
" tar pulang gue jemput " kata Zarow yang masih duduk di dalam mobil.
Pelangi yang baru saja akan membuka pintu mobil menoleh kearah Zarow, ia merasa sangat merepotkan Zarow meskipun Zarow adalah calon suaminya tetapi tetap saja ia merasa tidak enak.
Ia duduk kembali untuk berbicara baik-baik dengan Zarow agar tak tersinggung dengan penolakannya, karena sangking ia sudah sangat hapalnya dengan tabiat otoriter yang dimiliki Zarow.
" gak usah aja lah mas jemput gue, gak enak gue ngerepotin lo " kata Pelangi sambil melihat kearah Zarow.
" terus lo pulang mau naik apa kalo gak mau gue jemput " kata Zarow dengan tatapan tajamnya.
Zarow masih terus melihat kearah Pelangi yang belum beranjak dari tempatnya, padahal saat ini mobil telah terparkir di kantor tempat Pelangi bekerja.
" naik ojek mas " jawab Pelangi singkat.
Saat sedang tak membawa kendaraan ia memang kadang akan naik ojek saat akan pulang ke rumah, atau kadang-kadang ia akan ikut bersama dengan Doni ataupun Aldo.
Zarow sedikit berpikir mendengar jawaban Pelangi, ia agak menyipitkan matanya tapi pandangannya tetap terus tertuju pada Pelangi yang saat ini masih duduk di sebelahnya.
" kalo gak gue jemput, bisa jadi pulang malah bareng Aldo, gak...gak...gak bisa pokonya mulai sekarang Pelangi harus jauh-jauh dari laki-laki mana pun " gumam Zarow dalam hati.
" gak, mulai sekarang lo pulang balik bakal gue jemput, titik " tutur Zarow tegas.
Jika Zarow telah berkata seperti itu, Pelangi tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menolak keputusan Zarow tersebut meskipun ia berusaha sekeras apa pun untuk membujuk Zarow, pada hal Pelangi benar-benar tak enak jika harus diantar & dijemput oleh Zarow mengingat kantornya lebih jauh dari kantor Zarow.
" huffttt, ya sudah lah mau di apa, terserah mas Zarow aja " jawab Pelangi menyerah.
Zarow tersenyum mendengar jawaban Pelangi, ini juga adalah salah satu bentuk pencegahan Zarow agar Pelangi jauh-jauh dari Aldo pria yang di kabarkan dekat dengan Pelangi selama ini.
Melihat Zarow tersenyum Pelangi menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti mengapa Zarow selalu bersikap otoriter seperti itu, ia segera menggeserkan bokongnya untuk keluar dari mobil.
" hemmm " dehem Zarow, yang sontak membuat Pelangi menoleh kembali.
Melihat Pelangi akan beranjak dari tempatnya Zarow berdehem & mengulurkan tangannya kearah Pelangi untuk bersalaman seperti tadi malam saat Zarow akan berpamitan pulang.
Pelangi tersenyum menyambut uluran tangan Zarow & mencium punggung tangannya untuk bersalaman sebelum keluar dari mobil, mungkin ini akan menjadi kebiasaan baru untuknya pikir Pelangi mengingat Zarow sebentar lagi akan menjadi suaminya.
" assalamuallaikum " salam Pelangi.
" waallaikumsalam " jawab Zarow & pak Handoko.
Pak handoko sebagai seorang supir hanya bisa menjadi penonton saja melihat tuan mudanya yang bersikap seolah tak ingin Pelangi jauh darinya sehingga tuan mudanya memutuskan untuk mengantar jemput calon istrinya tersebut.
Melihat sikap tuan mudanya tersebut terlihat jelas jika tuan mudanya mulai jatuh cinta pada Pelangi sehingga tuan mudanya kerap memberikan keputusan sepihak agar mau tak mau Pelangi harus menuruti dirinya, pak Handoko tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Zarow terus menatap kearah kepergian Pelangi menuju gedung di mana calon istrinya tersebut bekerja, ia terus tersenyum memperhatikan kepergian Pelangi meskipun hanya nampak punggungnya saja saat ini.
Zarow membalikkan tubuhnya setelah melihat Pelangi masuk ke dalam kantornya & tak nampak dari pandangannya lagi, ia merapikan jas yang ia kenakan & membenarkan duduknya kembali.
" jalan pak " perintah Zarow.
Mendengar perintah tuan mudanya pak Handoko lantas menyalakan mesin mobilnya kembali, mobil segera bergerak keluar dari area parkiran menuju arah jalan raya.
Pelangi yang sudah duduk di meja kerjanya sedikit menengok ke arah luar, melihat mobil milik Zarow sudah tak nampak lagi di area parkiran, ia kemudian melihat ke arah depan sambil membuang nafas kasarnya & menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Ia harus terus banyak mengucapkan istighfar di dalam hatinya saat menghadapi Zarow, ia berusaha tak berdebat meskipun ia sangat ingin menolak apapun yang menjadi keputusan Zarow yang bertolak belakang dengan keinginannya.
Tapi ia fikir percuma juga ia berdebat dengan Zarow karena hasilnya akan sama saja, karena mau tidak mau keputusan Zarow adalah keputusan yang paling akhir yang harus dituruti, ia hanya bisa mendengus mengeluarkan nafas kasarnya dari mulut.
Doni yang berada di sebrang meja Pelangi menatap Pelangi penasaran, Pelangi nampak mendengus setelah melihat kearah luar. Doni berpikir akhir-akhir ini Pelangi nampak jauh dari Aldo bahkan Pelangi kerap pulang sendiri meskipun ia tak membawa kendaraan saat berangkat ke kantor.
" kenapa lo Don?, ngeliatin gue sampe segitunya " kata Pelangi yang mendapati Doni terus melihat kearahnya.
Doni terkejut mendengar Pelangi yang menangkap basah dirinya, ia tak menyadari jika Pelangi tau jika ia sedari tadi terus melihat ke arahnya.
" gak papa, cuman agak heran aja liat lo " jawab Doni.
" heran kenapa?, emang ada yang salah ya sama gue? " tanya Pelangi.
Pelangi melihat ke dirinya sendiri memeriksa apakah ada sesuatu yang terlihat aneh yang ia pakai hari ini, semua yang ia pakai hari ini masih sama seperti yang biasa ia pakai, jam baju, jilbab, & lain-lain, hanya saja saat ini di jarinya telah melingakar cincin pengikat dari Zarow semalam.
Pelangi menurun kan tangannya karena merasa Doni sedang memperhatikan cincin yang melingkar di jari manisnya, sepertinya itu lah alasan mengapa sedari tadi Doni terus melihat kearahnya.
" ngapa lo cengengesan gitu? " tanya Doni.
Doni yang melihat Pelangi saat ini cengengesan makin membuat dirinya merasa jika ada yang disembunyikan Pelangi darinya, Doni berpikir mungkin saat ini Pelangi sengaja menghindar dari Aldo agar kabar lamaran Aldo tak tersebar luas sampai hari H tiba.
Doni mengerti mengapa Pelangi tak mau sesumbar sebelum hari itu tiba, ia mungkin tak ingin jika hubungannya denga Aldo membuat pekerjaannya menjadi terbebani, apa lagi selama ini ia kerap menepis rumor kedekatannya dengan Aldo.
" gak papa, emang kenapa?, gak boleh ya " kata Pelangi.
" serah lo aja mah, buat lo bebas, asal jangan kebablasan cengengesan gak jelas, tar dikira sakit jiwa, hahahah " sahut Doni sambil tertawa.
" astghfirullah, jahat lo Don " balas Pelangi
Pelangi sudah bersiap untuk tugas luar kantornya hari ini, sebelum adanya Covid 19 tugas Pelangi memang lebih banyak berada di luar kantor di banding di dalam kantor, hanya saja selama Covid 19 tugasnya agak berbeda dari sebelumnya, kini tugasnya lebih ke pengamanan untuk warga yang tak mengenakan masker.
Pelangi berdiri menuju lapangan untuk berkumpul dengan anggota Satpol yang tergabung dalam pasukan Dalmas lainnya. Ia ikut masuk dalam barisan sambil mendengarkan instruksi sebelum melaksanakan kegiatan nanti.
Setelah selesai mendapatkan instruksi akhirnya barisan segera di bubarkan untuk langsung menuju ke TKP, Pelangi saat ini masih berada di samping Doni, berjalan bersama menuju arah mobil operasional.
" Ngi lo gak bawa motor ya? " tanya Doni.
Saat berada dalam barisan tadi Doni terus melihat kearah parkiran & tak melihat motor milik Pelangi, ia yakin jika Pelangi tak membawa kendaraan saat berangkat ke kantor tadi.
" iya gue gak bawa motor Don " jawab Pelangi singkat.
Doni mengangguk-angguk mengerti, mungkin saja motor milik Pelangi masih perlu di perbaiki sehingga ia tak membawa motor miliknya lagi.
" eh bang Aldo kemaren nyariin lo loh pas lo udah balik duluan, gue pikir lo bakal balik sama bang Aldo " kata Doni memberitahu.
" aaa, iya kah, lupa gue ngasih tau bang Aldo kalo balik duluan kemaren " jawab Pelangi sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Doni hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Pelangi, hubungan antara Aldo & Pelangi sangat membingungkan bagi Doni, meskipun Aldo telah melamar Pelangi tapi tetap saja Pelangi masih bersikap biasa saja dengan Aldo, begitu juga dengan Aldo.
Beberapa jam kemudian tepat pukul 09.30 pagi setelah berada di TKP mereka segera turun dari mobil operasional, mereka segera berjalan memisahkan diri untuk mencari pelanggar yang tak mengenakan masker di area tersebut.
" ayo Ngi sama gue aja " ajak Aldo yang menghampiri Pelangi.
__ADS_1
Aldo yang turun dari mobil operasional yang berbeda dengan yang dinaiki oleh Pelangi langsung menghampiri Pelangi, entah sejak kapan ia selalu di pisahkan oleh Pelangi saat sedang bertugas di luar kantor.
Mungkin sejak semua teman satu kantor mengira jika ada hubungan khusus antara dirinya dengan Pelangi, sehingga agar tak mengganggu rutinitas mereka masing-masing mereka berdua selalu di pisahkan.
Doni yang berada di samping Pelangi masih terdiam karena tiba-tiba Aldo datang menghampiri mereka berdua & mengajak Pelangi untuk berpatroli bersama.
Pelangi melihat kearah Doni yang tak pernah pindah dari sisinya, lalu menatap kearah Aldo yang baru saja datang menghampiri mereka berdua setelah turun dari mobil lain.
Biasanya saat sedang bertugas seperti ini Pelangi memang selalu berpasangan dengan Doni, tetapi memang dulu saat pertama tergabung dalam pasukan Dalmas Pelangi selalu bersama Aldo, entah mengapa ia lalu di pisahkan dengan Aldo & membuatnya menjadi dekat dengan Doni.
" ya udah Ngi lo sama bang Al aja, gue biar sama yang lain aja nanti " kata Doni membuka suara.
Mengingat sebentar lagi Pelangi & Aldo akan segera sah mungkin akan ada baiknya jika Doni memberikan kesempatan untuk mereka berdua agar bisa bersama menjalankan tugas hari ini pikir Doni, ia pun segera meninggalkan Aldo & Pelangi di tempat.
Pelangi menatap kepergian Doni, ia yakin saat ini pasti Doni berpikir yang tidak-tidak lagi tentang hubungannya dengan Aldo yang selama ini tak pernah menjalin hubungan apa pun sehingga membuat dirinya menjadi tak enak dengan Aldo karena terus-terusan diterpa gosip jika memiliki hubungan khusus dengannya.
" ya udah yuk " ajak Aldo
" siap bang " jawab Pelangi singkat.
Pelangi lantas berjalan bersama Aldo menyusuri jalan untuk merajia siapapun yang tak patuhi protokol kesehatan dengan tak mengenakan masker.
Saat bertugas Pelangi selalu fokus & selalu mengesampingkan gosip yang beredar tentang dirinya, ia selalu menjalankan tugasnya dengan baik.
Ia tak pernah mengeluh meskipun saat berada di luar kerap mendapatkan kesulitan, bahkan terkadang ia harus menghadapi orang-orang yang keras kepala & justru membentak-bentak dirinya padahal justru orang tersebutlah yang salah.
Mengingat hal tersebut Pelangi teringat pertemuannya dengan Zarow untuk pertama kalinya, saat itu ia juga sedang bertugas di luar untuk melakukan rajia masker bagi pejalan kaki maupun bagi yang menggunakan kendaraan.
Saat itu ia memberhentikan mobil Zarow & menyuruhnya untuk turun karena tak mengenakan masker, saat itu pun ia justru di semprot oleh Zarow karena membuat dirinya harus turun dari mobilnya.
Pelangi tersenyum mengingat kejadian lucu tersebut, tak di sangka pria yang ia anggap sombong & angkuh tersebut lah yang akan menjadi suaminya dua minggu lagi.
Setibanya di kantor Zarow terus mengecek lokasi dimana Pelangi berada, beberapa jam setelah mengantar Pelangi posisi lokasi Pelangi berada menjadi berubah. Melihat itu Zarow langsung bergegas keluar dari kantornya untuk mengajak pak Handoko menuju lokasi tersebut.
Terang saja ia menemukan titik koordinat di mana calon istrinya tersebut berada, dari dalam mobil Zarow terus memperhatikan Pelangi yang saat ini sedang berjalan berdua dengan Aldo.
Ia mengepalkan tangannya karena tiba-tiba kesal, hatinya terasa sakit melihat kedekatan Pelangi dengan pria lain, ia tak bisa menerima hal ini, mengingat kenyataan Pelangi adalah calon istrinya.
" ah br*ngsek tuh cowok, berani-beraninya dia deket-deket sama Pelangi " maki Zarow.
Pak Handoko berpikir jika saat ini tuan mudanya sedang terbakar api cemburu padahal jelas-jelas saat ini Pelangi sedang melaksanakan tugas luar kantornya, ia hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya mendengarkan makian tuan muda Zarow pada pria yang berjalan bersama Pelangi.
Zarow memegang dadanya yang terasa sedikit agak sakit, tiba-tiba suhu di dalam mobil tersebut terasa sangat panas, entah mengapa ia bisa bereaksi se marah ini melihat Pelangi bersama Aldo pikirnya.
" gue kenapa segininya ya, kenapa sakit banget rasanya ngeliat dia sama cowok lain " gumamnya dalam hati.
Harusnya pagi ini ia masih harus berada di kantornya untuk menyelesaikan beberapa berkas yang harus di tanda tangani nya, tetapi karena ia penasaran dengan keberadaan Pelangi ia justru pergi & melihat langsung.
Terang saja yang ia pikirkan benar, wanita yang akan menjadi istrinya tersebut sedang berada di luar bersama dengan pria yang ia ketahui sedang digosipkan tengah dekat dengannya.
" enggak-enggak gak mungkin gue kalah dari cowok itu, lagian Pelangi juga udah nerima gue jadi calon suaminya, artinya gak mungkin Pelangi suka sama cowok itu " gumamnya lagi.
Ia berpikir sebaiknya ia harus membuat Aldo jauh-jauh dari Pelangi mulai sekarang jika tidak mungkin saja suatu saat kedekatan Pelangi & Aldo akan menjadi bumerang yang akan memisahkan Pelangi darinya.
__ADS_1
Ia mengeratkan giginya, pandangannya tak lepas dari keberadaan Pelangi & Aldo, meskipun terlihat Pelangi tak nampak seperti sedang berkencan saat ini dengan Aldo karena yang pastinya calon istrinya tersebut sedang bertugas di luar kantor seperti biasanya.
" oh tuhan kenapa sih gue, kaya berasa gak seneng liat dia jalan sama cunguk itu " gumam Zarow kembali.