
" Zarow " kata nyonya Arini terkejut melihat Zarow.
Zarow sedang berada dianak tangga menuju arah bawah, ibunya sangat terkejut karena saat ini ia mengenakan baju koko dengan bawahan celana jeans hitam seperti orang yang akan pergi ke masjid hanya saja tak mengenakan kopiah.
Ini untuk pertama kalinya ia mengenakan pakaian koko seperti ini, awalnya ia tak percaya diri mengenakan busana muslim khas para pria ini tetapi setelah mengenakan busana tersebut ternyata ia merasa lebih nyaman menggunakan pakaian koko tersebut.
Tuan Yonso menutup buku yang ia baca & meletakan buku tersebut keatas meja yang tepat berada di depannya, ia tak kalah terkejut melihat putra sulungnya dengan penampilan berbeda.
Nyonya Arini menoleh kearah tuan Yonso begitu juga dengan tuan Yonso, pandangan mereka saling bertemu seolah pikiran mereka sama. Apakah mungkin saat ini putranya telah mendapatkan pintu hidayah pikir nyonya Arini.
Zarow terus melangkahkan kakinya mendekat kearah kedua orangtuanya yang seperti biasa duduk bersantai di ruang keluarga sambil mengobrol.
Ia yakin kedua orangtuanya pasti sangat heran melihat penampilannya kali ini yang berbeda dari biasanya. Niatnya untuk belajar agama sangat totalitas bahkan bukan hanya dari kesiapan diri tapi dari segi penampilan juga ia sesuaikan.
" sayang kamu mau kemana pake baju begini?, wow anak mami ganteng banget pake baju begini " kata nyonya Arini yang langsung menghampiri Zarow begitu sudah berada di bawah.
Berbeda dengan nyonya Arini, tuan Yonso malah hanya diam di tempat meskipun penasaran dengan putranya saat ini. Walau ia masih berada di tempatnya tetapi matanya masih terus tertuju kearah Zarow.
" kamu mau ke rumah Pelangi sayang? " tanya nyonya Arini lagi.
Karena Zarow tak kunjung menjawab pertanyaannya ia terus bertanya pada putranya tersebut, Zarow hanya tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya.
" em, jadi beneran mau ke rumah Pelangi nih? " kata nyonya Arini sambil tersenyum.
" enggak mi, Zarow mau belajar ngaji " jawabnya singkat.
Tanpa malu-malu ia menjawab dengan jujur pertanyaan ibunya, tentu saja jawabannya tersebut membuat kedua orangtuanya tercengang.
Tuan Yonso semakin terkejut mendengar jawaban Zarow, belum lama mengenal Pelangi banyak perubahan yang ia rasakan terhadap putranya.
Pelangi benar-benar membawa perubahan besar di hidup putranya, tuan Yonso sangat terharu mendengar putranya akan belajar mengaji kembali.
Tuan Yonso selama ini tak pernah memberikan didikan tentang agama untuk keluarganya karena ia pun tak paham dengan agama, itu lah yang selama ini menjadi bebannya.
Nyonya Arini melihat kearah suaminya, matanya terlihat berkaca-kaca antara terharu & bahagia, mungkin ini lah saatnya mereka semua juga membuka diri untuk kembali mempelajari agama mereka.
Selama ini mereka terlalu disilaukan dengan kemewahan duniawi tanpa memikirkan bagaimana kelak mereka setelah kematian menjemput.
" tuan muda di ruang tamu ada pak Ustad " kata salah satu IRT.
" oh pak Ustad nya sudah datang bi? " tanya Zarow
" iya tuan muda, baru aja dateng sama pak Handoko " jelasnya lagi.
Beberapa saat lalu Zarow memang telah memberi perintah kepada pak Handoko untuk segera menjemput pak Ustad, sesuai dengan janji yang telah di sepakati jika Ustad yang akan mengajarinya akan datang hari ini.
Zarow menganggap guru ngajinya adalah seseorang yang spesial baginya sehingga ia memerintahkan pak Handoko untuk segera menjemput karena ia sudah tak sabaran untuk segera bertemu dengan seseorang yang akan menjadi Gurunya.
" pak Ustad? " tanya nyonya Arini.
" iya mi, jadi Zarow sengaja panggil pak Ustad nya dateng ke rumah biar kita semua bisa sama-sama belajar bareng " tutur Zarow
Zarow berharap kedua orangtuanya serta adiknya mau belajar mengaji serta sholat seperti kewajiban ajaran agama yang mereka anut selama ini.
Ia tak pernah menyalahkan jika selama ini ia tak pernah dapatkan ajaran agama tersebut dari kedua orangtuanya setidaknya saat ini belum terlambat jika mereka sama-sama belajar kembali.
Nyonya Arini kembali melihat kearah suaminya yang saat ini terlihat menundukkan kepalanya, entah apa yang sedang dipikirkan suaminya saat ini.
Tuan Yonso menitikan air matanya benar-benar terharu mendengar kata-kata Zarow, putranya yang ia pikir tak akan bisa berubah dengan gaya hidupnya yang selama ini cukup membuatnya khawatir ternyata kini telah mendapatkan hidayahnya.
Dirinya benar-benar malu selama hidupnya tak bisa mengajarkan sedikitpun putra serta putrinya tentang agama mereka bahkan kini justru putranya lah yang berusaha mengajak mereka untuk bersama-sama belajar.
Nyonya Arini memeluk Zarow bangga dengan niat baik yang saat ini dilakukan putranya, tak sanggup ia membendung tangis haru bahagianya saat ini.
__ADS_1
" mami kenapa nangis?, apa Zarow bikin kesalahan mi? " tanya Zarow yang mengetahui ibunya saat ini menangis.
" enggak sayang, mami terharu kamu bisa berpikiran bawa pak Ustad ke rumah biar kita bisa belajar bareng " kata nyonya Arini.
Zarow kembali lagi memeluk ibunya sambil mengelus-ngelus bahu ibunya, selama ini mereka belum pernah melakukan ibadah sholat maupun mengaji bersama.
Tuan Yonso akhirnya berdiri menghampiri putranya serta istrinya yang saat ini masih berpelukan, ia menepuk bahu Zarow sambil mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum.
" papi bangga sama kamu " kata tuan Yonso, " ayo mi " ajak tuan Yonso.
" kemana pi? " tanya Zarow.
" ajak mami kamu siap-siap buat belajar ngaji sama pak Ustad " kata tuan Yonso.
Zarow pun tersenyum mendengar kata-kata ayahnya, ia mulai melepas pelukannya dari ibunya agar ibunya bisa bersiap-siap dengan ayahnya.
" pi tapi mami gak punya jilbab buat nutup kepala mami " kata nyonya Arini.
Selama ini ia memang tak memiliki satu pun jilbab, ia hanya memiliki selendang beberapa biji yang biasa ia kenakan untuk menutup kepalanya saat pergi melayat jika ada rekan atau keluarga terdekat sedang berduka.
Tuan yonso lalu menepuk jidatnya reflek, selama ini ia tak pernah sekalipun melihat istrinya mengenakan penutup kepala sekali pun karena istrinya memang tak pernah membeli jilbab untuk di kenakan.
Zerin yang baru saja berniat untuk turun ke bawah mulai mempercepat langkahnya karena kepo melihat kedua orangtuanya serta kakaknya berdiri berdekatan sambil mengobrolkan sesuatu.
" hemm, ada apaan nih? " tanya Zerin yang telah berada di bawah.
Melihat adiknya ia yakin jika adiknya juga sama seperti ibunya, Zerin juga tak memiliki pakaian ala muslimah yang biasa dipakai seorang wanita muslimah seperti yang biasa di kenakan oleh Pelangi.
" is kenapa sih? " tanya Zarin tak mengerti karena terus ditatap Zarow.
" kamu punya jilbab dek? " tanya nyonya Arini.
Zerin sontak menggelengkan kepalanya, ia tak pernah sekalipun mencoba memakai penutup kepala tersebut sehingga ia tak pernah membeli jilbab.
Zarow reflek menepuk jidatnya lalu menggelengkan kepalanya, jawaban Zerin membuatnya hampir tertawa, bagaimana bisa seseorang yang akan belajar mengaji justru memakai topi bukannya memakai jilbab untuk menutup kepalanya.
Zarow memaklumi hal ini karena selama ini mereka memang tumbuh besar tanpa ada didikan atau pemahaman tentang norma-norma agama sehingga mereka tak mengerti ternyata saat mengaji serta menunaikan ibadah sholatnya seorang wanita harus menutup auratnya dengan memakai jilbab atau mukenah.
" topi buat apa dek, kita bukan mau joging atau ke pantai, kakak kamu ngajak kita ngaji, jadi kamu sama mami harus pake jilbab " jelas nyonya Arini.
" ha ngaji mi? " kaget Zerin.
Zerin tak kalah terkejut dari dirinya tadi, mereka semua akan belajar mengaji bersama malam ini tetapi tanpa persiapan sedikitpun.
" iya ngaji sayang " jawab nyonya Arini.
" ya jadi gimana dong mi, pi, aku gak punya penutup kepala " rengek Zerin.
Untung lah tadi saat membeli pakaian ia mengingat bahwa ibu serta adiknya juga tak memiliki perlengkapan untuk mengaji serta sholat.
Zarow telah membeli dua mukenah baru beserta beberapa sajadah, tak lupa ia juga membelikan jilbab serta pakaian muslimah untuk adik serta ibunya & membelikan ayahnya baju koko yang sama seperti yang ia kenakan saat ini.
Ia telah mempersiapkan segala sesuatunya secara matang agar mereka bisa melaksanakan ibadahnya bersama-sama malam ini. Bagaimana pun juga ia ingin keluarganya juga mengerti & mengenal agama sama seperti dirinya yang saat ini tengah berusaha kembali kejalan yang benar.
" tadi sengaja beli perlengkapan buat mami, papi sama Zerin, jadi jangan khawatir, tinggal ganti aja, itu juga udah di cuci bibi tadi, jadi udah bisa langsung di pake " jelas Zarow.
Tidak hanya memikirkan dirinya saja bahkan Zarow juga memikirkan segala persiapan untuk keluarganya. Tuan Yonso kembali lagi tersenyum sambil menepuk bahu Zarow.
" ya udah Zarow duluan ya, pak Ustad nya kasian kalo nunggu lama " kata Zarow.
" ok, kayak nya kita juga harus siap-siap mami, Zerin, jangan buat pak Ustad nunggu kita juga, ayo " kata tuan Yonso mengajak istri serta putrinya.
Zerin masih diam di tempat memperhatikan kearah dimana kakaknya pergi, ia masih terus berpikir untuk apa kakaknya tiba-tiba memanggil pak Ustad & mengajak mereka semua mengaji.
__ADS_1
" apa kakak berubah jadi alim begini karena kak Pelangi?, ah daebak, kak Pelangi memang benar-benar hebat, rupanya kak Zarow sudah tersihir mantra-mantra cinta kak Pelangi makanya jadi berubah gini " gumam Zerin dalam hati.
Tuan Yonso yang sudah berada di atas tangga membalikkan tubuhnya karena tak melihat putrinya mengikuti mereka. Putrinya tersebut masih diam ditempat sambil terus melihat kearah dimana kakaknya menghilang.
" Zerin " panggil tuan Yonso.
" ah, iya pi " jawabnya.
Zerin pun menoleh tersadar dari pikirannya sendiri mendengar namanya di panggil, ayahnya sudah berada di atas tangga bersama ibunya, ia pun tersenyum begitu melihat ayahnya menggeleng-gelengkan kepalanya.
" kok malah diem di situ sayang?, ayo siap-siap " kata tuan Yonso lagi.
" iya pi " jawabnya sambil menggaruk-garuk kepalanya & cengengesan.
Tak ingin di tegur oleh ayahnya lagi ia langsung berjalan menaiki anak tangga menuju arah kamarnya untuk bersiap-siap juga.
Sementara itu Zarow yang sudah berada di luar segera menghampiri pak Ustad yang sudah duduk di ruang tamu yang di temani oleh pak Handoko.
Pak Handoko langsung berdiri begitu melihat tuan mudanya datang, melihat tuannya mengenakan baju koko membuat pak Handoko terkagum-kagum, ketampanan tuan mudanya menjadi terlihat lebih lagi saat menggunakan pakaian muslim seperti ini.
" tuan perkenalkan ini Ustad Syamsuddin Nur yang saya ceritakan kemarin, beliau lah yang akan menjadi guru ngaji sekaligus guru agama buat tuan sekeluarga " kata pak Handoko memperkenalkan Ustad Syam.
Zarow langsung menjabat tangan pak Ustad untuk memperkenalkan dirinya juga sambil tersenyum, Ustad yang berada dihadapannya belum terlalu tua seperti apa yang ia pikirkan, usianya baru sekitar 40tahunan lebih muda dari ayahnya.
" Zarow " kata Zarow memperkenalkan dirinya
" Syam " kata pak Ustad
" maaf pak Ustad harus menunggu saya, seharusnya saya yang menunggu pak Ustad " kata Zarow.
" oh nggakpapa mas, saya disini juga baru datang kok, belum terlalu lama " kata pak Ustad.
Zarow hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum, ia berharap dengan adanya Ustad Syam keluarganya akan dibukakan seluas-luasnya hidayah serta pintu taubat.
" Ini sudah bisa kita mulai mas Zarow? " tanya Ustad Syam.
" sebentar pak tunggu orang tua saya & adik saya " jawab Zarow.
" masya allah, alhamdulillah, jadi ini mau belajar satu keluarga? " kata Ustad Syam bersyukur sambil bertanya.
Ini sangat luar biasa bagi pak Ustad karena jarang sekali ada keluarga yang benar-benar berniat untuk belajar agama kembali secara bersama-sama seperti ini.
Terkadang orang akan malu untuk mengakui jika dirinya bodoh tentang ilmu agama tapi keluarga ini justru mau belajar kembali dari nol, Ustad Syam tersenyum merasa bahagia ada saudara sesama umat beragamanya berusaha kembali kejalan ALLAH SWT.
" iya Ustad, saya harap Ustad Syam gak keberatan ya mengajari kami & jangan kapok karena kami sangat membutuhkan Ustad " kata Zarow merendah.
Sebelumnya Zarow selalu merasa tak pernah membutuhkan orang lain bahkan Zatow merasa orang lain lah yang selalu membutuh kan dirinya tapi sekarang ia benar-benar membutuh kan orang lain yang bisa membawa angin segar untuk kehidupannya kelak yaitu Ustad Syam.
" insyallah mas saya gak akan kapok, saya malah senang bisa ngebantu mas Zarow sekeluarga, saya senang kalo saudara sesama muslim saya gak malu untuk belajar & memperdalam lagi tentang agama kita, saya harap mas Zarow & keluarga jangan bosan untuk terus belajar " jawab Ustad Syam panjang lebar.
Selang beberapa menit akhirnya kedua orang tua Zarow serta adiknya telah keluar juga menuju ruang tamu dengan pakaian rapi. Zarow tersenyum melihat ibu serta adiknya memakai penutup kepala seperti yang biasa dipakai oleh Pelangi selama ini.
" Ustad perkenalkan ini papi saya, yang ini mami saya & yang itu adik saya " kata Zarow memperkenalkan keluarganya.
Ustad Syam hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, begitu juga dengan ayahnya yang melakukan hal yang sama dengan Ustad Syam untuk menyapa.
" kita mulai aja kayanya ya mas untuk mempersingkat waktu sebelum Adzan sholat Isya " kata Ustad Syam.
" ok, mari ke sebelah sini pak Ustad " kata Zarow
Mereka segera berjalan menuju ruangan kosong yang tak pernah di gunakan & telah disulap menjadi sebuah musholah dadakan. Ruangan tersebut tertata rapi persis seperti apa yang di inginan Zarow.
" astaga ini kapan di rapiin nya ya, bisa banget jadi kaya gini " gumam Zerin.
__ADS_1
Kakaknya memang tak di ragukan lagi jika dia mau bukan hanya saja ruangan seperti ini yang bisa di rubah dalam waktu sekejap bahkan kakaknya juga bisa merubah halaman kosong menjadi sebuah istana megah.