Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda

Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda
Bab 31


__ADS_3

Dalam hati Zarow terus berdoa supaya sang tuhan bisa menggerakkan hati Pelangi & menerimanya, tak henti-hentinya ia memohon agar tuhannya mau membantu dirinya meskipun selama ini ia lupa pada tuhannya.


" tuhan bantu aku, gerakkan hati Pelangi supaya menerima lamaran dariku, tuhan hamba mohon kasih kesempatan untuk hamba agar bisa berubah menjadi lebih baik dengan di dampingi oleh Pelangi " gumam Zarow dalam hati.


Kali ini Zarow menyerahkan semuanya kepada tuhannya, karena menurut penuturan pak Handoko yang ia tahu tuhannya maha pengasih & maha penyayang, jika memang benar itu apa adanya pasti tuhannya akan mengabulkan doanya agar ia juga bisa kembali menuju kebaikan.


Tatapannya tak pernah lepas dari Pelangi, sesekali dilihatnya Pelangi memejamkan matanya sambil tertunduk. Mungkin saat ini gadis satpol yang tepat duduk di hadapannya tersebut juga berusaha meyakinkan dirinya dengan berdoa pada tuhannya.


Jelas saja jantung Zarow semakin dag dig dug melihat ekspresi wajah Pelangi, menantikan jawaban dari Pelangi baginya lebih menegangkan dari menunggu pengumuman kelulusan saat di bangku sekolah dulu.


Zerin terus menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia sangat ingin Pelangi menerima lamaran dari kakaknya karena bagi Zerin hanya Pelangi yang pantas menjadi kakak iparnya.


Pribadi Pelangi yang baik membuat Zerin jatuh cinta pada Pelangi pada pandangan pertama saat Pelangi menolong dirinya dari gangguan preman jalanan, saat itulah ia berpikir jika Pelangi harus berjodoh dengan Zarow.


Kebetulan kedua orangtuanya juga sangat setuju dengan apa yang ia pikirkan bahkan ayahnya justru menyuruh kakaknya untuk menikah dengan Pelangi & tidak disangka ternyata Zarow menyetujui permintaan ayahnya.


Keputusan yang akan mereka dengar ini cukup membuat jantung Zerin berdebar tak karuan, matanya seraya tak berkedip menatap Pelangi dengan penuh harap.


" saya menerima lamaran tersebut om " jawab Pelangi dengan senyumannya.


Setelah menenangkan hati & pikirannya akhirnya Pelangi memberi jawaban dengan mantap, ia yakin allah menghadirkan Zarow di kehidupannya untuk sama-sama belajar tentang agama dengannya.


Sebagai umat muslim Pelangi juga masih harus banyak belajar, banyak hal yang masih perlu ia pelajari agar menjadi seorang muslimah yang istikomah dalam menjalankan semua perintah allah & menjauhi larangannya.


Dengan senyumnya Pelangi ikhlas & yakin menerima Zarow sebagai calon suami & calon imamnya, ia menatap kearah kearah orangtuanya yang nampak tersenyum & mengangguk, lalu menatap kearah yang lainnya secara bergantian masih dengan tersenyum.


Mendengar jawaban Pelangi dengan senyumnya, Zarow merasa lega, harapannya terkabul juga, tak henti-hentinya ia mengucapkan terimakasih kepada tuhan di dalam hati karena merasa senang.


" terimakasih tuhan, terimakasih, engkau telah mengabulkan doa hamba, hamba berjanji akan manjadi pasangan yang lebih baik untuk Pelangi kelak " kata Zarow dalam hati.


" yes, akhirnya " celetuk Zerin bahagia.


Zerin sangat bahagia mendengar jawaban Pelangi, ia terlihat kegirangan & memeluk Zarow yang sedari tadi duduk disebelahnya, hampir saja ia melompat sangking bahagianya.


Tuan Yonso tersenyum bahagia sambil melihat istrinya, mendengar jawaban Pelangi jujur saja ia tak menyangka Pelangi akan menerima lamaran tersebut, padahal sebelumnya tuan Yonso sudah sangat pesimis.


Ia yakin jika istrinya saat ini juga sangat bahagia sama sepertinya, terlihat dari senyum & tatapan istrinya saat ini yang sangat berbinar-binar.


" alhamdulillah " kata pak Handoko yang saat ini duduk diluar.


Pak Handoko tak ikut masuk ke dalam rumah Pelangi karena tak ingin mengganggu acara dua keluarga yang sangat penting bagi tuannya. Pak Handoko ikut senang mendengar jawaban tersebut.


Ia berharap bersama dengan Pelangi tuan mudanya akan menjadi seorang pria yang lebih baik dari sebelumnya, ia berharap keimanannya kepada allah akan semakin lebih mantap lagi dari sekarang.


Pak Abdullah hanya tersenyum & mengucapkan hamdallah sambil mengangguk-anggukan kepalanya, bersyukur karena pada akhirnya putrinya mantap memberikan jawabannya juga.


Pak Abdullah yakin jawaban yang diberikan Pelangi malam ini adalah jawaban yang telah dipikirkan & di renungkan putrinya dengan sebaik-baiknya.


Bu Melati memeluk putrinya bahagia karena dengan mengatakan "iya" itu artinya tak lama lagi putrinya akan segera dipersunting oleh tuan muda Zarow. Orang tua mana yang tak bahagia menyambut pernikahan putrinya.


Zarow sampai saat ini masih tetap diam tak bisa mengatakan apa-apa sangking takjubnya, inilah kekuasaan tuhan yang ia terima saat ini, tuhan begitu baik padanya hingga membuat hati Pelangi tergerak untuk menerima lamarannya.


" terimakasih Pelangi telah menerima pinangan anak kami, saya harap kedepannya nanti kalian akan menjadi keluarga yang selalu bersama sampai akhir hayat, selalu melengkapi satu sama lainnya " tutur tuan Yonso.


" aamiin " kata pak Abdullah beserta istrinya & Pelangi menjawab.


" jadi bagaimana kalau kita tentukan kapan waktu yang tepat untuk pernikahannya " kata tuan Yonso.


Tuan Yonso tak ingin menunggu lama-lama karena tak ingin jika Pelangi nantinya akan berubah pikiran & menolak untuk menikah dengan Zarow putranya.


" saya rasa lebih cepat lebih baik ya pak? " kata tuan Yonso lagi.


Pak Abdullah menoleh kearah istrinya lalu kearah putrinya, memang yang dikatakan tuan Yonso benar karena biasanya setelah seseorang menerima lamaran seseorang harusnya pernikahan harus segera dilaksanakan.

__ADS_1


" bagaimana Pelangi? " tanya pak Abdullah pada putrinya.


Pelangi yang merasa namanya disebut oleh ayahnya menoleh kearah ayahnya, ayahnya menanyakan padanya perihal kelanjutan hubungannya dengan Zarow, tetapi ia berpikir untuk kelanjutan hubungannya ini ia harus serahkan kepada orangtuanya.


" Pelangi ikut gimana ayah sama ibu aja yah, yang pentingkan Pelangi udah kasih jawaban, jadi untuk kelanjutannya Pelangi serahkan ke ayah aja sama ibu " jawab Pelangi.


Pak Abdullah mengangguk-anggukan kepalanya, kini giliran dirinya sebagai orang tua memutuskan untuk mencari tanggal baik untuk pernikahan putrinya dengan Zarow.


" bagaimana pak Abdullah? " tanya tuan Yonso kembali memastikan.


Tuan Yonso melihat kearah Pak Abdullah untuk meminta kepastian agara rencana pernikahan cepat terlaksana, tuan Yonso tak meminta pendapat Zarow kali ini karena ia yakin putranya tersebut akan menerima keputusannya.


" saya pikir saya setuju sama yang pak Yonso omong tadi, soalnya gak baik kalo terlalu lama, lebih cepat lebih baik " Kata pak Abdullah pada tuan Yonso, " gimana bu menurut ibu pendapat ayah? " tanya tuan Yonso pada istrinya.


" iya bener yah " jawab bu Melati singkat.


Setelah menerima khitbah seharusnya memang pernikahan dilakukan secepatnya, apalagi saat ini kedua calon pengantin hanya menurut dengan keputusan orang tua dua belah pihak.


" bagaimana kalo 2 minggu lagi pak?, tadinya saya maunya satu minggu lagi tapi saya pikir waktunya terlalu mepet jadi kalo dua minggu lagi saya yakin semua bisa dipersiapkan dengan baik pak " kata tuan yonso panjang lebar.


" dua minggu lagi? " kata pak Abdullah mengulang kata-kata tuan Yonso.


Pak Abdullah kembali menoleh kearah istrinya lalu kearah Pelangi, putrinya hanya menganggukkan kepalanya kembali tanda setuju sambil tersenyum.


" baik lah pak saya setuju " jawab pak Abdullah.


" syukurlah bapak setuju, jadi ini sebagai tanda jadi Zarow sudah menyiapkan cincin untuk dipasangkan di jari manis Pelangi pak " kata tuan Yonso pada pak Abdullah.


Pak Abdullah menoleh kearah Zarow yang sedari tadi masih diam tak bergeming, sama dengan Pelangi Zarow seperti menyerahkan semua kelanjutan hubungannya dengan Pelangi kepada orangtuanya juga.


" Zarow cincin gak lupa kamu bawa kan? " tanya tuan Yonso.


" enggak pi, ini ada aku bawa " kata Zarow.


Pelangi merasa tak asing dengan cincin yang berada di dalam kotak yang saat ini masih Zarow pegang, cincin yang sangat indah yang pastinya bukan cincin sembarangan.


Zarow mulai berdiri menghampiri Pelangi yang saat ini duduk di hadapannya untuk memasangkan cincin yang saat ini telah ia keluarkan dari kotaknya.


Cincin yang berada ditangan Zarow tersebut adalah cincin berlian yang pernah di tolak oleh Pelangi, ia sengaja menyimpan cincin tersebut & tak menyangka pada akhirnya cincin tersebut juga yang akan ia pasangkan dijari manis Pelangi.


Takdir memang begitu mengejutkan, siapa yang tahu jika yang sebelumnya ia membenci Pelangi pada akhirnya gadis tersebut lah yang akan menjadi pendamping hidupnya, semua ini tak lepas dari takdir tuhan pikirnya.


" maaf bisa minta tangannya sebentar " kata Zarow kepada Pelangi.


" oh iya " kata Pelangi memberikan tangan kirinya.


Pelangi saat ini telah berdiri berhadapan dengan Zarow, tangannya dipegang oleh Zarow untuk dipasangkan sebuah cincin dijari manisnya, setelah cincin terpasang di jari manisnya Zarow segera melepaskan tangannya dari pegangannya.


Setelah memasangkan cincin di jarinya Zarow kemudian kembali ke tempatnya untuk duduk kembali, begitu juga dengan dirinya, entah mengapa cincin yang melingkar di jari manisnya begitu pas bahkan tak kekecilan maupun kebesaran sedikitpun.


Jika dipikir-pikir mereka tak pernah pergi untuk memilih cincin bersama, semua ini bukanlah kebetulan yang sangat biasa, mungkin allah memang benar-benar mengirim Zarow untuk jadi pendampingnya pikir Pelangi.


Beberapa jam kemudian setelah panjang lebar mereka membahas persoalan pernikahan yang akan diselanggarakan dalam waktu dekat akhirnya tuan Yonso & keluarga pamit untuk undur diri.


Keluarga pak Yonso berpamitan untuk pulang karena waktu juga sudah terlalu malam, jam telah menunjukan pukul 10.00malam, tak sopan juga pikir tuan Yonso jika bertamu ke rumah seseorang sampai selarut ini.


Di lihatnya putrinya Zerin juga saat ini terlihat sudah mengantuk, ia juga khawatir dengan pak Handoko yang akan mengemudikan mobil mereka, tak ingin berlama-lama akhirnya tuan Yonso pun berpamitan.


" kalo begitu kami pulang dulu pak Abdullah, saya sangat berterimakasih karena pak Abdullah & keluarga telah menerima kami dengan baik " kata tuan Yonso sambil memeluk pak Abdullah.


" sama-sama pak Yonso, kami juga sangat berterimakasih sekali pak Yonso sudah mau datang jauh-jauh ke gubuk kami " rendah pak Abdullah.


Jika dibanding kan dengan rumah tuan Yonso ia yakin rumahnya tak ada apa-apanya, suatu kehormatan baginya orang terpandang seperti tuan Yonso & keluarganya bisa berkunjung kerumahnya.

__ADS_1


Bahkan kedatangan tuan Yonso malam ini secara khusus untuk mendengar jawaban dari putrinya tentang lamaran yang datang dari keluarga tuan Yonso, sebentar lagi ia & tuan Yonso akan menjadi besan.


Tuan Yonso begitu ramah & sangat merakyat bahkan ia tak segan-segan memeluk dirinya & menjabat tangannya saat berpamitan justru pak Abdullah lah yang sangat segan dengan perlakuan tuan Yonso.


" jangan begitu lah pak Abdullah, kan ada pepatah yang mengatakan rumahku adalah istana ku, jadi bapak gak boleh berkata seperti itu, kami gak pernah mempermasalahkan bagaimana & seperti apa kondisi rumah bapak, tapi menurut saya rumah bapak sangat nyaman kok " kata tuan Yonso.


" hahahah, iya pak Yonso terimakasih pak " kata Pak Abdullah.


" ok kalo begitu pak kami pamit dulu, selamat malam " kata tuan Yonso berpamitan.


Giliran Zarow saat ini yang berpamitan kepada kedua calon mertuanya serta Pelangi setelah kedua orangtuanya serta adiknya pergi kearah luar menuju dimana mobil mereka terparkir.


" pak, bu saya juga mau pamit dulu " kata Zarow.


" oh iya nak Zarow " kata pak Abdullah.


Ia menyalami keduanya & melihat kearah Pelangi, ia berpikir apakah ia juga harus menjabat tangan Pelangi, ia agak ragu-ragu saat menyodorkan tangannya kearah Pelangi.


Akhirnya ia pun memutuskan untuk mengulurkan tangannya juga pada Pelangi untuk berpamitan, tak disangka Pelangi menjabat tangannya lalu mencium punggung tangannya.


Seketika jantungnya berhenti berdetak, waktu serasa berhenti berputar untuk sepersekian detik baginya, hingga akhirnya jantungnya kembali berdetak dengan hebatnya.


" tuhan perasaan apa ini, mengapa hamba merasakan bahagia tiada tara saat Pelangi mencium tangan hamba, tuhan biarlah dia tetap terus di samping hamba, hamba mohon tuhan " gumam Zarow dalam hati.


Zarow tertegun seperti mematung tak sedikitpun berkedip dari pandangannya yang masih terfokus pada Pelangi yang saat ini berada dihadapannya. Tiba-tiba tangannya di goyang oleh pak Abdullah & membuatnya menjadi tersadar.


" nak Zarow, nak " kata Pak Abdullah.


" oh iya pak, maaf " kata Zarow sambil tersenyum & menggaruk-garuk kepalanya.


" itu papi sama maminya udah nungguin di mobil " kata pak Abdulah.


Zarow kemudian menoleh kearah dimana mobilnya berada, kedua orangtuanya serta adiknya Zerin memang talah berada di dalam mobil untuk menunggunya.


" ya tuhan, ya udah pak, bu, saya pulang dulu, assalamuallaikum " kata Zarow berpamitan.


" waallaikumsalam " jawab mereka semua.


Zarow lalu berjalan kearah mobil juga lalu segera masuk kedalam mobil tersebut, perasaanya saat ini cukup lega tak seperti saat berangkat ke rumah Pelangi beberapa jam yang lalu.


Pelangi saat ini berada di teras rumah bersama kedua orangtuanya untuk melihat kepergian Zarow & keluarganya, mobil mulai berjalan keluar dari pekarangan rumahnya menjauh menuju jalanan.


Setelah mobil tersebut tak terlihat lagi ayah serta ibunya mengajaknya untuk masuk kedalam rumah, tak lupa ia menutup pintu rumahnya & membantu ibunya membawa gelas-gelas kotor kearah dapur.


" Pelangi " kata bu Melati.


" hmmm, iya bu " kata Pelangi melihat kearah ibunya.


" itu cucian piringnya besok pagi aja dicucinya, sekarang tidur aja soalnya udah malem banget, besok kamu harus kerja kan? " kata bu Melati.


Besok pagi ia memang masih harus bekerja kembali seperti biasa karena kebetulan besok masih baru hari jumat & kebetulan saat ini matanya juga sudah terasa mengantuk.


" iya bu " kata Pelangi.


" ya udah ayo tidur, ibu juga udah ngantuk " kata bu Melati.


Pelangi hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya tanpa berkata apa-apa lagi, ia & ibunya lalu pergi ke kamarnya masing-masing. Di dalam kamar Pelangi lalu mengganti pakaiannya dengan baju tidurnya, setelah itu direbahkan nya tubuhnya di atas tempat tidurnya.


Di tatapnya langit-langit kamarnya saat ini, entah mengapa rasa kantuknya tiba-tiba saja menghilang padahal tadinya ia sudah sangat mengantuk, ia bangkit & duduk di atas tempat tidurnya sambil terus melihat kearah jarinya.


Dalam waktu hitungan jari ia akan menjadi istri dari seorang Zarow, pria yang awalnya ia anggap sebagai seorang pria kaya sombong yang tak disangka-sangka akan menjadi suaminya.


" ya allah buka lah pintu hidayah untuk dia yang kini mulai ku sebut dalam doa-doaku " kata Pelangi sendiri.

__ADS_1


__ADS_2