
Zarow berjalan menuruni anak tangga sambil membenarkan baju kaos berwarna hitam yang ia kenakan saat ini senada dengan wrna baju yang dikenakan oleh Zerin.
Saat berada di luar kantor & saat berada di kantor penampilannya akan berubah 180 derajat, saat berada di luar kantor ia akan berpenampilan seperti pemuda seumurannya pada umumnya, meskipun stailnya saat ini cukup sederhana namun ia masih terlihat sangat stailish.
Dengan langkah agak ogah-ogahan ia berjalan menuju arah kedua orangtuanya. Harusnya siang ini ia telah berbaring di atas tempat tidurnya yang empuk & nyaman untuk beristirahat, apa yang ia rencanakan siang ini saat pulang cepat untuk dirinya harus ia urungkan, karena mau tidak mau ia harus pergi ke rumah sakit.
Benar kata ayahnya, mengingat orangtuanya sudah bersusah payah melamar Pelangi untuk dijadikan istrinya, ada benarnya jika Zarow juga harus menunjukan kepada kedua orang tua Pelangi jika pinangan yang datang kepada keluarga mereka bukan lah main-main.
Zerin yang telah duduk bersama kedua orangtuanya melihat ke arah Zarow yang baru saja turun dari arah atas dengan menggunakan pakaian santai & sudah rapi, ia menggeserkan duduknya mendekat kearah Zarow yang telah duduk di sebelahnya.
" kakak mau kemana? " tanya Zerin.
Di endusnya bau parfum kakaknya yang tercium sangat menyengat wangi masuk kedalam hidungnya, kakaknya tersebut seperti habis mandi dengan parfum, bahkan ia rasa wangi parfum ruangan ibunya terkalahkan dengan wangi parfum kakaknya.
Dengan sedikit menyipitkan matanya sambil terus menatap kearah Zarow jiwa-jiwa keponya mulai muncul, ia mulai penasaran kakaknya tersebut akan pergi kemana.
Zarow yang merasa menjadi pusat perhatian adiknya tersebut hanya cuek & masih fokus dengan sepatu yang ia bawa dari arah atas tadi, ia letakan sepatu yang ia bawa tepat dibawah kakinya.
" mau kemana sih? " tanya Zerin lagi sambil menaik-naikkan alis matanya.
" anak kecil mau tau aja urusan orang dewasa " jawab Zarow sambil melihat kearah adiknya sekilas lalu kembali lagi fokus ke sepatu yang ia letakan di bawah kakinya untuk ia pakai.
" ah gak asik deh kak Zarow " kata Zerin melengos.
Nyonya Arini hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anaknya, meskipun sikap Zarow terlihat agak cuek, tetapi nyonya Arini sangat yakin jika sebenarnya Zarow sangat menyayangi keluarganya.
Hal tersebut terlihat dari sikap yang ia tunjukan selama ini meskipun putra sulungnya tersebut tak pernah mengungkapkan bahwa ia menyayangi keluarganya, karena putranya tersebut tak bisa mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata manis.
" sudah siap kamu? " tanya tuan Yonso.
" sudah pi, tinggal pake sepatu nih " kata Zarow melihat sekilas ke arah ayahnya.
Tuan Yonso membuka kacamata yang ia pakai saat ini karena merasa ada setitik kotoran, sambil sesekali melihat ke arah Zarow yang masih sibuk mengenakan sepatunya, tuan Yonso menggelengkan kepalanya sambil tersenyum ke arah putra sulungnya.
Putra sulungnya ini tak pernah bisa mengikat tali sepatunya sendiri sedari kecil hingga sedewasa ini, di putar-putarnya ikat sepatunya sedari tadi sambil menggaruk-garuk kepalanya, Tuan Yonso hampir tak bisa menahan tawanya.
Zerin menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kakaknya yang cuma membolakbalikan tali sepatu miliknya, bukan lah menjadi rahasia dalam keluarga lagi, bahwa sebenarnya kakaknya yang memiliki wajah tampan ini tak bisa mengikat tali sepatunya sendiri.
Karena tak sabaran melihat tali sepatu Zarow tak juga kunjung terikat, ia langsung menunduk mengambil sepatu yang dikenakan kakaknya lalu berdiri & tersenyum dihadapan kakaknya sambil mengangkat sepasang sepatu.
" kalo kakak gak bisa ngiket tali sepatu, ngapain pake yang bertali sih, ini aku bawa keatas tunggu disini dulu aq ambilin yang lain " kata Zerin
Tak ingin kakaknya repot & membuang-buang waktunya hanya di sepatunya saja, ia kemudian berlalu berjalan menuju arah atas untuk mengambilkan kakaknya sepatu yang lainnya dikamar Zarow pastinya.
Sebenarnya banyak koleksi sepatu yang kakaknya tersebut miliki, tetapi hanya khusus sepatu yang langsung bisa di pakai, meskipun sebenarnya ada juga beberapa sepatu bertali milik Zarow tetapi tak terlalu banyak, karena tak pernah dipakai oleh kakaknya.
Nyonya Arini & tuan Yonso serta Zarow hanya terdiam sambil melihat kearah Zerin yang berjalan menuju arah atas sambil membawa sepatu milik kakaknya tersebut, putri bungsunya tersebut merupakan gadis yang sangat perhatian.
Bukan hanya perhatian Zerin juga lebih banyak bicara daripada Zarow, terkadang nyonya Arini bingung mengapa kedua anaknya bisa memiliki sifat yang berbeda.
Setelah memilah-milah sepatu milik kakaknya ia kemudian keluar dari kamar Zarow sambil membawa sepasang sepatu yang jadi pilihannya untuk di pakai kakaknya siang ini.
" nah pake yang ini aja nih " kata Zerin sedikit nyaring sambil berjalan menghampiri ke arah orangtuanya serta kakaknya yang masih berada diruang tamu sambil tersenyum
Zarow tersenyum sambil menundukkan kepalanya melihat sepatu yang dibawakan oleh Zerin untuknya, model sepatu sneaker tak bertali dari brand ternama telah ia tenteng dari arah kamarnya.
__ADS_1
" nih " kata Zerin menyodorkan sepatu milik Zarow, saat Zarow akan mengambil sepatu tersebut Zerin menarik sepatu itu kembali, " eits...tar dulu, sebelum kakak ambil sepatu ini, kakak jawab dulu kakak mau kemana? " kata Zerin sambil tersenyum & menaik-naikan alisnya.
Zerin sudah sangat penasaran karena pertanyaannya sedari tadi tak kunjung dijawab oleh kakaknya, Zerin bukan lah tipe gadis yang gampang menyerah jika apa yang ia tanyakan belum mendapatkan jawaban.
" ih dibilangin anak kecil gak usah sok mau tau juga " jawab Zarow jutek.
Ia mengambil sepatu dari tangan Zerin dengan agak merampas, lalu duduk kembali, kemudian ia mulai memakai satu persatu sepatu tersebut.
" kakak ih nyebelin deh, kan Zerin cuma mau tau aja kakak mau kemana? " kata Zerin cemberut sambil menyilangkan tangannya.
Sambil memakai satu sepatunya lagi di kaki sebelahnya, Zarow melihat kearah adiknya kembali yang sepertinya sudah sangat kesal karena tak mendapatkan jawaban sesuai dengan pertanyaannya.
" mau ke rumah sakit " jawabnya singkat Zarow yang akhirnya memberitahu ia akan pergi kemana.
Zarow akhirnya menjawab pertanyaan Zerin juga, mengingat adiknya tersebut telah bersedia mengambilkan & memilihkan sepatu untuknya tak ada salahnya jika sebaiknya ia juga memberitahu Zerin kemana ia akan pergi saat ini dengan singkat & jelas.
Zarow memang terkesan kaku & terlalu serius bahkan ia tidak suka berbelit-belit saat berbicara. Bagi Zarow berbicara berbelit-belit itu hanya akan banyak menyita waktu & Zarow tak suka waktunya terbuang sia-sia begitu saja.
" mau liat pak Abdullah ya kak?, aku ikut ya?, aku pingin ketemu kak Pelangi " rengek Zerin.
Mendengar rengekan adiknya yang saat ini tengah duduk di sebelahnya ia hanya melihat kearah ibunya seolah-olah akan bertanya, ibunya yang juga melihat kearahnya saat ini hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum memberikan isyarat.
Nyonya Arini hanya mengangguk sambil tersenyum melihat Zarow yang seolah-olah ingin bertanya padanya karena melihat Zerin yang merengek ingin ikut dengan Zarow ke rumah sakit.
Seperti biasa Zarow hanya mampu mengisyaratkan apa yang ingin ia katakan dengan tatapan atau bahasa wajahnya, sebagai seorang ibu nyonya Arini sudah sangat hapal sekali dengan putra sulungnya tersebut.
" ikut tapi jangan bikin repot " kata Zarow.
" yey " Zerin kegirangan.
Saat bertemu dengan Pelangi ia akan meminta nomer ponsel Pelangi agar ia bisa menghubungi wanita penyelamatnya kapan saja untuk sekedar menanyakan kabar atau mengobrol seadanya.
Tuan Yonso tersenyum melihat kedua putra & putrinya saat ini, Zarow terlihat keras tetapi ia terlihat sangat perduli dengan Zerin sebenarnya.
" hemmmm, kalo sudah siap cepet berangkat sana " kata Tuan Yonso akhirnya membuka suaranya.
Ia tak ingin anaknya datang terlambat untuk menjemput & membantu pak Abdullah untuk pulang ke rumahnya, dengan adanya Zarow di sana untuk membantu pak Abdullah ia berharap Pelangi akan menghargai sedikit usaha Zarow ini & menerima pinangan mereka.
**********
Pelangi & Aldo baru saja meminta ijin dengan atasan mereka untuk bisa pulang cepat hari ini, setelah mendapatkan ijin mereka berdua segera kembali keruangan mereka untuk mengambil tas mereka masing-masing.
Pelangi berjalan menuju arah meja kerjanya, begitu juga dengan Aldo, didepan meja kerjanya Pelangi segera memasukan barang-barang miliknya kedalam tasnya, tak lupa ia juga mengunci laci mejanya.
" mau kemana lo Ngi?, nenteng tas gitu " tanya Doni yang baru saja datang dari arah kamar kecil.
Sekilas ia melihat kearah Doni yang baru saja datang di meja kerjanya & masih berdiri melihat kearahnya, Pelangi tersenyum kearah Doni sebelum menjawab pertanyaan Doni.
" mau pulang Don, kan sore nanti ayah udah boleh pulang kata ibu " jawab Pelangi.
" wah serius, kok lo baru kasih tau gue sih?, kan harus gue juga ikut lo "
Ia lalu berjalan mendekat kearah meja Pelangi & berdiri tepat di depan meja temannya tersebut. Seharusnya ia memang bisa ikut bersama dengan Pelangi ke rumah sakit & membantunya, mengingat Pelangi hanya berdua dengan ibunya pastinya Pelangi akan kesusahan membawa barang-barang yang akan dibawa pulang.
" hemmmmmm, sudah siap Ngi? " dehem Aldo yang masih setengah berjalan mendekat kearah meja Pelangi.
__ADS_1
Doni melihat kearah Aldo yang sudah berada didekatnya & tersenyum kearah Pelangi, melihat kedatangan Aldo ia tahu jika teman dekatnya ini sudah pasti akan pergi bersama dengan Aldo.
Sambil menggaruk-garuk kepalanya & tersenyum nyengir Doni agak menggeserkan tubuhnya menghadap kearah Aldo yang sudah siap mengajak Pelangi untuk meninggalkan kantor bersama.
Mendengar suara Aldo yang sudah berjalan kearahnya dengan menggendong tas miliknya, ia hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu Pelangi melihat kearah Doni yang saat ini sudah nyengir ala-alanya seperti biasa.
" sorry Don baru ngasih tau, soalnya ibu juga baru aja nelponnya, kalo lo mau ikut, nyusul aja entar, tapi gue duluan ya sama bang Aldo soalnya harus bantu ibu buat beres-beres, tapi kalo lo repot mending lo gak usah aja deh ikut, kan juga udah ada bang Aldo bantu gue " kata Pelangi yang baru menjawab pertanyaan Doni.
" sip, tapi kayaknya gue gak jadi ikut deh ya, gue lupa kalo tadi gue disuruh sama bang Arfan buat bantu dia ngerjain tugasnya " jawab Doni beralasan sambil tersenyum.
Doni sengaja tak jadi ikut pergi ke rumah sakit bersama dengan Pelangi karena tak ingin mengganggu kebersamaan Pelangi dengan Aldo, apa lagi mengingat saat ini mereka berdua sedang dalam proses ta'aruf sebelum Pelangi memberi jawaban pikir Doni.
" ok kalo gitu, gue duluan ya Don, lo cepet-cepet bantu selesaikan tugas bang Arfan " Pelangi mengingatkan Doni agar segera menyelesaikan tugasnya.
" ya udah yuk " ajak Aldo pada Pelangi yang sudah siap & lagi-lagi Pelangi hanya mengangguk & tersenyum.
Aldo mempersilahkan Pelangi berjalan melewatinya duluan dangan gerakan tangannya tanpa menyentuh Pelangi sedikitpun sambil tersenyum.
" ayo Don, duluan " kata Aldo yang akhirnya berbicara kepada Doni.
Ditepuknya bahu Doni sambil tersenyum saat berpamitan, Aldo selalu bersikap ramah kepada siapa saja teman dikantornya, ia tak pernah memilih-milih saat berteman, ia akrab dengan banyak teman pria tetapi hanya Pelangi saja teman wanita yang akrab dengannya & tak ada lagi yang lain.
" ok " jawab Doni singkat juga tersenyum.
Sambil bersedakep Doni terus memperhatikan punggung Aldo & Pelangi yang telah pergi meninggalkannya sendiri di dekat meja kerja Pelangi, ia tersenyum sambil mendengus kasar melihat dua sejoli yang akhirnya selangkah lebih maju dari statusnya yang masih tak jelas saat ini.
Selama beberapa tahun dekat & tak pernah ada kelanjutan status untuk menjalin hubungan, akhirnya mereka berdua akan menikah juga pikirnya, ia ikut bahagia melihat Pelangi akhirnya berjodoh juga dengan Aldo.
Pelangi menoleh kearah Aldo yang masih tetap berdiri di dekat meja kerja miliknya, ia tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Doni, kemudian kembali lagi menghadap kearah depan.
Sambil berjalan beriringan mereka berdua berjalan menuju arah parkiran, ia akan naik mobil bersama Aldo menuju rumah sakit saat ini. Motor miliknya telah dititipkan oleh Aldo ke teman dekatnya beberapa saat lalu, seperti yang telah mereka rencanakan tadi.
Setelah berada di parkiran Aldo membukakan pintu mobilnya untuk Pelangi & mempersilahkan Pelangi untuk masuk kedalamnya sambil tersenyum, setelah Pelangi masuk kedalam mobilnya ia lalu menutup pintu mobilnya & masuk juga ke dalam mobil miliknya, tanpa menunggu lama ia langsung mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran kantornya.
Setelah beberapa puluh menit akhirnya mobil yang dikendarai oleh Aldo sampai juga di parkiran rumah sakit, setelah mobil terparkir dengan baik, ia & Aldo segera turun dari mobil milik Aldo.
Saat ini Pelangi masih berjalan secara beriringan dengan Aldo menuju arah dimana ayahnya sedang dirawat, ia sudah tak sabar lagi untuk sampai dikamar ayahnya saat ini.
Dengan langkah yang penuh semangat sambil terus tersenyum Pelangi melangkahkan kakinya melewati lorong-lorong rumah sakit. Setelah ia & Aldo berada di depan pintu kamar ayahnya ia segera mengetuk & masuk dengan mengucapkan salam.
" Assalamuallaikum " kata Pelangi & Aldo bersamaan mengucapkan salam.
" Wallaikumsalam "
Zarow melihat kearah Pelangi yang baru saja masuk kedalam kamar bersama dengan seorang pria yang ia yakini pria tersebut adalah Aldo.
Pelangi agak terkejut karena melihat sudah ada Zarow & Zerin duduk di dekat ayahnya
yang masih duduk di atas tempat tidurnya sambil menatap kearahnya.
Abrisam Zarow Abqari
__ADS_1
Akifa Zerin Malaika