
Zarow yang masih duduk di ruang tamu masih terus memikirkan kata-kata Reza & pak Handoko beberapa saat lalu, dua orang yang lumayan dekat dengannya memiliki persepsi yang sama tentangnya.
Sama dengan Reza pak Handoko juga menyampaikan anggapannya jika menurut pak Handoko memang dirinya tengah jatuh cinta pada Pelangi.
" dosa gak ya jatuh cinta, dosa gak kalo sekarang aku jatuh cinta sama Pelangi?, astaghfirullah, ah mikir apaan sih?, hufttt " gumam Zarow sambil mengelus dadanya.
" ada apa nak Zarow? " kata pak Abdullah yang baru saja keluar dari arah dalam.
Melihat Zarow nampak sedang memikirkan sesuatu sambil mengelus dadanya pak Abdullah berpikir jika Zarow sedang risau entah seperti sedang memikirkan sesuatu.
Mungkinkan Zarow juga tengah risau memikirkan pernikahannya dengan Pelangi yang sebentar lagi akan segera berlangsung pikir pak Abdullah.
Zarow lantas menoleh kearah pak Abdullah sambil tersenyum, pak Abdullah kebetulan baru saja datang dari arah dalam, keadaan pak Abdullah paska kecelakaan beberapa minggu yang lalu kini telah berangsur membaik, ia sangat bersyukur sekali calon mertuanya tersebut kini telah pulih.
" ada apa nak kok kayanya lagi ada yang dipikir? " tanya pak Abdullah lagi.
Pak Abdullah duduk tepat dihadapan Zarow, ia juga membalas senyum Zarow yang nampak sangat terlihat tulus sekali. Kini Zarow nampak sangat berbeda dari beberapa saat lalu saat pertamakali datang ke rumahnya.
Beberapa minggu lalu Zarow nampak terlihat kaku meskipun masih terlihat amat sopan sebagai anak muda, kini Zarow lebih terlihat santai bahkan kini ia mulai terbiasa mengakrabkan diri dengan pak Abdullah serta bu Melati.
Tentu saja pak Abdullah sangat senang calon menantunya tersebut bisa dengan mudah akrab dengan keluarga Pelangi padahal jika di bandingkan dengan dirinya bahkan keluarga pak Abdullah sangat lah tidak ada apa-apanya.
Sebenarnya saat mendapatkan lamaran untuk putrinya dari keluarga tuan Yonso yang tak lain adalah ayah Zarow ia sangatlah minder, bagaimana bisa putrinya yang notabennya adalah seorang gadis dari keluarga sederhana mendapatkan lamaran dari seorang yang amat kaya raya.
Begitulah takdir yang di tentukan Allah, tak ada yang tau siapa jodoh yang akan datang, kaya atau miskin, muda atau tua. Allah tak pernah memandang manusia dari siapa dia, bagi Allah semua manusia derajatnya sama.
Sekali lagi mendengar pertanyaan pak Abdullah ia kembali lagi tersenyum, belakangan ini fokusnya agak tak baik, ia lebih sering melamun untuk sekedar memikirkan hal-hal penting maupun yang tak penting.
Tetapi ia lebih sering melamun memikirkan tentang setiap dosa-dosa yang telah ia perbuat, jujur Zarow sangat takut jika takan ada pengampunan untuk semua dosa yang telah ia perbuat.
Dan saat ini pun ia masih memikirkan tentang sesuatu yang berhubungan dosa, karena ia takut jika terus-terusan berbuat dosa meskipun ia tak sengaja melakukan dosa tersebut.
" saya cuman lagi mikir ini pak dalam islam apa boleh kita mencintai seseorang? " tanya Zarow jujur.
Ia menuturkan apa yang ia pikirkan secara jujur pada pak Abdullah karena ia pikir tak ada yang perlu di sembunyikan, apa lagi pertanyaannya ini juga dapat menambah pengetahuannya dalam islam.
Pak Abdullah tersenyum mendengar pertanyaan Zarow, tentu saja islam tidak melarang seseorang yang mencintai orang lain tetapi harus ada batasan-batasannya.
" Begini nak Zarow, Cinta menurut pandangan islam adalah tentang naluri dan tentang nafsu, cinta sejati menurut islam ialah cinta yang timbul dalam rangka untuk dan karena Allah, karena mengharap ridhoNya, dan karena ingin menjadikannya sebagai jalan ibadah. Islam tidak melarang seseorang untuk mencintai sesuatu, justru islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang dan cinta. Tetapi islam punya cara lain untuk memperjuangkan cinta menurut pandangan Islam " jelas pak Abdullah.
Zarow speechless mendengar penjelasan pak Abdullah, pak Abdullah ternyata cukup paham dengan masalah yang berkaitan dengan islam, wajar saja jika Pelangi juga sangat faham dengan agama pikirnya.
" Terus pak cara memperjuangkan cinta menurut islam itu bagaimana? " tanya Zarow lagi.
Pak Abdullah lagi-lagi tersenyum mendengar pertanyaan Zarow yang kedua kalinya, mungkin kali ini ia tak berhak menjawab pertanyaan Zarow karena ia takut jika jawaban yang akan ia berikan akan salah.
" nak Zarow lebih baik tanya aja sama yang lebih paham agama ya, bapak gak bisa menjelaskan untuk yang itu, takutnya salah nak " kata pak Abdullah.
Zarow mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, padahal pak Abdullah terlihat sangat paham tetapi ia tak ingin sok tahu pada hal sebenarnya ia sangat tahu & malah menyuruh Zarow untuk mencari tahu pada seseorang yang lebih paham agama.
Zarow lagi-lagi tersenyum pada pak Abdullah, ia cukup senang mendapatkan satu jawaban dari pertanyaannya dari pak Abdullah ia akan menanyakan pertanyaan lainnya pada Ustad Syam nanti pikirnya.
" dalam islam boleh mencintai seseorang, berati gak dosa kan kalo cinta sama Pelangi?, tapi masih perlu tau gimana caranya supaya rasa cinta ke Pelangi itu gak jadi dosa? " gumam Zarow dalam hati.
Beberapa menit asik membahas tentang cinta Adzan pun berkumandang, ia mengucapkan kalimat hamdallah karena ia masih di beri waktu sampai saat ini untuk melaksanakan ibadah sholatnya kembali.
" Alhamdulillah " kata Zarow.
" yuk kita sholat berjamaah lagi nak Zarow " ajak pak Abdullah.
" iya pak " jawab Zarow singkat.
Ia segera berdiri & berjalan ke arah pintu untuk memanggil pak Handoko yang saat ini kebetulan sedang berjalan menuju arahnya.
" pak " panggil Zarow.
" saya tuan " jawab pak Handoko.
Begitu mendengar Adzan berkumandang pak Handoko segera keluar dari mobil & berjalan ke arah rumah Pelangi, saat sedang berjalan menuju arah pintu sudah ada tuannya berdiri di depan pintu memanggil dirinya.
" pak kita sholat berjamaah di sini aja ya pak " kata Zarow.
__ADS_1
" baik tuan " kata pak Handoko singkat.
Pak Abdullah masih berdiri di tempat menunggu Zarow yang saat ini sedang memanggil pak Handoko, ia tersenyum memperhatikan calon menantunya tersebut.
Ia tersenyum melihat Zarow memanggil pak Handoko untuk mengajak sholat berjamaah bersama di rumah saja. Sejujurnya ia tak begitu mengenal bagaimana sosok Zarow sebelumnya.
Tetapi ketika ia melihat ketekunannya saat ini dalam beribadah ia jadi lebih tenang melepaskan anak gadisnya untuk dipersunting oleh pria mapan yang saat ini sedang berbicara dengan supir pribadinya.
Setelah mengajak pak Handoko untuk sholat berjamaah bersama di rumah Pelangi ia kemudian membalikkan tubuhnya, masih ada pak Abdullah berdiri sambil tersenyum kearahnya, ia pun membalas senyum pak Abdullah.
" nak Zarow bisa jadi imam kan?, bisa lah, kan bentar lagi mau jadi imam di keluarga " kata pak Abdullah pada Zarow sambil menepuk bahu Zarow seraya tersenyum.
Pelangi yang baru saja keluar dari arah dalam mendengar perbincangan ayahnya dengan Zarow, reflek ia menepuk jidatnya karena Zarow tentu belum bisa menjadi seorang imam karena saat ini ia masih belajar kembali.
" aduh maaf pak saya belum bisa pak jadi imam, saya juga baru belajar, saya masih perlu bimbingan malah pak " kata Zarow jujur sambil tersenyum, " mungkin seperti biasa aja ya pak, biar pak Handoko yang jadi imam kita lagi " lanjut Zarow.
Ia berkata sejujur-jujurnya pada pak Abdullah jika dirinya memang belum bisa menjadi imam dalam sholat karena saat ini ia pun masih baru belajar kembali.
Zarow berpikir lebih baik ia berkata sejujurnya dari pada ia harus menanggung dosa dengan berpura-pura bisa menjadi imam padahal ia pun belum paham betul dengan bacaan sholat.
Mendengar jawaban Zarow pak Abdullah menganggukkan kepalanya bangga dengan sikap jujur Zarow yang mengatakan belum bisa menjadi imam saat ini.
Ia sebenarnya tahu jika Zarow masih berusaha membiasakan diri untuk berhijrah kejalan yang lebih baik karena saat lamaran datang pada Pelangi, tuan Yonso telah mengungkapkan jika ia berharap jika Zarow akan mendapatkan hidayahnya.
Pak Abdullah kembali lagi menepuk-nepuk bahu Zarow, ia benar-benar bangga pada Zarow, ia tak malu untuk mengakui jika dirinya masih saat ini justru masih membutuhkan bimbingan.
" ya sudah kalo gitu biar kita kasih kesempatan lagi buat pak Handoko jadi imam, tapi nanti kalo sudah nikah sama Pelangi harus siap ya jadi imam " kata pak Abdullah tersenyum.
" insya Allah pak, semoga saya bisa " jawab Zarow.
Pelangi mengeluarkan nafas kasarnya sambil mengelus dadanya lega, ia tersenyum mendengar jawaban ayahnya. Tadinya ia akan mengajak ayahnya untuk sholat berjamaah bersama tetapi saat akan pergi menemui ayahnya ia tak sengaja mendengar perbincangan ayahnya dengan Zarow.
" Ngi ayo wudhu, kita siap-siap sholat berjamaah lagi " kata pak Abdullah pada Pelangi.
Melihat putrinya berdiri tak jauh darinya ia langsung menyuruh Pelangi untuk segera mengambil wudhu & bersiap-siap untuk melaksanakan sholat bersama.
" oh iya yah " hawab Pelangi.
" iya yah, ibu di dalem, ya udah Pelangi ajak ibu wudhu duluan ya " kata Pelangi.
Pelangi pun meninggalkan Ayah serta Zarow menuju arah dalam untuk segera mengambil wudhu seperti perintah ayahnya. Setalah mengajak ibunya untuk berwudhu ia & ibunya segera menyiapkan musholah.
Meskipun kecil rumah Pelangi memang di sediakan satu ruangan khusus untuk musholah keluarga mereka saat sedang ingin sholat berjamaah bersama.
Tak lama setelah siap Ayahnya serta Zarow & pak Handoko segera masuk mengambil tempatnya masing-masing untuk sholat. Kali ini pak Handoko mengambil tempat untuk menjadi imam kembali.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Asyhadu allaa illaaha illallaah
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah
Hayya 'alashshalaah
Hayya 'alalfalaah
Qad qaamatish-shalaah, Qad qaamatish-shalaah
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Laa ilaaha illallaah
(komat pak Abdullah)
" Allahu Akbar " pak Handoko yang menjadi imam pun mulai membaca takbir & mengangkat tangannya.
" Allahu Akbar " sahut Zarow menyusul mengangkat kedua tangannya.
Sholat berjamaah pun segera dilaksanakan dengan khusuknya, setelah beberapa menit empat rakaat sholat dzuhur pun talah selesai dilaksanakan.
Setelah mengucapkan salam & berdoa Pelangi segera berdiri & keluar meninggalkan musholah, ia segera berjalan menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu.
__ADS_1
Saat berbalik Zarow sudah tak menemukan Pelangi di tempatnya, ia hanya melihat bu Melati yang masih melipat mukenah yang tadi ia kenakan saat sedang sholat.
Bu Melati tersenyum kearah Zarow yang saat ini tengah melihat kearahnya, ia tau pasti saat ini Zarow sedang mencari keberadaan putrinya.
" nak Zarow kita makan siang dulu ya, ajak sekalian pak Handoko, tadi ibu sama Pelangi udah masak buat makan siang " kata bu Melati.
" iya bu " jawab Zarow.
Kebetulan ia hari ini memang sengaja tidak masuk bekerja sehingga ia bisa meluangkan banyak waktu dengan keluarga Pelangi. Mengingat sebentar lagi ia akan menikah dengan Pelangi ada baiknya jika ia juga harus membiasakan diri berinteraksi dengan keluarga Pelangi.
" ya udah kalo gitu ibu siapin dulu ya " kata bu Melati.
Bu Melati bangkit dari duduknya menuju dapur, di dapur sudah ada Pelangi menyiapkan piring serta sendok di meja makan. Bu Melati tersenyum pada putrinya yang terlihat begitu sibuk sampai tak melihat kearahnya sedikitpun.
" rajin banget sih anak ibu, begitu selesai doa langsung siapin piring di meja makan " goda bu Melati sambil tersenyum.
Mendengar kata-kata ibunya Pelangi pun menoleh sambil tersenyum, ia sontak menggelengkan kepalanya merasa sedang di goda oleh ibunya.
" ah biasa juga gini bu, jangan bilang kalo ibu mau bilang Pelangi mendadak rajin ya? " kata Pelangi bertanya sambil tersenyum.
" enggak, ibu kan gak bilang gitu, kan itu kamu sendiri loh ya yang ngerasa, malahan ibu gak ada bilang gitu " kata bu Melati terdengar meledek.
" ih beneran ya ibu ngedek aku, kan biasa emang Pelangi gini kali bu " jawab Pelangi dengan nada lembutnya masih dengan senyuman di wajahnya.
Sambil membawa nampan yang berisikan beberapa lauk pauk menuju meja makan bu Melati pun tersenyum mendengar kata-kata putrinya.
Tentu saja Putrinya bukan seperti putri lain yang rajin pada saat ada maunya, Pelangi selalu rajin seperti ini meskipun saat tak ada Zarow, ia hanya berniat menggoda saja kali ini tetapi putrinya justru tersipu malu saat ini.
" jangan senyum-senyum aja ah, sana panggil ayah sama yang lainnya, nanti keburu dingin makanannya " kata bu Melati sambil tersenyum.
" hem, iya bu " kata Pelangi.
Bu Melati menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat kearah Pelangi yang pergi kearah luar untuk memanggil ayah serta yang lainnya.
Ia sangat berharap jika putri semata wayangnya akan selalu hidup bahagia dunia maupun akhirat bersama dengan Zarow kelak.
Diruang tamu ayahnya masih tetap asik mengobrol dengan pak Handoko serta Zarow, entah apa pembahasan ketiga pria tersebut pikir Pelangi.
" yah makan siangnya udah siap yah " kata Pelangi yang saat ini berada disebelah ayahnya.
Pak Abdullah menoleh kearah Pelangi yang saat ini duduk di sebelahnya sambil memegang bahunya sambil tersenyum.
" sudah siap? " tanya pak Abdullah mengulang.
" heem " jawab Pelangi sambil mengangguk.
" ya udah yuk nak Zarow, pak Handoko, kita makan siang dulu " ajak pak Abdullah.
Ayah serta pak Handoko & Zarow pun segera berdiri menuju arah dapur secara berderetan, Zarow kebetulan berjalan paling belakang tepat di belakang pak Handoko.
" mas " kata Pelangi menghentikan langkah Zarow.
Zarow lantas menoleh karena merasa di panggil oleh Pelangi, ia mengehentikan langkahnya sambil tertegun melihat Pelangi penasaran.
" ini " kata Pelangi menyerahkan sebuah buku.
Zarow menerima buku yang tak seberapa besar ukurannya serta tak seberapa tebal isinya yang bergambarkan seseorang yang sedang rukuk, ia menaikan satu alis matanya sambil melihat kearah Pelangi.
" apa ini? " tanya Zarow.
" menurut kamu apa? " kata Pelangi menjawab.
" tuntunan Sholat " kata Zarow membaca judul caver buku tersebut, " tuntunan Sholat " ulang Zarow sambil melihat ke arah Pelangi.
Pelangi hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, saat ia selesai berdoa ia pergi ke kamarnya untuk mengambil buku tersebut untuk ia berikan pada Zarow.
Buku tersebut sedari tadi ia masukan ke saku bajunya agar ia tak lupa menyerahkannya pada Zarow, ia pikir Zarow harus menghapal setiap bacaan-bacaan sholat karena lambat laun ia juga harus menjadi imamnya dalam sholat saat mereka telah menikah nanti.
" buat apa? " tanya Zarow.
" kamu bentar lagi kan jadi imam rumah tangga kita, jadi kamu juga harus bisa jadi imam sholat kita nantinya " jawab Pelangi sambil tersenyum & meninggalkan Zarow.
__ADS_1
Ia pun masih tertegun mendengar kata-kata Pelangi, terdengar sangat romantis rasanya kata-kata tersebut di telinganya, ia pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.