
Setelah masuk kedalam ruangan milik tuan muda Zarow ia menghembuskan nafas kasarnya & mulai bisa bernafas biasa lagi, berjalan dengan ditatapi oleh banyak mata membuatnya sedikit nervous. Seketika menjadi pusat perhatian tentu saja membuat Pelangi merasa tidak nyaman, beberapa karyawan memandang terkejut kearahnya, ia yakin banyak yang bertanya-tanya tentang siapakah dirinya.
Pelangi mulai mengkerutkan keningnya sambil menggigit bibir bawahnya, ia mulai cemas jika nantinya akan ada netizen yang tak suka dengan statusnya sebagai istri seorang tuan muda Zarow yang sudah pasti banyak penggemarnya. Ia yakin jika ia tak ada apa-apanya jika dibanding dengan para wanita yang mengejar-ngejar & mengagumi Zarow.
Ia merasa jika dirinya pasti akan terancam, bisa saja suatu hari ada wanita yang terlalu gila mengagumi Zarow yang tak terima jika Zarow telah menikahi dirinya, seperti layaknya cerita diderama-derama korea.
" ya Allah lindungi hamba dari serangan-serangan para wanita pengagum rahasia suami hamba, setidaknya hidarkan hamba dari perbuatan-perbuatan nekat yang mungkin saja bakal terjadi " gumam Pelangi berdoa dalam hati.
Zarow bersedakep heran melihat Pelangi yang nampak melamun sedari tadi saat masuk kedalam ruangannya, apa yang sedang dipikirkan Pelangi saat ini hanya Pelangi lah yang tau pikirnya. Tak ingin hanya terus berdiri disana Zarow pun menggandeng tangan Pelangi untuk berjalan menuju arah sofa yang berada di ruangan Zarow yang tak jauh dari tempat dimana mereka berdiri saat ini.
" Astaghfirullah " kata Pelangi kaget
Karena terus melamun ia pun terkejut saat Zarow menggandeng tangannya menuju arah sofa, hampir saja ia lupa jika saat ini Zarow adalah suaminya, saat tangannya bersentuhan dengan tangan Zarow rasanya ada sebuah setrum yang menjalar sampai ke hatinya, dadanya terus berdetak kencang
Mendengar Pelangi mengucapkan kalimat istighfar Zarow pun menghentikan langkah, ia segera membalikan tubuhnya kearah Pelangi sambil memicingkan satu alis matanya, ia lalu melepaskan tangan Pelangi dari genggamannya.
" kenapa? " tanya Zarow singkat seperti biasa.
" kenapa? " tanya Pelangi balik dengan lembut.
Dengan wajah polosnya ia justru menanyakan pertanyaan yang sama pada Zarow, ia memang tak mengerti dengan apa yang ditanyakan Zarow sehingga ia mengulang pertanyaan tersebut.
Zarow hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban Pelangi, seperti biasa jawaban yang ia inginkan tak sesuai dengan harapannya, Pelangi menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga.
" ko malah balik tanya? " tutur Zarow.
" ha, maksudnya? "
Ia memang tak mengerti dengan pertanyaan Zarow kali ini, tiba-tiba tak nyambung ia merasa jika otaknya sangat memerlukan oksigen untuk aliran darahnya, mungkin ini terjadi karena stres yang baru saja ia dapat setelah ditatap oleh banyak mata dikantor suaminya.
Zarow melangkahkan kakinya selangkah lebih dekat kearah Pelangi sambil menyilangkan tangannya, ia berpikir mungkin jarak mereka yang agak berjauhan yang membuat mereka berbicara tak nyambung.
Alangkah terkejut Pelangi karena Zarow tiba-tiba selangkah lebih dekat dengannya, reflek ia berusaha memundurkan langkahnya juga, tetapi saat Pelangi berusaha memundurkan langkahnya ia justru hampir terjatuh.
" astaghfirullah " kata Pelangi karena hampir terjatuh.
Melihat Pelangi hampir terjatuh Zarow lantas memegang bahu & pinggang Pelangi, beruntung ia cepat & sigap menangkap tubuh Pelangi, namun karena ia belum dalam keadaan siap mereka berdua justru terjatuh diatas sofa dengan posisi tubuhnya ditindis oleh Pelangi.
Ia merasa jika kejadian tersebut sama seperti kejadian malam tadi saat ia mencegah Pelangi untuk tidak meninggalkan dirinya tapi kali ini berbeda karena saat ini bibir Pelangi menempel tepat di leher Zarow.
Seketika ia hanya bisa terdiam menahan nafsunya sebagai seorang pria tulen, dengan susah payah Zarow merasa kesusahan menelan air ludahnya sendiri, entah ia harus merasa senang karena Pelangi berada dipelukannya ataukah ia harus merasa sial karena mau tak mau ia harus terus menahan diri.
Pelangi yang berada ditubuh Zarow reflek memejamkan matanya karena ia menyebabkan tubuhnya & tubuh Zarow tumbang bersama diatas sofa, persis sama seperti adegan tadi malam tubuhnya berhasil mendarat diatas tubuh Zarow tapi kali ini parahnya bibirnya justru menempel dileher Zarow.
Keheningan tiba-tiba tercipta disana, Pelangi masih terdiam mematung diatas tubuh Zarow, ia sangat takut bergerak dari sana karena ini bukan untuk pertama kalinya ia terjatuh & menimpa tubuh Zarow.
Semakin lama Pelangi diatas tubuhnya, Zarow merasa semakin tak sanggup menahan hasratnya sebagai seorang pria, ia yakin ia bisa lepas kendali kali ini jika terus begini, hembusan nafas Pelangi saat ini dapat ia rasakn, terasa lembut berhembus di leher Zarow.
Pelangi berusaha bergerak sedikit demi sedikit untuk turun dari tubuh suaminya yang lumayan kekar, sungguh ia tak bermaksud menggoda atau sengaja ingin jatuh kepelukan Zarow meskipun ini bukan untuk pertama kalinya.
" maaf ya mas "
Karena takut jika Zarow akan marah padanya Pelangi lantas meminta maaf pada Zarow, ia tak ingin Zarow salah paham padanya, ini hanya real kecelakaan kecil yang benar-benar membuatnya tak sengaja jatuh kepelukan Zarow.
__ADS_1
Setelah Pelangi bangkit dari tubuhnya Zarow pun juga ikut bangkit & berdiri di depan Pelangi kembali, Pelangi sedikit tertunduk seperti merasa tak enak hati.
" hati-hati bisa gak? "
Meskipun ini adalah kecerobohan yang ia sukai tetapi tetap saja yang namanya kecerobohan tetaplah kecerobohan, bagaimana jika saat tadi orang yang ditimpa oleh Pelangi bukan dirinya tentu saja ia sangat tak terima.
" maaf mas "
Pelangi kembali mengucapkan kata maaf sambil tertunduk karena kecerobohannya membuat Zarow nampak sedang agak kesal dengannya.
" kenapa malah minta maaf?, harusnya tuh bilang trimakasi, makasi sayang, atau makasi suami " kata Zarow memberi contoh sambil berkacak pinggang.
Jelas-jelas tak sedang melakukan kesalahan tapi ia lagi-lagi mengucapkan kata maaf dengan sangat mudahnya, padahal Zarow sudah sering berkata pada Pelangi jika ia tak suka mendengar Pelangi sedikit-sedikit meminta maaf.
Pelangi hanya terdiam memandang Zarow & tak bisa berkata apa-apa, tak mungkin ia bisa mengatakan kata-kata yang barusan diucapkan Zarow padanya bahkan salah satunya pun ia tak bisa mengucapkan, ia benar-benar masih harus beradabtasi dengan kehidupan barunya.
Zarow mengulurkan satu tangannya kembali & meraih tangan Pelangi, matanya masih terus menatap tajam kearah mata Pelangi, bibirnya hanya terdiam tetapi seolah mengisyaratkan jika ia ingin berkata sesuatu.
Dari sorot matanya saat ini pastilah telah terlihat jelas bagaimana perasaan tulusnya pada Pelangi, ia menikahi Pelangi bukan karna nafsu belaka ia benar-benar tulus apa adanya.
Detak jantung Pelangi berdebar-debar tatkala tangannya disentuh oleh Zarow, lembut tatapan mata Zarow membuatnya terpana terpesona sesaat disana, sungguh luar biasa sempurna ciptaan Allah yang berada dihadapannya saat ini pikirnya.
Tok....tok....tok....
Pak Amar yang berada diluar pintu mengetuk pintu ruangan tuan Zarow untuk memberitahukan pada bosnya tersebut jika rapat akan segera dimulai.
Sudah waktunya pak Amar memberi tahu tuan muda Zarow jika sudah banyak para rekan kerja berada di ruang rapat saat ini menunggu tuan muda Zarow.
" masuk "
Zarow akhirnya mengizinkan seseorang yang berada didepan pintu ruangannya tersebut untuk masuk kedalam ruangannya, saat ini tangan Zarow masih terus memegang lembut tangan Pelangi, ia rasanya tak ingin melepaskan tangan istrinya tersebut dari genggamannya.
Terlihat pak Amar masuk dari balik pintu sambil membawa sebuah map, sekilas pak Amar melirik lalu kepalanya tertunduk & berdiri tak jauh dari dimana saat ini Zarow berada.
Pak Amar sungguh tak menyangka waktunya memanggil tuan muda Zarow sungguh sangat tak tepat karena saat ini tuan muda Zarow sedang bersama wanita yang sangat ia ingat pernah menolak barang pemberian tuan muda Zarow beberapa saat lalu.
Entah apa hubungan antara tuan muda Zaroe dengan gadis tersebut saat ini tetapi yang ia tau ia jelas sangat mengganggu tuan muda Zarow saat ini pikirnya.
" maaf pak saya mengganggu, saya cuman mau menyampaikan kalau rapat sepertinya harus segera dimulai mengingat para rekan sudah berkumpul diruang rapat "
Zarow melihat kearah jam ditangannya begitu mendengar kata-kata pak Amar, sepertinya memang seharusnya rapat harus segera dimulai pikirnya agar segera selesai & ia bisa segera bersama dengan istrinya kembali pikirnya.
" ok "
Jawab singkat Zarow sambil melihat kearah pak Amar, setelah itu ia kembali lagi melihat kearah Pelangi, ia kemudian melepaskan genggaman tangannya dari tangan Pelangi.
" jangan pernah minta maaf kalau kamu gak pernah ngelakuin kesalahan, kamu bakal terima akibatnya kalau kamu langgar itu "
Zarow seolah mengancam Pelangi, sebenarnya ia tak benar-benar ingin mengancam Pelangi ia hanya ingin istrinya tersebut tak segampang itu mengucapkan kata maaf kepada siapa.
Sebelum melangkahkan kakinya Zarow mengelus lembut kepala Pelangi yang terbungkus dengan jilbabnya sambil tersenyum, jujur saja sebenarnya ia sangat ingin membawa Pelangi bersama dengannya kemanapun ia pergi tetapi saat ini ia harus pergi keruang rapat sendiri tanpa Pelangi.
" kamu tunggu disini sebentar ya, aku rapat dulu, tunggu 30 menit "
__ADS_1
Dengan berat hati Zarow melangkahkan kakinya meninggalkan Pelangi sendiri diruangan kerjanya, ia harap Pelangi tak merasa bosan menunggu dirinya sampai rapat selesai.
Pak Amar berjalan mengikuti tuan muda Zarow yang telah berjalan lebih dulu, ia berjalan tepat dibelakang tuan muda Zarow sambil berpikir jika tuan muda Zarow saat ini pasti memiliki hubungan dekat dengan wanita berjilbab tersebut.
Ia yakin itulah penyebab tuan muda Zarow selama ini banyak berubah, tuan muda Zarow saat ini telah berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya, ia bersyukur wanita tersebut telah membawa pengaruh baik untuk tuan muda Zarow.
Pelangi masih terpaku melihat kepergian Zarow, ia tak mengerti apa maksud dari perkataan Zarow, mengapa ia merasa seperti sedang diancam oleh Zarow, ia kemudian berkacak pinggang sambil menggelengkan kepalanya.
" ya allah punya suami pengancaman banget sih, emang salah apa kalo aku minta maaf, astagfirullah, sabar Pelangi, sabar "
Katanya sendiri sambil mengelus dadanya, setelah tak terlihat lagi punggung Zarow beserta sekertarisnya, kemudian ia berjalan menuju arah sofa & duduk dengan sopan disana.
Dilihatnya sekeliling ruangan tersebut, ruangan yang memiliki desain sangat mewah, jika dibandingkan kamarnya tentu saja ruang kerja Zarow ini jauh lebih luas dari kamarnya.
Dibagian lain dinding ruangan tersebut ada sebuah jendela kaca yang amat sangat besar, tentu saja dari sana Zarow dapat menikmati pemandangan dari arah luar.
Ruangan kerja suaminya ini sangat amat nyaman bahkan meskipun harus menginap dikantor pasti Zarow tetap akan betah pikirnya.
Sambil berjalan Zarow sedikit tersenyum tipis, belum apa-apa tapi ia sangat merasakan hidupnya amat sangat bahagia, bersama Pelangi membuatnya semakin bahagia.
Melihat tuan muda Zarow tersenyum sendiri membuat pak Amar takjub, tak pernah ia melihat senyum yang nampak bahagia seperti ini diwajah tuan muda Zarow, pak Amar yakin jika tuan muda Zarow benar-benar tengah dilanda kasmaran.
Setelah berada didepan ruang rapat pak Amar dengan sigap membukakan pintu rapat tersebut untuk tuan muda Zarow, tuan muda Zarow pun lantas masuk kedalam ruangan tersebut.
" selamat pagi semuanya "
Seperti biasa sebelum memulai rapat ia selalu menyapa para rekan kerjanya yang telah hadir diruang rapat, kedatngannya adalah pertanda rapat akan segera dimulai.
Sekilas pak Amar melihat ada sesuatu yang aneh tepat di leher tuan muda Zarow saat berjalan melewati dirinya masuk kedalam ruang rapat tadi, tetapi ia tak begitu jelas melihat atau kah ia hanya salah melihat pikirnya.
Untuk memastikan ia tak salah melihat pak Amar yang biasa duduk didekat tuan muda Zarow pun kembali memperhatikan leher tuan muda Zarow & ternyata benar saja, matanya tak salah melihat karena ada tanda bekas lipstik menempel tepat dileher tuan muda Zarow.
" pak maaf "
Pak Amar yang telah berdiri didekat tuan muda Zarow meminta maaf sebelum memberitahu Zarow dengan cara berbisik agar tak membuat malu bosnya tersebut.
" pak dileher bapak ada bekas lipstik " bisik pak Amar.
Zarow reflek langsung memegang lehernya yang membuat para rekan kerjanya memperhatikan kearahnya, sontak ia tersenyum karena bekas bibir Pelangi membekas disana.
" maaf semuanya jika terganggu dengan bekas lipstik dileher saya, kebetulan ini bekas lipstik istri saya " jelas Zarow tersenyum.
Tentu penjelasan Zarow membuat para rekan bisnis terkejut mendengar kabar berita jika dirinya telah menikah karena belum ada pesta resepsi pernikahan mereka.
Berita ini tentu juga membuat pak Amar tercengang tak percaya, bosnya yang terkenal sebagai seorang playboy saat ini telah menyandang status tak lajang lagi, bahkan pengakuan tuan muda Zarow ini sangt sesuai karena telah melingkar sebuah cincin pernikahan dijari manis tuan muda Zarow.
" saya harap bekas lipstik dileher saya tak mengganggu rekan sekalian sehingga kita bisa melangsungkan rapat kali ini dengan baik "
Ia tak ingin menghapus bekas lipstik dilehernya untuk menjaili Pelangi, ia akan berpura-pura tak tau jika ada bekas bibir istrinya yang menempel dilehernya saat selesai rapat nanti. Zarow tersenyum kembali membayangkan bagaimana ekspresi wajah terkejut istrinya ketika melihat hal ini.
" ok, saya rasa rapat bisa kita mulai, pak Amar tolong berkasnya "
Rapat segera dimulai agar mempersingkat waktunya berada diruang rapat, ia tak ingin Pelangi terlalu lama menunggu dirinya diruang kerja sendiri.
__ADS_1