Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda

Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda
Bab 17


__ADS_3

Zarow terus menatap kearah Pelangi serius sambil terus berjalan bersama, biasanya seorang wanita akan bergelayutan di tangannya saat berjalan bersamanya, tetapi tidak dengan Pelangi bahkan saat ini masih ada jarak diantara mereka berdua, jarak yang cukup jauh bagi Zarow.


Beberapa saat lalu sebelum pergi menebus obat ia & Pelangi memapah pak Abdullah untuk pulang duluan dengan menggunakan mobil yang disupiri oleh Aldo, tak lupa bu Melati & Zerin serta barang-barang yang mereka bawa dari rumah juga telah di bawa pulang bersama dengan Aldo.


Sehingga saat ini tertinggal hanyalah ia & Pelangi berdua saja di rumah sakit karena harus antri untuk menebus obat terlebih dahulu. Di sepanjang koridor rumah sakit tak ada sepatah kata pun yang mereka obrolkan, tak sedikitpun Pelangi melirik kearahnya meskipun ia tak berhenti melihat kearah Pelangi.


Ia tau jika ia tak jatuh cinta dengan Pelangi sedikitpun, karena sampai saat ini ia tak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta, ia hanya merasa sangat penasaran dengan Pelangi yang terlihat tak sedikitpun tertarik padanya.


Setelah memberikan resep obat kepada petugas mereka berdua segera duduk sambil menunggu giliran nama pak Abdullah dipanggil, Zarow melihat kearah tangannya melihat jam ditangannya merasa tak sabar menunggu meskipun baru beberapa detik mereka berdua duduk menunggu.


Ia akhirnya melihat kearah Zarow yang berkali-kali melihat jam di tangannya sambil bersedakep, mengingat pria disebelahnya adalah pria kaya Pelangi yakin jika tuan muda Zarow tak biasa mengantri untuk menunggu sesuatu seperti sekarang ini.


Melihat Zarow sedekat ini Pelangi merasa sangat canggung & tak bisa berkata-kata, ia sampai saat ini juga masih belum menyangka jika pria nan kaya serta rupawan tersebut memilih melamar dirinya untuk dipersunting.


Bahkan sampai saat ini dirinya belum yakin apakah jawaban yang akan ia berikan nantinya, ia belum yakin dengan sepenuh hatinya untuk menerima pinangan tuan muda Zarow, apalagi mengingat jika dirinya & Zarow sangat berbeda kasta.


" kenapa? " tanya Zarow yang ternyata diam-diam melihat kearahnya.


Dengan tatapan yang tajam Zarow menatap Pelangi dengan seksama, begitu ditatap olehnya Pelangi justru melihat kearah lainnya & tak melihat kearah Zarow kembali, melihat keanehan sikap gadis di sebelahnya Zarow hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Jantungnya hampir saja copot karena ketahuan memperhatikan tuan muda Zarow, ditatap dengan tatapan yang sangat tajam ia bahkan tak punya keberanian untuk menjawab pertanyaan Zarow.


Ia berusaha mengalihkan pandangannya & pura-pura tak mendengar pertanyaan tuan muda Zarow, meskipun ia tau saat ini tuan muda Zarow pasti masih terus melihat kearahnya.


" perasaan gue liat lo aslinya gak terlalu diem deh " kata Zarow lagi sambil menaikan satu alisnya.


Pelangi akhirnya menoleh kearah Zarow merasa diajak bicara, ia hanya diam melihat kearah Zarow, bahkan Zarow tak sepenuhnya mengenal dirinya bagaimana Zarow bisa tau tentang dirinya.


" gue liat lo kalo sama temen lo juga gak diem-diem amat kaya gini " katanya lagi.


" maaf pak " jawab Pelangi meminta maaf.


Zarow membuang pandangannya merasa tak percaya karena saat ini Pelangi memanggil dirinya dengan sebutan pak.


" lo panggil gue apa?, pak? " tanya Zarow memastikan.


Mendengar pertanyaan Zarow ia hanya menganggukan kepalanya sambil melihat kearah Zarow.


" emang tampang gue kaya bapak-bapak apa?, lo dari pertama ketemu gue kayanya udah manggil gue pak ya seinget gue " panjang lebar Zarow berkata merasa tak suka.


Lagi-lagi Pelangi hanya menjawab dengan bahasa isyarat, ia hanya menggelengkan kepalanya sambil melihat kearah Zarow. Melihat tampang tuan muda Zarow memang pria disebelahnya tersebut tak terlihat sama sekali tua, bahkan ia yakin umur tuang muda Zarow dibawah tiga puluh tahun.


" lo gaguk apa?, dari tadi diajak ngomong cuman ngangguk sama geleng kepala "


Melihat Pelangi hanya menjawab dengan anggukan & gelengan kepalanya cukup membuat dirinya kesal, biasanya dirinya lah yang tak banyak bicara, tapi saat menghadapi Pelangi yang tak menjawab kata-katanya dengan ucapan ia jadi emosi.


" pak "


" pak lagi " cela Zarow memotong kata-kata Pelangi.


Pelangi menepuk jidatnya reflek karena bingung harus memanggil atasan ayahnya dengan sebutan apa mengingat pria di sebelahnya tersebut usianya pasti tak terpaut jauh darinya.


" jadi gue harus manggil lo apa?, gue itu paling gak bisa kalo gak sopan sama yang lebih tua, makanya gue manggil lo pak " jawab Pelangi yang akhirnya berkata panjang lebar.


" kalo lo mau menghormati gue karna gue lebih tua dari lo gak harus manggil gue pak juga kali, panggilan lain kan banyak, pak kesannya gue bapak-bapak banget " Zarow menerangkan panjang lebar dengan nada agak marah.


Ia hanya menggelengkan kepalanya karena berdebat dengan Zarow membuat mata-mata menatap kearahnya & kearah Zarow sambil berbisik-bisik, Pelangi membuang nafas kasarnya lalu menatap ke arah Zarow kembali.

__ADS_1


" iya sorry mas " kata Pelangi singkat.


" Mas, lo sangka gue mas-mas penjual pinggir ja "


Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya mulutnya telah dibekap oleh Pelangi sambil menganggukan kepalanya kepada orang-orang sekitar mereka yang sedari tadi ternyata melihat kearah mereka.


Zarow melepaskan tangan Pelangi dari mulutnya, Pelangi lalu melepaskan tangannya dati tangan Zarow sambil membuang mukanya kembali.


" gak sopan banget sih, gue lebih tua dari lo ya, main bekep-bekep mulut gue lo, berani banget lo, gak ada yang berani kaya lo ke gue selama ini "


Selama ini memang tak ada seorang wanita pun yang berani berbuat tak sopan dengannya seperti yang dilakukan oleh Pelangi barusan kepadanya.


" maaf mas " Pelangi meminta maaf pada Zarow karena ia memang merasa telah berbuat salah.


Entah mengapa ia bisa seberani itu melakukan hal tersebut kepada Zarow, seharusnya ia tak melakukan hal tersebut, ia tiba-tiba reflek karena suara Zarow cukup membuat perhatian orang-orang yang sontak menoleh kearah mereka.


Zarow menepuk jidatnya reflek karena panggilan dari Pelangi yang memanggil dirinya dengan sebutan mas, merasa panggilan tersebut sangat tak cocok dengannya. Ia lalu melepaskan masker yang ia kenakan & kembali menoleh kearah Pelangi.


" lo liat tampang gue kaya mas-mas gitu? " tanya Zarow.


" iya, kan emang lebih tua dari gue " jawab Pelangi, " ini lagian ngapain sih masker di lepas-lepas, masker harus tetap di pake, apalagi ini rumah sakit " Kata Pelangi lagi sambil memakaikan masker milik Zarow.


Zarow hanya terdiam mendapati perhatian hangat dari Pelangi, setelah masker tersebut telah terpasang kembali di wajahnya ia lalu membuang wajahnya kesembarangan menatap kearah lain.


" bapak Abdullah " kata seorang petugas.


Zarow lalu berdiri & berjalan untuk membayar obat milik pak Abdullah diikuti dengan Pelangi yang berjalan dibelakangnya pelan, sekilas ia melihat Pelangi yang berjalan agak jauh darinya sambil menunduk melihat layar ponselnya sambil mengetik sesuatu.


Digelengkannya kepalanya melihat Pelangi yang seolah tak menghargai dirinya & masih sibuk dengan ponselnya, setelah mengambil obat pak Abdullah & membayarnya Zarow lalu berbalik merampas ponsel milik Pelangi & berjalan menjauh menuju arah luar.


Terkejut karena tiba-tiba ponsel miliknya diambil oleh Zarow dengan tanpa ijin ia hanya bisa terdiam memperhatikan Zarow yang telah berjalan menjauh darinya, padahal saat ini ia sedang membalas pesan WhatsApp dari Aldo yang memberinya kabar jika Aldo sudah sampai dirumahnya setelah mengantarkan ayahnya.


Dikeluarkannya nafas kasar dari mulutnya, meskipun saat ini ia berjalan dengan agak cepat untuk menyusul Zarow ia rasa itu tak akan bisa mengimbangi Zarow, melihat langkah kaki Zarow dengan kaki panjangnya yang dua kali lipat dari langkah kakinya.


" masya allah percuma jalan cepet tetep gak bakal kekejar, lari aja lah " kata Pelangi sendiri.


Ia masih terus berjalan menuju arah parkiran tanpa menghiraukan Pelangi yang tak kunjung berjalan disebelahnya, sadar karena Pelangi tak juga ada di dekatnya, ia kemudian berhenti & membalikkan badannya untuk melihat keberadaan Pelangi.


Melihat Pelangi sedang berlari mendekat kearahnya ia hanya diam berdiri ditempat sambil bersedakep & membuang pandangnya kearah lain.


Setelah agak dekat dengan Zarow ia mengubah larinya dengan jalan perlahan mendekat kearah Zarow yang telah berdiri menghadap kearahnya untuk menunggu dirinya.


Pelangi tersenyum meskipun senyumnya tak terlihat. Dihapusnya bulir-bulir peluh keringat yang membasahi pelipisnya dengan lengan baju panjangnya, meskipun tak seberapa jauh ia berlari mengejar Zarow tapi mampu membuat tubuhnya menjadi sedikit berkeringat.


" ngapain sih lari-lari kaya anak kecil aja " baginya Pelangi memang terkesan seperti anak kecil karena berlarian di koridor seperti ini.


" kalo gak lari gak bakal kekejar lo mas " jawab Pelangi santai masih dengan senyum yang tertutup masker.


Tanpa berkata apa-apa lagi Zarow lalu membalikan tubuhnya & melanjutkan jalannya kembali pelan menuju arah parkiran dengan diikuti oleh Pelangi yang saat ini telah berada di sebelahnya. Setelah berada di area parkiran ia segera membukakan pintu mobil untuk Pelangi.


Masih terdiam dibelakang tubuh Zarow ia seolah tak bergeming terpaku sangat takjub melihat sosok tuan muda seperti Zarow ternyata cukup perhatian juga dengan membukakan pintu mobil untuknya.


Zarow menatap kearah Pelangi yang hanya diam dibelakangnya & tak kunjung masuk kedalam mobil padahal ia telah lama menunggu Pelangi untuk masuk ke pintu yang telah ia bukakan.


" kenapa diem aja, ayo masuk "


" astaghfirullah, iya-iya maaf " jawab Pelangi yang tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


Ditutupnya pintu mobil tersebut setelah Pelangi masuk kedalamnya ia lalu berjalan melewati arah depan sambil menggelengkan kepalanya menuju arah pintu samping, kali ini ia membawa mobil miliknya sendiri tanpa disupiri oleh pak Handoko seperti biasa.


Dikemudikannya mobil miliknya menjauh dari arah parkiran menuju arah jalan raya, ia masih terus fokus dengan kemudinya sambil memberikan obat pak Abdullah kepada Pelangi.


" ha sebanyak ini obat yang harus di minum ayah " Pelangi kaget melihat obat yang harus diminum ayahnya.


" tolong di perhatikan ya obat pak Abdullah, harus diminum & harus di habiskan " terang Zarow.


Pelangi hanya menganggukkan kepalanya mengerti, dibaca satu persatu obat yang harus diminum ayahnya nanti ketika sampai di rumah.


Zarow menoleh kearah Pelangi yang tak menjawab kata-kata darinya & justru masih sibuk membaca satu persatu obat pak Abdullah.


" lo dengerin gue ngomong gak sih? " tanya Zarow.


" apa? " tanya Pelangi balik sambil melihat kearah Zarow.


Ia hanya menggelengkan kepalanya karena Pelangi tak menyimak kata-katanya tadi yang menyuruhnya untuk memperhatikan obat pak Abdullah & harus di habiskan.


" lo beneran gak denger omongan gue? " tanya Zarow sekali lagi.


" yang mana mas? " tanya Pelangi lagi.


" yang gue bilang obatnya harus diperhatikan " belum selesai Zarow menjawab kata-katanya telah di cela oleh Pelangi.


" diminum sampe habis, gue denger mas, kan udah gue jawab tadi "


Pelangi menggelengkan kepalanya karena Zarow ternyata tak melihat dirinya menganggukan kepala untuk menjawab kata-katanya tadi.


" kapan?, kok gue gak denger lo jawab " kata Zarow lagi.


" tadi gue ngangguk-ngangguk doang sih mas jawabnya, tapi masnya gak liat ya, hehe " Pelangi meringis ala kuda nyengir meskipun deretan gigi putihnya juga tak akan terlihat karena tertutup masker.


Lagi-lagi ia hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Pelangi, jelas saja ia tak mendengar jawaban Pelangi karena Pelangi hanya menjawab dengan anggukannya saja.


" lo bisa gak sih jawab jangan cuma pake bahasa isyarat, ngangguk-ngangguk geleng-geleng, lo pikir gue nyetir gini bisa liat jawaban lo kalo cuman ngangguk sama geleng " panjang lebar ia berkata karena kesal Pelangi sangat minim berbicara dengan dirinya.


" iya mas, maaf " jawab Pelangi.


Zarow mendengus mengeluarkan nafas kasarnya sambil terus fokus mengemudikan mobil miliknya & terus melihat arah depan.


" bisa gak sih kalo gak minta maaf terus, bentar-bentar minta maaf, bentar-bentar minta maaf "


Mendengar Pelangi berkali-kali meminta maaf membuatnya tak suka, ia hanya menerima maaf ketika seseorang yang ia anggap benar-benar melakukan kesalahan & baginya Pelangi tak melakukan kesalahan yang sangat serius.


" iya maaf " kata Pelangi lagi.


" kan gue udah bilang jangan minta maaf lagi, lo biasa begini ya, minta maaf mulu "


Ia benar-benar tak suka mendengar kata maaf dari Pelangi, ia menatap kearah Pelangi yang saat ini juga melihat kerahnya, ia mulai melepaskan satu tali maskernya dari telinganya agar paru-parunya mendapatkan udara yang cukup karena ia sudah mulai merasa udara yang masuk dari hidungnya tak cukup untuk paru-parunya.


" iya-iya sorry eh " reflek ia menutup mulutnya karena berkata maaf dengan bahasa inggris.


Pelangi lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tak terasa gatal, melihat Zarow yang terlihat kesal karena ia terus-terusan meminta maaf Pelangi merasa jadi serba salah harus berkata apa, ia hanya menggaruk kepalanya sambil meringis salah tingkah.


" sorry sama maaf itu apanya sih, ada-ada aja " tutur Zarow sambil menepuk jidatnya.


Zarow sedikit tersenyum sambil menggelengkan kepalanya & melihat kearah lain, ia merasa sedikit lucu memperhatikan tingkah Pelangi.

__ADS_1


Merasa tingkahnya menjadi sedikit agak konyol ia menjadi merasa malu sendiri, ia juga tak mengerti kenapa ia tiba-tiba menjadi seperti ini, bukan karena menjaga imagenya ia hanya canggung karena bersama dengan Zarow saat ini.


__ADS_2