis banget sih " lanjutnya bergumam.
Di tatap Zarow dengan terus menerus & seolah Zarow tak sedikitpun berkedip Pelangi hanya mampu menundukkan kepalanya. Meskipun Zarow adalah calon suaminya berpandangan terlalu lama juga tidak baik bagi mereka karena belum menjadi muhrimnya.
" Ngi ini nak Zarow mau ajak kamu liat cincin, kamu mau gak pergi sama nak Zarow?, soalnya tadi ayah bilang sama nak Zarow kalo ayah terserah kamu aja " kata pak Abdullah.
Setelah istri & anaknya duduk pak Abdullah kemudian menyampaikan niat serta tujuan Zarow datang pagi ini kepada Pelangi putrinya.
Pelangi menatap kearah ayahnya lalu kearah Zarow, sebenarnya hari ini ia sangat malas untuk pergi keluar rumah tetapi mengingat bagaimana Zarow sepertinya ia harus ikut dengan Zarow pikirnya.
" iya yah, kalo gitu Pelangi siap-siap dulu " jawab Pelangi.
Pak Abdullah hanya mengangguk sambil tersenyum pada Pelangi, putrinya langsung berdiri untuk segera bersiap-siap di kamarnya.
" Ngi jangan lama-lama lo " kata pak Abdullah mengingatkan.
" ia yah " jawabnya singkat, " mas aku ganti baju dulu ya bentar " ijin Pelangi pada Zarow.
Zarow hanya menganggukkan kepalanya mendengar Pelangi mengajaknya berbicara sambil tersenyum. Ia rela menunggu Pelangi meskipun selama apa pun Pelangi berdandan nantinya.
" nak Zarow gimana kabar mami sama papi nya? " tanya bu Melati.
Sejak pertemuannya beberapa hari yang lalu saat mendengar jawaban Pelangi sampai kini ia memang mereka belum pernah bertemu kembali.
" Alhamdulillah baik bu, papi, mami, adek, semuanya sehat " jawab Zarow.
" Alhamdulillah, salam sama mereka ya nak Zarow " kata bu Melati lagi.
__ADS_1
" iya bu " jawab Zarow singkat.
Setelah beberapa menit mengganti pakaiannya akhirnya Pelangi keluar juga dari kamarnya. Pelangi tak pernah terlalu ribet soal style pakaian yang kenakan saat akan pergi. Yang terpenting pakaian yang ia kenakan masih tetap sopan & menutup auratnya.
Zarow kembali lagi tertegun melihat keanggunan Pelangi meskipun saat ini Pelangi hanya mengenakan balutan pakaian sederhana namun di mata Zarow calon istrinya tersebut nampak sangat mengagumkan.
Zarow menundukkan kepalanya agar matanya tak terus tertuju kepada indahnya ciptaan Allah seperti Pelangi, sejak kapan ia mulai kagum pada Pelangi ia pun tak tau.
" sudah siap Ngi? " tanya bu Melati.
" iya bu " jawabnya singkat.
" ya udah berangkat gih kalian keburu kesiangan " kata bu Melati lagi.
Mendengar kata-kata bu Melati seketika Zarow langsung melihat ke arah jam di tangannya, matahari sebentar lagi meninggi jam telah menunjukan pukul 09.00 pagi.
Tak terasa sudah satu jam ia berada di rumah Pelangi, baginya kini selama apa pun itu waktu jika bersama dengan Pelangi entah mengapa rasanya menjadi sangat singkat.
Seperti yang saat ini ia rasakan, padahal rasanya ia baru saja datang & duduk bersama dengan ayah Pelangi ternyata waktu telah berjalan selama satu jam sedari tadi.
" iya nanti keburu siang " timpal pak Abdullah.
Zarow melihat kearah Pelangi yang juga sedang melihat kearahnya, ia menganggukkan kepalanya untuk memberi isyarat kepada Pelangi.
" kalo gitu Pelangi jalan dulu ya yah, bu " kata Pelangi pamit.
Pamit Pelangi sambil menyalami tangan ibu serta ayahnya, Zarow yang barusan berdiri dari duduknya ikut menyalami tangan kedua orang tua Pelangi.
Zarow kini lebih terlihat sopan dibandingkan saat pertama kali bertemu, Pelangi tersenyum melihat Zarow ikut menyalami kedua orangtuanya.
" bu, pak berangkat dulu ya, assalamuallaikum " salam Zarow
" berangkat ya yah, bu, Assalamuallaikum " salam Pelangi juga.
" Waallaikumsalam " jawab pak Abdullah & bu Melati bersamaan.
Pak Abdullah & bu Melati ikut berdiri mengantarkan kepergian putrinya serta calon menantunya keluar dari rumahnya. Mereka berdua berdua berdiri di teras rumahnya sambil terus melihat kearah putrinya.
Hanya saja selama satu bulan ini beberapa kali Zarow sering datang menemui dirinya untuk mengantar jemput dirinya meskipun ia sudah sering menolak.
Zarow yang sudah berada di dekat mobil segera membukakan pintu mobil untuk Pelangi yang saat ini berjalan hampir dekat kearahnya.
" makasih mas " ucap Pelangi berterimakasih pada Zarow sambil tersenyum.
Pelangi langsung masuk kedalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Zarow, setelah ia masuk pintu segera di tutup oleh Zarow kembali.
Pelangi melihat Zarow yang saat ini masih berada diluar & berjalan ke arah pintu yang lain, terkadang Pelangi merasa Zarow adalah orang yang sangat keras kepala.
Tetapi terkadang ia juga merasa ada sisi lain pada diri Zarow yang penuh dengan kasih sayang, tak sepenuhnya orang yang terlihat kaku adalah orang yang tak punya hati & perasaan, begitu pula dengan Zarow pikirnya,
Zarow yang baru saja duduk di sebelah Pelangi melihat kearah Pelangi yang tertegun melihat kearahnya, wajahnya tanpa ekspresi hanya saja mata indahnya tak berkedip sedikitpun.
Zarow hampir saja salah tingkah karena ditatap seperti itu oleh Pelangi, karena tak ingin terlihat gugup ia kemudian berdehem.
" ehemmmmm " dehem Zarow.
Mendengar Zarow berdehem akhirnya Pelangi tersadar dari pikirannya sendiri, melihat Zarow juga melihatnya Pelangi menjadi salah tingkah.
" kenapa kamu ngeliatin aku sampe sebegitunya?, ada yang aneh emangnya? " tanya Zarow.
" eng...enggak " jawab Pelangi terbata-bata.
" jangan bilang kamu udah terkesima & jatuh cinta ya sama aku, hemmm wajar lah siapa sih yang gak bisa jatuh cinta sama Abrisam Zarow Abqari " kata Zarow narsis dengan tampang datarnya.
Mendengar kata-kata Zarow ia sontak menepuk jidatnya reflek, selain kaku ternyata ia baru tau jika Zarow juga memiliki sifat narsis seperti saat ini.
" masya Allah, ia deh mas terserah kamu aja, dari pada aku ngomong sembarangan nanti di kira aku menghina ciptaan Allah, kan itu juga dosa " jawab Pelangi.
" apa? " kata Zarow singkat.
Pelangi hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya & melihat kearah depan agar Zarow tak terus-terusan merasa GR.
__ADS_1
Pak Handoko yang berada di kursi kemudinya hanya tersenyum sendiri mendengar percakapan antara Pelangi & tuan Zarow. Terlihat jelas tuan mudanya berusaha menutupi perasaannya saat ini.
Tuan mudanya terlihat sangat jelas sedang menutupi imagenya, padahal jika ia benar-benar menyukai Pelangi sebenarnya tak ada masalah pikirnya apa lagi Pelangi adalah calon istrinya.
Pelangi masih tak habis pikir dengan kata-kata Zarow tadi, ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum kembali.
" kenapa? " tanya Zarow.
Melihat Pelangi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum Zarow langsung mengeluarkan suaranya kembali.
" gak papa " jawab Pelangi dengan polosnya.
" bohong banget " kata Zarow tak percaya.
" masya allah, kamu sensi banget si mas " kata Pelangi sambil tersenyum.
Senyum Pelangi lagi-lagi membuat jantungnya berdebar-debar tak karuan, Zarow lantas memegang dadanya sambil mengalihkan pandangannya kearah luar.
" kenapa mas? " tanya Pelangi.
" gak papa, udah kamu gak usah ngeliatin aku terus, gak usah senyum-senyum gitu, liat kedepan aja sana " kata Zarow ketus.
" kenapa emang? " tanya Pelangi.
" bukan muhrim " jawab Zarow singkat.
Pelangi lantas tersenyum kembali, yang dikatakan Zarow memang benar, takut dengan dosa yang akan terjadi jika ia terlalu lama menatap Zarow akan ada setan diantara mereka.
" masya allah maaf mas, iya bener " kata Pelangi, " tapi aku ngeliatin kamu gak ada pikiran aneh lo mas sumpah " lanjutnya lagi.
Zarow lalu menatap ke arah Pelangi lalu menghela nafas panjangnya, ia merasa udara seketika menjadi panas, pikirannya jadi lari kemana-mana, udara di dalam mobil terasa semakin panas ia rasa.
" emang yang ngomong kamu ngeliatin aku terus mikir yang aneh siapa?, yang ada-ada aja nih " kata Zarow pada Pelangi, " pak tolong AC nya volumenya dinaikin " perintah Zarow pada pak Handoko.
" astaghfirullah, apaan sih nih cowok, kenapa galak banget, kadang galak, kadang baik " gumam Pelangi dalam hati.
Pelangi menatap kearah depan karena tak ingin terus berdebat dengan Zarow, diam adalah solusi yang baik agar perdebatan tak terus terjadi, apa lagi mengingat Zarow memang orang yang selalu tak ingin di kalahkan saat berbicara.
Kini giliran dirinya yang tertegun melihat Pelangi yang melihat kearah depan, Pelangi memang tak seseksi wanita-wanita cantik yang selalu mengejarnya, dengan balutan tertutup justru Zarow yang penasaran dengan Pelangi.
Sungguh Pelangi satu-satunya wanita yang mampu membuat jantungnya mampu berdebar tak karuan, sampai saat ini hal itu masih membuatnya penasaran apa penyebabnya.
Setelah beberapa puluh menit akhirnya mobil menepi di sebuah toko perhiasan mewah yang terkenal di kotanya. Pak Handoko segera keluar & membukakan pintu untuk dirinya & Pelangi.
" ayo " ajak Zarow.
Setelah berada di luar mobil Zarow mengajak Pelangi untuk segera masuk kedalam toko. Pelangi masih diam menatap kearahnya.
" kenapa?, ayo " kata Zarow sekali lagi.
" ini mas, kita beneran beli cincin disini? " tanya Pelangi.
Pelangi sangat tau jika toko tersebut adalah toko yang menjual diamond bukan perhiasan sembarangan, ia pikir jika Zarow akan mengajaknya ke toko emas biasa saja.
" iya, emang kenapa? " tanya Zarow balik.
" ini kan toko berlian mas, mas Zarow gak salah? " tanya Pelangi lagi.
Zarow memalingkan kepalanya lalu tersenyum, bagi Zarow untuk pernikahannya haruslah sesuatu yang spesial bukan hal yang biasa ataupun sederhana.
Ia tak perduli harus berapa banyak uang yang akan ia habiskan untuk sepasang cincin yang akan mereka kenakan, karena baginya untuk orang yang spesial seperti Pelangi juga memerlukan sesuatu yang sangat spesial.
" ini pernikahan kita, bagi ku buat kita harus sesuatu yang spesial & bukan yang biasa, pernikahan itu bukannya cuman sekali seumur hidup kan? " kata Zarow
" iya " jawab Pelangi singkat.
" sekali seumur hidup sampai mati kan? " tanya Zarow lagi.
Pelangi hanya menganggukkan kepalanya, memang dalam pernikahan semua orang berharap hanyalah sekali saja & untuk seumur hidup pikirnya.
" karan cuman sekali seumur hidup & sampai mati, aku mau apapun yang menyangkut pernikahan kita harus spesial, aku juga gak mau calon istri aku pake yang biasa-biasa " tersang Zarow, " ayo masuk " lanjutnya lagi.
__ADS_1
Karena tak ingin menyentuh Pelangi Zarow mempersilahkan Pelangi untuk berjalan masuk kedalam toko, Pelangi yang mulai berjalan lagi-lagi menoleh kearahnya untuk meyakinkan Pelangi ia hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.