
Seorang wanita berparas cantik sedang mengintai seseorang didalam mobilnya dari arah kejauhan, wanita tersebut masih belum terima jika pria incarannya kini telah menikah dengan sepupunya sendiri. Adriana merasakan sakit hati yang luar biasa tatkala melihat Zarow menggandeng tangan Pelangi dengan mesranya dari arah dalam rumah Pelangi.
Ia berteriak histeris sambil terus memukuli setir mobilnya bak orang gila, bahkan tak hanya itu ia juga mengacak-ngacak rambutnya karena tak bisa mengendalikan amarahnya lagi.
" brengs*k " teriak Adriana, " kalo gue gak bisa dapetin Zarow lo juga gak berhak dapetin dia seharusnya, lo sadar gak siapa lo?, lo itu gak lebih dari perempuan miskin yang gak berhak dapat kebahagiaan " oceh Adriana sendiri menumpahkan kekesalannya.
Matanya terus menatap penuh amarah air matanya tak terasa mengalir karena tak tahan menahan rasa sakit karena cemburu terhadap Pelangi yang berhasil memikat Zarow & menikah dengan Zarow.
" oooohhhh ****, come on Adriana, buktiin kalau lo lebih baik dari pada Pelangi, lo lebih sexy, lo lebih cantik, lo lebih segalanya dari dia, hapus air mata lo, lo harus bisa rebut Zarow dari Pelangi sama kaya lo rebut Satria dari Pelangi " kata Adriana sendiri sambil menghapus air matanya.
Setelah merasa tenang Adriana lalu merapikan rambutnya yang telah acak-acakan, ia sedikit tersenyum getir melihat kebahagiaan Pelangi yang seharusnya jadi kebahagiaan miliknya, secara perlahan ia menjalankan mobil miliknya maju melewati jalanan yang berada tepat di depan rumah Pelangi sambil terus melihat kearah Pelangi & Zarow yang baru saja masuk kedalam mobil milik Zarow.
Setelah melewati rumah Pelangi mobil miliknya melesat laju melewati jalan raya, tujuannya kali ini hanya menuju outlet milik Satria, meski ia sebenarnya sudah sangat bosan untuk bersama Satria tetapi ia masih harus terus bersama Satria karena ia masih membutuhkan Satria.
Ia masih membutuhkan Satria untuk membiayai kebutuhan gaya hidupnya, bagaimana pun juga Satria adalah satu-satunya tambang miliknya yang harus ia pertahankan untuk sementara waktu. Ia harus terus berusaha berpura-pura menjadi gadis manis & penurut didepan Satria sampai waktunya tiba.
Setelah beberapa puluh menit akhirnya mobil miliknya sampai juga disebuah parkiran yang terletak di outlet milik Satria, sekali lagi ia merapikan pakaian serta rambut & make upnya. Seperti khasnya wanita penggoda Adriana selalu memakai pakaian sexy, diam-diam ia sangat suka menjadi pusat perhatian para pria hidung belang, baginya menjadi pusat perhatian adalah suatu kebanggan tersendiri baginya.
Pintu mobilnya mulai ia buk, ia keluar dari sana & menutup kembali pintu mobilnya, ia mulai mengenakan kacamata hitamnya & berjalan menuju outlet. Adriana melebarkan senyumnya tatkala melihat Satria berdiri di depan outletnya yang besar menyambut kedatangan Adriana.
Beberapa saat lalu sebelum sampai Adriana telah menghubungi dirinya, seperti biasa ia selalu berdiri didepan outletnya untuk menunggu sang pujaan hatinya. Beberapa menit berlalu akhirnya Adriana sampai juga, dengan senyumnya yang menawan Adriana berjalan mendekat kearahnya.
Satria merentangkan tangannya untuk menyambut Adriana dengan pelukkannya, Adrianapun segera menempel & masuk kedalam pelukkan Satria dengan manjanya, Satria mengelus rambut Adriana & mencium kening Adriana.
" kamu kenapa sih akhir-akhir ini gak mau aku jemput beib?, aku khawatir kalau kamu sendirian nyetir " tanya Satria.
Satria mulai mencemaskan Adriana yang sedikit terasa berubah & perubahan tersebut semakin terlihat jelas saat ini. Selain itu Adriana juga lebih sering melamun saat bersama dirinya seperti ada sesuatu yang sedang mengganjal hatinya tetapi Adriana mulai tak terbuka dengannya justru menutupi semua itu dengan bersikap seolah baik-baik saja.
" beib kamu jangan khawatir gitu dong sama aku, lagian aku juga pengen dong sekali-kali pergi pake mobil aku sendiri, kalau kamu jemput aku setiap hari, terus apa gunanya kamu beliin aku mobil itu " jawab Adriana memberi alasan sambil melihat kearah mobil miliknya, " percaya sama aku sayang, aku bakal baik-baik aja ko, aku bakal hati-hati nyetirnya " terus Adriana.
Mendengar jawaban Adriana Satria hanya mampu menghembuskan nafas kasarnya sambil tersenyum & menganggukan kepalanya. Satria tak bisa memaksakan keinginannya meskipun ia sangat tak ingin jika Adriana membawa kendaraannya sendiri.
" ya udah kita mending masuk aja ya sayang, aku pingin duduk " ajak Adriana sambil menggandeng tangan Satria.
" ya udah ayo " jawab Satria tersenyum sambil menggenggam erat tangan Adriana.
" au " jerit Adriana.
Secara reflek Adriana menarik tangannya dari genggaman Satria, ia merasa kesakitan saat tangannya digenggam oleh Satria, ia meringis sambil terus memegang tangannya sendiri.
" sayang tangan kamu kenapa? " tanya Satria.
Dua tangan Adriana terlihat nampak memar kemerahan, melihat itu tentu saja Satria panik & kembali memegang dua tangan Adriana.
" ini kenapa memar gini coba?, kamu habis jatuh apa? " panik Satria.
Tangan Adriana cidera karena ulahnya sendiri, ia membabi buta memukul setir mobilnya karena terbakar api cemburu, kalah saing dengan Pelangi membuatnya tak sadar telah melukai tangannya sendiri.
" aku jatuh tadi pagi sayang " jawab Adriana memberi alasan tipuan.
__ADS_1
" astaga, kenapa kamu bisa jatuh sih sayang?, tau gitu tangan kamu cidera mending tadi aku jemput " kata Satria lagi.
" sayang ini gak apa-apa ko, kamu jangan khawatir ya " jawab Adriana tersenyum.
Daripada tangannya hatinya lah saat ini yang lebih sakit, baru kali ini ia kalah bersaing dengan Pelangi pikirnya. Ia mampu menahan rasa sakit apapun terkecuali sakit hatinya saat ini.
Ditempat lain tepatnya didalam sebuah mobil mewah berwarna hitam yang masih terus berjalan melaju tuan muda Zarow yang duduk dibagian belakang sedari tadi terus tersenyum. Ia terus terbayang ulah isengnya pagi tadi yang berhasil membuat Pelangi harus berganti pakaiannya dihadapannya.
Hanya bisa menatap seperti itu saja sudah cukup membuatnya amat sangat bahagia. Awalnya ia berpikir jika Pelangi akan menolak permintaan konyolnya secara mati-matian, tak disangka Pelangi benar-benar melakukan apa yang ia perintah pagi tadi.
Zarow terus menggenggam tangan istrinya sambil terus tersenyum, sesekali ia melihat ke arah istrinya yang hanya tertunduk entah sedang malu atau apa tapi itu membuat Zarow makin cinta dengan Pelangi.
Selama ini wanita yang mengejarnya tak pernah ada yang malu-malu seperti Pelangi bahkan selama ini setiap wanita yang mengejarnya terasa sangat memalukan, itulah mengapa Pelangi sangat jauh berbeda dengan wanita diluar sana yang sangat ingin berebut menjadi nyonya Zarow.
" pak gak usah terlalu ngebut pak " perintah Zarow
Seperti biasa pak Handoko masih bertugas menjadi supir pribadi Zarow meskipun tadi malam Zarow tak berada dirumahnya pak Handoko dengan tepat waktu pagi tadi datang dari kediaman rumah orang tua Zarow kerumah orangtua Pelangi.
" baik tuan " mendengar perintah tuan mudanya pak Handoko hanya mengiyakan.
Pelangi menoleh kearah Zarow mendengar perintahnya kepada pak Handoko, jam telah menunjukan hampir pukul delapan tapi Zarow malah menyuruh pak Handoko untuk memperlambat laju kendaraannya.
Merasa diperhatikan oleh istrinya Zarow pun ikut menoleh menatap kearah istrinya, mata mereka saling pandang tetapi Pelangi tak mengatakan sepatah kata pun pertanyaan untuk berbicara padanya.
" kenapa? " tanya Zarow
Pelangi sengaja mengalihkan pandangannya kearah luar jendela mobil, agar tak terlihat jika ia sebenarnya sedang gugup, ia masih sangat malu mengingat kejadian pagi tadi karena ini adalah untuk pertama kali baginya.
Zarow menggelengkan kepalanya sambil terus tersenyum, satu tangannya masih menggenggam tangan Pelangi dengan erat & tak pernah melepaskannya sedari tadi. Ingin sekali Zarow mencium lembut tangan Pelangi tetapi apalah daya ia tak mempunyai nyali untuk melakukan hal tersebut.
Tiba-tiba Zarow mempunyai ide agar bisa duduk lebih dekat dengan Pelangi, secara perlahan tapi pasti ia menggeser duduknya memdekat kearah Pelangi sampai tak menyisahkan jarak sedikitpun diantara mereka.
Pelangi yang merasa duduknya makin menempel dengan Zarow berusaha menggeser duduknya juga agar agak menjauh tetapi belum sempat ia menggeser ternyata dengan cepat Zarow melingkarkan tangannya ketubuhnya hingga ia mau tau mau tetap diam ditempat.
Tubuh Pelangi saat ini sudah berada dipelukan Zarow, kedua tangan Zarow melingkar ditubuhnya membuatnya hanya bisa diam mematung.
Jantungnya berdebar-debar tak karuan, entah mengapa ia merasa ada sedikit kenyamanan didalam dekapan Zarow, apapun yang dilakukan Zarow kali ini pikirnya sah-sah saja karena mereka sudah adalah sepasang suami istri tetapi hal ini tak layak jika dilakukan dihadapan orang lain karena selain mereka masih ada pak Handoko yang duduk dikursi kemudinya.
" mas " kata Pelangi
Belum sempat Pelangi melanjutkan kata-katanya Zarow malah memperkecil lingakaran tangannya sehingga tubuh Pelangi semakin mendekat masuk kedalam tubuhnya.
Bukannya melepaskan pelukkannya Zarow malah mempereratnya, sontak wajah Pelangi memerah karena malu jika pak Handoko melihat kearah mereka berdua saat ini.
" mas malu mas diliat pak Handoko " kata Pelangi pelan seraya membisik.
" kenapa malu, kita sudah suami istri ko, lagian kenapa emang kalo pak Handoko ngeliat? " kata Zarow.
" ya gak pantes lah mas memperlihatkan kemesraan didepan orang lain " terang Pelangi.
__ADS_1
" oh jadi kalo gak didepan orang lain kamu mau? " jawab Zarow.
Mendengar perkataan Zarow Pelangi kembali tertunduk sambil tersipu malu wajahnya mulai memerah menahan senyumnya, kata-kata yang ia ucapakan justru menjebak dirinya sendiri pikirnya & membuatnya semakin malu.
Zarow pun tersenyum setelah menjawab perkataan Pelangi yang mampu membungkam Pelangi, bahkan karena jawaban darinya Pelangi kembali lagi tersipu malu, bahagia yang ia rasakan saat ini adalah kebahagiaan yang luar biasa bagi Zarow.
Biasanya dirinya adalah penahluk ulung semua wanita tetapi tidak dengan Pelangi, ia tak bisa menahlukan Pelangi dengan mudah & hanya Pelangi lah yang mampu membuatnya jatuh cinta. Awalnya ia hanya bermaksud akan menuntut balas dendam pada Pelangi & pada akhirnya ia menemukan sesuatu yang berbeda pada Pelangi.
Dalam hitungan waktu yang sebentar ia jatuh cinta pada Pelangi & mempersunting Pelangi untuk jadi istrinya. Pelangi memang sangat istimewa bagi Zarow, ia sangat mencintai Pelangi & tak akan membiarkan siapapun berani mendekati bahkan menyentuh Pelangi sedikitpun.
Hanya dirinya lah sebagai suami yang berhak dekat & menyentuh istrinya yang cantik & sholeha tersebut pikirnya. Pandangan Zarow tak pernah lepas dari Pelangi, wajah Pelangi sangat tampak cantik bahkan tak ada yang bisa menandingi kecantikan Pelangi pikirnya.
" pak kalau begitu belok aja kita pak, gak usah ke kantor, rapat hari ini ditunda saja " perintah Zarow.
Kali ini Zarow dengan sengaja menggoda Pelangi lagi, ia ingin melihat bagaimana reaksi Pelangi jika ia benar-benar melakukan yang ia katakan saat ini karena secara tidak langsung kata-kata Pelangi tadi sudah memancing dirinya.
" baik tuan " jawab pak Handoko mulai mencari tempat untuk berbalik arah.
Pelangi membelalakan matanya mendengar perintah Zarow pada pak Handoko, padahal gedung perusahaan miliknya sudah didepan mata tetapi dengan seenaknya Zarow ingin membatalkan rapat hari ini & tentu saja itu adalah sebuah ancaman untuk dirinya.
" mas gak bisa gitu dong mas " kata Pelangi berusaha menyelamatkan dirinya.
" kenapa gak bisa, aku bosnya " jawab Zarow.
" Astaghfirullah, mas kamu emang bos tapi kamu juga harus menjaga & menghormati orang-orang yang udah nunggu kamu rapat dikantor dari tadi, masa seenaknya aja kamu merintahin buat menunda rapat, kan itu sama aja mengecewakan orang lain mas " kata Pelangi.
Ia terus memperhatikan & menimbang-nimbang kata-kata Pelangi yang ia yakini kata-kata tersebut adalah kata-kata untuk menyelamatkan dirinya dari Zarow, tiba-tiba Zarow tersenyum sambil menundukan kepalanya.
" pak balik kekantor pak " perintah Zarow lagi.
" baik tuan " sekali lagi pak Handoko hanya mengiyakan perintah tuan mudanya.
Sepintas pak Handoko tersenyum mendengar perbincangan sepasang pengantin baru yang saat ini sedang duduk dibangku belakangnya, akhirnya tuan mudanya terlihat bahagia hidup bersanding dengan wanita yang tepat.
Mobil kini berjalan kearah perusahaan milik Zarow kembali, Pelangi bernafas lega karena mereka tak jadi berbalik arah, Pelangi tersenyum sembari menatap kearah depan.
Terlihat Pelangi melebarkan senyumnya sambil melihat kearah depan, Zarow hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Pelangi, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tak memaksakan kehendaknya sendiri karena bagi Zarow apa yang Pelangi inginkan itu adalah yang terbaik untuk mereka berdua.
Mobil akhirnya berhenti tepat didepan perusahaan miliknya, pak Handoko segera turun untuk membuka pintu mobil untuk Zarow, ia segera turun & berjalan kearah pintu mobil tempat Pelangi berada sambil merapikan jasnya.
Setelah pintu terbuka Zarow mengulurkan tangannya untuk membantu Pelangi keluar dari dalam mobilnya, setelah Pelangi juga keluar mereka lantas berjalan sambil bergandengan tangan kembali. Zarow sengaja menggandeng erat tangan Pelangi, ia meletakan tangan Pelangi dilengannya agar berpegangan erat disana.
" jangan pernah lepas tangan kamu dari lengan aku, soalnya aku gak mau kalau kamu jadi pusat perhatian laki-laki lain karena gak tau siapa kamu " terang Zarow.
Tentunya masih banyak karyawan diperusahaannya yang belum tahu jika sebenarnya satu hari kemarin ia tak masuk bekerja karena sedang melangsungkan akad nikahnya dengan Pelangi.
Itulah mengapa ia sengaja membawa Pelangi kekantornya agar para karyawannya kini tahu jika dirinya telah menikahi seorang bidadari tak bersayap seperti Pelangi.
Dengan bangga Zarow berjalan beriringan dengan Pelangi, ia merasa saat ini ialah satu-satunya pria yang sangat bahagia dibumi pikirnya.
__ADS_1