Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda

Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda
Bab 53


__ADS_3

Zarow baru saja selesai melaksanakan ibadah sholat Dzuhur bersama dengan pak Handoko, seperti biasa mereka melaksanakan sholatnya di masjid yang letaknya tak jauh dari kantornya berada.


Kini ia sudah berada di luar masjid berdiri dengan setengah berjongkok untuk mengenakan sepatunya, serang pak Handoko sedari tadi sudah menunggunya di mobilnya yang masih terparkir tak jauh dari masjid.


Setelah selesai mengenakan sepatunya ia lantas berjalan menuju arah mobil, pak Handoko masih setia berdiri disana bersiap membukakan pintu mobil untuknya.


Sambil membenarkan jas yang ia kenakan Zarow masih berjalan santai sembari melihat kearah tangannya untuk melihat jam berapa saat ini.


Pikirnya waktu istirahat siangnya saat ini masih lumayan lama, ia akan mengajak pak Handoko untuk singgah sebentar disebuah kafe nanti.


Pak Handoko bersiap-siap membuka pintu mobil untuk tuan mudanya yang saat ini sudah mulai berjalan mendekat kearahnya sambil membenarkan jas.


Pak Handoko tersenyum melihat tuan mudanya yang terlihat sangat tampan & berkarismatik, apalagi akhir-akhir ini tuannya semakin alim & giat menunaikan ibadahnya.


Siapa pun wanita jika melihat tuan mudanya yang saat ini pasti makin kagum dengannya karena tuan mudanya saat ini lebih banyak nilai plusnya lebih religius & agamis bangga sekali pak Handoko bisa bekerja bersama tuan mudanya.


" silahkan tuan " kata pak Handoko mempersilahkan tuan muda Zarow masuk kedalam mobil yang pintunya telah ia buka sambil tersenyum.


" terimakasih pak " jawab Zarow sambil tersenyum juga.


Pak Handoko pun mulai masuk & duduk di bangku kemudinya, mobil segera bergerak maju meninggalkan pekarangan masjid, terlihat tuan mudanya masih asik dengan ponsel yang berada ditangannya.


" pak kita ke kafe 23 ya, kita makan siang dulu baru balik kantor " perintah Zarow.


" baik tuan muda " jawab pak Handoko.


Zarow berniat mengajak Pelangi makan bersama siang ini, ia yakin saat ini Pelangi pasti belum makan siang karena cuaca sedari tadi masih juga belum bersahabat.


Saat ini gerimis rintik-rintik masih membasahi bumi, langit masih agak gelap karena pagi tadi berjam-jam hujan turun lumayan derasnya.


Ia mengirim kan sebuah pesan WhatsApp pada Pelangi yang ia yakin saat ini masih sibuk di kantornya entah apa yang ia sedang kerjakan pikirnya.


Karena pesan WhatsApp yang ia kirim tak kunjung mendapatkan balasan dari Pelangi ia pun memutuskan untuk langsung menghubungi Pelangi.


Di tekannya tombol vidio call untuk menghubungi Pelangi sambil memastikan sedang bersama siapa saat ini Pelangi.


Tut.....tut.....tut......


Ia mulai cemas karena sepertinya Pelangi tak akan menjawab panggilan telpon darinya padahal saat ini ia benar-benar ingin bertemu dengan Pelangi.


" hallo, assalamualaikum mas " suara Pelangi dari sebrang telpon memberi salam.


" wa'allaikumsalam, lagi apa? " jawabnya sambil bertanya.


Zarow membuang pandangannya ke arah luar kaca jendela sambil membuang nafas kasarnya, lega karena Pelangi menjawab panggilan telepon darinya saat ini.


" aku mas? " tanya Pelangi.


" hmmmm, siapa lagi kalo bukan kamu?, kan aku telponannya sama kamu " kata Zarow sambil menggelengkan kepalanya.


Terkadang Pelangi memang seperti itu saat ditanya entah karena sedang tak fokus atau apa tapi justru itu yang membuat Zarow merasa lucu dengan Pelangi.


Zarow tersenyum tipis sambil terus melihat kearah luar, segala sesuatu yang berhubungan dengan Pelangi rasanya bagi Zarow selalu indah bahkan mampu membuatnya tersenyum seperti ini.


" kamu tuh kalo aku ngomong kenapa coba suka gak fokus?, kan aku lagi telpon kamu kalo aku tanya pasti aku tanya kamu lah " kata Zarow.


" oh iya mas sorry ya gak fokus " jawab Pelangi.


Mungkin Pelangi gerogi saat berbicara dengannya sehingga ia terkadang tak fokus jika ditanya olehnya padahal jelas-jelas mereka sedang berbicara berdua saja.

__ADS_1


" jadi kamu lagi apa?, jangan tanya lagi siapa yang aku tanya ya " kata Zarow


" hahahahahaha, kamu nih mas, aku lagi ngerjain sesuatu nih di depan laptop, kamu lagi apa? " tanya balik Pelangi.


Zarow masih senyum-senyum sendiri mendengar suara Pelangi yang ia rasa sangat sweet sekali meskipun hanya mengatakan hal-hal biasa.


" aku lagi mau ajak kamu makan siang nih, kamu sibuk banget ya? " tanya Zarow.


Zarow sangat ingin bisa makan siang bersama dengan Pelangi siang ini karena ia & Pelangi tak pernah makan siang bersama saat sedang jam istirahat seperti ini.


" lain kali aja kali ya mas, aku mager loh, terus ini aku masih ada kerjaan, aku harus selesaikan semuanya sebelum cuti mas buat acara kita " jawab Pelangi


Kembali lagi ia tersenyum, bukannya kecewa karena tal bisa menikmati makan siang kali ini bersama Pelangi ia justru bahagia mengingat ia & Pelangi akan segera menikah.


" ok, kalo gitu kamu jangan lupa makan siang ya?, jaga kesehatan, sudah dulu, assalamualaikum " kata Zarow mengucapkan salam mengakhiri panggilannya.


" wa'allaikumsalam " jawab Pelangi dari seberang telponnya.


Ia pun segera meletakan kembali ponselnya kedalam saku jasnya, tiba-tiba ia teringat dengan tugas yang ia berikan pada pak Handoko pagi tadi. Pagi tadi ia telah memerintahkan pak Handoko untuk membeli satu unit ponsel keluaran terbaru untuk Pelangi.


" pak apa hpnya sudah dikirim ke Pelangi belum ya? " tanya Zarow.


Saat berbincang dengan Pelangi lewat telpon tadi Pelangi tak sama sekali membahas soal ponsel sehingga Zarow yakin pasti ponsel tersebut belum dikirim ke Pelangi sampai saat ini.


Mendengar pertanyaan tuan mudanya pak Handoko hanya melihat dari kaca yang berada tepat diatas kepalanya, sebenarnya sudah sedari tadi ponsel tersebut ia bayar via transfer mungkin saat ini belum sampai karena kendala hujan yang tak kunjung reda pagi tadi.


" maaf tuan nanti saya tanya lagi sama spgnya, mungkin tadi kendala hujan tuan makanya belum dianter, tapi nanti saya cek lagi " jelas pak Handoko.


" ok pak " singkat Zarow sambil manggut-manggut.


" maaf tuan, ini jadi ke kafe ya? " tanya pak Handoko memastikan.


Mendengar tuannya berbincang dengan Pelangi sepertinya Pelangi tak bisa ikut makan siang bersama dengan tuan mudanya sehingga pak Handoko ingin memastikan kembali apakah tuan mudanya masih ingin pergi ke kafe meski tanpa Pelangi.


Mobil tetap melaju menuju arah kafe sesuai dengan perintahnya meskipun tak seperti harapannya untuk bisa pergi makan siang bersama dengan Pelangi.


************


Tak jauh dari mobil Zarow mobil Adriana melaju mengikuti kemana pun mobil milik Zarow pergi, jarak antara mobilnya dengan mobil Zarow lumayan agak jauh, hal ini ia lakukan agar tak ketahuan oleh asistennya kalau ada sebuah mobil yang mengikuti mobil mereka.


Adriana benar-benar terkejut saat ini, ia masih benar-benar syok tak menyangka, karena pada saat mengikuti Zarow beberapa menit lalu saat mobilnya mulai bergerak keluar dari kantornya, mobil Zarow menepi di sebuah masjid tak jauh dari perusahaannya berada.


Bagaimana mungkin pria hidung belang seperti Zarow ternyata taat pada agama karena terlihat Zarow seperti baru saja melakukan ibadah sholatnya di masjid tersebut.


Berkali-kali Adriana menggeleng-gelengkan kepalanya karena ia benar-benar sangat kaget tak karuan, apakah selama ini sholatnya hanyalah kedoknya semata-mata agar kelakuannya tak terbongkar pikirnya.


Tapi kelakuan Zarow sudah sangat terkenal ditelinga khalayak seantero se Indonesia raya tak mungkin jika Zarow melakukan ibadah hanya untuk menutupi kedoknya pikirnya.


" jadi yang gue liat beberapa minggu lalu bener Zarow & gue gak salah liat, tapi kenapa orang sebejat Zarow bisa sholat? " tanyanya sendiri.


Ia terus sibuk dengan peraduganya sendiri tentang Zarow sambil terus fokus mengikuti kemana arah mobil milik Zarow saat ini melaju.


Tak lama mobil milik Zarow pun berhenti kearah kafe dikawasan sebelah barat, mobil Adriana lagi-lagi menepi di pinggir jalan, dari kejauhan ia melihat Zarow turun dari dalam mobilnya.


Adriana mulai membuka kacamatanya & meletakannya kedalam tasnya, ia berencana ingin pergi menuju kafe tersebut juga & berpura-pura tak sengaja bertemu dengan Zarow.


Ia harap Zarow masih mengingat dirinya yang pernah berada di ranjang yang sama dengan Zarow, Adriana tersenyum licik sambil membenarkan pakaiannya yang terlihat nampak seksi kali ini.


Mobil miliknya segera berjalan maju & belok menuju arah parkiran kafe yang sama dimana saat ini Zarow sedang berada, ia sangat percaya diri kali ini Zarow pasti akan melirik kembali kearahnya.

__ADS_1


Saat ia berhasil merayu Zarow kembali ia tak akan melepaskan Zarow karena Zarow harus menjadi miliknya pikirnya.


Setelah mobil berhenti di parkiran Adriana segera turun membawa tasnya tanpa menggunakan kacamatanya sambil tersenyum ala penggoda seperti yang ia lakukan pada saat menggoda pria hidung belang lainnya.


Dilihatnya Zarow sedang duduk bersama pria paruh baya yang sekiranya usianya kurang lebih seperti ayahnya, ia pikir pasti pria tersebut adalah supir pribadi Zarow karena selama kemana-mana pria tersebut selalu mendampingi Zarow.


Adriana berhenti tepat dimeja makan Zarow sambil tersenyum, Zarow menatapnya dengan pandangan heran sekilas lalu menunduk kembali.


" hallo, boleh gabung? " tanya Adriana.


Seorang wanita dengan pakaian seksi berhenti tepat di sebelahnya, sekilas saja Zarow melihat lalu menundukkan kepalanya, ia mengingat setiap kata yang di sampaikan oleh Ustad Syam padanya.


Memandang sesuatu yang tidak seharusnya dipandang juga merupakan Zinah mata menurut Ustad Syam begitu juga kata Pelangi, sehingga Zarow tak ingin melihat wanita tersebut.


Ia berusaha keluar dari setiap dosa yang ia lakukan dulu bahkan hal tersebut tidak lah mudah baginya, sulit baginya untuk meninggalkan kebiasaan buruk yang ternyata merupakan larangan bagi agamanya.


Pak Handoko membelalakkan matanya kesal dengan wanita yang saat ini berniat ingin menggoda tuan mudanya, ia masih sangat mengenali siapa wanita tersebut.


Wanita jalang tersebut adalah wanita yang pernah naik keatas ranjang tuan mudanya untuk melayaninya beberapa bulan lalu meski tuan mudanya tak mengenalinya tapi pak Handoko masih mengingat jelas siapa wanita tersebut.


Selama ini siapa-siapa wanita yang pernah berkencan dengan tuan mudanya hanya pak Handoko lah yang paham siapa-siapa wanita tersebut bahkan tuan mudanya mungkin sudah melupakan mereka.


" maaf nona tolong cari meja yang lain saja, tuan muda saya sedang tak ingin di ganggu " tukas pak Handoko yang telah berdiri.


Mata Adriana nanar tajam menatap supir pribadi Zarow yang mengusir dirinya secara halus, bagi Adriana ini suatu penghinaan karena seorang supir telah lancang berani mengusir dirinya.


" pak lo tolong yang sopan ya, bos lo aja gak nyuruh gue pergi dari sini kenapa lo nyuruh gue pergi dari sini, kenapa lo yang repot pak? " kata Adriana kesal.


Pak Handoko sangat yakin jika tuan mudanya sangat terganggu dengan keberadaan wanita tersebut sehingga ia langsung mengambil inisiatif untuk mengusir wanita tersebut jauh dari tuan mudanya.


" maaf nona bukan bermaksud gak sopan tapi tuan muda saya memang tidak ingin diganggu lagi dengan nona " tegas pak Handoko.


" pak lo jangan sembarangan ngomong ya, gue kesini bukan mau ganggu tapi gue pengen makan bareng sama bos lo, lo kenapa sih sok tau banget heran gue, bos lo aja dari tadi diem aja kok, lo supir aja mau sok-sokan ngusir-ngusir gue " cerocos Adriana yang sudah amat kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


Zarow mulai jengah mendengar kata-kata wanita jalang yang terdengar lancang di telinganya karena berkata tak sopan pada pak Handoko. Ia pun berdiri & mengenakan kacamatanya kembali yang sedari tadi ia letakan disaku kemejanya.


" kita balik ke kantor aja pak, kayanya saya sudah kenyang " kata Zarow.


Mendadak nafsu makannya jadi hilang karena perbuatan wanita jalang yang saat ini tengah membuat onar dengan perkataannya yang sama sekali tak menunjukan bahwa wanita tersebut adalah wanita baik-baik.


" baik tuan " singkat pak Handoko menjawab sambil menundukkan kepalanya.


" nih pak bayar dulu, saya tunggu dicmobil " perintah Zarow sambil memberikan beberapa uang tunai pada pak Handoko.


Zarow pun berjalan meninggalkan meja tersebut menuju arah luar kafe dimana mobilnya saat ini sedang terparkir diluar sana.


Adriana terdiam terpaku kesal tak percaya karena ini untuk kedua kalinya dirinya kembali lagi dicampakkan oleh Zarow, padahal ia sudah sangat yakin dengan penampilannya kali ini bisa menggoda Zarow.


Bukannya bisa naik keatas ranjang Zarow kembali ia justru mendapatkan penghinaan dari seorang supir paruh baya yang mencoba menjauhkan dirinya dari Zarow.


" brengs*k, ini gara-gara supir tua itu Zarow jadi lepas lagi dari genggaman gue, harusnya kalo supir tua itu gak sok-sokan pasti gue udah makan siang bareng sama Zarow tadi, ah sial " gumam Adriana kesal.


Ia terus menatap kearah kepergian Zarow, ini adalah penghinaan besar baginya, untung saja saat ini keadaan kafe sangat sepi sehingga tak ada yang melihat dirinya dipermalukan seperti ini.


" kali ini lo bisa lepas dari gue, tapi kita liat aja nanti apa lo bisa lepas lagi dari gue?, lo gak bakal gue lepasin, lo bakal masuk dalam perangkap gue, cepat atau lambat, tunggu aja waktunya, lo pasti bakal jadi milik gue " gumamnya lagi dalam hati.


Zarow yang telah berada di dalam mobilnya berusaha tenang & berkali-kali mengucapkan istighfar didalam hatinya, cobaannya dalam berhijrah sungguh amat berat pikirnya.


Disaat ia berusaha teguh dalam iman ada saja godaan yang datang menghadang, itu lah godaan terberat baginya, ia tak ingin terperangkap lagi kedalam lembah dosa zinah kembali.

__ADS_1


" astaghfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim,


astaghfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim, ya Allah buat lah hamba senantiasa terhindar dari semu dosa yang pernah hamba lakukan dahulu, jauhkan hamba dari semua hal-hal yang akan membuat hamba terjerumus kedalam dosa-dosa yang sama lagi ya Allah, Aamiin " gumam Zarow beristighfar sambil berdoa dalam hatinya.


__ADS_2