Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda

Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda
Bab 51


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Cuaca hari ini tak terlalu bersahabat, hujan turun begitu derasnya, langit gelap angin juga bertiup lumayan kencang, Satria yang masih duduk sendiri di ruangannya duduk memandang kearah luar kaca jendelanya.


Pagi ini ia tak menjemput Adriana karena kekasihnya tersebut sedang ingin beristirahat di rumahnya, ia selalu menuruti apapun permintaan kekasihnya termaksud permintaan untuk tak menemani dirinya hari ini.


Apalagi jika diingat Adriana nampak terlihat tak sehat kemarin, wajahnya terlihat pucat bahkan kekasihnya tersebut seharian kemarin tak nafsu makan, melihat kondisi Adriana seperti itu tentu saja ia sangat khawatir.


Satria hanya mampu mondar mandir gelisah karena terus-terusan kepikiran Adriana, ingin rasanya ia pergi ke rumah kekasihnya untuk melihat kondisinya saat ini.


Tetapi ia tak mungkin pergi ke rumah Adriana saat ini karena pagi tadi Adriana sudah berpesan agar dirinya jangan dulu datang ke rumahnya hari ini karena ia ingin benar-benar beristirahat.


Ia pun tak ingin mengganggu waktu istirahat Adriana karena memang kekasihnya tersebut tak punya waktu istirahat yang cukup karena setiap harinya harus menemani dirinya.


Itu lah yang membuat dirinya sangat mencintai Adriana selalu berada disampingnya setiap saat sampai tak punya waktu untuk dirinya sendiri.


Bersama dengannya sepanjang hari & sepanjang waktu tak mungkin membuat Adriana bisa berselingkuh darinya atau pun mempunyai pria idaman lain karena ia sangat yakin jika Adriana juga sangat mencintai dirinya.


Apalagi jika mengingat apa yang selama ini mereka berdua telah lakukan, meskipun hubungan mereka belum terikat oleh tali pernikahan tapi hubungan mereka berdua melebihi dari ikatan tersebut.


Satria bukan tak ingin menikahi Adriana tetapi selama ini Adrian lah yang belum siap menikah dengannya padahal Satria sudah tak sabar ingin hidup satu atap dengan Adriana.


Hidup berpisah seperti ini hanya membuat Satria selalu gelisah saat tak bertemu Adriana, meskipun seharian terus bersama tetapi bagi Satria waktu tersebut masih kurang.


" huffftttttt " Satria menghela nafas panjangnya karena merasa bosan.


Outletnya nampak sepi pengunjung karena hujan yang turun begitu derasnya, sesekali ia menguap karena suasananya memang sangat pas untuk bermalas-malasan diatas tempat tidur.


Sayang ia hanya sendiri tanpa Adriana yang biasanya selalu bergelayut manja menemaninya setiap harinya, tak ada Adriana ia merasa tambah sangat kesepian.


Padahal saat ini ia tak benar-benar sedang sendiri karena ada beberapa karyawan yang saat ini sedang sif kerja pagi ini di outletnya tetapi entah mengapa tanpa Adriana ia merasa sunyi.


" bos " tegur salah satu SPG yang bekerja di outletnya.


Satria pun melihat ke arah Mira seorang SPG yang sudah bekerja di outletnya selama satu tahun belakangan ini. Mira merupakan SPG yang cantik dibanding SPG lainnya yang bekerja dengannya, tetapi jika dibandingkan Adriana Mira tak sebanding dengan Adriana.


" iya Mir, kenapa? " tanya Satria.


" ini bos tadi ada telpon dari salah satu pelanggan namanya pak Handoko, order satu hp untuk dikirim ke alamat ini & pembayarannya via transfer " kata Mira menjelaskan.


Karena hujan sangat deras saat ini pekerjaannya tak begitu berat seperti hari biasa, pengunjung pun tak terlalu banyak & hanya bisa di hitung dengan jari.


Tetapi pagi ini keberuntungan berpihak padanya karena ada salah satu pelanggan menghubungi dirinya & mengorder 1 unit ponsel & telah dibayar secara transfer.


Sebagai seorang SPG jika ia dapat menjual satu atau beberapa unit ponsel maka akan diberi Vi atau imbalan berapa persen dari penjualan tersebut, itulah mengapa Mira sangat senang.


Imbalan dari ponsel yang saat ini terjual akan ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya & adik-adiknya sambil menunggu upah gajih bulanan dari ia bekerja sebagai karyawan SPG di outlet tersebut.


Mira tersenyum sumringah, tatkala membayangkan betapa senangnya adik-adiknya nanti di rumah jika ia membawakan nasi bungkus yang ia akan beli dari uang tipsnya.


" ini bukti transfer nya pak " kata Mira lagi.


Satria mengamati bukti resi transfer yang dikirim oleh seorang pelanggan melalui ponsel yang saat ini dipegang oleh Mira & kemudian mengecek mbangking yang berada di ponselnya.


Setelah memastikan Satria lalu memerintahkan Mira untuk mengemaskan 1 unit ponsel yang telah dibayar tersebut ke alamat si pembeli.


" Mir kamu tolong packing kan ya handphone nya, sekalian hubungi kurir langganan " kata Satria malas


" siap bos " kata Mira sambil terus tersenyum.


Melihat Mira yang terus tersenyum ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, Satria tau jika Mira sangat senang karena ia akan menerima tips dari satu unit ponsel yang berhasil diorder oleh pelanggan darinya.

__ADS_1


Mira merupakan gadis yatim piatu yang yang selama setahun ini berjuang membiayai dua adiknya yang masih kecil-kecil, uang tips yang akan diterima dari penjualan ponsel yang tak seberapa bagi Satria itu sangatlah berharga untuk Mira.


Satria mengenali seluk beluk latar belakang semua karyawannya bukan hanya Mira saja yang ia tahu tetapi semuanya, dari semua karyawannya hanya Mira sajalah yang nasibnya kurang beruntung.


Jika dipikir Mira memanglah gadis yang sangat kuat, disaat gadis-gadis seusianya sibuk dengan dunianya Mira malah sibuk memperjuangkan kehidupannya & adik-adiknya agar terus bisa hidup.


" bos ini sudah saya packing, alamat sudah jelas disitu sama nama penerima lengkap nomer hpnya, tadi kurir sudah saya hubungi juga jadi tinggal ngambil kesini " jelas Mira.


" ok " kata Satria singkat.


Ia pun menerima kotakan ponsel yang telah terbungkus rapi dari Mira & ia letakan tepat di atas meja yang berada di depannya.


Terus menatap kotakan yang ada dihadapannya tersebut, ia sebenarnya cukup penasaran dengan si pembeli 1 unit ponsel yang saat ini ada dihadapannya.


Ponsel tersebut adalah ponsel keluaran terbaru dengan harga yang sangat lumayan, bukan orang sembarangan yang jelas yang bisa membeli ponsel tersebut jika bukan orang yang bergelimang harta.


" yang beli hp kayak gini pasti orang tajir, siapa ya kira-kira yang beli " gumamnya sendiri.


Saat membaca nama si pengirim & nama si penerima Satria cukup terkejut karena nama si penerimanya adalah Pelangi & nama si pengirimnya adalah Zarow.


" Pelangi, ini gue gak salah kan, tadi bukannya kata Mira yang nelpon namanya Handoko kenapa jadi Zarow nama pengirimnya, apa Mira salah tulis ya, atau gue yang salah denger " gumam Satria dalam hati.


Satria lalu berdiri membawa kotakan ponsel yang telah terbungkus rapi tersebut kearah dimana Mira berada bersama dengan pegawai lainnya.


" Mir " panggil Satria.


" iya bos " jawab Mira menoleh.


" Mir ini kamu gak salah tulis apa? " tanya Satria sambil menunjukan bungkusan ponsel tersebut.


" hem " jawab Mira kaget.


" emang yang salah yang mana bos? " tanya Mira.


Satria lalu memberikan kotakan tersebut pada Mira agar ia meneliti sendiri tulisannya tersebut, Satria tak ingin ada keteledoran sedikitpun yang akan mengakibatkan nama besar outletnya menjadi buruk meskipun hanya karena salah nama saja.


Mira membaca sekali lagi nama penerima serta kemana alamat barang tersebut harus dikirim, ia rasa semuanya sudah sesuai bahkan nama si pengirim juga sudah tepat.


" maaf bos, gak ada yang salah, untuk alamat & na penerima sudah bener " kata Mira.


" kamu yakin bener?, itu nama pengirimnya bukan pak Handoko?, tadi soalnya kalo saya gak salah denger kamu bilang yang telpon kamu namanya pak Handoko " panjang lebar Satria memastikan.


" nah saya gak tau bos, yang jelas kata si penelpon tadi minta barang itu dikirim atas nama Abrisam Zarow Abqari " jelas Mira.


Tentu saja Mira menulis data-data pengiriman sesuai dengan apa permintaan si pengorder, ia juga tak pernah kepo untuk apa serta siapa si penerima maupun si pengirim.


Satria terdiam melihat ke arah Mira, jika Mira tak salah menulis tak mungkin si pengorder berani meminta nama pengirim ponsel tersebut adalah Zarow.


Jika seandainya memang benar Zarow yang menyuruh pria yang bernama Handoko untuk membeli ponsel tersebut lantas mengapa ia mengirim ponsel tersebut pada Pelangi, pikirnya bertanya-tanya.


" apa hubungan Zarow dengan Pelangi?, apa mungkin Pelangi salah satu perempuan simpanan Zarow?, tapi apa mungkin? " gumam Satria dalam hati, " ya, mungkin memang iya bener yang aku pikirkan ini, mungkin penutup kepalanya hanya sebatas gedoknya saja supaya gak ketahuan bagaimana sifatnya, perempuan jaman sekarang banyak yang munafik kan " lanjutnya bergumam.


Tak rugi pikirnya ia dulu memutuskan Pelangi & memilih Adriana meskipun Adriana tak seperti Pelangi yang saat ini terlihat alim tetapi Adriana lebih baik dari pada Pelangi yang menjadi simpanan Zarow.


Seperti yang ia tau & ia dengar selama ini bahwa Zarow adalah pria kaya yang kerap berganti-ganti wanita jadi ia tak heran jika Pelangi pun menjadi salah satu wanitanya.


Jika di lihat-lihat memang penampilan tak menjamin sebaik apa prilakunya, bahkan siapa sangka wanita berpenampilan sholeha menjadi salah satu wanita yang pernah dekat dengan Zarow, ia kemudian tersenyum sinis.


" kenapa bos? " tanya Mira.


Melihat bosnya tersenyum sinis sambil melihat kearah bungkusan ponsel yang berada ditangannya sendiri membuat Mira penasaran.

__ADS_1


Satria pun tersadar dari lamunannya & melihat kearah Mira, terlalu larut dalam pikirannya sendiri ia lupa jika sedari tadi ia masih bersama karyawannya.


" gak papa " jawab Satria tersenyum.


Satria kembali lagi berjalan masuk kedalam outletnya sambil membawa bungkusan ponsel tadi, ia kembali lagi meletakan ponsel tersebut tepat didepan mejanya sambil membuang nafas kasarnya.


Ia tak mau lagi mengingat-ingat masalah Pelangi karena bagaimana pun juga Pelangi sudah memiliki kehidupan pribadi sendiri apapun itu ia tak berhak ikut campur. Apa lagi jika diingat hubungannya dengan Pelangi sudah kandas bertahun-tahun lalu.


" gak penting mikirin Pelangi, lagian mau sama sapa aja dia bukan urusan gue lagi, mau dia jual diri mau dia apa itu hak dia kan, hemmmmm " gumamnya sendiri.


Satria lalu melihat jam di tangannya, jam telah menunjukan pukul 12.00 siang namun hujan tak juga reda padahal hujan sudah turun dari pagi buta.


Ia kemudian mencoba menghubungi Adriana sedari tadi menahan untuk tak menghubungi Adriana ternyata ia tak sanggup juga, ia kemudian menekan kontak Adriana dengan nama My Love di ponselnya.


Lama ia menghubungi namun tak kunjung Adriana menjawab panggilan darinya, ia kemudian mencoba menelpon Adriana sekali lagi.


" nomer yang anda tuju sedang tidak bisa menerima panggilan " suara operator diseberang ponsel Satria sekali lagi.


" tumben banget Adriana gak angkat telpon, jangan-jangan beneran sakit dia, apa lebih baik gue samperin aja ya kerumahnya? " kata Satria sendiri, " eh tapi kan dia lagi pengen istirahat, terus ngelarang gue kesana, lagian kalo gue kesana udah pasti gue ganggu waktu istirahatnya, tapi gimana ya ko gue jadi cemas " lanjutnya sendiri.


Satria hanya bisa mengacak-ngacak rambutnya sendiri karena bingung harus berbuat apa, semakin khawatirnya dengan Adriana ia kemudian kembali mencoba menghubungi Adriana.


Tut......tut......tut.......tut.....tut......tut.....


" Hallo " jawab Adriana dari sebrang telponnya.


" Hallo yank " jawab Satria.


Satria agak lega begitu mendengar suara Adriana di sebrang ponselnya, akhirnya Adriana mengangkat telepon darinya juga.


" maaf ya sayang aku ganggu waktu istirahat kamu ya?, aku khawatir banget sama kamu, kamu masih sakit? " tanya Satria.


" iya sayang gak papa, maaf ya udah bikin kamu khawatir, tadi aku tidur yank makanya gak angkat telpon kamu " kata Adriana menjelaskan.


" tapi gimana sekarang keadaan kamu? " tanya Satria.


" masih mual sih, masih agak pusing, tapi kamu gak udah khawatir aku cuman butuh waktu istirahat aja ko " kaya Adriana.


Satria tau Adriana berusaha bersikap seolah ia sedang baik-baik saja meskipun saat ini Adriana dalam keadaan tak baik-baik saja, sikap Adriana tak pernah berubah menurut Satria.


Wanita yang ia cintai tersebut selalu berusaha agar tak membuat orang lain khawatir dengan keadaannya meskipun saat ini ia sedang tak sedang baik-baik saja.


" kalo gitu aku sekarang ke rumah ya yank, kita ke rumah sakit dulu, kamu harus periksa " kata Satria.


" gak usah sayang, aku baik-baik aja ko, yakin deh besok pasti aku udah sembuh, aku cuman butuh istirahat aja, kamu stay aja di outlet ya sayang percaya deh aku tuh cuman butuh istirahat aja " jawab Adriana.


Satria menghembuskan nafas kasarnya karena tak berhasil membujuk Adriana untuk pergi ke rumah sakit.


" hem, ok deh, tapi kamu janji ya yank kalo kamu sakitnya besok gak sembuh kita ke rumah sakit, aku gak mau tau pokonya kamu harus mau " kata Satria


" iya sayang, ya udah ya sayang kamu lanjut gih, aku mau istirahat lagi ya biar lebih agak enakan lagi " kata Adriana.


" ok sayang, met istirahat ya, cepet sembuh, love you, eemmmuuuuaaaahh " kata Satria mengucapkan salam terakhirnya sebelum menutup telponnya.


" love you to sayang " balas Adriana.


Telpon pun segera terputus, ditatapnya terus menerus layar ponselnya, paling tidak rasa rindunya sudah lumayan terobati saat ini pikirnya.


Meskipun hanya bisa mendengar suara Adriana sebentar saja setidaknya ia sudah mendengar bagaimana keadaan kondisi Adriana saat ini.


" Semoga besok Adriana sudah lebih baik lagi " katanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2