Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda

Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda
Bab 14


__ADS_3

Pelangi duduk bersama dengan Aldo di depan kantor mereka di sebuah tempat duduk hanya berdua, karena tak ada kegiatan untuk hari ini ia & anggota Dalmas lainnya lebih sedikit santai dari hari biasanya. Pelangi nampak senang siang ini setelah menerima telpon dari ibunya.


Baru saja ia menerima kabar baik dari ibunya, ayahnya akan keluar dari rumah sakit sore nanti, karena itu Pelangi berniat akan meminta ijin untuk bisa pulang lebih cepat siang ini agar bisa membantu ibunya untuk membawa barang-barang bawaannya yang mereka bawa dari rumah.


Aldo ikut senang mendengar kabar bahwa ayah Pelangi akan pulang sore nanti, ia akan ikut meminta ijin sore nanti untuk pulang cepat agar bisa membantu Pelangi membawa barang bawaannya, selain itu Aldo juga akan membantu ayah Pelangi yang ia yakin belum seberapa bisa berjalan.


" tar gue ikut ijin pulang cepat biar bisa bantu lo " kata Aldo


Pelangi hanya mengangguk sambil tersenyum melihat kearah Aldo, seniornya yang satu ini memang sangat baik bahkan sangat perhatian dengannya, tak jarang Aldo membantu dirinya saat sedang berada dalam kesusahan, bagi Pelangi Aldo merupakan salah satu teman yang sangat setia kawan.


Aldo ikut tersenyum melihat Pelangi, bagi Aldo bisa membantu Pelangi dengan cara apapun adalah hal yang menyenangkan baginya, apalagi jika bantuannya bisa sangat meringankan beban Pelangi.


Suatu keberuntungan baginya bisa dekat & mengenal baik Pelangi sampai saat ini, meskipun sampai saat ini hubungan mereka berdua tak lebih dari seorang teman biasa & tak lebih karena mereka berdua memegang komitmen untuk tidak berpacaran sebelum menikah.


Dari kejauhan Doni tersenyum sendiri melihat Pelangi duduk berdua dengan Aldo mengobrol sangat akrab, beberapa saat lalu temannya Pelangi baru saja curhat tentang seseorang yang menyuruh orangtuanya untuk datang melamarnya & ia yakin seseorang tersebut adalah Aldo karena hanya Aldo lah selama ini yang sepertinya memiliki perasaan dengan Pelangi pikirnya.


" udah cocok banget tuh mereka berdua " kata Doni sendiri masih sambil tersenyum kebaperan melihat kedekatan Pelangi & Aldo.


Doni ini merupakan tim yang ikut baper jika melihat kebersamaan Pelangi & Aldo, ia seperti fans berat sepasang artis yang lagi tenar-tenarnya karena kedekatannya belakangan ini, layaknya fans artis tersebut Doni juga merupakan fans baper yang ikut mendukung jika Pelangi & Aldo suatu saat akan menikah.


" Tilar mah lewat, eh kok Tilar, apa ya?, selar kali ya?, auahhhh!!, yang jelas yang itu mah lewat kalo dibandingin yang ini, soalnya ini yang lebih real di depan mata gue " Doni masih berbicara sendiri sambil terus mengamati Pelangi & Aldo.


Pelangi melihat kearah lain yang nampak Doni telah duduk di depan meja kerjanya sambil terus tersenyum kearahnya & Aldo, ia baru menyadari ternyata sedari tadi saat asik mengobrol dengan Aldo sudah ada orang lain yang memperhatikan mereka.


Pelangi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melihat kearah Doni, temannya tersebut yang ketahuan memperhatikan mereka langsung salah tingkah & pura-pura tidak melihat Pelangi, ia pun tersenyum melihat tingkah lucu Doni.


" kenapa? " tanya Aldo yang melihat Pelangi tiba-tiba tersenyum sendiri.


Aldo menoleh kearah Doni yang sudah sibuk di meja kerjanya sambil memegang ponsel miliknya, Aldo yakin saat ini Doni pasti sedang sibuk bermain salah satu aplikasi game online yang biasa dimainkan oleh pecinta gamer.


" emmmm, gak papa " kata Pelangi sambil tersenyum.


Melihat senyum Pelangi membuatnya semakin jatuh hati dengan gadis nan ayu & sholeha yang berada dihadapannya, Aldo sangat berharap jika wanita sholeha dihadapannya ini akan menjadi pendamping hidupnya kelak, ia sangat ingin Pelangi menjadi istrinya dikemudian hari.


Dalam waktu dekat ini saat kedua orangtuanya akan datang mengunjunginya, Aldo berencana akan meminta kedua orangtuanya untuk datang ke rumah Pelangi & meminang gadis tersebut untuk jadi istrinya.


Sudah sekitar dua tahun Aldo hidup mandiri di kota berbeda dengan kedua orangtuanya, ia tak bisa sering-sering pulang untuk mengunjungi orangtuanya karena jadwal pekerjaannya cukup padat, saat Aldo tak bisa pulang orangtuanya lah yang akan datang mengunjunginya.


Beberapa hari yang lalu orangtuanya telah mengabarinya jika mereka akan datang untuk mengunjunginya dalam waktu dekat ini & pada saat itu lah ia akan menyampaikan niat baiknya jika ia ingin menikahi Pelangi kepada orangtuanya.


Aldo tersenyum sambil menundukkan kepalanya, ia tak ingin terlalu larut dengan pesona gadis berparas cantik yang memakai seragam Satpol dengan mengenakan jilbab berwarna hitam yang membungkus kepalanya tersebut, semakin memandang Pelangi semakin besar juga perasaannya ingin memiliki Pelangi.


Aldo terus mengucapkan istighfar didalam hatinya sambil memejamkan matanya & menutup wajahnya dengan kedua tangannya, mencoba menenangkan hatinya sejenak, ia tak ingin rasa cintanya kepada Pelangi melebihi rasa cintanya kepada sang pencipta, ia ingin rasa cintanya kepada Pelangi bukan hanya karena hawa nafsu belaka, tetapi ia ingin mencintai Pelangi karena mereka sama-sama mencintai allah.


" kenapa bang? " tanya Pelangi gantian karena melihat Aldo tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


" enggak papa, oh iya Lo bawa motor gak tadi? " kata Aldo mencari topik lain.

__ADS_1


" bawa lah bang " jawab Pelangi singkat


" motor lo tinggal aja gin, tar suruh aja Ridwan atau siapa yang suruh antar ke rumah lo, kita sama-sama naik mobil aja " kebetulan hari ini Aldo pergi ke kantor dengan menggunakan mobilnya karena motor yang biasa ia pakai sedang berada di bengkel.


" ok bang " kata Pelangi singkat sambil tersenyum kembali.


Aldo sangat sering membantu dirinya, bagi Pelangi seniornya ini adalah pria yang sangat baik bahkan ia yakin jika suatu saat Aldo pasti akan mendapatkan jodoh yang sangat baik sepertinya juga & yang pastinya wanita yang menjadi jodoh Aldo kelak adalah seorang wanita yang beruntung.


Pelangi selalu mendoakan yang terbaik untuk Aldo sebagai seorang teman, Pelangi sangat senang bisa mengenal Aldo & berteman baik seperti saat ini meskipun banyak yang menyalah artikan kedekatan mereka berdua.


" tapi gak ngerepotin lo kan bang? " tanya Pelangi memastikan.


" insyallah enggak kok, lagian gue seneng kalo bisa bantu lo, lo juga jangan sungkan-sungkan lah ama gue, biasa aja "


Pelangi hanya diam melihat kearah Aldo, ia justru merasa tak enak jika harus merepotkan Aldo terus, kebaikan & ketulusan Aldo inilah yang membuatnya sungkan jika harus meminta tolong kepada Aldo.


" aduh bang terlalu sering lo bantu gue, gimana gue gak sungkan sama lo, makasih banget ya udah ada pas gue lagi kesusahan, the best lah lo bang "


" iya sama-sama " jawab Aldo dengan tersenyum & melihat kearah jamnya, " kayaknya kita ijin sekarang aja kali ya?, soalnya udah jam satu juga " kata Aldo lagi.


Pelangi hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju, ada benarnya juga ia & Aldo ijin sekarang agar ia bisa membantu ibunya beberes barang-barang yang pastinya ia bawa dari rumah.


Ia & Aldo kemudian berjalan bersama untuk meminta ijin, Pelangi tak sabar untuk membawa ayahnya Pulang ke rumah, beberapa hari tinggal di rumah sakit ia yakin bahwa ayahnya juga sudah sangat ingin Pulang ke rumah mereka.


*********


Zarow akan beristirahat di rumah karena ia sudah sangat merasakan kantuk yang luar biasa, tak biasanya ia pulang kantor hanya ingin tidur sejenak seperti saat ini, bahkan karena rasa kantuknya ini sedari tadi saat rapat Zarow terus-terusan menguap.


Hal ini terjadi karena semalam ia tak bisa tidur memikirkan seorang gadis yang belum terlalu ia kenal seperti apa kepribadiannya sesungguhnya, gadis yang ia kenal secara kebetulan saat sedang melakukan operasi rajia masker di jalanan.


Saat ini Zarow masih berada di dalam mobil dengan disupiri oleh pak Handoko seperti biasa, melihat pak Handoko ia yakin pak Handoko pasti sedang bertanya-tanya mengapa hari ini dirinya nampak terlihat seperti kurang tidur.


Zarow mulai membuka dasi yang melingkar di kerah lehernya, ia melepaskan satu persatu kancing bajunya, jas yang ia kenakan juga ia lepas & ia letakan di sebelahnya, setelah lebih merasa nyaman ia kemudian menyenderkan tubuhnya kembali di kursi belakang sambil memejamkan matanya & terlelap tidur.


Pak Handoko melihat dari arah kaca yang berada di atas kepalanya meskipun tak tepat di atas kepalanya, sedikit melirik kearah belakang lalu kembali lagi fokus menyetir melihat kearah depan, ia tak mengerti mengapa saat ini tuan muda Zarow terlihat seperti kurang tidur.


Melihat tuan mudanya sudah terlelap tidur ia tak ingin buru-buru menyetir untuk sampai ke rumah tuan mudanya, ia sengaja membiarkan tuan mudanya beristirahat sejenak didalam mobil tersebut dahulu sebelum sampai di rumah.


Pak Handoko yakin jika tuan mudanya ini memang sedang kurang tidur karena memikirkan sesuatu, entah persoalan apa yang membuatnya sampai bisa kurang tidur seperti saat ini, padahal selama ini tuan mudanya tersebut selalu menjaga pola hidup sehatnya terutama tidur dengan tepat waktu.


Mengingat pekerjaan tuan mudanya ini sangat banyak wajar jika ia sangat membutuhkan istirahat yang cukup agar bisa menyelesaikan semua pekerjaannya apalagi pekerjaan tuan mudanya tak hanya mengurus satu perusahaan saja.


Sebagai supir pribadi tuan muda Zarow pak Handoko cukup bangga dengan tuan mudanya, diusianya yang saat ini mampu memimpin beberapa perusahan dengan cukup baik, semua permasalahan di handle dengan cepat olehnya, meskipun sesekali tuan Yonso ikut turun membantunya menyelesaikan permasalahan.


Setelah melewati jalanan beberapa puluh menit akhirnya mobil sampai juga di depan pekarangan rumah tuan Yonso, pak Handoko melihat kearah tangannya, sudah tiga puluh menit tuan mudanya tertidur & ia rasa sudah waktunya untuk membangunkannya.


" tuan, tuan muda bangun tuan " pak Handoko yang telah berada di luar mobil & membuka pintu mobil belakang untuk membangunkan tuan mudanya pelan.

__ADS_1


" hemmmm " kata Zarow yang mulai terbangun.


Zarow mulai membuka matanya perlahan, ia mengusap-ngusap matanya dengan kedua tangannya, di lihatnya saat ini mobil sudah berhenti di pekarangan rumahnya entah sudah berapa lama.


" maaf tuan sudah sampai " kata pak Handoko memberitahu.


" ok terimakasih pak " kata Zarow mengucapkan terimakasih pada pak Handoko.


Zarow kemudian berjalan kearah dalam rumahnya, di dalam rumahnya seperti biasa sudah ada kedua orangtuanya duduk di ruang tamu saat ini, Zarow kemudian berjalan menemui kedua orangtuanya, ia duduk sambil meletakan jasnya di sebelahnya.


" kebetulan banget kamu pulang jam segini " tuan Yonso tersenyum melihat kedatangan putranya.


" memang ada apa pi? " tanya Zarow sambil melihat kearah kedua orangtuanya.


Zarow tak tau ada hari istimewa apa hari ini sehingga ayahnya nampak terlihat senang melihatnya pulang cepat hari ini.


" hari ini pak Abdullah sudah diperbolehkan untuk pulang, papi dapat kabar dari salah satu karyawan kita "


Tuan Yonso bermaksud akan menyuruh anaknya untuk ke rumah sakit & menjemput pak Abdullah untuk mengantarkannya pulang ke rumahnya.


" ya bagus lah kalo udah boleh pulang " jawab Zarow sekenanya.


" kamu ke rumah sakit sana " sahut Nyonya Arini.


Tuan Yonso menoleh kearah istrinya, belum sempat ia mengatakan untuk menyuruh Zarow pergi ke rumah sakit tetapi istrinya telah mengatakan hal tersebut duluan, ternyata pemikiran mereka berdua sangat sama, tuan Yonso tersenyum sambil memegang tangan istrinya.


" emang ada apa di rumah sakit mi? " tanya Zarow tak mengerti.


Nyonya Arini menepuk jidatnya reflek mendengar pertanyaan anak sulungnya, ini adalah kesempatan Zarow untuk melakukan pendekatan dengan orang tua Pelangi, mengingat mereka telah meminang Pelangi seharusnya Zarow juga harus perduli dengan orang tua Pelangi meskipun pinangan tersebut belum pasti akan berlanjut atau tidak.


" sayang kamu harus ke rumah sakit buat ngantar pak Abdullah pulang ke rumahnya, bantu Pelangi, ini kesempatan kamu untuk pendekatan sama keluarga Pelangi " jelas nyonya Arini sambil tersenyum pada putranya.


Zarow hanya diam menatap kearah kedua orangtuanya yang hanya tersenyum sambil mengangguk, siang ini ia pulang cepat dengan tujuan agar bisa beristirahat di rumah, apakah ia harus menuruti perintah kedua orangtuanya kali ini pikirnya.


" emang harus ya pi, mi? " tanya Zarow, " sebenernya Zarow tadi rencananya pulang cepat ini mau tidur, ngantuk banget soalnya " kata Zarow lagi menjelaskan niatnya pulang cepat.


" harus, emang kamu gak mau nikah sama Pelangi?, lagian kalau pun kamu gak mau kita juga sudah terlanjur datang meminang Pelangi jadi kamu harus jemput pak Abdulah " tegas tuan Yonso.


Zarow mendengus mengeluarkan nafas kasarnya, pinangannya belum tentu diterima oleh Pelangi & ia yakin meskipun ia melakukan pendekatan dengan keluarganya, Pelangi pasti juga tak akan menerima pinangan darinya.


Tetapi Zarow telah bersumpah jika Pelangi tak menerima pinangannya ia juga tak akan membiarkan Pelangi dinikahi oleh pria mana pun, ia akan membuat Pelangi dijauhi oleh pria manapun yang berniat menikahi Pelangi.


" ayo siap-siap sana, jangan cuman diam aja disitu " kata nyonya Arini menyuruh putranya untuk bersiap-siap.


" iya mi " kata Zarow.


Ia lalu berdiri & berjalan menuju kamarnya dengan malas, baru kali ini ia harus bersikap baik & melakukan pendekatan dengan seorang wanita beserta keluarganya, padahal ia yakin diluar sana banyak keluarga yang rela mendekatinya bahkan rela menjadi seorang penjilat hanya demi bisa menjadikannya seorang menantu di keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2