Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda

Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda
Bab 33


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Pelangi telah bersiap untuk pergi ke kantornya, ia sudah sangat rapi dengan seragam Satpol nya & jilbab abu yang menutup kepalanya. Hari ini tugasnya berada di luar kantor akan kembali di laksanakan.


Rajia gabungan antara pasukan Dalmas & Polisi akan dilakukan kembali untuk merajia masyarakat yang tak mengenakan masker di tempat keramaian.


Tak tanggung-tanggung Bapak Bupati di daerahnya memberikan denda yang sangat luar biasa nilainya jika tak menggunakan masker di daerah tersebut dengan nominal Rp 1.000.000.


Tentu saja dengan adanya denda yang cukup mahal pelanggaran tak mengindahkan protokol kesehatan dengan tak mengenakan masker saat berada di tempat ramai sedikit teratasi.


Tetapi ada beberapa warga yang kadang masih terciduk tak mengenakan masker meskipun di beri denda tinggi. Oleh karena itu mereka kembali wajib melakukan rajia masker dalam dua kali seminggu di tempat-tempat keramaian.


" sudah siap Ngi? " tanya ibu sambil tersenyum.


Bu Melati tersenyum melihat kedatangan putrinya dari arah luar, baru saja putrinya keluar dari kamarnya menuju arah meja makan untuk sarapan sebelum berangkat ke kantornya.


" iya bu sudah, bu ini ngomong-ngomong ayah mana? " tanya Pelangi balik.


" ayah disini " kata pak Abdullah yang baru masuk dari pintu belakang.


Pelangi menoleh kearah ayahnya & tersenyum, selama mendapatkan ijin cuti karena mengalami kecelakaan saat bekerja, rutinitas pagi ayahnya adalah berjalan kaki kejalan untuk melatih saraf-saraf kakinya yang mengalami cidera lumayan parah.


Meskipun dengan langkah kaki yang agak sedikit pincang ayahnya tersebut terus berlatih berjalan agar bisa kembali normal berjalan seperti sedia kala. Pelangi berdiri & berjalan menuju arah ayahnya, ia memegang lengan ayahnya sambil tersenyum, ia kemudian memapah ayahnya menuju arah meja makan.


Pak Abdullah tersenyum mendapatkan perhatian putrinya yang sebentar lagi akan menikah & pastinya akan pergi meninggalkan rumah mereka untuk ikut bersama dengan suaminya.


Momen kebersamaan bersama Pelangi pastilah akan di rindukan saat putrinya tersebut akan berada jauh darinya, padahal jelas secara gamblang tadi malam ia mengatakan pada istrinya jika sudah sewajarnya putrinya ikut dengan suaminya jika menikah nanti.


" duduk sini aja yah " kata Pelangi tersenyum.


" makasih ya Ngi, padahal ayah bisa sendiri loh " kata pak Abdullah.


" iya ayah memang bisa sendiri tapi Pelangi tau, kalo ayah pasti capek " jawab Pelangi.


Senyumnya masih saja terus menghiasi wajahnya, melihat ayahnya saat ini pasti ayahnya sangat kelelahan karena sudah sangat berjuang keras melatih otot kakinya agar nantinya terbiasa.


" capek sih enggak cuman kaki ayah ngilu " kata pak Abdullah.


" kok ngilu yah, apa lukanya tebuka lagi? " tanya bu Melati khawatir.


Setelah di bawa ke rumah sakit saat kecelakaan suaminya mendapatkan penangan insentif. Operasi perlu dilakukan pada saat itu di bagian kaki suaminya karena banyak batu-batu kecil yang masuk kedalam luka kakinya yang lumayan parah pada saat itu.


Ia agak khawatir jika luka kaki suaminya sebenarnya belum sembuh seutuhnya hanya saja memang saat ini sudah terlihat tertutup & menyatu bekas luka tersebut.


" enggak ah kalo tebuka, kan udah kering " tutur pak Abdullah.


" beneran udah kering yah? " kata Pelangi melihat kearah ayahnya.


Kini ia juga agak khawatir dengan kondisi ayahnya mengingat baru dua hari benang yang menjahit luka kaki ayahnya di lepas, ia juga khawatir jika luka kaki ayahnya terbuka kembali.


" hmmmm, masa sih gak percaya sama ayah, beneran udah gak papa ko jangan khawatir " jelas pak Abdullah.


" yakin yah? " tanya bu Melati memastikan.


" yakin bu, ya udah lah sarapan aja, kok malah bahas ayah si pagi-pagi " kata ayah, " kamu cepet sarapan nya Ngi tar terlambat, udah jam jam setengah tujuh loh ini " lanjut pak Abdullah.


Pelangi hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, mereka bertiga kemudian segera melahap sarapan pagi yang telah di buat oleh ibunya subuh tadi.


" Assalamuallaikum "


Pelangi lalu menoleh kearah ibunya karena mendengar suara salam dari arah luar, ia memasang telinganya kembali memastikan jika ia tak salah mendengar.


" assallamuallaikum "


" ada orang ya yah, bu? " tanya Pelangi


" kayaknya sih iya " jawab bu Melati.


" assalamuallaikum " Sekali lagi suara salam terdengar dari arah luar rumahnya.


" waallaikumsalam "

__ADS_1


Pelangi segera berdiri & berjalan kearah luar untuk melihat siapakah yang pagi-pagi sekali datang bertamu ke rumahnya.


Zarow sedari tadi masih tetap berdiri di depan rumah Pelangi yang pintunya masih tertutup, ia terus mengetuk-ngetuk pintu rumah Pelangi sambil mengucapkan salam.


Sengaja ia pagi-pagi datang ke rumah Pelangi untuk menjemputnya & mengantarkan Pelangi ke kantornya, padahal kantor Pelangi jelas lebih jauh dari kantor Zarow.


Hal tersebut tak menyurutkan niat Zarow untuk menjemput Pelangi karena nantinya ia juga harus terbiasa mengantar jemput Pelangi saat menjadi istrinya.


Ia menarik sedikit lengan jas yang ia kenakan untuk melihat saat ini sudah jam berapa, sudah pukul 06.40 pagi, seharusnya ia sudah melewati setengah perjalanannya menuju kantornya saat ini agar tak terjebak macet.


Cekrek....


Pintu pun mulai terbuka, Pelangi berdiri sambil memegang handle pintu yang baru saja ia buka, Zarow langsung memangku tangannya tepat di depan dadanya sambil melihat kearah Pelangi.


Pelangi terkejut melihat siapa orang yang ia pikir datang bertamu pagi-pagi sekali, Zarow telah berdiri di depan pintu sambil bersedakep melihat kearahnya.


" mas Zarow " kata Pelangi kaget, " kok pagi-pagi kesini? " lanjutnya lagi.


Zarow kaget mendengar pertanyaan Pelangi sampai menggelengkan kepalanya reflek, jelas saja pertanyaan Pelangi tak sopan baginya padahal ia datang pagi-pagi sekali dengan niat baik.


Ia kemudian berkacak pinggang & membuang wajahnya melihat ke arah lain, lalu kembali melihat kearah Pelangi yang masih berdiri diam tak mempersilahkan ia untuk masuk ke dalam rumahnya.


" hem, ini gue gak di persilahkan masuk dulu ya? " kata Zarow


" astaga iya maaf mas, ayo masuk dulu " kata Pelangi mempersilahkan Zarow untuk masuk.


Zarow masih terus berdiri sambil terus memperhatikan Pelangi, karena telah dipersilahkan untuk masuk, ia lalu menunduk untuk melepaskan sepatunya terlebih dahulu sebelum masuk ke rumah Pelangi.


Pak Handoko yang saat ini masih berdiri di dekat mobil yang ia kendarai tersenyum-senyum sendiri menyaksikan kelucuan tingkah tuannya saat bersama dengan Pelangi.


Benar-benar tak disangka-sangka jodoh tuannya begitu sholeha sehingga membuat tuannya sangat termotifasi untuk kembali menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim, tuannya sudah mulai melakukan sholatnya dengan baik, bahkan saat sholat subuh tadi tuan mudanya lah yang mengajaknya kembali untuk sholat berjamaah.


Pelangi masih berdiri menunggu Zarow yang saat ini sedang melepaskan sepatu yang ia kenakan, selama mengenal Zarow Pelangi sangat jarang bisa melihat pria tersebut tersenyum.


Pelangi cukup penasaran bagaimana cara Zarow mengekspresikan rasa bahagianya selama ini, pikirannya terus tertuju pada Zarow, sebenarnya masih banyak pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalanya yang membuatnya penasaran.


" aaaa, emmm enggak, siapa yang ngeliatin " kilah Pelangi, " ayo sini langsung aja kedapur " ajak Pelangi


Zarow jelas-jelas melihat Pelangi sedari tadi melihat kearahnya tapi Pelangi justru berkilah & tak mengakui jika sedari tadi ia memang benar sedang memperhatikan Zarow.


" ckkkk, masih aja bisa ngeles, jelas-jelas gue liat tadi dia ngeliatin gue " kata Zarow sendiri pelan.


Zarow kemudian berjalan mengikuti Pelangi yang meninggalkan dirinya masuk kearah belakang, saat berada di belakang ternyata sudah ada bu Melati serta pak Abdullah duduk di meja makan untuk sarapan.


" eh nak Zarow, sini ayo duduk ikut sarapan " kata pak Abdullah.


" sini mas ikut sarapan " ajak Pelangi


Zarow menggaruk-garuk tengkuknya yang tak terasa gatal merasa tak enak karena telah mengganggu acara sarapan pagi keluarga Pelangi.


" ayo sini nak Zarow, jangan sungkan-sungkan " kata bu Melati.


" iya bu, aduh jadi gak enak saya, pada hal tadi niatnya cuman mau jemput Pelangi malah diajak sarapan " kata Zarow menggaruk-menggaruk kepalanya sambil tersenyum.


Pelangi kembali tercengang melihat Zarow tersenyum kepada ibunya, padahal baru saja ia berpikir pria yang sebentar lagi menjadi suaminya tersebut nampak terlihat kaku karena sangat jarang tersenyum.


" pada hal kalo senyum gitu mukanya keliatan jauh lebih bagus " gumam Pelangi dalam hati.


Zarow lagi-lagi mendapati Pelangi menatap dirinya, seketika jantungnya kembali berdetak dengan cepat, ini untuk kesekian kalinya jantungnya berdetak-detak tak menentu seperti ini, ia pun reflek memegangi dadanya.


" gak papa nak, rejeki gak boleh di tolak, ayo ikut sarapan " kata pak Abdullah.


" oh iya pak " jawab Zarow.


Zarow duduk sambil terus memegangi dadanya, kini detak jantungnya sudah normal kembali. Ia selalu merasa aneh saat jantungnya berdebar-debar, ia seperti merasakan sesuatu yang sangat menggebu-gebu tapi ia tak tau perasaan apa itu.


" kayaknya gue memang bener-bener harus ke dokter " gumamnya dalam hati.


" ayo mas silahkan di makan " kata Pelangi

__ADS_1


Pelangi telah mengambilkan dua centong penuh nasi goreng lengkap dengan telurnya ke piring yang telah di letakan di depan meja Zarow.


" emmm iya, makasih " kata Zarow.


Zarow yang mendapati perhatian Pelangi membuat dirinya agak salah tingkah, selama ini tak ada seorang wanita yang sangat terlihat tulus dengannya kecuali ibu serta adiknya Zerin.


Zarow pun menyuapkan sesendok nasi goreng yang ada di hadapannya kedalam mulutnya. Sebenarnya pagi tadi ia memang tak sempat sarapan di rumahnya karena terburu-buru ingin menjemput Pelangi.


Setelah selesai menghabiskan sarapan Zarow di ajak oleh pak Abdullah untuk mengobrol di ruang tamu sambil menunggu Pelangi yang sedang membantu bu Melati membereskan meja makan.


Ia sangat penasaran apakah segala sesuatu pekerjaan di rumah ini di kerjakan sendiri oleh Pelangi serta bu Melati, di rumahnya semua pekerjaan rumah diselesaikan oleh ART sehingga Zarow heran melihat pemandangan seperti ini.


" jadi nak Zarow datang kesini buat jemput Pelangi? " kata pak Abdullah bertanya.


" iya pak, saya pikir mulai sekarang saya harus membiasakan diri buat antar jemput Pelangi, soalnya kan sebentar lagi kita berdua bakal nikah & saya rasa mulai sekarang Pelangi adalah tanggung jawab saya " tutur Zarow


Pak Abdullah mengangguk-anggukan kepalanya, sebagai seorang laki-laki Zarow sangat bertanggung jawab pikirnya, tetapi pak Abdullah pikir sebenarnya untuk saat ini ia rasa Pelangi masih bisa pulang & pergi sendiri agar tak merepotkan Zarow.


" tapi kalo nak Zarow jemput Pelangi kaya gini apa gak bakal terlambat ke kantor? " tanya pak Abdullah lagi.


Ia juga berpikir jika tuan muda Zarow akan menyita banyak waktu jika harus menjemput Pelangi dahulu lalu pergi ke kantornya, apa lagi mengingat letak kantor Pelangi lebih jauh dari kantor tuan muda Zarow.


" gak lah pak kalo terlambat ini juga masih terlalu pagi, tapi kalo saya bisa terlambat mungkin saya akan jemput Pelangi subuh aja sekalian habis sholat subuh, hahahah " kata Zarow.


" hahahaha, bisa juga kamu bercanda " kata pak Abdullah.


Zarow pikir tak akan ada masalah sebenarnya jika sekalipun ia akan terlambat pergi ke kantor mengingat ia adalah atasan sekaligus anak pemilik perusahaan tersebut.


Pelangi yang baru keluar dari arah dapur kembali terkejut melihat Zarow bisa tertawa bersama ayahnya, selama ini ia berpikir jika Zarow adalah pria dingin dengan ekspresi kakunya.


" Ngi, kamu kenapa malah diem disitu?, cepetan ambil barang mu, ini nak Zarow bisa terlambat juga loh gara-gara kamu " kata pak Abdullah yang mendapati anaknya terdiam mematung.


" astagfirullah " kata Pelangi sambil menepuk jidatnya.


Karena begitu takjub dengan pemandangan yang tak biasa tadi, Pelangi sampai tak sadar jika dirinya seperti patung memperhatikan ayahnya & Zarow.


Pelangi lalu berjalan cepat kembali menuju kamarnya untuk mengambil tas gendongnya. Setelah mengambil tas gendongnya ia kemudian berjalan kearah luar kamarnya kembali menuju ruang tamu.


" udah siap? " tanya pak Abdullah.


" sudah yah " kata Pelangi singkat.


Bu Melati yang mengetahui anaknya akan segera berangkat bekerja langsung menghampiri kearah luar juga.


" sudah mau berangkat Ngi? " tanya bu Melati.


" iya bu " kata Pelangi sambil menyodorkan tangannya untuk menyalami ibunya. " Pelangi berangkat ya bu " pamit Pelangi setelah mencium pipi kanan kiri ibunya.


Setelah menyalami ibunya tak lupa Pelangi juga menyalami ayahnya serta mencium pipi kanan kirinya seperti yang di lakukan nya pada ibunya.


" berangkat ya yah " pamitnya pada pak Abdullah, " assalamuallaikum " lanjutnya lagi


" waallaikumsalam " kata pak Abdullah & bu Melati.


Setelah melihat Pelangi telah selesai berpamitan kepada kedua orangtuanya, Zarow pun ikut berpamitan kepada kedua orang tua Pelangi juga.


" pak, bu kami berangkat dulu ya, assalamuallaikum " salam Zarow juga.


" waallaikumsalam " jawab orang tua Pelangi lagi bersama.


Pak Handoko yang melihat tuannya keluar dari rumah pak Abdullah bersama Pelangi, bergegas membuka pintu mobil untuk tuan mudanya & Pelangi.


" silahkan mba " kata pak Handoko mempersilahkan Pelangi.


" aduh bapak pake repot-repot bukain pintu buat saya segala " kata Pelangi sambil tersenyum. " makasih pak " lanjutnya lagi.


Tanpa menjawab pak Handoko hanya tersenyum, setelah mempersilahkan Pelangi ia lalu mempersilahkan tuan mudanya, setelah tuan mudanya masuk, pak Handoko bergegas masuk & duduk di kursi kemudinya.


Di dalam mobil Zarow tersenyum sambil terus memandangi cincin bermatakan berlian yang saat ini melingkar indah di jari Pelangi. Cincin tersebut adalah cincin yang ia pasang kan di jari Pelangi semalam sebagai tanda lamarannya diterima.

__ADS_1


__ADS_2