Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda

Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda
Bab 66


__ADS_3

Pagi sekali Zarow telah duduk didalam pesawat JP milik keluarganya yang telah dibeli sejak lama, fasilitas ini sengaja dibeli oleh ayahnya agar memudahkan perjalanan mereka untuk mengurus bisnis diluar kota maupun diluar negeri, semenjak ayahnya memutuskan untuk pensiun tak jarang Zarow harus keluar negeri untuk melakukan perjalanan pertemuan penting dengan rekan-rekan disana & begitu pun hari ini untuk pertama kalinya setelah ia menikah dengan sangat terpaksa ia harus pergi ke London bertemu dengan beberapa rekan-rekan bisnis ayahnya.


Kepergiannya kali ini membuat hatinya gelisah, seharusnya ia bisa membawa Pelangi ikut dengannya hari ini apalagi mengingat mereka baru saja menikah, seharusnya ia bisa membawa istrinya ikut dengannya untuk berbulan madu.


" Haaaaaaaahhhhhhhh " Dengus Zarow mengeluarkan nafas kasarnya.


Tatapannya jauh memandang kearah luar jendela kaca pesawat, pikirannya mulai menerawang kemana-mana, ia semakin menduga-duga khawatir jika Pelangi akan berdekatan dengan teman-teman prianya dikantor, mulai merasa semakin gelisah Zarow pun mulai merasa kepanasan & mengendurkan dasi yang ia kenakan, tak lupa satu kancing kemejanya ia lepaskan, tak hanya itu Zarow pun melepas kacamata yang ia kenakan & diletakan diatas meja yang ada didepannya.


Pak Handoko yang berada ditempat duduk agak jauh dari tuan mudanya hanya bisa memperhatikan gelagat tuannya yang terlihat sedang tak baik-baik saja. Ini bukan pertama kalinya ia melihat tuan mudanya gelisah tak menentu, bahkan terlihat berkali-kali tuan mudanya tersebut melihat kearah jam ditangannya & melihat layar ponselnya.


Pak Handoko tau penyebab kegelisahan yang dialami oleh tuan mudanya saat ini, tentu saja bukan karena tuan mudanya sedang tak enak badan tetapi tuan mudanya sedang tak enak hati karena terus-terusan memikirkan istrinya yang baru ia nikahi beberapa hari ini. Perubahan demi perubahan banyak terjadi setelah tuan mudanya mengenal Pelangi bahkan sampai memutuskan untuk menikahi gadis Satpol yang awalnya sangat dibenci oleh tuan mudanya tersebut, bahkan saat ini tuan mudanya sedang terserang demam bucin seperti istilah ABG saat sedang jatuh cinta.


Pak Handoko tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, penyakit yang diderita oleh tuan muda Zarow saat ini tidak bisa disembuhkan dengan obat apapun terkecuali bertemu dengan Pelangi yang sudah pasti adalah obat yang paling mujarat untuk tuan mudanya.


Zarow makin nampak bosan, dirinya hanya mampu menekuk wajahnya & memasang wajah cemberutnya, rasanya baru beberapa jam ia pergi meninggalkan Pelangi tetapi rasanya sudah seperti berhari-hari ia meninggalkan Pelangi.


" Astaghfirullah, kenapa sih malah mikir Pelangi terus, lagian gak mungkin istri gue bakal macam-macem diluar sana " , gumam Zarow dalam hati sedikit berpikir.


" tapi gimana kalau laki-laki yang mau macem-macemin dia, deketin dia, pegang-pegang, rayu-rayu, aiiiiiiiiihhhhhhh bisa apa gue ", pikir Zarow lagi yang mematahkan segala pikiran baiknya.


" apa gue harus kirim pengawal buat jagain Pelangi, gue gak bisa biarin Aldo deket-deket sama Pelangi titik ", pikirnya lagi


Pikirannya selalu menerawang jauh ke arah Pelangi & Pelangi, apalagi begitu mengingat Aldo yang jelas-jelas musuh yang akan menjadi batu sandungannya setiap waktu, nafasnya menjadi semakin tak beraturan, emosinya semakin menjadi, udara disekitarnya semakin terasa panas, ia berkali-kali berusaha menenangkan dirinya, untuk kesekian kalinya ia merasa api cemburunya membeludak tak terbendungkan.


" tenang Zarow, tenang.....come on, Pelangi gak mungkin mau macem-macem karna dia sudah jadi istri lo, tenang jangan pikir yang aneh-aneh, lo cuman butuh dua hari buat selesaikan semua ini baru lo bisa pulang, ok !!! ", gumamnya lagi dalam hati sambil menghembuskan nafasnya mencoba membuat dirinya agar lebih berpikir posotif & tenang.


" maaf tuan muda, apakah ada yang bisa saya bantu? " kata pak Handoko yg sudah berdiri didekat tuan muda Zarow.


Melihat tuan mudanya semakin tak baik-baik saja ia pun bergegas menghampiri tuan mudanya, meskipun sebenarnya ia tau hal apa yang membuat tuan mudanya tak tenang seperti ini.


Zarow melihat kearah pak Handoko yang menunduk di tempatnya, pak Handoko adalah orang terdekatnya yang sangat mengerti kebutuhannya, bak bisa membaca isi hati & isi kepalanya pak Handoko bahkan tau dengan yang diinginkannya.


" Pak "


Pak Handoko segera berbalik melihat kearah tuannya dengan posisi masih berdiri disamping tuan muda Zarow.


" iya tuan "


Zarow sekali lagi berpikir sebelum mengeluarkan titahnya pada pak Handoko, jika ia mengirimkan beberapa pengawal untuk Pelangi apakah hal ini tidak akan mengganggu Pelangi, sekali lagi ia berpikir ini semua demi keselamatan Pelangi apalagi mengingat keselamatan istrinya sangatlah penting jadi tak ada salahnya jika ia mengutus pengawal untuk istrinya karena bisa saja ada hal tak baik bisa terjadi pada istrinya.


" pak tolong kirim bodyguard yang banyak buat jaga Pelangi pak, sepuluh atau lebihlah "


Pak Handoko terdiam sejenak mendengar titah tuannya, apakah tidak terlalu berlebihan jika Pelangi dikawal dengan banyak pengawal, hal itu juga pasti akan membuat Pelangi risih jika terlalu banyak pengawal yang mengikutinya.


Zarow memicingkan satu matanya sambil bersedakep & melihat kearah pak Handoko yang tak segera memberikan tanggapan atas perintah yang ia berikan.


" maaf tuan muda bukan maksud saya ingin membangkang, tetapi saya sedikit berpikir apakah tidak berlebihan jika terlalu banyak tuan muda mengirim bodyguard untuk nona Pelangi? ", melihat tuan mudanya menatapnya tajam ia langsung memberikan jawaban

__ADS_1


" maksud bapak ? "


Zarow tak mengerti maksud dari pak Handoko, pemikirannya hanyalah jika semakin banyak bodygurd menjaga Pelangi maka istrinya tersebut semakin aman, karena selain menjaga istrinya dari pria lain, hal tersebut juga bisa membuat istrinya aman dari orang-orang yang berniat jahat dengan istrinya.


" maaf tuan saya rasa kalau terlalu banyak bodyguard dikirim untuk mengawal nona Pelangi takutnya nona Pelangi bakal ngerasa gak nyaman tuan, apalagi tuan tau kan bagaimana nona Pelangi " jelas pak Handoko.


Zarow pun mengerti dengan apa yang disampaikan oleh pak Handoko, ada benarnya jika tak terlalu banyak mengirim pengawal untuk istrinya karena ia tau jika Pelangi tak suka menjadi pusat perhatian.


" Ok, kalau begitu kirim pengawal untuk Pelangi yang sesuai menurut bapak, tapi saya minta tolong kirim kan yang paling terbaik " kata Zarow sambil memberi titahnya lagi.


Pak Handoko pun menundukkan kepalanya & pergi meninggalkan tuan mudanya mengerti dengan titah tuannya & apa yang harus ia lakukkan.


****


Ditempat lain Pelangi yang masih duduk santai didepan meja kerjanya berkali-kali melihat layar ponselnya, seperti merasa ada yang aneh karena ponselnya terasa sangat senyap tak ada satupun notif yang masuk dari suaminya yang super posesif.


" Tumben banget gak ada kabar, biasa bawel banget ", gumam Pelangi dalam hati.


"Kok gue ngerasa ada sesuatu yang aneh ya ", seketika bulukuduknya berdiri.


Reflek ia pun menggosok tangan serta tengkuknya begitu mengingat suaminya, entah mengapa ia berfirasat yang tidak-tidak, ia merasa ada hal yang menyeramkan bahkan lebih menyeramkan dari film horor.


Doni memicingkan satu matanya keheranan melihat kearah Pelangi, cuaca sedang baik-baik saja bahkan tidak terlihat awan mendung sedikitpun tetapi sedari tadi Pelangi terus bergidik merasakan kedinginan.


" Lo meriang ngi? ", tanya Doni.


Pelangi menoleh kearah Doni sambil menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Doni.


Doni menghembuskan nafas kasarnya sambil duduk dikursi kerjanya mendengar Pelangi balik bertanya padanya, secara kondisi memang Pelangi tak terlihat sedikitpun sedang demam, ia nampak sehat & segar bahkan aura pengantin barunya makin terpancar karena terlihat berseri-seri, Doni pun tersenyum melihat kearah Pelangi sambil menyanggahkan kepalanya diatas satu tangannya diatas meja.


" is nih anak ditanya malah senyum-senyum, bukannya dijawab juga ", melihat tingkah Doni Pelangi hanya bisa menggelengkan kepalanya.


" ati-ati kesambet lo ", cletuk Pelangi sambil berlalu meninggalkan Doni dimeja kerjanya sendirian.


Dikejauhan Pelangi menoleh kearah Doni kembali sembari terus berjalan menuju arah luar, kembali lagi pandangannya fokus kedepan mengingat pertanyaan Doni dirinya lantas memperhatikan kedua tangannya yang tampak terlihat tidak pucat sama sekali, lalu ia pegang kedua pipinya & memeriksa jidatnya sendiri untuk memastikan bahwa ia tidak sedang demam, reflek ia pun menggelengkan kepalanya karena merasa ia baik-baik saja.


" apa muka gue yang keliatan pucet?, mungkin aja bedak yang gue pake terlalu tebel kali ya?, eh tapi gue kan gak pake bedak ", pikirnya terus bertanya sendiri dalam hati sambil terus memegang pipinya dengan satu tangannya.


Saat akan melewati pintu luar ia melihat ada beberapa pria dengan mengenakan pakaian rapi bewarna putih & bercelana hitam serta mengenakan kacamata hitam telah berdiri disejajaran pintu dengan posisi siap.


Rasanya agak aneh pikirnya, mungkin akan ada pejabat penting yang akan berkunjung kekantornya pikirnya lagi, dengan santai ia melenggang menjauh dari segerombolan pria yang nampak seperti pengawal.


Masih penasaran dengan dirinya sendiri ia terus berjalan menuju toilet untuk bercermin melihat wajahnya sendiri, sesampainya ditoilet ia segera masuk, saat akan berbalik menutup pintu Pelangi sungguh sangat terkejut karena ia diikuti oleh segerombolan pria yang berpakaian ala-ala pengawal tadi.


Cepat-cepat ia menutup pintu toilet tersebut & menguncinya, seperti sedang bersembunyi Pelangi bersenderkan pintu sambil menutup mulutnya & mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena terkejut.


" Astagfirullah, gue yang salah liat apa beneran mereka ngikutin gue ", pikir Pelangi.

__ADS_1


" Enggak Ngi, lo aja kayanya yang kepedean, mungkin mereka juga mau ke toilet ", tenangnya.


" Tapi ngapain pergi ketoilet bareng-bareng? ", tanyanya lagi dalam hati.


" Enggak Ngi, kayanya lo yang salah liat gara-gara ngelamun "


Masih mengatur nafasnya ia terus memutar otak untuk memastikan apa yang ia lihat tadi, ia mulai membuka kunci pintu toilet tersebut secara perlahan sampai nyaris tak terdengar, ia mulai membuka pintu tersebut sedikit sampai nyaris tak terbuka, begitu terlihat segerombolan pria tadi berbaris sejajaran didepan pintu toilet ia buru-buru menutup pintu toilet tersebut & tak lupa ia kunci kembali.


" Ya Allah,... ya Allah,.... ya Allah, kan gak salah liat gue, mau ngapain mereka?, aduh gimana nih, jangan-jangan mereka temen-temennya preman yang pernah ganggu Zerin, terus kalau gue diapa-apain gimana? ", kali ini ia benar-benar merasa ketakutan.


Sambil gemetaran Pelangi merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya, tak lupa ia tekan tombol silent diponselnya dahulu agar tak menimbulkan kecurigaan, ia segera mengirim pesan whatsapp kepada Doni untuk meminta bantuan.


Ia yakin saat ini wajahnya sangat terlihat pucat pasih, peluh keringat dingin mulai menetes, baru kali ini ia merasa takut tak seperti biasanya, padahal ia termasud wanita pemberani sebelumnya.


*******


Tret......tret.....


Bunyi notif ponselnya membuat Doni sadar dari lamunan panjangnya, padahal ia tengah asik dengan hayalan ngalor ngidol tentang masa depan hidupnya.


" ahhhhhhhh, ganggu aja nih "


Diraihnya ponsel miliknya yang sudah berada diatas meja sedari tadi, lumayan banyak pesan masuk diponsel miliknya salah satunya dari Pelangi.


" Apa lagi Pelangi, satu kantor aja kirim whatsapp minta tolong " kata Doni setelah membaca pesan dari Pelangi.


Doni masih terus menyimak pesan Whatsapp yang dikirim Pelangi, ia masih menerka-nerka dengan maksud pesan yang dikirimkan Pelangi, berkali-kali Pelangi mengirim pesan spam padanya karena ia tak kunjung membalas whatsapp dari Pelangi, bahkan anehnya lagi Pelangi memberitahu agar ia tak menelpon balik, Pelangi hanya memberitahu jika dirinya saat ini sedang berada ditoilet wanita.


" nih anak kenapa sih?, apa kekunci dia dalam wc? ", kata Doni sendiri.


" Pelangi....Pelangi, ada-ada aja lo ah, kaya anak kecil aja sampai tekunci " kata Doni lagi sambil menggelengkan kepalanya.


Bergegas ia pergi dari tempat duduknya menuju toilet wanita, ponselnya masih saja berbunyi sedari tadi, siapa lagi pikirnya jika bukan Pelangi.


Doni sangat penasaran mengapa Pelangi bisa terkunci ditoilet tersebut, padahal baru-baru saja kunci ditoilet wanita baru saja dignti, mungkin saja ada orang iseng yang sengaja mengurung Pelangi disana pikirnya lagi.


" Siapa yang iseng ngunciin Pelangi ya? ", tanyanya sendiri.


********


Sambil *******-***** tangannya sendiri Pelangi gemas karena doni tak kunjung membalas pesan Whatsapp darinya, payahnya lagi Doni hanya membaca pesan tersebut, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia tak tau lagi harus meminta tolong kepada siapa lagi.


Ia tak bisa meminta tolong kepada Aldo karena akhir-akhir ini Aldo seakan menghindar darinya, hanya Doni harapan satu-satunya tetapi justru Doni tak membalas pesan darinya.


" Ya Allah, tolong hamba, jika engkau selamatkan hamba maka hamba berjanji hamba akan menjadi seseorang yang lebih baik, hamba akan baik kepada siapapun termaksuk kepada suami hamba sendiri ", doa Pelangi meminta pertolongan.


Tiba-tiba Pelangi memngingat Zarow, jika saja saat ini Zarow tak sedang pergi keluar kota ia pasti sudah mendapatkan pertolongan dari suaminya tersebut, jika diingat-ingat memang suaminyalah yang selalu sigap ada disaat ia sedang membutuhkan pertolongan.

__ADS_1


Bulir air matanya pun menetes, ia merasa belum bisa menjadi istri seutuhnya untuk Zarow karena keegoisan dirinya, entah apa yang ia pikirkan sehingga ia kini menjadi seorang istri yang durhaka, bagaimanapun juga Zarow saat ini sangat berhak sepenuhnya atas dirinya, sekalipun Zarow membunuh dirinya pun itu hak Zarow, & sebagai istri ia juga harus sepenuhnya melayani suaminya dengan sebaik-baiknya melayani seorang raja.


" lo memang tol*l Ngi, tol*l ", umpatnya menyalahkan diri sendiri.


__ADS_2