
Pelangi yang berada didalam pelukkan Zarow hanya diam tanpa perlawanan, terdengar jelas sekali detak jantung suaminya di telinganya, iramanya tak begitu beraturan semakin lama suara detak jantung tersebut semakin kencang.
Jantung Pelangi ikut berdeta kencang seolah saling bersautan dengan detak jantung Zarow, sesekali matanya melihat kearah atas memperhatikan wajah suaminya yang tersenyum sambil memejamkan kedua matanya.
Sekilas senyumnya ikut mengembang begitu melihat senyum Zarow, ada sebuah gambaran kebahagiaan terlukis disana, sangat tulus & begitu hangat.
Dirinya mulai yakin jika Zarow adalah pria yang tepat untuknya karena Allah tak pernah salah menentukan jodoh seseorang pikirnya berprasangka baik.
Jodoh termasuk hal yang telah dituliskan di Lauhul Mahfuzh, karena jodoh telah ditetapkan oleh Allah, maka kita seharusnya percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik.
Dalam Islam, jodoh adalah cerminan diri kita. Allah berfirman, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)” (QS.An Nur: 26).
Selayaknya cermin, seorang pasangan juga akan menjadi orang yang mengingatkan agar kita tetap berada dalam jalan yang Allah ridai.
Karena dalam Islam, menikah bukan sekedar menghalalkan cinta dua insan, melainkan sebagai jalan agar keduanya meraih rida dan cinta Allah.
Ketenteraman adalah hal yang akan diperoleh dari ibadah menikah, dalam pernikahan, seseorang bisa tenang, mengharap pahala, dan keturunan yang sholeh dan sholehah, ketentraman dari seorang jodoh diperlukan agar ibadah tetap terasa menyenangkan.
Kebahagiaan yang ia rasakan tak bisa diucapkan dengan sebuah kata-kata, sungguh Zarow benar-benar bahagia, sekarang ia tak perlu resah memikirkan Pelangi saat jauh, bahkan jika ia mau ia bisa bersama Pelangi setiap waktu karena kini mereka tak akan pernah terpisahkan lagi.
Tapi ia tak lupa jika rasa cintanya pada Pelangi tak boleh melebihi rasa cintanya pada sang pencipta, tetapi sebagai seorang suami mencintai istrinya adalah suatu kewajiban, Zarow membuka kedua matanya & memandang kearah wajah istrinya.
Ia mengelus kepala Pelangi dengan lembutnya sambil membenarkan jilbab yang dikenakan Pelangi, tak menyangka ia yang pernah menjadi laki-laki tak baik mendapatkan bidadari yang pastinya akan membawa dirinya melangkah kakinya menuju syurga.
Bersama dengan Pelangi ia merasa damai & tenang, ia mendapatkan sebuah ketenangan yang luar biasa saat bersama Pelangi, ia ingin menjadi seperti bocah yang selalu bermanja-manja saat bersama istrinya seperti yang dikatakan Umar bin Khattab.
Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Jadilah engkau bocah di depan istrimu, tetapi berubahlah menjadi lelaki perkasa ketika keadaan memanggilmu.”
Tak sedikitpun senyumnya terhapus dari wajahnya, ingin sekali Zarow mencium kening istrinya, tetapi ia tak ingin Pelangi salah paham, ia dulu memang seorang perayu & kini berbeda ia benar-benar telah pensiun menjadi seorang pria breng*ek.
Meskipun dulu ia sangat gampang menyentuh wanita kini rasanya berbeda, ia merasa sulit melakukannya karena ia tak bisa memperlakukan Pelangi seperti wanita-wanita yang dulu pernh berada disekelilingnya.
Pelangi adalah Gadis Satpol kesayangan tuan muda, Zarow sangat menyayangi Pelangi & tak akan melakukan suatu hal yang akan melukai hati & peresaan Pelangi, bahkan menyentuh Pelangi sembarangan meskipun mereka telah sah menjadi suami istri.
" istriku "
Pelangi tercengang mendengar Zarow memanggil dirinya dengan sebutan istriku, ia bahkan jadi tersipu malu sampai-sampai harus menutup mulutnya dengan kedua tangannya untuk menahan tawanya.
Ia yakin pasti saat ini wajahnya memerah bak tomat matang, Pelangi menjadi salah tingkah dibuat Zarow, sungguh suaminya kini adalah sosok yang sangat berbeda dari yang sebelumnya ia kenal.
Seorang pria yang memiliki karakter dingin sedingin kutub utara kini sikap mulai menghangat, meskipun terkadang sikap pengaturannya masih belum bisa dihilangkan.
Mendapati sikap manis Zarow yang seperti ini hati Pelangi bak ikut meleleh, benar-benar jauh dari apa yang ia bayangkan seorang tuan muda Zarow ternyata bisa juga sweet, mmebuat Pelangi tak henti-hentinya tersenyum.
" hem " dehem Zarow.
Zarow berdehem untuk mendapatkan perhatian Pelangi kembali, mungkin yang ia katakan barusan terdengar aneh ditelinga Pelangi sehingga istrinya tersebut nampak nyaris tertawa sampai menutup bibirnya. Meskipun ini sangat aneh tetapi ia suka memanggil Pelangi dengan sebutan istri.
" Istriku " sekali lagi Zarow memanggil dengan sebutan yang sama
" iya mas "
Dengan sebutan yang sama Zarow sekali lagi memanggilnya, ia pun segera menyahut merasa jika Zarow ingin mengatakan sesuatu padanya. Pelangi agak serius memandang kearah Zarow, ia tak lagi sedang tersenyum & terus menatap kearah wajah Zarow.
__ADS_1
Zarow melihat kearah jam ditangannya lalu menatap kearah Pelangi kembali yang masih setia melihat kearahnya, sudah waktunya mereka pergi untuk bersiap menunaikan ibadah sholat dzuhur pikirnya.
" sebentar lagi kita sholat dzuhur, yuk kita kebawah dulu "
" Aku pikir mau ngomong apa mas, aku udah serius aja " kata Pelangi, " jadi kita mau sholat dimana mas? " lanjutnya bertanya.
" kamu maunya sholat dimana? "
Sambil menaikan alisnya Pelangi sedikit berpikir dimana mereka akan menunaikan ibadah sholatnya siang ini bersama Zarow, senyumnya seketika mengembang, topik pembicaraan mereka tak jauh tentang ibadah.
" subhanallah, terimakasih ya Allah telah memberikan hamba suami yang saat ini masih terus membawa hamba dalam jalan kebaikanmu " gumamnya dalam hati sambil terus tersenyum.
Melihat Pelangi terus tersenyum sambil memandang kearahnya membuat Zarow seketika ikut tertegun tenggelam dalam senyuman manis Pelangi.
Tak tahan terus memandang indah Pelangi akhirnya Zarow memajukan wajahnya & mencium kening Pelangi tanda sayangnya pada istrinya yang tak bisa ia ungkapkan.
Mendapati ciuman yang mendarat dikeningnya Pelangi nampak agak terkejut, matanya melotot nyaris keluar, jantungnya berdebar-debar tak bisa berkata-kata.
" lain kali jangan senyum-senyum sambil liat aku, aku gak janji bisa tahan diri kalau kamu kaya gitu ngeliatin aku "
" dih, apaan sih mas, masa aku gak boleh senyum, lagian senyum itu ibadah, emang kamu memang mau apa aku liatin kamu sambil cemberut? " jawab Pelangi
Pelangi menggelengkan kepalanya mendengar kata-kata Zarow, terdengar seperti nada ancaman ciri khas Zarow saat keinginannya tak dituruti.
Sekali lagi Zarow memajukan wajahnya mendekat ke arah wajah Pelangi & mendaratkan bibirnya kepipi kanan Pelangi dengan cepat.
Pelangi reflek memegang pipi kanannya speechless tak menyangka, baru saja Zarow mendaratkan sebuah ciuman dipipi kanan Pelangi yang membuat jantungnya kembali berdebar-debar.
Melihat Pelangi hanya terdiam tanpa berkata sepatah kata pun Zarow merasa jika ia melukai hati Pelangi karena tiba-tiba kembali mendaratkan bibirnya dipipi Pelangi.
Mendengar Zarow meminta maaf Pelangi justru tersenyum, batinnya sangat bahagia Zarow banyak berubah, ia jauh lebih baik dari sebelumnya, yang ia tau Zarow sebelumnya adalah pria angkuh yang tak mengenal kata maaf tapi kini justru kata maaf bisa keluar dari bibirnya.
Kedua tangan Pelangi meraih satu tangan Zarow, ia menggenggam lembut tangan Zarow, sambil tersenyum ia menatap Zarow, ia bangga pada suaminya, berani meminta maaf meskipun tak sedang melakukan kesalahan seperti yang biasa Pelangi lakukan.
Inilah jodoh pikirnya, wajar jika jodoh dikatakan cerminan diri karena secara perlahan kini Zarow menunjukan jika Zarow memiliki sifat yang sama dengan dirinya sambil terus tersenyum.
" mas, gak perlu minta maaf, mas kan suami aku, yang seharusnya minta maaf itu aku mas karena belum bisa menjalankan kewajiban aku sepenuhnya sebagai istri kamu "
Entah mengapa Zarow tak suka mendengar Pelangi mengatakan kata maaf, Pelangi memang belum sepenuhnya menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri tetapi bagi Zarow ia cukup mengerti dengan ketidak siapan Pelangi saat ini, bahkan hal itu bukanlah suatu masalah bagi Zarow.
Zarow ikut membalas genggaman tangan Pelangi, digenggenggam erat tangan Pelangi dengan lembutnya, melihat senyum Pelangi sama seperti mendapatkan kesejukan angin syurga bagi Zarow.
Ia merasakan kasih sayang Pelangi dari belaian lembut tangannya yang menggenggam erat tangannya, tak menyangka satu-satunya gadis yang selalu menolak apapun perintahnya inilah yang mampu membuatnya tergila-gila.
" jangan minta maaf, kamu gak salah, aku gak pernah menuntut apa-apa dari kamu & aku gak akan pernah memaksakan apa-apa kemauanku ke kamu, tetap jadi istri yang baik, sama-sama kita jalani rumah tangga kita baik-baik, aku cuman minta satu hal dari kamu cukup kamu disamping aku & jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, dampingi aku karena aku sangat membutuhkan kamu, aku bukan apa-apa tanpa kamu "
Untuk pertama kalianya ia berkata panjang lebar & benar-benar dari lubuk hatinya yang paling terdalam, ia sangat berharap jika Pelangi akan terus bersedia mendampingi dirinya sampai nanti sampai maut memisahkan mereka.
Pelangi hanya menjawab dengan anggukannya, bagi Pelangi itu sudah menjadi kewajibannya untuk mendampingi Zarow & terus berada disisi Zarow untuk mendukungnya dalam keadaan baik maupun tidak baik.
" jangan pernah berpikir buat bisa pergi dari aku, kamu pasti tau apa yang bakal aku lakuin kalau kamu punya niat buat ninggalin aku "
Nadanya kini agak sedikit mengancam matanya seketika berubah menjadi lebih serius, ia adalah orang yang cukup berpengaruh di kota ini, jika ada seorang pria yang berani mendekati Pelangi maka akan berurusan dengannya, ia tak pernah main-main saat berkata.
__ADS_1
" Astaghfirullah mas, baru aja ngomong baik-baik ujung-ujungnya ngancem, lagian siapa yang mau ninggalin kamu sih mas, kita baru nikah sah kemaren udah mikir aja aku bakal ninggalin kamu " kata Pelangi sambil menggelengkan kepalanya.
" aku bukan mengancam, aku cuman kasih tau aja " kata Zarow sambil memegang kedua pipi Pelangi, " ya udah yo bentar lagi udah mau sholat " lanjutnya lagi sambil berdiri menggandeng tangan Pelangi yang masih duduk.
Pelangi segera berdiri sambil membalas genggaman tangan Zarow sebagai tumpuan Pelangi saat akan berdiri, ia tersenyum setelah berdiri sejajar disamping Zarow.
" mas "
Saat akan melangkahkan kaki kearah luar ruangannya tiba-tiba Pelangi menghentikan langkahnya sambil memegang lengan Zarow dengan tangan satunya.
" kenapa? "
Zarow menoleh kearah istrinya yang telah menahan langkah mereka, padahal tiga puluh menit lagi waktunya ibadah sholat dzuhur.
" mas kayanya kita gak perlu gandengan kaya gini deh, aku gak enak diliatin sama karyawan kamu "
Mengingat kejadian pagi tadi ia masi belum siap melewati para karyawan dikantor Zarow lagi siang ini, pagi tadi puas menjadi pusat perhatian ia tak ingin mengulangi lagi.
Zarow terdiam mencerna kata-kata Pelangi, ia mengerti tentang ketidak siapan status yang ia sandang saat ini sabagai istri seorang Zarow tetapi cepat atau lambat semua pasti akan tahu.
Meskipun pesta pernikahan mereka harus terpaksa diundur karena adanya perpanjangan PPKM level 4 tetapi ia tak mau menyembunyikan pernikahannya dengan Pelangi.
Ia ingin semua orang tahu jika saat ini telah menyandang status tak single lagi & ia memperkenalkan Pelangi sebagai istrinya kepada semua orang tanpa terkecuali.
" ok gak gandengan "
Zarow melepaskan tangan Pelangi dari genggaman tangannya & mengarahkan kelengan Zarow & mengisyaratkan agar tangan Pelangi harus berada disana.
" kalau gak mau digandeng ya udah gini aja, jangan berani-berani buat lepasin tangan kamu dari sini "
Bukannya melepaskan tangannya justru Zarow sengaja menyuruh tangannya melingkar dilengan Zarow dengan eratnya.
" hem " jawab Pelangi mencoba menurut.
Mereka berdua lantas berjalan melangkah keluar dari ruang kerja Zarow, wajah Zarow masih sama seperti biasa serius & terlihat berwibawa.
Beberapa karyawan memberi salam hormat pada dirinya seperti biasa saat sedang berpapasan, semua masih sama tak ada yang berubah disini.
Mungkin Pelangi belum terbiasa dengan hal ini terlihat jelas gambaran diwajah Pelangi saat ini yang nampak agak tertunduk.
Zarow menyentuh tangan Pelangi yang masih setia berada dilengannya, ia mengelus lembut tangan Pelangi untuk membuat Pelangi mengangkat wajahnya agar lebih percaya diri.
Zarow benar-benar paham bagaimana geroginya dirinya saat melewati para karyawan saat ini, rasanya masih sama seperti pagi tadi.
Tangannya dingin bak sedingin es batu, peluh keringatnya seolah hampir menetes dari pelipisnya, jika boleh memilih lebih baik ia dihadapkan dengan masyarakat saat pengamanan dari pada menghadapi karyawan-karyawan Zarow saat ini.
" tenang aja, ada aku gak usah panik, rileks "
Zarow berusaha meyakinkan Pelangi untuk bersikap biasa saja karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan disini karena disini Zarow lah bosnya.
Ia merasa tenang & mulai tak gugup lagi setelah Zarow menenangkannya, ia menegakan pandangannya sambil tersenyum, sesekali ia melihat kearah Zarow sambil mengeratkan tangannya dilengan Zarow.
Ia merasa aman bersama suaminya karena ia yakin Zarow mampu menjadi pelindungnya, Zarow mampu menjaganya dari gangguan apa pun itu.
__ADS_1
Dengan wajah penuh percaya diri Pelangi terus menatap kedepan saat melangkahkan kaki bersama Zarow, sesekali ia menoleh kearah Zarow sambil tersenyum.
Begitu pula Zarow yang sesekali menoleh kearahnya dengan senyumnya, saat berhadapan dengan para karyawannya Zarow terlihat nampak serius, garang & berwibawa.