Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda

Gadis Satpol Kesayangan Tuan Muda
Bab 36


__ADS_3

Dari kejauhan Adriana seperti melihat Zarow baru keluar dari masjid, ia berkali-kali menggosok-gosok matanya karena merasa seolah salah melihat orang, tak mungkin pikirnya pria bej*t seperti Zarow menapakkan kakinya ke masjid.


Tetapi semakin ia perhatikan ternyata pria yang ia lihat tersebut memang benar-benar Zarow. Ia agak mengerutkan keningnya merasa tak percaya pria seperti Zarow baru saja keluar dari masjid.


" ternyata beneran Zarow, ngapain dia keluar dari masjid " gumam Adriana dalam hati.


" kenapa yank? " kata Satria bertanya.


Melihat pacarnya nampak bengong melihat ke arah lain Satria pun nampak penasaran, ia lantas melihat kearah di mana mata kekasihnya tersebut tertuju. Satria melihat Zarow baru saja masuk ke dalam mobil mewahnya yang terparkir di pinggir jalan dekat masjid.


Merasa dirinya di tegur oleh kekasihnya Adriana lantas menoleh ke arah Satria, ia pun tersenyum lalu memeluk Satria, sebagai seorang wanita penggoda jelas saja Adriana sangat gampang mengambil hati seorang pria apalagi kekasihnya sendiri.


" gak apa-apa kok yank " jawab Adriana sambil bergelayutan manja.


" beneran gak papa?, aku pikir kamu lagi liat cowok yang baru aja masuk ke mobil " kata Satria.


Satria berpikir tadinya kekasihnya sedang melihat kearah Zarow, karena pandangan Adriana seolah tertuju ke sana.


" mmmm, yang mana? " kata Adriana berbohong.


Satria tersenyum pada Adriana, jelas lah tak mungkin kekasihnya tersebut mengenal Zarow pikirnya, selama ini kekasihnya adalah anak rumahan & tak pernah pergi atau pun keluyuran kemana-mana.


Ia membalas pelukan Adriana lalu mencium kening kekasihnya tersebut, hubungannya dengan Adriana sudah sangat lama, ia menjalin hubungan kekasih dengan Adriana saat masih memiliki hubungan dengan Pelangi.


Awalnya ia tak menyangka bisa jatuh cinta dengan Adriana pada hal jelas-jelas ia masih berpacaran dengan Pelangi, semakin lama hubungannya dengan Adriana semakin intim & suatu ketika kebersamaannya dengan Adriana ketahuan dengan Pelangi.


Sampai kini ia yakin Adriana akan selalu setia kepadanya karena selama ini Adriana sangat takut jika dirinya tak bertanggung jawab dengan apa yang selama ini telah mereka lakukan.


" itu yang tadi, udah lah kamu juga gak bakal kenal yank " kata Satria tersenyum.


Satria memeluk erat dirinya sambil mengelus-ngelus punggungnya, hanya dengan berakting seperti ini Satria bisa langsung percaya dengan dirinya.


Selama ini ia selalu seolah berpura-pura menjadi seorang wanita yang penurut & baik-baik agar Satria selalu percaya padanya, bahkan saat Satria marah padanya ia selalu berlagak seolah takut kehilangan Satria.


Padahal selama ini Adriana hanya menjadikan Satria cadangan, jika saja suatu saat keinginannya untuk mencari pria kaya untuk di nikahinya tak terwujud.


Satria adalah pria yang cukup mapan sebenarnya, tetapi bagi Adriana kemapanan Satria belum cukup untuk memberikan dirinya kemewahan seperti yang ia impikan & inginkan selama ini.


Di dalam pelukan Satria ia masih terus menatap ke arah mobil milik Zarow yang baru saja pergi menjauh dari sebrang sana, kali ini sasarannya adalah Zarow pikirnya.


Ia harus mendapatkan pria kaya seperti Zarow untuk di jadikan suaminya, ia yakin dirinya mampu memikat Zarow dengan kecantikan serta kemolekan tubuh yang ia punya.


Apalagi Zarow sudah pernah meniduri dirinya pikirnya, meskipun beberapa saat lalu setelah meniduri dirinya Zarow menolak dirinya saat ia datang ke kantornya, tetapi ia sangat yakin saat itu hanyalah bentuk pencitraan Zarow karena tak ingin reputasinya jelek di kantornya.


" kamu pasti bakal masuk ke perangkap ku sayang, tunggu aja tanggal mainnya, bukan Adriana namanya kalo gak bisa menaklukan pria nakal macam kamu " gumam Adriana dalam hati.


Satria lalu melepaskan pelukannya pada Adriana, ia kembali mengelus-ngelus puncak kepala Adriana lembut, Satria sangat menyayangi Adriana terlebih lagi karena Adriana telah menyerahkan segala yang ia punya untuknya.


" kamu mau makan apa yank?, udah siang nih " tanya Satria.


" apa aja yank terserah kamu, aku ngikut aja " jawab Adriana.


" ya udah yuk siap-siap " kata Satria.


Kebetulan saat ini mereka berdua sedang berada di rumahnya, pagi tadi ia menjemput Adriana karena sudah dua hari mereka tidak bertemu.


*******


Di dalam mobil Zarow masih tersenyum membaca berkali-kali pesan yang di kirim oleh Pelangi beberapa saat lalu.


Meskipun sudah berkali-kali ia membacanya tetapi tetap saja pesan tersebut mampu membuat senyumnya selalu mengembang.


Pesan singkat tersebut seolah membuat hatinya berbunga-bunga, jantungnya berdetak tak menentu, bahkan ia seolah merasa sedang berada di awan.


Zarow bahkan tak tau harus membalas apa pesan yang di kirim oleh Pelangi tersebut, ini adalah pertama kalinya ia mendapatkan pesan yang benar-benar membuatnya bahagia.


Pak Handoko yang masih fokus dengan kemudinya nampak keheranan melihat tuan mudanya yang sedari tadi terus tersenyum sambil memperhatikan ponselnya.

__ADS_1


Nampak sekali raut kebahagiaan yang dipancarkan oleh tuan mudanya saat ini, apa yang membuat tuan mudanya sebahagia seperti ini pikir pak Handoko.


" maaf tuan, ini mau langsung balik ke kantor aja ya? " tanya pak Handoko yang belum mendapatkan perintah.


Karena sedari tadi asik memandang ponselnya, Zarow sampai lupa jika belum memberi perintah pada pak Handoko kemana mereka akan pergi saat ini.


" bapak lapar gak?, kayaknya kita cari makan siang dulu ya pak " kata Zarow.


Mengingat saat ini adalah jam istirahat makan siang, ia akan langsung mengajak pak Handoko untuk mencari makan siang sekalian.


" baik tuan " jawab pak Handoko singkat.


Tuan muda Zarow sangat sering mengajak dirinya untuk mencari makan siang bersama saat tuan mudanya tersebut sedang tidak sibuk.


Bahkan ia selalu duduk satu meja dengan tuan mudanya tersebut saat berada di restoran, tuan mudanya tersebut tak pernah malu makan bersama dengannya meskipun posisinya hanyalah seorang sopir di keluarganya.


Saat berniat meletakan ponselnya ke dalam saku jasnya tiba-tiba ia teringat pada Pelangi yang saat ini pasti juga sedang istirahat siang.


" sudah makan belum ya dia? " gumamnya dalam hati.


Ia kemudian memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat kepada Pelangi agar tak lupa untuk makan siang, ia pikir sebagai calon suami wajar jika dirinya mengingatkan calon istrinya tersebut agar tak lupa makan.


Zarow : jangan lupa makan siang ya, jangan lupa cuci tangan bersih-bersih, bawa HS kemanapun kamu pergi, aku gak mau kamu sakit.


Setelah mengirimkan pesan Zarow lalu meletakkan ponselnya kembali kedalam saku jasnya, ia pikir mulai saat ini ia harus membiasakan diri agar merubah gaya berbicara mereka.


Apa lagi mengingat sebentar lagi mereka akan menikah, seharusnya ia harus mulai terbiasa dengan nama panggilan sayang agar saat menikah nanti ia tak lagi kaku.


" pak " kata Zarow.


" ia tuan " jawab pak Handoko.


Zarow tak pernah malu bertanya pada pak Handoko mengingat lagi pak Handoko adalah orang kepercayaan keluarganya selama ini, apalagi pak Handoko sudah seperti keluarga sendiri bagi Zarow & orangtuanya.


" gak jadi deh pak " kata Zarow


" kenapa gue repot-repot bingung mau manggil apa pas nikah, lagian gak penting banget sih mikirin gituan, hufttt " gumamnya dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Pak Handoko terus menatap ke arah tuan mudanya dari kaca spion, tuan mudanya nampak plin plan saat ini, biasanya tuan mudanya tak pernah merasa ragu jika ingin berkata sesuatu padanya.


Zarow membuka kancing jasnya untuk mendapatkan rasa nyaman, ia tiba-tiba merasa kegerahan saat ini meskipun AC mobil sudah menyala dengan full.


********


Di tempat lain.


Pelangi baru saja selesai menunaikan ibadah sholat dzuhur nya, seperti biasa ia & teman-teman satu kantornya yang beragama muslim selalu menunaikan ibadah sholat berjamaah di musholah yang berada di kantornya.


Ia mulai merapikan jilbab yang ia kenakan setelah melepas mukenah yang baru saja ia pakai untuk sholat. Sebagai umat muslim yang tekun Pelangi tak pernah sekalipun melewatkan ibadah sholatnya.


Baginya sholat adalah salah satu bentuk penghubung antara dirinya dengan allah, pada saat itu lah ia bisa mencurahkan segala keluh kesah serta doa-doa yang ia harapkan untuk kehidupan dunia serta akhiratnya kelak.


Ia mulai bangkit dari duduknya setelah selesai merapikan jilbabnya, jam istirahatnya masih sekitar setengah jam lagi, ia segera bergegas menuju ruangannya kembali.


Pelangi terus berjalan sendiri menyusuri lorong, sebentar lagi ia akan di sibukkan dengan persiapan pernikahannya, sampai saat ini ia belum memberitahu tentang rencana pernikahannya kepada teman-teman satu kantornya.


Bahkan ia juga belum memberitahu Aldo maupun Doni, beberapa saat lalu ia telah mengutarakan pada Doni jika secara tiba-tiba ada seseorang yang datang melamar dirinya.


Tapi sampai saat ini ia belum memberitahu Doni tentang siapa orang yang melamar dirinya, hal ini ia lakukan karena ia tak ingin tersebar gosip yang jelas akan membuat heboh satu kantornya.


Apalagi jika mengingat Zarow adalah orang yang cukup terkenal di kotanya, sudah pasti jelas ia & Zarow akan menjadi tranding topik, memikirkan hal tersebut Pelangi reflek menepuk jidatnya.


" kenapa ya takdir allah itu bener-bener gak disangka " kata Pelangi sendiri.


Ia lantas menggelengkan kepalanya merasa aneh dengan takdir yang begitu mengejutkan yang saat ini sedang ia jalani, siapa sangka jika pada akhirnya ia akan menikah dengan Zarow dalam waktu dekat ini.


Doni yang baru saja keluar dari musholah melihat Pelangi berjalan tak jauh di depannya, ia segera mempercepat langkahnya untuk mengejar Pelangi.

__ADS_1


Sekilas ia melihat Pelangi menggelengkan kepalanya, Doni yakin Pelangi sedang berpikir sesuatu & entah apa itu.


Setelah berada cukup dekat dari Pelangi ia segera menepuk bahu Pelangi, temannya tersebut lantas menoleh sambil tersenyum.


" ngagetin aja lo Don " kata Pelangi yang kembali lagi fokus melihat ke arah depan.


" hem, kaget tapi ekspresinya gak keliatan kaya kaget gitu " sahut Doni yang saat ini berkacak pinggang.


Kembali lagi ia menatap kearah Doni sambil menggeleng-gelengkan kepalanya & tersenyum karena pada saat ini Doni sedang tersenyum juga sambil menaik-naikkan alisnya .


" lo gitu aja terus Don, cocok tau " kata Pelangi.


" enak aja " kata Doni, " eh lo laper gak? " lanjut Doni bertanya.


Doni ingin mengajak Pelangi untuk makan siang bersama kali ini, biasanya Pelangi tak pernah bisa diajak untuk makan siang bersama karena temannya tersebut biasa selalu pergi berdua dengan Aldo.


" gak laper gue " jawab Pelangi.


Tiba-tiba nafsu makannya menghilang saat mengingat sebentar lagi ia akan menjadi nyonya Zarow, ia saat ini agak bimbang bagaimana cara menjelaskan statusnya nantinya.


Apakah kelak ia justru harus merahasiakan identitasnya sebagai istri dari seseorang yang terpandang & terkaya di kotanya tersebut, mengingat hal tersebut ia benar-benar seperti tak bisa bernafas.


Jelas saja ia pasti tak akan sebebas biasanya saat beraktifitas di luar, kemudian status pekerjaannya sebagai seorang Satpol akan menjadi bahan pergunjingan.


Ia tak mungkin meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai Satpol PP mengingat proses yang ia lalui sebelum menjadi Pegawai Negeri Sipil tak segampang yang di bayangkan.


" lah kenyang makan apaan lo?, makan angin?, ati-ati tuh tar kembung, masuk angin " kata Doni asal.


Doni cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya, ia sengaja mengejek Pelangi karena nampak seperti terlihat banyak pikiran sampai-sampai tak nafsu makan.


" makam angin apaan, orang gue lagi diet " jawab Pelangi tak kalah ngasal dari Doni.


" hahahahah, masya allah gak salah denger po gue Ngi?, tuh badan udah kurus kaya gitu masih mau diet, yang ada lo itu kurang asupan gizi " kata Doni sambil tertawa.


Pelangi lantas menepuk jidatnya reflek mendengar kata-kata Doni yang terdengar sangat lebay baginya, tubuhnya memang terlihat kurus tetapi bukan berarti kurang asupan gizi.


" terserah lo aja lah Don yang penting lo seneng & bahagia, puas lo " kata Pelangi.


" hahaha, dih sensi amat sih, lagi dapet lo? " kata Doni lagi masih tetap dengan banyolannya.


Doni tak bermaksud membuat Pelangi kesal, ia hanya berusaha menghibur Pelangi yang terlihat nampak stres, meskipun Pelangi tak mau berbagi cerita dengannya setidaknya dengan membuatnya tertawa, sejenak Pelangi akan melupakan semua bebannya.


" hahaha, lama-lama nyeleneh lo ya Don, mana ada orang lagi dapet sholat " kata Pelangi yang akhirnya tertawa.


" hahaha, oh iya lupa gue " kata Doni sambil menepuk jidatnya.


Pelangi kembali lagi menggelengkan kepalanya, meskipun Doni lebih tua darinya terkadang Doni bisa bertingkah ke kanak-kanakan & slengean, tapi terkadang temannya tersebut juga bisa bersikap tegas & sangat dewasa.


Pelangi segera berjalan menuju arah mejanya setelah berada di ruangan & memisahkan diri dari Doni. Ia segera duduk lalu memasukan mukenah miliknya kedalam tasnya kembali.


" Ngi " panggil Doni dari mejanya.


" hem " saut Pelangi.


Mendengar Doni memanggil namanya, Pelangi lantas melihat kearah Doni yang saat ini juga telah duduk di depan mejanya sendiri.


" ayo makan bareng " ajak Doni lagi sambil tersenyum.


Ia lalu membuang nafas kasarnya sambil menggelengkan kepalanya kembali karena Doni masih saja terus mengajak dirinya untuk makan siang bersama.


Ia masih belum menjawab ajakan Doni, diambilnya ponsel miliknya yang ia letakan di dalam laci mejanya, dilihatnya pesan masuk dari Zarow.


Zarow : jangan lupa makan siang ya, jangan lupa cuci tangan bersih-bersih, bawa HS kemanapun kamu pergi, aku gak mau kamu sakit.


Setelah membaca pesan dari Zarow ia kemudian meletakan ponsel miliknya kedalam saku celananya.


" Ayo Don cari makan bareng " ajak Pelangi yang saat ini telah berdiri.

__ADS_1


Doni yang mendengar ajakan Pelangi langsung sumringah berdiri & berjalan menghampiri teman dekatnya tersebut.


__ADS_2