
" Maaf mas sedang apa disini?, toilet laki-laki disebelah sana ", tegur Doni
Beberapa pria sudah berdiri didepan toilet wanita, Doni berpikiran jika mereka sedang mengantri, padahal jelas terpampang jika toilet tersebut adalah toilet wanita, tidak mungkin mereka tidak bisa membaca, dilihat dari cara berpakaiannya jelas mereka sangat terdidik. Beberapa pria terdiri dari enam orang dengan berpakaian rapi, memakai setelan yang senada seperti orang-orang terlatih untuk menjadi seorang pengawal, wajahnya pun nampak garang dengan tubuh besar & berotot, Doni agak ngeri berhadapan dengan pria-pria berotot itu, bagaimanapun juga jika ia dikroyok pasti akan kalah juga pikirnya.
" Mas-masnya disini ada keperluan apa ya? "
Tak kunjung dijawab Doni lantas bertanya kembali, rasa-rasanya hari ini sedang tidak ada kunjungan pikir Doni tetapi mengapa segrombolan pria kekar ini bisa ada dikantor Satpol pikirnya lagi, mengapa tiba-tiba mereka muncul padahal pagi tadi rasanya ia belum melihat mereka pikirnya sendiri.
" Kami tidak ada kepentingan sama anda, lebih baik anda pergi dari sini " jawab salah satu dari segerombolan pria tersebut.
Doni yakin yang barusan berbicara adalah ketua mereka, enam pria berotot yang mengenakan pakaian rapi tersebut masih saja berdiri sejajar tak bergeming membelakangi toilet wanita, bagaimana ia bisa membukakan pintu Pelangi jika mereka masih tetap bertengger didepan situ pikir Doni lagi, padahal Doni sudah jelas memberitahu jika toilet pria ada dipojok sebelah utara.
Krekk.......
Begitu membuka pintu Pelangi langsung berlari menuju arah Doni, saat mendengar suara Doni yang cukup nyaring Pelangi memberanikan diri untuk segera keluar, saat diluar benar saja ia terkejut, bukan hanya ada satu atau dua orang yang berada didepan pintu toiletnya tadi.
" Don "
Sambil terengah-engah Pelangi berdiri disebelah Doni, jujur saja menunggu Doni yang cukup lama hampir membuat jantungnya hampir copot, untung saja Doni segera datang meskipun tak membalas pesannya, padahal ia sudah putus harapan pada Doni.
" Apa sih Ngi?, lo wa minta tolong apa? ", cerocos Doni.
Kembali ia menggelengkan kepalanya melihat Pelangi yang nampak agak takut, wajahnya pucat seperti orang yang sedang sakit, Doni menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal bingung menatap kearah Pelangi.
" Lo kenapa?, lo sakit ?, gue pikir lo kekunci ", cerocosnya lagi.
" Sstttt, diem ah, lo ngomong terus, bawel banget sih ", sahut Pelangi seraya berbisik.
Mendengar Pelangi berbicara pelan seolah berbisik Doni semakin merasa aneh, apa mungkin keenam pria ini bermaksud tidak baik pada Pelangi pikir Doni, karena sedari tadi keenam pria tersebut tak bergeming ditempatnya.
" Lo gimana sih, jadi lo kenapa?, & mereka siapa?, ", tanya Doni ikut memelankan suaranya.
" gue gak tau Don mereka siapa, makanya gue minta tolong lo kesini karena gue gak berani keluar tadi "
Mereka berdua masih berbincang dengan nada yang sangat pelayan nyaris seperti berbisik agar tak menyinggung para pria yang ada dihadapan mereka. Doni nampaknya sudah agak faham mengapa Pelangi meminta pertolongannya, Pelangi nampak ketakutan, ia berusaha menenangkan Pelangi dengan menepuk pundak Pelangi.
Sambil mengatur detak jantung serta napasnya Pelangi masih tetap berdiri disamping Doni sambil memegang dadanya, ia mencoba menenangkan dirinya sendiri setelah merasa dalam situasi bahaya. Bagaimana ia tak ketakutan melihat beberapa pria berotot membuntuti dirinya sampai-sampai menungguinya didepan pintu toilet, jelas saja ia berpikir jika mereka akan berniat jahat kepada dirinya.
Sungguh ia tak berpikiran jika pria yang ia lewati didepan pintu tadi ternyata ingin membuntutinya, yang Pelangi pikir kenapa Pelangi tak menyadari jika ia diikuti, semua ini akibat dirinya yang terlalu fokus dengan pikirannya sendiri.
" Maaf ya, mas-mas ini siapa? ", tanya Pelangi tanpa basa basi lagi.
Bukannya menjawab pertanyaan Pelangi keenam pria tersebut justru hanya saling pandang, nampak ada raut kebingungan diwajah mereka, Doni yakin jika keenam pria tersebut merupakan suruhan orang juga, tapi siapa yang mengirim mereka pikir Doni.
" Siapa yang ngirim mas-mas ini kesini?, apa niat & tujuannya? ", tanya Doni
Sangat yakin dengan pikirannya Doni langsung bertanya kepada mereka, jika memang kedatangan mereka dengan maksud serta niat yang tidak baik maka ia harus bersiap untuk kemungkinan apapun yang akan terjadi saat ini, bahkan sekalipun harus bertarung melawan mereka.
Pelangi menatap kearah Doni, ia sepemikiran dengan Doni, dirinya sangat yakin jika keenam pria tersebut merupakan kiriman seseorang, jika niat si pengirim untuk menakuti dirinya, sungguh hal itu memang sangat berhasil, bagaimana tidak ia nyaris hampir mati ketakutan didalam toilet.
" sekali lagi kami tidak ada urusan dengan anda, kami hanya mengikuti perintah tuan muda untuk menjaga nona Pelangi, & kami harap seperti yang saya sampaikan tadi harap anda bisa menjauhi nona Pelangi ", jawab salah satu pria tersebut.
" Apa? " serentak Pelangi mengatakan hal yang sama.
__ADS_1
" Tuan ", batin Pelangi.
Doni benar-benar dibuat terbengong-bengong mendengar jawaban dari salah satu pria tersebut, pria berkuasa memang bisa melakukan apapun sesuka hatinya pikir Doni demi orang yang dicinta, tak kaget jika si tuan muda penguasa kota ini bisa melakukan hal bodoh apapun untuk istri tercintanya pikir Doni lagi.
Hanya gelengan kepala yang mampu ia lakukan saat ini, setelah hampir mati nyaris ketakutan melihat pria-pria tersebut, justru ia mendapati kenyataan yang justru malah membuatnya kaget, ya siapa lagi kalau bukan ulah suaminya sendiri.
" Astahfirullah ", istighfar Pelangi.
Sungguh ia jadi merasa tak enak dengan Doni, ia merasa jika ini terlalu berlebihan, mengapa Zarow sampai sebegininya sampai mengirimkan pengawal untuknya, padahal ia benar-benar bisa menjaga dirinya sendiri tanpa harus dikawal seperti ini.
Doni agak menjauh dari Pelangi sambil tersenyum menutup mulutnya & melirik kearah Pelangi, luar biasa sekali aura sang pengantin baru pikirnya sampai suaminya tak rela jika ia harusa berdekatan dengan pria manapun.
" Hhmmmmm, oke.....karena saya sudah tau maksut & tujuan mas-masnya saya kayanya harus pergi ", kata Doni pamit sambil membalikan badannya.
" Eh, tapi tolong ya mas, jaga baik-baik Pelanginya, tau sendirikan Satpol kesayangan tuan muda ", kata Doni lagi seraya membalikan tubunya kembali.
Doni hanya tersenyum pada Pelangi, saat melewati Pelangi ia sedikit menundukan tubuhnya sambil mengulurkan satu tangannya kebawah.
" Tabe nona ", kata Doni kata Donj melewati Pelangi.
" Doni ", kata Pelangi sambil memukul punggung Doni pelan yang melewatinya dengan menunduk.
Pelangi nyaris tertawa karena kekonyolan Doni, ia menggelengkan kepalanya sambil melihat Doni menjauh pergi meninggalkannya, sesekali terlihat Doni melihat kearahnya sambil tersenyum.
Kekonyolan hari ini sungguh tidak akan ia lupakan, seperti biasa Zarow selalu melakukan apapun yang ia inginkan sesuka hatinya, tanpa bertanya kepada Pelangi begitu saja mengirimkan pengawal, padahal jujur saja ia tak butuh pengawalan seperti saat ini, ini justru akan membuatnya menjadi bahan gosip.
" Bisa gak kalau kalian pulang aja sekarang, karena jujur aja saya gak butuh pengawalan "
Pelangi berusaha untuk berbicara baik-baik kepada mereka agar mereka bisa diajak kompromi, Pelangi ingi membujuk mereka agar mereka mau meninggalkan Pelangi & pulang masing-masing kerumah mereka.
" Tapi gue aman-aman aja, gue lagi kerja & gak butuh bodyguard, kalian cuman buang-buang waktu aja disini, Please ya pulang aja gih sana ",
" nona saya meminta maaf sekali lagi, ini perintah & kami tidak bisa mengikuti permintaan nona " jawab salah satunya lagi.
Pelangi menganggukan kepalanya pasrah, mereka hanya mengikuti titah tuannya saja & mau tidak mau ia harus mengikuti titah Zarow juga, pantas sedari tadi pagi ia merasa ada hal aneh yang akan dilakukan Zarow ternyata dugaannya benar.
" hhhhhhhhhmmmmm ", dengus Pelangi.
Ia lalu membalikan tubuhnya tak bersemangat, resiko menikah dengan tuan muda penguasa kota pikirnya & dirinya harus mulai terbiasa dengan hal apapun yang akan dilakukan Zarow.
" Sabar Ngi, ini belum apa-apa baru bodyguard, lo harus siapkan mental lo untuk apapun itu ", batinnya Pelangi sambil mengelus dadanya.
Setiap mata kini memandang kearahnya bahkan tak ayal mereka berbisik, ia hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya, sudah suratan nasibnya pikirnya.
" Inilah konsekuensinya memilih menjadi istri laki-laki yang aneh, aneh dalam segala hal, hufffffttttt "
Lagi-lagi ia hanya mampu mendengus mengiklaskan nasibnya hari ini, semoga kedepannya tak ada yang lebih aneh yang Zarow kirimkan kepadanya.
Entah saat ini sudah berada dimana suaminya pikirnya, bagaimanapun juga ia cukup khawatir dengan kepergian Zarow, selama beberapa hari ini ia tak akan melihat suaminya yang sedang menyesuaikan diri hidup dirumah sederhananya.
Pelangi sangat bangga karena Zarow mau berusaha ikut tinggal dirumahnya, bahkan ia tak merasa gengsi dengan keadaan rumah Pelangi, tidur dikasur & kamar yang kecil juga tak membuat Zarow mengeluh, padahal jika dilihat secara nyata jelas rumahnya tak ada apa-apanya dibanding rumah Zarow.
Terkadang pernah terbesit dalam pikiran Pelangi merasa kasihan melihat Zarow, padahal jika ia mau, ia bisa mendapatkan wanita manapun yang sepadan dengan mereka bukan wanita sederhana sepertu dirinya, entah apa alasan Zarow malah memilih meminang dirinya.
__ADS_1
" Ngi, bawa bodyguard lo? ", kata suara seseorang.
Suara seorang wanita yang kini sudah berdiri dihadapannya membuat lamunannya buyar seketika, Wulan sudah berdiri sambil tersenyum kearahnya, ia yakin pertanyaan Wulan saat ini hanyalah pertanyaan orang-orang yang sangat kepo, istilah jaman sekarang bagi orang-orang yang selalu ingin tahu dengan urusan orang lain.
" Udah kaya pejabat aja lo Ngi dikawal ", ocehnya lagi.
Pelangi masih tersenyum menanggapi kata-kata Wulan, wanita yang berada dihadapannya lebih tua beberapa tahun darinya, Wulan merupakan perawan tua yang tak kunjung menikah sampai saat ini, jika mendapati Wulan penasaran dengan setiap hal yang menyangkut hidup orang lain bukanlah hal yang biasa, karena Wulan memang dijuluki sebagai tukang gosip dikantornya.
" Bukan mau gue mba ", jawab Pelangi singkat.
Mendengar jawaban Pelangi seolah membuat Wulan semakin sewot dengannya, tetapi sumpah demi apapun Pelangi tak bermaksut membuat Wulan seperti itu, ia tak pernah ingin mempunyai masalah dengan siapapun dikantornya.
" Oh gitu ya, bukan karena mau pamer ya kalau sudah nikah sama orang kaya ", cerocos Wulan.
" Astaghfirullah, mba....mba ", jawab Pelangi sambil menggelengkan kepalanya.
Tak ingin emosinya jadi terganggu Pelangi meninggalkan Wulan begitu saja, ia terus beristighfar didalam hati, ia tak bermaksut untuk niat pamer atau riya, mau berusaha seperti apapun suaminya tak akan pernah merubah pikirannya, ia bisa saja menolak tapi apa daya jika penolakannya tidak akan pernah ada artinya.
" Mesti banyak-banyak sabar kayaknya ", katanya sendiri.
Setelah berada diruangannya Pelangi menoleh kearah belakang memastikan apakah ia akan dijaga sampai kedalam ruangannya juga, ia bernafas lega karena para bodyguard saat ini telah berdiri didepan pintu masuk ruangan tersebut.
" Lo gak ajak mereka masuk aja Ngi? ", tanya Doni bercanda sambil cengengesan.
Fokus dengan pandangannya kearah luar Doni yakin jika Pelangi saat ini sedang risih karena kehadiran para bodyguard yang saat ini sedang menunggu dirinya diluar sana, Doni merasa agak geli karena biasanya merekalah yang menjadi pengawal bagi para petinggi daerah, kini malah giliran Pelangi sebagai seorang Satpol justru dikawal oleh bodyguard tertentu, sungguh betapa elitnya sekarang sahabatnya tersebut batin Doni.
" Apa sih Don?, lo mau juga dikawal sama mereka?, kalau lo mau mending lo aja deh yang dikawal mereka ", jawab Pelangi.
" Bersyukur lo Ngi, itu tandanya suami lo perhatian sama lo, takut lo kenapa-kenapa sampai sebegitunya loh ", jawab Doni.
" Iya-iya, dah lah kalau lo yang ngomong kalah gue Don ", kata Pelangi mengalah.
" Hahahahaha ", tawa Doni pecah kali ini.
Pelangi hanya mampu tersenyum kecut mendengar tawa Doni yang seakan puas dengan penderitaan yang ia alami hari ini, ia lantas menggelengkan kepalanya lalu duduk ditempat duduknya begitu saja.
Doni masih terus tertawa sambil melihat kearah Pelangi yang hanya diam seperti banyak beban, sebenarnya Doni bukan bermaksud mengejek Pelangi, ia justru senang & ikut bahagia karena teman baiknya tersebut mendapatkan orang yang tepat sebagai suaminya, kini ia yakin Pelangi sedang diratukan didalam rumah tangganya sendiri.
" Sudah puas ketawanya?, kalau belum ketawa aja lagi, gue ikhlas kok ", canda Pelangi.
" Ye baper amet sih, lagian Ngi ketawa itu ibadah, lo bikin ketawa orang lo juga dapat amal ", sahut Doni sambil tersenyum.
" Iya udah serah lo lah Don, yang pemting lo heppy gue rela lo ketawain ", canda Pelangi.
" hahahahaha ", tawa Doni pecah kembali
Pelangi ikut tertawa mendengar tawa Doni yang seolah menular, rasanya lucu juga yang dialami hari ini, dengan derama yang ia ciptakan sendiri dari hasil pikirannya yang entah kemana-mana karena bodyguard.
Lucunya lagi belum memastikan apa maksud & tujuan mereka ia justru panas dingin ketakutan, mungkin saja jika ia punya riwayat serangan jantung, ia pasti sudah mati terkena serangan jantung mendadak, benar-benar Zarow membuat shok terapi dirinya.
" Sumpah Ngi tadi gue pikir lo tekunci loh, pas gue sampe depan wc kenapa malah ada orang-orang itu, jadi gue kaget, gue pikir mereka salah toilet " terangnya.
" Hah, mana ada gue tekunci, gue tuh takut gara-gara liat mereka Don, makanya gue wa lo " jawab Pelangi menjelaskan.
__ADS_1
" Astaga, jadi lo wa gue minta tolong gara-gara lo ketakutan?, kata Doni sambil menepuk jidatnya.
Pelangi hanya mengangguk sambil tertawa terbahak-bahak mengingat kekonyolannya.