
Di rumah sakit
Zarow menatap sinis pada Pelangi yang sedari tadi masih terus menangis sampai detik ini, hanya saja bedanya saat ini ia menangis di pelukan ibunya sendiri tidak lagi menangis di pelukan ibu Zarow, padahal dokter telah mengatakan jika keadaan ayahnya baik-baik saja, hanya perlu melakukan operasi di bagian kakinya karena ada beberapa batu yang masuk kedalam luka kaki ayahnya yang terbuka.
Zarow masih terus berdiri sambil bersedekap menyilangkan kedua tangannya di dadanya sambil terus menerus menatap jengah kearah Pelangi, ia hanya bisa menggerutu di dalam hatinya, padahal ia ingin sekali memaki Pelangi yang ia rasa terkesan sangat lebay.
Melihat kakaknya yang terus-terusan menatap kearah Pelangi, Zerin akhirnya berdiri menghampiri kakaknya, seraya ingin tahu mengapa kakaknya terlihat tak menyukai Pelangi.
" kak " Zerin memegang lengan kakaknya yang saat ini telah berada dihadapannya.
" emmm " Zarow melihat kearah adiknya.
" duduk di aja sana yuk, dari pada kakak berdiri sendiri disini " ajak Zerin
Sebelum menanyakan perihal ini Zerin ingin membuat kakaknya agak nyaman sedikit agar bisa bercerita dengan ibunya serta dirinya di bangku yang barusan di tunjuk oleh Zerin yang kebetulan sudah ada ibu duduk sendiri disana.
Zarow melihat kearah bangku yang kosong di dekat ibunya yang barusan ditunjuk oleh adiknya, terus-terusan berdiri memperhatikan pelangi kakinya memang sudah mulai agak pegal, ia lalu memutuskan untuk mengikuti adiknya untuk duduk bersama dengan ibu mereka.
Zerin tersenyum berhasil membujuk kakaknya untuk ikut duduk bersama dengan ibunya yang kebetulan hanya sendiri saja di tempat dimana ia duduk tadi.
" ayo kak sini, kakak ditengah aja " Zerin menyuruh kakaknya untuk duduk diantaranya & ibunya.
Tanpa penolakan lagi-lagi kakaknya menuruti kata-katanya, Zerin tersenyum kearah kakaknya serta kearah ibunya.
Begitulah tabiat Zarow, ia tak pernah banyak bicara saat ada yang mengganggu hatinya meskipun ia tak mengungkapkan nya, Zarow cukup ekspresif dalam mengekspresikan suasana hatinya, jika ia tak menyukai sesuatu wajahnya bisa menggambarkan apa yang ia rasakan tanpa harus ia katakan.
" kasian ya kak, kak Pelangi " Zerin mulai membuka suara, " kalo aku ada di posisi kak Pelangi aku pasti bakal lebih dari itu tuh nangisnya " kata Zerin lagi sambil melihat kearah Pelangi.
" kenapa gitu? " Zarow tak mengerti
" ya aku pasti sedih lah, namanya juga orang tua sendiri yang ngalamin kecelakaan, lagian kan kalo cewek emang udah sewajarnya kalo cengeng, tanya aja tuh sama mami kalo gak percaya " Zerin mencoba melemparkan penjelasan kepada ibunya.
Zarow menatap kearah ibunya yang saat ini tersenyum sambil memegang tangannya, hanya ibunya lah yang mampu menenangkan dirinya disaat ia sedang berada dalam keadaan suasana hati yang tidak menyenangkan.
" mami juga aslinya cengeng sih, tapi mami gak pernah nangis di depan kalian " ungkap nyonya Arini.
Nyonya Arini memang tak pernah menangis sedih karena sakit hati tetapi sesekali ia akan menangis saat menyaksikan kejadian sedih seperti saat ini & saat ia sedang menonton derama korea yang ia tonton jika ceritanya menyedihkan.
" emang mami pernah nangis?, kapan? " Zerin tak menduga ternyata ibunya yang terlihat nampak bahagia pernah juga menangis sendiri bahkan ia & kakaknya tak mengetahui perihal itu.
" pernah dong, kalo mami nonton derama korea yang sedih-sedih mami pasti nangis, sama liat yang kaya gini nih yang bikin mami gak tahan " jawab Nyonya Arini yang mulai berkaca-kaca.
Melihat ibunya mulai berkaca-kaca Zarow mulai memeluk ibunya, ia tak ingin melihat ibunya juga menangis karena melihat kesusahan orang lain.
" kamu percaya kan sekarang kalo perempuan itu memang cengeng? " kata nyonya Arini kepada Zarow.
Zarow hanya mengangguk tanpa menjawab, perasaan seorang wanita itu terlalu halus sehingga gampang melow, dengan hal-hal yang membuat hatinya sedih saja seorang wanita bisa langsung meneteskan air matanya.
" kak Zarow tau gak kenapa kak Pelangi tadi bisa kebetulan di rumah kita waktu ayahnya mengalami insiden di perusahaan kakak? " Zerin mulai bertanya kepada Zarow.
" emang kenapa? "
Zarow menatap kearah Zerin adiknya & mulai melepaskan pelukannya dari ibunya, adiknya nampak tersenyum sambil memperlihatkan deretan gigi-giginya.
" aku tadi kabur dari rumah "
__ADS_1
" haaaaa " Zarow menatap tak percaya mendengar pengakuan adiknya.
" iya jadi aku tadi beneran kabur gitu dari rumah soalnya aku bosen gitu di rumah terus kak, gak boleh kemana-mana " ungkap Zerin.
" kamu ngpain pergi dari rumah?, kamu kan tau diluar itu gak aman " Zarow menggelngkan kepalanya melihat kearah Zerin.
Di saat masa pandemi seperti ini wajar jika setiap orang harus mengurung diri di rumah saja mengingat bagaimana bahayanya virus yang sedang melanda muka bumi ini.
" ya namanya juga khilaf & akhirnya aku juga nyesel karena udah keluar dari rumah "
Zarow masih tetap diam mendengarkan cerita adiknya, ia tak menyangka adiknya tersebut punya pikiran untuk kabur dari rumah.
" makanya dek kalo di kasih tau dengerin orang tua, kena batunya kan, untung aja ada Pelangi " nyonya Arini mulai membuka suara.
Memang benar Zerin sangat beruntung saat berada di daerah sesepi itu masih ada saja yang memperhatikan dirinya, beruntungnya pada saat itu Pelangi berada di sebuah warung pinggir jalan yang kebetulan dekat dengan area dimana Zerin di lecehkan oleh empat pemuda brabdalan.
" Pelangi? " kata Zarow mengulang nama Pelangi.
" iya kak Pelangi, my super hero " Zerin tersenyum sambil menatap kearah Pelangi.
" ckkk, super hero apaan, cewek Satpol yang nyebelin iya " Zarow membuang mukanya kearah lain sambil bersedakep kembali.
Zerin kaget mendengar kata-kata Zarow yang mengatakan bahwa dirinya sebal dengan Pelangi.
" no, kak Pelangi gak nyebelin tau, dia tuh asik, kakak jangan sok tau gitu dong, menilai seseorang dengan sebelah mata, padahal gak kenal "
Zarow tak pernah menilai orang dengan sembarangan jika ia tak mengenal orang tersebut, Zarow bisa berkata jika Pelangi menyebalkan karena kesan pertama saat bertemu dengan Pelangi sungguh tak menyenangkan, gadis tersebut membuatnya merugi dengan jumlah miliaran rupiah karena terlambat menghadiri rapat penting.
Dan kesan keduanya saat bertemu dengan Pelangi yaitu beberapa jam yang lalu di rumahnya, untuk apa ia harus datang kerumahnya & menangis di pelukan ibunya hanya karena ayahnya mengalami kecelakaan, padahal tanpa ia harus menangis di rumahnya, pihak perusahaan tetap akan bertanggung jawab sepenuhnya dengan kecelakaan yang dialami ayahnya.
Nyonya Arini menggelengkan kepalanya melihat Zarow yang nampak terlihat kesal dengan Pelangi, entah apa yang pernah terjadi diantara meraka berdua.
" kamu kenal sama Pelangi kak? " tanya Nyonya Arini.
Nyonya Arini memastikan dugaannya pasti benar jika sebenarnya Zarow pernah bertemu dengan Pelangi & pada saat itu pertemuannya dengan Pelangi tak membuat hatinya senang.
" gak kenal banget sih mi, cuman gara-gara dia Zarow terlambat ikut rapat & akibatnya pak Ferdinan kenalan papi gak mau tanda tangan kontrak kerjasama sama anak perusahaan yang di sebelah utara, Zarow jadi rugi miliaran gara-gara dia " Panjang lebar Zarow mengungkapkan kekesalannya.
" terus tadi ngapain coba dia datang kerumah nangis-nangis gitu, kaya perusahaan gak bakal tanggung jawab aja " katanya lagi.
Zerin reflek menepuk jidatnya lagi, ternyata kakaknya telah salah faham dengan Pelangi, ia berpikir jika Pelangi datang kerumah mereka hanya demi meminta pertanggung jawaban perusahaan atas kecelakaan yang terjadi pada ayahnya, padahal Pelangi datang kerumah karena ajakan darinya.
" kakak tuh salah, mana ada kak Pelangi datang kerumah gara-gara mau minta pertanggung jawaban perusahaan, kak Pelangi datang kerumah kita karena aku yang minta, kan aku sudah bilang dia itu my super hero aku, dia itu yang udah nyelamatin aku dari brandalan " Zerin menjelaskan panjang lebar tentang Pelangi.
Zarow tak percaya dengan apa yang dikatakan Zerin lalu menatap kearah ibunya, lagi-lagi ibunya tersenyum & memegang tangannya lagi.
" sayang, gak baik benci sama orang yang belum jelas kita kenal, waktu kamu terlambat ikut rapat gara-gara Pelangi kamu juga pasti bikin kesalahankan, mami yakin deh, apa kesalahan yang kamu buat waktu itu? "
" Zarow gak pake masker sih waktu itu, jadi Zarow disuruh laporan gitu " Zarow mengungkapkan apa yang terjadi pada saat itu kepada ibunya.
Nyonya Arini tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, sesuai dugaannya memang benar bukan sepenuhnya kesalahan Pelangi pada saat anaknya terlambat menghadiri rapat, tetapi karena tabiat anaknya tersebut yang keras, tak mau mengalah & selalu merasa dirinya benar lah yang membuatnya menyalahkan semua kesalahan pada Pelangi.
" Kan waktu itu Pelangi cuman jalani tugasnya aja sayang, jadi kamu juga gak bisa salahin Pelangi "
" tapi mi tetap aja dia yang salah " kata Zarow masih tak mau disalahkan & merasa benar.
__ADS_1
" ok kalo emang kamu merasa benar terserah kamu, yang penting mami sudah menasehati kamu kalo pemikiran kamu itu salah, & satu lagi, yang di omongin Zerin adik kamu itu memang benar, Pelangi yang selamatin adek kamu dari empat berandal yang hampir melecehkan Zerin & sudah seharusnya kita berterimakasih dengan dia makanya kami sengaja mengundang dia secara langsung buat datang kerumah " Nyonya Arini lagi-lagi menjelaskan panjang lebar pada anak sulungnya yang cukup keras kepala tersebut.
Kali ini nyonya Arini yakin jika putranya mempercayai apa yang ia sampaikan perihal Pelangi, karena dari sorot matanya & raut wajah putranya sangat nampak terlihat jika saat ini Zarow tak seberapa menatap benci kearah Pelangi. Nyonya Arini menepuk-nepuk bahu Zarow sambil tersenyum.
Zarow melihat kearah Pelangi yang terlihat sangat sedih, matanya terlihat sembab & matanya sangat merah, ia tak menyangka gadis yang membuatnya kesal justru pahlawan bagi adiknya, bagi adiknya Pelangi adalah super heronya, masih terus memperhatikan kearah Pelangi yang tak lama dokter juga akhirnya keluar dari ruang operasi berada dekat dengan tempat Pelangi duduk saat ini.
Setelah beberapa jam berada didalam ruangan akhirnya Dokter keluar juga dari ruang tersebut, Pelangi & ibunya menemui Dokter untuk menanyakan perihal keadaan ayahnya.
" Dokter bagaimana keadaan ayah saya? " Pelangi dengan wajah yang masih basah & mata yang sembab bertanya kepada dokter yang baru saja keluar.
" maaf anda siapanya pasien ya? " kata dokter tersebut.
" saya anaknya dok, ini ibu saya " jawab Pelangi.
" oh iya mba, alhamdulillah operasi berjalan dengan baik, kita tinggal menunggu pasien sadar saja " kata dokter
Pelangi bernafas lega mendengarkan operasi yang dijalani ayahnya telah berjalan dengan baik hanya tinggal menunggu ayahnya kapan sadarnya.
" oh baik dokter, terimakasih ya dok " Pelangi mengucapkan terimakasih pada dokter.
Pelangi akhirnya menghapus air matanya & mengajak ibunya untuk duduk kembali di tempat duduknya tadi, ia terus memegang tangan ibunya, sebenarnya Pelangi bukan pribadi wanita yang cengeng, ia bahkan sangat jarang menangis, saat ini ia menangis & tak henti-hentinya karena takut kehilangan ayahnya, meskipun sebelumnya ia telah mendengar dokter mengatakan jika kondisi ayahnya baik-baik saja.
" saya turut prihatin dengan kecelakaan yang di alami ayah kamu Pelangi " kata pak Yonso, " kami pihak perusahaan akan bertanggung jawab sepenuhnya dengan kecelakaan yang dialami ayah mu " kata pak Yonso lagi.
" terimakasih om "
" ibu & Pelangi jangan khawatir lagi, kami kan melakukan yang terbaik agar pak Abdullah cepat sehat " kata Pak Yonso lagi.
" terimakasih pak, atas kepedulian bapak sebagai atasan suami saya " kata Ibu Pelangi.
" sudah sepatutnya bu sabagai pemilik perusahaan kami perduli dengan karyawan kami " jawab pak Yonso lagi.
Pak Yonso menoleh kearah Zarow untuk memanggil putranya agar mendekat kearahnya.
" Zarow " kata pak Yonso
Zarow yang merasa namanya di panggil oleh ayahnya langsung berdiri & berjalan kearah ayahnya.
" iya pi " kata Zarow setelah berada di dekat ayahnya.
Zarow sekilas menatap kearah Pelangi yang sepertinya telah mengenali dirinya, Zarow membenarkan jasnya & melihat kearahnya lagi.
" bu ini perkenalkan anak saya Zarow, dialah yang menangani Perusahaan selama ini, sebagai ahli waris dia lah yang memegang kendali perusahaan setelah saya memutuskan untuk pensiun " kata pak Yonso memperkenalkan Zarow putranya
Zarow menundukkan kepalanya sambil tersenyum sopan tanpa berjabatan tangan.
Pelangi menatap kearah Zarow yang saat ini telah tersenyum kearah ibunya, sedari tadi ia menangis ia baru sadar jika Zarow adalah pemuda sombong yang tempo hari marah dengannya karena telah ia tertibkan, tak ingin berlama-lama menatap Zarow yang saat ini sedang tersenyum manis pada ibunya, Pelangi langsung menundukkan kepalanya.
Pelangi berusaha mamalingkan wajahnya agar tak dikenali oleh tuan Zarow, mengingat kejadian beberapa hari lalu saat tuan Zarow marah-marah padanya ia cukup trauma dengan kejadian tersebut.
" Zarow yang duduk disana itu anak pak Abdullah, dia anak tunggal pak Abdullah, yang tadi satu mobil sama papi & mami juga adek kamu " Tuan Yonso menunjuk kearah Pelangi yang masih duduk di bangku dekat ruang operasi.
Tuan Yonso sengaja memperkenalkan Zarow meskipun dari jarak jauh dengan Pelangi agar putranya melihat wajah Pelangi yang nantinya akan ia jodohkan dengan Zarow.
Zarow melihat kearah Pelangi yang saat ini telah menundukkan kepalanya, entah apa yang sedang ia pikirkan batinnya, jika diperhatikan secara terus menerus wajah Pelangi lumayan juga, Pelangi ternyata cukup cantik juga jika di perhatikan secara seksama pikirnya.
__ADS_1