
Srek....srek...srek.... Bunyi suara sapu lidi Pelangi yang bergesekan dengan dedaunan.
Seperti kebiasaannya saat sedang berlibur bekerja ia selalu membantu ibunya di rumah, seperti membersihkan halaman & lain-lain.
Kebanyakan orang menghabiskan waktu liburnya dengan bersantai & hanya mager di kamar seharian tetapi hal tersebut dangat berbeda dengan dirinya.
Ia tak pernah menghabiskan hari liburnya dengan bermalas-malasan karena baginya bisa membantu ibunya meringankan pekerjaan rumah juga merupakan kewajibannya.
Pak Abdullah yang berada di ambang pintu tersenyum melihat putrinya yang sedang sibuk membersihkan halaman rumah.
Pelangi tak seperti gadis-gadis pada umumnya yang pada saat hari libur hanya diam di kamar sibuk berkutik dengan ponselnya.
Jika hari libur putrinya tersebut lebih memilih membantu ibunya, entah itu dari pekerjaan kecil maupun besar.
" Ngi " panggil pak Abdullah.
Pelangi lantas menghentikan aktifitasnya & menoleh kearah ayahnya yang saat ini telah berdiri di teras rumah sambil tersenyum.
" iya yah " jawab Pelangi.
Melihat ayahnya sudah lebih sehat lagi dari sebelumnya tentunya Pelangi sangat senang, secara perlahan ia yakin ayahnya akan bisa berjalan normal kembali tak pincang seperti saat ini.
" ada yang bisa Pelangi bantu yah? " tanya Pelangi.
Pak Abdullah kembali lagi tersenyum mendengar pertanyaan Pelangi, ia memanggil putrinya agar menyudahi pekerjaannya & segera masuk ke dalam rumah.
Pak Abdullah ingin mengajak putrinya membahas tentang pernikahan putrinya yang akan berlangsung sebentar lagi, pak Abdullah pikir agar mereka harus segera mempersiapkan semuanya sedikit demi sedikit.
Mengingat waktu dua minggu bukan lah waktu yang sebentar semuanya harus di persiapkan dengan sangat detail & matang, apa lagi ini adalah pernikahan putri semata wayangnya.
" enggak, itu kamu nyapu nya jangan kelamaan, habis itu cepetan masuk ayah sama ibu nunggu di dalam ada yang mau di omongin " kata pak Abdullah.
Pelangi masih diam memandang ayahnya sambil tersenyum & mengangguk, ia tak tahu apa yang akan di bicarakan oleh ayah & ibunya nanti padanya.
" iya yah, bentar selesai kok " jawab Pelangi.
Mendengar jawaban Pelangi pak Abdullah juga menganggukkan kepalanya, tanpa berkata apa-apa ia lalu masuk kembali kedalam rumah.
Melihat ayahnya sudah masuk kembali ke dalam rumah Pelangi menghela nafas kasarnya & kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setelah diselesaikannya pekerjaan nya tak lupa Pelangi mencuci tangannya terlebih dahulu di keran air yang di sediakan di luar rumahnya.
Matanya tiba-tiba tertuju pada cincin yang ia kenakan dijari manisnya, cincin yang di pasangkan oleh calon imamnya beberapa saat lalu.
Ia baru sadar cincin yang ia kenakan terlihat nampak sangat mahal & mewah, jelas saja pikirnya cincin yang ia kenakan harganya pasti sangat mahal.
Bahkan ia tak bisa menerka kisaran berapa harga cincin yang melingkar dijari manisnya, sebenarnya ia tak masalah dengan seberapa mahal cincin yang melingkar di jarinya.
Ia di beri cincin yang sederhana pun akan ia pakai sebenarnya asalkan yang memakaikannya adalah calon imam yang baik.
Pelangi sangat yakin Zarow merupakan calon imam yang baik untuknya, karena makin kesini Zarow makin menunjukan sisi baiknya.
Lamunannya seketika membuyar karena mendengar sebuah mobil masuk dipekarangan rumahnya, seketika ia membalikan tubuhnya, sebuah mobil berwarna hitam yang sangat familiar baginya berhenti di sana.
Zarow keluar dari mobil & menghampiri Pelangi yang saat ini sedang berada di luar rumah sambil melihat kearahnya seolah terkejut melihat kedatangannya.
Ia sangat mengenal mobil milik Zarow tersebut, dilihatnya Zarow turun & berjalan mendekat kearahnya, ia hanya terdiam di tempat karena heran mengapa Zarow datang ke rumahnya sepagi ini.
Pagi ini ia telah mengirim pesan pada Pelangi jika ia akan datang untuk mengajak Pelangi pergi melihat cincin kawin. Karena tak kunjung mendapatkan balasan Zarow memutuskan untuk langsung datang tanpa menunggu balasan dari Pelangi.
" kenapa ngeliatnya gitu? " tanya Zarow sambil melihat kearahnya sendiri.
Merasa ditatap dengan tatapan aneh tentu saja Zarow merasa seperti ada yang aneh pada dirinya padahal hari ini penampilannya masih sama seperti biasanya saat ia tak sedang pergi kekantor.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Zarow ia mulai tersenyum, Pelangi tak sadar sampai diam bak patung karena kaget melihat kedatangan Zarow, mengingat hari ini hari sabtu seharusnya Zarow masih sibuk di kantornya.
" gak papa mas, kok kesini gak ngasih tau?, emang gak kerja? " tanya Pelangi.
Seharusnya hari ini ia memang masih harus pergi ke kantor, tetapi baginya pergi memilih cincin kawin bersama Pelangi itu lebih penting dari pergi ke kantor karena kebetulan hari ini ia juga tak terlalu sibuk seperti hari biasanya.
" emang kalo mau kesini mesti ijin dulu ya? " tanya balik Zarow.
" ya enggak sih " jawab Pelangi singkat.
Bagi Pelangi tak ada larangan bagi siapa saja yang mau datang berkunjung ke rumahnya untuk bersilaturahmi apa lagi dengan niat yang baik.
" tadi aku sudah wa kamu, tapi gak kamu bales, boro-boro di bales di baca aja enggak " kata Zarow.
Zarow tak sabar menunggu balasan dari Pelangi sehingga tanpa menunggu balasan ia segera datang ke rumah Pelangi, saat sampai di rumah Pelangi ia justru bertemu Pelangi yang sedang berada di luar rumah, entah apa yang sedang ia lakukan di luar rumah sepagi ini pikir Zarow.
" ha, emang iya wa aku? " tanya Pelangi kaget.
Pelangi benar-benar tak tau jika Zarow mengirim pesan kepadanya untuk memberitahu akan datang ke rumahnya karena sedari tadi ia sibuk dengan pekerjaan rumahnya.
" emang dari tadi ngapain?, kok gak tau kalo aku wa kamu " kata Zarow bertanya balik pada Pelangi.
Tentu saja Zarow penasaran mengapa Pelangi tak merespon pesan darinya padahal pesan darinya sangat lah penting karena menyangkut persiapan pernikahan mereka berdua.
" aku? " tanya Pelangi.
" ya iya lah kamu, siapa lagi kalo bukan kamu? " jawab Zarow.
Pelangi menepuk jidatnya mendengar jawaban Zarow, ia lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum merasa konyol dengan dirinya sendiri.
" jadi dari tadi ngapain? " tanya Zarow lagi.
Karena pertanyaannya tak segera dijawab ia kembali lagi bertanya pada Pelangi, sepagi ini Pelangi sudah berada diluar rumah mungkin saja Pelangi baru pulang entah dari mana pikirnya.
" gak dari mana-mana sih mas, cuman aku dari tadi bantu ibu, ini juga baru selesai nyapu halaman " jawab Pelangi.
Zarow melihat kearah sekeliling halaman depan rumah Pelangi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, jika dilihat memang halamannya terlihat seperti baru di bersihkan.
" kamu nyapu halaman sendiri? " tanya Zarow.
" iya mas aku nyapu halaman, kamu heran denger aku nyapu halaman ya? " tanya Pelangi balik sambil tersenyum.
Di rumahnya hal seperti ini biasanya dikerjakan oleh tukang kebunnya, masing-masih pekerjaan di rumahnya sudah dikerjakan oleh masing-masing pekerja yang bekerja dirumahnya.
" udah gak usah heran mas, kerjaan aku di rumah emang begini " jelasnya sambil tersenyum, " ya udah yu masuk " lanjutnya sambil mengajak Zarow masuk ke dalam rumahnya.
Zarow mengikuti Pelangi masuk kedalam rumahnya dengan berjalan di belakang Pelangi. Pagi ini ia pergi ke rumah Pelangi bersama dengan pak Handoko supir pribadinya seperti biasa.
Pak Handoko yang sedari tadi berada di dalam mobil sesudah membukakan pintu mobil untuk tuannya hanya mampu tersenyum sendiri melihat tuan mudanya.
Sesekali ia bahkan menggelengkan kepalanya karena tuan mudanya terlalu banyak bertanya pada Pelangi, mendengar pertanyaan tuannya tersebut ia sangat tau jika tuannya jelas terdengar seperti sedang cemburu.
Tuan mudanya curiga jika Pelangi pergi akan bertemu dengan pria lain, terlebih pria yang bertemu dengan Pelangi adalah Aldo atau pun Doni.
Setelah tuan mudanya mengetahui jika Aldo adalah pria yang tengah dekat dengan Pelangi maka saat melihat Pelangi bersama Aldo reaksi tuannya terlihat sangat jelas menunjukan jika ia sangat cemburu.
Dari kejauhan Adriana yang berada di dalam mobil bersama Satria seperti melihat Zarow masuk kedalam rumah Pelangi. Mobil yang ia naiki bersama Satria baru saja melintas di depan rumah Pelangi.
Seperti biasa Satria selalu menjemput dirinya untuk menemani Satria bekerja, Satria adalah seorang pria yang memiliki bisnis servis ponsel maupun laptop rusak.
Selain itu Satria juga memiliki beberapa outlet ponsel serta laptop terbesar di kota ini, Satria adalah anak seorang pejabat di kotanya, itulah alasannya mengapa Adriana dulu merebut Satria dari Pelangi.
Satria berasal dari keluarga yang kaya sehingga dulu Adriana sangat gigih mengejar Satria, setelah beberapa tahun bersama Satria ternyata Adriana sadar masih ada lagi pria kaya yang melebihi kekayaan Satria.
__ADS_1
Sehingga Adriana merasa terpanggil untuk berusaha mendekati pria kaya tersebut & menggodanya seperti saat ia menggoda Satria dulu saat masih bersama Pelangi.
Pria tersebut adalah Zarow, pria yang beberapa bulan lalu pernah melakukan kencan buta bersamanya, saat melakukan kencan buta dengan Zarow ia merasa jika ia telah berhasil memikat Zarow.
Tetapi anehnya saat keesokan harinya ia menemui Zarow kembali ditempat berbeda yaitu kantornya, Adriana justru mendapatkan kenyataan yang mengecewakan, Zarow bahkan tak mengenali dirinya.
Bahkan Zarow mengusir dirinya dari kantornya, padahal ia sudah berdandan semaksimal mungkin & seseksi mungkin tetapi tetap saja Zarow tak menghiraukan dirinya.
Diperlakukan seperti itu tak membuat Adriana menyerah, bahkan ia semakin bertekad untuk mendapatkan Zarow karena ia merasa jika Zarow hanya pantas bersanding dengannya.
Adriana masih terus menatap kearah luar & melihat kearah spion yang berada di sebelah kirinya memastikan jika benar yang dilihatnya tadi benar adalah Zarow.
Mobil yang terparkir di depan rumah Pelangi tersebut memang benar milik Zarow, ia sangat yakin jika itu memang mobil yang biasa Zarow naiki.
" ngapain Zarow ke rumah Pelangi ya? " gumam Adriana bertanya dalam hati, " tunggu-tunggu, kayanya berapa minggu yang lalu paman kan kecelakaan tuh di perusahaan kata ayah " gumamnya lagi mencari jawaban.
Adriana semakin kepo dengan keberadaan Zarow sepagi ini di rumah Pelangi, tak mungkin jika Pelangi & Zarow memiliki hubungan khusus pikirnya.
" gak mungkin Pelangi sama Zarow ada hubungan yang gimana-gimana, lagian Pelangi kan gitu sok alim, cowok gak suka sama cewek sok alim macam Pelangi, lagian dimana-mana yang kebuka lebih dipilih dari pada yang ketutup, Satria aja lebih milih gue dulu ketimbang Pelangi " gumam Adriana lagi sambil tersenyum jahat, " oh iya paman kan kerja di anak perusahaan punya Zarow ya, wajar dong kalo sebagai yang punya perusahaan dia nengokin, iya bener " lanjutnya bergumam.
Pikirannya terus tertuju pada Zarow sang pemuda miliader, ia sangat yakin jika ia menikah dengan Zarow hidupnya akan berubah drastis, harta yang dimiliki Zarow tak akan pernah habis meskipun dipakai sampai tujuh turunan.
" calon gue standbay aja ya di sana, tunggu gue, liat aja lo pasti bakal tergila-gila sama gue " gumamnya lagi dalam hati
Satria terus memperhatikan Adriana yang melamun sambil tersenyum, sampai saat ini Adriana masih terlihat bucin dengan percintaan mereka.
" kamu kenapa lagi sayang " kata Satria.
Satria mengelus rambut Adriana lembut sambil tersenyum, jujur saja sampai saat ini Satria masih sangat mencintai Adriana meskipun sudah lama mereka bersama ia tak pernah sedikit pun merasa bosan dengan Adriana.
Terkadang sifat manja Adriana membuat Satria tak bisa jauh-jauh dari Adriana, ia ingin suatu saat nanti menikah dengan Adriana. Seperti layaknya pasangan kekasih pasti semua memiliki angan-angan untuk bersatu di pelaminan begitu juga dengan Satria.
Satria sangat berharap ia bisa menikah dengan Adriana meskipun untuk saat ini Adriana belun siap untuk menikah dengannya padahal ia sudah sangat sering melamar Adriana.
Sebagai seorang kekasih Satria berusaha mengerti dengan penolakan Adriana kepadanya, ia hanya terus-terusan berusaha meyakinkan Adriana dengan kesungguhannya.
Merasa di tanyai sesuatu oleh Satria seketika lamunannya membuyar, ia melihat kearah Satria sambil tersenyum juga, dengan lembutnya Satria membelai rambutnya, dulu ia sangat menyukai semua perhatian yang diberikan Satria.
" kok cuman senyum gitu sih?, aku nanya loh sayang " kata Satria lagi bertanya.
" gak papa sayang, kamu fokus aja nyetirnya sayang " kata Adriana.
" ok " kata Satria singkat.
Sekarang hal tersebut justru terasa biasa saja baginya, ia sudah merasa bosan dengan Satria, jika saja ia sudah bisa menaklukan Zarow mungkin saat ini ia telah meninggalkan Satria.
Ia sudah mulai muak dengan Satria karena selalu membahas tentang pernikahan padahal ia masih tak mau terikat dengan pernikahan, jika ia menikah dengan Satria sudah pasti ia tak akan pernah bisa hidup bebas.
Jika saja yang melamar dirinya adalah Zarow sudah pasti ia tak akan menolak, mendapatkan pasangan yang kaya raya seperti Zarow ibaratkan mendapatkan tambang emas.
Jika di bandingkan dengan kekayaan Zarow jelas kekayaan Satria tidak ada apa-apanya meskipun Satria adalah anak seorang pejabat.
Adriana sangat takut hidup susah karena selama ini ia sudah cukup hidup menderita, sedari duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) Adriana sudah hidup dengan gaya hidup mewah.
Ia menjual keperawanannya & menjajakan dirinya agar mendapatkan uang untuk kebutuhan hidupnya. Bahkan sampai saat ini ia masih sering menjajakan dirinya sebagai pekerjaan iseng-iseng dikala ia tak sedang bersama dengan Satria.
Selama ini Satria tak pernah mengetahui bagaimana sifat aslinya karena selama ini ia selalu mengelabuhi Satria dengan sikap manisnya.
Zarow
Satria & Adriana
__ADS_1