
Di rumah pak Abdullah jam 05.30 sore
Zerin duduk di ruang tamu menunggu kakaknya serta Pelangi yang sudah sedari tadi pergi untuk menebuskan obat pak Abdullah, sudah hampir satu jam mereka berdua belum juga kembali.
" di minum minumannya nak Zerin " bu Melati yang baru saja keluar & ikut duduk di ruang tamu menemani Zerin.
Baru saja ia selesai membereskan segala sesuatu keperluan suaminya di kamar mereka, seperti air putih & lainnya, setelah itu ia meninggalkan suaminya di kamar untuk menemani Zerin di ruang tamu.
" iya bu " jawab Zerin.
Dilepasnya masker yang menempel di wajahnya & diletakan di atas meja, ia lalu mengambil gelas yang berisikan teh hangat yang di buat oleh bu Melati sambil tersenyum.
Setelah menyeruput teh hangat buatan bu Melati ia meletakan gelas teh itu kembali keatas meja, di lihatnya bu Melati tersenyum kearahnya ramah seperti ramahnya Pelangi padanya.
" bu ngomong-ngomong kak Pelangi berapa saudara ya? " tanya Zerin.
Sedari tadi saat berada di ruang tamu ia memperhatikan sekelilingnya, yang hanya memperlihatkan foto Pelangi bersama kedua orangtuanya saja & tak ada anggota keluarga lainnya.
" Pelangi gak punya saudara nak, dia cuma satu-satunya anak ibu " jawab bu Melati.
Pelangi merupakan anak semata wayang bu Melati & pak Abdullah, seharusnya mereka memiliki anak seumuran Zerin saat ini, tetapi saat hamil anak kedua ia mengalami keguguran & tak pernah kunjung hamil lagi.
Ia hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, wajar saja pikirnya beberapa foto-foto yang tertempel di dinding hanya memperlihatkan Pelangi & kedua orangtuanya, ia masih terus memperhatikan foto-foti yang tertempel di dinding.
" bu kalo boleh tau kak Pelangi umurnya berapa sih sekarang? " tanyanya lagi.
" dua puluh tahun nak Zerin tapi mau 21 tahun sih, gak lama lagi " jawab bu Melati.
Sekali lagi ia mengangguk-anggukan kepalanya, Pelangi tak terlalu muda jika di sandingkan dengan kakaknya pikirnya karena usia mereka hanya terpaut lima tahun pikir Zerin lagi sambil tersenyum.
" kenapa nak Zerin? " tanya bu Melati.
" gak papa bu, emmm bu kalo seumpamanya kakak saya jodoh sama kak Pelangi, ibu setuju gak? " tanya Zerin jujur.
Mendengar pertanyaan Zerin bu Melati tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih, bagi bu Melati siapapun jodoh putrinya asalkan putrinya tersebut bahagia ia pasti ikut bahagia, tak perlu persetujuan darinya jika putrinya mau ia juga pasti akan setuju karena baginya kuncinya hanya ada pada diri putrinya sendiri.
" ibu setuju kalo Pelangi mau nak, karena bagi ibu kebahagiaan Pelangi kebahagiaan ibu juga " Jawab bu Melati tersenyum.
Ia tersenyum mendengar jawaban bu Melati, Zerin berharap jika Pelangi akan menerima pinangan dari kakaknya Zarow, ia sangat berharap jika Pelangi akan menjadi kakak iparnya.
" Assalamuallaikum "
" Waallaikumsalam " jawab bu Melati tersenyum.
Pelangi melangkah masuk kedalam rumah setelah memberi salam, begitu juga dengan Zarow yang saat ini telah berjalan di belakangnya.
" ayah di kamar bu? " tanya Pelangi.
" iya ayah mu di kamar " jawab bu Melati.
" ini obat ayah bu, ada yang harus di minum sekarang nih " ia menyerahkan obat tersebut kepada ibunya.
Bu Melati menerima obat dari Pelangi & melihat obat-obat untuk suaminya tersebut, obat yang harus di minum & habiskan suaminya ternyata lumayan banyak pikirnya, ia berharap setelah obat tersebut habis suaminya akan segera sehat & pulih kembali.
" Pelangi bikin kan nak Zarow minum dulu ya, ibu mau kasih obat dulu ke ayah biar cepet di minum " kata ibu pada Pelangi sambil berdiri, " nak Zarow sama nak Zerin ibu tinggal kedalam dulu ya " pamit bu Melati sambil tersenyum.
" oh iya bu " jawab Zarow tersenyum.
Begitupun dengan Zerin yang tersenyum sambil mengangguk kepada bu Melati yang baru saja pamit untuk memberikan obat kepada pak Abdullah.
__ADS_1
Pelangi hanya diam memperhatikan Zarow yang bisa tersenyum kepada ibunya dengan ramah, ia menggelengkan kepalanya mengingat betapa berisiknya tadi pria yang tersenyum ramah dengan ibunya saat ini.
" masya allah, pada hal kalo diliat senyum gitu lebih bagus, lebih cakep, inget tadi sama gue kok gak ada manis-manisnya ya, keliatan galak amat, bawel banget, astghfirullah dosa lagi nih nggerutu gara-gara dia, ya allah maafin hamba " kata Pelangi dalam hati sambil mengelus dadanya.
Setelah kepergian bu Melati, Zarow menatap kearah Pelangi yang menunduk sambil mengelus dadanya berkali-kali seolah-olah memikirkan sesuatu, matanya sedikit memicing kearah Pelangi.
" ngapain lo ngelus-ngelus dada gitu? " tanya Zarow penasaran.
Ia kaget mendengar Zarow berkata sambil melihat kearahnya tajam, ditatap dengan tajam ia hanya tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya.
" yang lembut kenapa sih kak kalo ngomong sama cewek " Zerin akhirnya membuka suara melihat kakaknya berbicara pada Pelangi.
Sebenarnya Zerin cukup takjub melihat dengan mata kepalanya sendiri kakaknya memperhatikan Pelangi yang sedari tadi hanya berdiri sambil mengelus-ngelus dadanya sambil menggelengkan kepalanya, setidaknya kakaknya memiliki sedikit perhatian pada Pelangi pikirnya sambil tersenyum tipis.
" diem kamu anak kecil " kata Zarow sambil melihat kearah Zerin juga.
Mendengar kata-kata kakaknya ia hanya tertunduk sambil tersenyum, kakaknya tersebut memang terkesan keras tetapi sebenarnya kakaknya tak benar-benar keras, bahkan sebenarnya masih ada sisi lembut yang dimiliki kakaknya.
" jangan kasar-kasar gitu mas sama Zerin, gak baik tar dia niru loh " kata Pelangi membela Zerin.
Zarow hanya terdiam sambil melihat kearah Pelangi yang baru saja membela Zerin, ia tak berkata apa-apa karena agak terkejut, hanya Pelangi satu-satunya wanita yang sepertinya tak punya rasa takut & rasa kagum kepada dirinya sedikitpun.
Teringat beberapa saat lalu saat ia mengirim barang-barang mahal untuk Pelangi, wanita tersebut tak menerima salah satu dari barang tersebut bahkan malah menyuruh sekertaris nya untuk mengembalikan barang tersebut kepadanya lagi.
Zarow menggelengkan kepalanya sambil menutup matanya & memegang wajahnya mengingat hal tersebut, karena baru kali ini ada gadis yang tak tertarik dengan pesonanya serta harta yang ia miliki.
Seolah tak percaya Zerin sampai hampir membuka mulutnya karena Pelangi berani membela dirinya di depan kakaknya, ia lalu melihat kearah kakaknya yang hanya diam tak bergeming tak membalas kata-kata Pelangi.
Zerin tersenyum akhirnya ada seorang wanita yang mampu membuat kakaknya membungkam mulut Zarow, bahkan Zarow tak bisa mengatakan sepatah katapun lagi.
Pelangi menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap kasar Zarow terhadap Zerin, meskipun ia tau pria di hadapannya adalah pria kaku seperti paku tetapi tak seharusnya ia berkata kasar kepada adiknya sendiri.
" astaghfirullah, maaf mas aku lupa, tunggu ya aku buatin minum dulu " reflek ia menepuk jidatnya karena lupa.
Pelangi lalu segera berjalan kearah dalam menuju dapur untuk membuatkan teh Zarow, sebelum membuatkan teh ia mengganti pakaiannya terlebih dahulu & mencuci bersih tangan serta kakinya seperti kebiasaannya.
Masker yang ia kenakan juga telah ia buka, meskipun ia telah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai tetapi pakaian yang ia kenakan masih tetap tertutup dengan jilbab yang masih tetap menutup kepalanya.
Tak lama ia pun berjalan kearah luar dengan membawa nampan yang berisikan teh hangat buatannya untuk Zarow, setelah berada di ruang tamu ia meletakan tepat di hadapan Zarow teh buatannya.
Melihat Pelangi telah berganti pakaian dengan pakaian santainya & tak lagi memakai seragam Satpol nya, Zarow merasa terperangah, ternyata Pelangi cukup konsisten menutup kepalanya meskipun sedang berada di rumah seperti saat ini.
" silahkan di minum mas " Sambil tersenyum ia mempersilahkan Zarow untuk meminum teh buatannya.
" iya makasih, panas gak ini? " tanya Zarow.
Zerin lagi-lagi hanya bengong mendengar kakaknya mengatakan ucapan terimakasih kepada Pelangi, bahkan kakaknya tak pernah mengatakan kata tersebut kepadanya, ia mengedip-ngedipkan matanya sambil menggosok-gosok matanya seolah tak percaya jika pria disebelahnya tersebut adalah kakaknya.
" insyaallah enggak mas " jawab Pelangi masih dengan senyumnya.
Ia mengangkat cangkir teh yang berada di hadapannya untuk diminumnya, setelah menyeruput teh tersebut ia lalu meletakan teh itu kembali, sebenarnya Zarow bukan tipe pria yang suka minum teh seperti saat ini, ia lebih suka meminum kopi pahit ketimbang teh manis.
Tetapi saat meminum teh buatan Pelangi ia berpikir bahwa teh buatan Pelangi cukup nikmat juga untuk di nikmati karena sangat pas di tenggorokan & di lidahnya, tak seberapa manis & cukup hangat tidak terlalu panas.
" oh my god, rekor " Zerin membuka suara melihat Zarow meminum teh buatan Pelangi.
Hal lain yang membuatnya terperangah kembali yaitu karena baru kali ini Zarow meminum teh buatan seseorang selain ibunya, biasanya Zarow tak akan mau meminum teh jika bukan buatan ibu mereka karena selera kakaknya tersebut terhadap teh cukup buruk.
Mendengar Zerin mengatakan sesuatu Pelangi reflek menoleh kearah Zerin yang saat ini seolah-olah terkagum-kagum, entah apa yang membuat dirinya berekspresi seperti itu.
__ADS_1
" kenapa dek? " tanya Pelangi.
Merasa dirinya ditanya oleh Pelangi ia kemudian tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya, mata kakaknya saat ini telah tajam melihat kearahnya seolah mengancam untuk tak mengatakan hal-hal yang membuat imagenya menjadi buruk.
Zerin hanya menutup mulutnya sambil terkekeh pelan melihat ekspresi wajah kakaknya saat ini, di lihatnya kakaknya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya entah apa yang sedang di pikirkan Zarow saat ini.
Pelangi heran melihat Zerin yang terkekeh pelan sambil melihat kearah Zarow, seolah Zarow mengatakan sesuatu pada Zerin & herannya Zerin seolah mengerti apa yang di katakan Zarow lewat tatapan matanya.
" gak papa kak, aku tadi cuman itu agak kaget aja pas liat foto kakak yang di dinding, itu kakak penyerahan selendang kan?, kakak juara duta wisata ya ternyata? " Zerin berkilah
Sedari tadi sebenarnya ia memang sangat kagum melihat foto Pelangi yang telah menempel di dinding, ia tak menyangka ternyata Pelangi adalah pemenang putri duta wisata daerah.
" alhamdulillah dek, berkat doa & dukungan banyak orang kakak bisa menang " jawab Pelangi.
Ia mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Pelangi yah terkesan merendah, sebagai seorang duta wisata tentunya kegiatan Pelangi diluar sangat padat pikir Zarow.
" kegiatan lo di duwis apa aja selama ini? " tanya Zarow ingin tahu.
" banyak sih, yang jelas salah satunya memperkenalkan objek wisata daerah keberbagai wilayah, tapi semenjak ada Covid 19 kegiatan kami untuk memperkenalkan daerah supaya lebih dikenal lagi sama masyarakat luas lainnya sementara mandek dulu " jawabnya panjang lebar.
Selama beberapa bulan ini kegiatannya sebagai duta wisata daerah memang sudah tak berlangsung lagi, apalagi mengingat semakin meningkatnya kasus covid di Indonesia.
" kak Pelangi keren deh, pengen deh kakak jadi kakak Zerin beneran, kakak jadi kakak aku dong " kata Zerinh
Ia sengaja mengatakan hal tersebut agar Pelangi mengingat bahwa orangtuanya beberapa saat lalu telah melamarnya & saat ini mereka semua sedang menunggu jawaban dari Pelangi, tentu saja Zerin serta orangtuanya sangat berharap jika Pelangi menerima lamaran tersebut.
Speechless mendengar kata-kata Zerin ia bisa menatap kearah Zerin tak berkedip seolah-olah dirinya bagaikan sebuah patung, ia lalu menatap kearah Zarow yang saat ini juga menatap kearahnya.
Tiba-tiba ia juga jadi mengingat tentang pinangan yang datang dari Zarow yang harus ia jawab dalam waktu dekat ini, sebenarnya belum 100% ia yakin untuk menerima pinangan tersebut, baginya waktu seminggu untuk berpikir benar-benar tidak cukup, ia mencoba tersenyum kearah Zerin untuk mencairkan suasana.
Zarow yakin jika adiknya sengaja mengatakan hal tersebut untuk mengingatkan kembali Pelangi bahwa keluarga mereka sedang menunggu & menantikan jawaban darinya, mengingat saat ini pak Abdullah sudah berada di rumah seharusnya Pelangi juga sudah harus menyiapkan jawaban yang tepat untuk mereka.
" sayangnya aku cuman punya kakak satu doang, satu doang tapi luar biasa pokonya " kata Zerin lagi mencoba mencairkan kecanggungan Pelangi.
" Zerin " kata Zarow memanggil nama adiknya sambil melihat kearah kakaknya.
" tuh kan luar biasa banget " katanya lagi sambil terkekeh kecil.
Pelangi ikut tertawa sambil menggelengkan kepalanya mendengar kelucuan Zerin saat ini, Pelangi sedikit berpikir mengapa perilaku Zerin yang cukup asik sangat berbeda dengan sikap Zarow yang kaku meskipun mereka berdua kakak beradik.
" masya allah lucu banget sih kamu dek, kamu tuh harus bersyukur punya saudara, gak kaya kakak yang cuman sendiri " terang Pelangi.
Sebagai anak tunggal terkadang ia merasa sepi karena tak punya seorang saudara pun untuk diajak bercanda maupun berbagi cerita, ia selalu mendambakan memiliki seorang saudara yang bisa diajak berbagi keluh & kesah.
Nasib berkata lain, ia hanya ditakdirkan menjadi anak tunggal & hanya sendiri, beruntung ia memiliki seorang ibu yang cukup gaul & cukup asik untuk diajak bercerita, itulah mengapa ia cukup dekat dengan kedua orangatuanya
" coba aja kakak juga punya adek kaya kamu, pasti kakak seneng deh " kata Pelangi lagi sambil tersenyum.
" ya udah anggap aja aku kayak adek sendiri kak, aku mau kok jadi adek kakak, tar kak Zarow aku giveaway aja, hahahaha " canda Zerin sambil tertawa.
" kok kakaknya di giveaway, hahahaah " tawa Pelangi.
Mendengar kata-kata giveaway yag dilontarkan Zerin, Pelangi sontak ikut tertawa bersama dengan Zerin sedangkan Zarow hanya bersedakep memperhatikan Pelangi & Zerin yang tertawa menertawakannya.
" hem " dehem Zarow
Zerin menengok kearah Pelangi yang saat ini juga menoleh kearahnya, mereka berdua kini terdiam & hanya saling pandang mendengar deheman Zarow.
" sudah ketawanya? " kata Zarow bergantian menatap kearah Pelangi lalu menatap kearah Zerin.
__ADS_1