
Ditepi jalan Adriana yang berada di dalam mobil pemberian Satria tepat di hari ulang tahunnya sedari pagi sudah stay berjam-jam demi bisa melihat pria incarannya demi bisa mewujudkan ambisinya untuk mendapatkan pria kaya raya impiannya.
Tepat berada disebrang jalan gedung perusahaan utama milik Zarow ia masih terus setia mengawasi meskipun hujan turun begitu derasnya. Sudah sekitar tiga jam ia berada disana hanya demi bisa melihat pria incarannya sambil terus mencari ide untuk mendekati Zarow.
Pria kaya yang angkuh tersebut semakin membuat Adriana tertantang untuk mendapatkannya meskipun beberapa waktu lalu ia sempat mendapatkan penolakan yang dari Zarow. Ia yakin ia pasti akan membuat pria tersebut bertekuk lutut dikakinya seperti ia membuat Satria bertekuk lutut tak berdaya dikakinya.
Pagi ini ia sengaja berbohong pada Satria agar bisa mengamati Zarow, sejujurnya ia sudah lama merencanakan untuk mengintai Zarow tetapi ia tak pernah ada kesempatan waktu untuk meninggalkan Satria.
Sepanjang waktu Satria terus berada disisinya bahkan ia tak pernah diberi kesempatan untuk sedikitpun jauh darinya, padahal bersama Satria terus menerus ia mulai merasa bosan. Kini ia pun mulai mencari cara agar bisa mendapatkan Zarow & segera terlepas dari Satria.
Tatapannya tak pernah lepas dari gerbang berwarna biru yang berada didepan gedung tersebut yang saat ini masih tetap tertutup, ia tak ingin sampai Zarow lepas dari pengawasannya, kemanapun Zarow pergi hari ini ia akan terus mengikuti.
Drrttttt.....drrtttttt......drrrtttt.....
Fokusnya pun pindah ke suara ponselnya yang saat ini bergetar, ia sengaja mengaktifkan mode silent pada ponselnya karena tak ingin misinya saat ini terganggu oleh siapapun termaksud Satria.
" ah Satria lagi, ngapain sih nelpon-nelpon, males banget deh ah " gerutu Adriana.
Sudah mengambil kesempatan dengan berpura-pura sakit Adriana benar-benar tak sama sekali mau diganggu oleh Satria karena ia benar-benar tak ingin kehilangan jejak Zarow.
Ia pun melempar ponselnya pelan ke bangku mobil yang berada tepat di sebelahnya & kembali fokus melihat kearah sebrang jalan kembali.
Drrrrttttt......drttttt....drtttttt......
Sekali lagi ponselnya bergetar, ia hanya menoleh sekilas ke arah ponselnya dengan malasnya & kembali tak menghiraukan panggilan dari Satria.
Panggilan telpon dari Satria malah sengaja tak ia jawab, di biarkan begitu saja sampai panggilan tersebut berakhir sendiri untuk kedua kalinya.
" udah dari tadi disini tapi ko belum keluar juga ya calon suami gue, bentar lagi jam makan siang si " katanya sendiri sambil melihat kearah tangannya.
Drrrrtttttt.......drttttttt.....drrrrttttttt.....
Untuk kesekian kalinya ponselnya kembali lagi bergetar, Satria masih saja bersih keras menghubungi dirinya meskipun sudah beberapa kali ia tak menjawab panggilan dari Satria.
" ck, apaan sih nih Satria, gangguin gue aja, gak ngerti apa kalo gue lagi males sama dia, gue udah bosen banget rasanya sama dia, muak rasanya " omel Adriana.
Mulai jengah dengan Satria yang terus menghubungi dirinya ia pun meraih ponselnya, dengan rasa kesalnya ia akhirnya menjawab panggilan telpon dari Satria.
" Hallo " jawab Adriana dari sebrang telponnya.
" Hallo yank " jawab Satria.
Mendengar suara Satria bukannya senang ia malah merasa muak, jika saja saat ini ia telah berhasil menaklukkan Zarow pasti ia telah menendang jauh-jauh Satria.
" maaf ya sayang aku ganggu waktu istirahat kamu ya?, aku khawatir banget sama kamu, kamu masih sakit? " tanya Satria.
Satria dari sebrang telpon kemudian berbicara panjang lebar dengan meminta maaf padanya, seharusnya Satria tak perlu menelponnya saat ini karena Satria hanya mengganggu fokusnya pikirnya.
" iya sayang gak papa, maaf ya udah bikin kamu khawatir, tadi aku tidur yank makanya gak angkat telpon kamu " jawab Adriana beralasan
Ia berbicara lemah lembut dengan nada suara yang ia sengaja ubah agar terdengar seperti benar-benar sakit untuk meyakinkan Satria.
" tapi gimana sekarang keadaan kamu? " tanya Satria.
Mendengar pertanyaan Satria ia yakin aktingnya sangat berhasil karena Satria terdengar nampak cemas sekali.
" masih mual sih, masih agak pusing, tapi kamu gak udah khawatir aku cuman butuh waktu istirahat aja ko " bohong Adriana lagi
__ADS_1
Satria memang sangat percaya padanya Satria tak pernah curiga padanya meskipun Ia sudah sering membohongi Satria selama ini, Adriana pun menyunggingkan senyum liciknya merasa bangga karena selama ini Satria tak sedikitpun pernah curiga padanya.
Entah selama ini Satria terlalu bodoh atau apa pikirnya sampai-sampai tak pernah sedikitpun menyimpan rasa curiga padanya, tapi bagus lah pikirnya dengan begitu ia masih bisa menjadikan Satria cadangan kalau-kalau nantinya ia tak bisa mendapatkan Zarow.
" kalo gitu aku sekarang ke rumah ya yank, kita ke rumah sakit dulu, kamu harus periksa " kata Satria.
Matanya melotot kaget karena Satria berkata ingin pergi ke rumahnya padahal ia tak sedang berada di rumah, sepersekian detik ia terdiam berpikir bagaimana cara mencegah Satria agar tak nekat ke rumahnya saat ini.
" aduh kacau nih kalau Satria nekat ke rumah, bakal ketahuan kalau gue boong & rencana gue jadi berantakan deh " gumamnya dalam hati.
Bagaimana pun juga misinya saat ini tak boleh gagal & dia tak boleh ketahuan Satria, ia tak ingin melepas Satria sebelum ia berhasil mendapatkan Zarow.
" gak usah sayang, aku baik-baik aja ko, yakin deh besok pasti aku udah sembuh, aku cuman butuh istirahat aja, kamu stay aja di outlet ya sayang percaya deh aku tuh cuman butuh istirahat aja " bujuk Adriana.
Terdengar Satria menghembuskan nafas kasarnya yang terdengar agak kecewa, masa bodoh soal kekecewaan Satria pikirnya yang penting bagi Adriana saat ini ia harus segera bisa mendapatkan Zarow pikirnya.
" hem, ok deh, tapi kamu janji ya yank kalo kamu sakitnya besok gak sembuh kita ke rumah sakit, aku gak mau tau pokonya kamu harus mau " kata Satria
Ia menghela nafasnya & tersenyum lega akhirnya Satria tak nekat datang kerumahnya untuk memaksa dirinya pergi ke rumah sakit hari ini.
" iya sayang, ya udah ya sayang kamu lanjut gih, aku mau istirahat lagi ya biar lebih agak enakan lagi " kata Adriana.
" ok sayang, met istirahat ya, cepet sembuh, love you, eemmmuuuuaaaahh " kata Satria mengucapkan salam terakhirnya sebelum menutup telponnya.
" love you to sayang " balas Adriana.
Ponselnya pun ia letakan kembali ke tempat semula, ia bisa bernapas lega saat ini & melanjutkan misinya saat kembali.
**********
Karena hujan turun sangat deras ia & team yang tergabung menjadi pasukan dalmas tak jadi bertugas kelapangan, padahal hari ini harusnya ia & pasukan dalmas mengadakan razia PSBB kembali.
Aldo beberapa hari lalu telah menyampaikan padanya jika ia juga mendapatkan bagian & di tunjuk untuk bergabung bertugas pada saat razia di tempat-tempat hiburan yang akan segera dilaksanakan.
Sebagai seorang yang penuh dengan rasa tanggung jawab Pelangi menerima tugas tersebut padahal seharusnya pada saat ini ia harus lebih sering berada di rumah menjelang hari pernikahannya.
Pernikahannya kini tinggal menghitung hari tetapi ia juga belum memberitahu kepada teman-teman sekantornya, ia tak mau sesumbar terlebih dahulu karena Allah maha membolak-balikkan hati seseorang.
Apalagi jika diingat-ingat undangan pun belum tercetak & disebar, itu lah yang membuat Pelangi tak ingin membocorkan tentang rencana pernikahannya pada teman-temannya sekarang.
Aldo terus menatap Pelangi yang saat ini hanya tertunduk mendengarkan penjelasannya, sebagai Kasi OPS dan Dal
Kasi Pengawalan dan penjagaan Aldo bertanggung jawab atas semua kegiatan yang akan berlangsung.
Sebenarnya Aldo tak mau Pelangi tergabung dalam oprasi razia malam kali ini karena tak ingin jika ada tindakan anarkis yang akan membahayakan Pelangi tetapi sebagai orang yang profesional dengan pekerjaan ia tak boleh pilih-pilih apalagi ini memang sudah menjadi tanggung jawab.
" jadi semuanya udah paham kan masalah rencana razia di tempat-tempat hiburan malam yang bakal kita laksanakan dalam waktu dekat ini? " tanya Aldo.
" sudah bang " jawab mereka semua.
Doni hanya manggut-manggut mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh Aldo tadi, ini untuk pertama kalinya setelah enam bulan yang lalu diadakan razia malam.
Razia ini dilakukan untuk pengamanan tempat-tempat hiburan malam yang sampai saat ini masih beoprasi ditengah-tengah masa pandemi seperti ini.
Tujuannya dilakukan razia ini untuk mengurangi kerumunan serta kegiatan kumpul-kumpul dimalam hari untuk memutus rantai penyebaran virus Covid19.
Doni memperhatikan Aldo yang saat ini terus melihat kearah Pelangi, dengan pandangan herannya sampai saat ini ia terus bertanya-tanya mengapa dua sejoli tersebut masih nampak malu-malu untuk mengumumkan masalah ta'aruf yang saat ini telah mereka jalani.
__ADS_1
Padahal teman sekantor pasti sangat gembira jika mengetahui kabar bahagia mengenai mereka, kedekatan Aldo & Pelangi selama ini cukup membuat hampir seisi kantor greget & ikut berkomentar untuk mereka berdua karena sudah sangat cocok.
" apa sih Don? " tanya Pelangi sambil tersenyum sadar dipandang aneh oleh Doni.
Tersadar dirinya ditatap aneh ia pun mulai bersuara, entah apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh Doni sehingga menatapnya seperti itu.
" gak papa, itu gue tadi liat ada nyamuk gigit pipi lo " kata Doni beralasan.
" ah masa, gue gak ngerasa digigit tuh " jawabnya.
Ia memang tak merasa sama sekali ada nyamuk yang menggigit dirinya, ia pun hanya menggeleng-gelengkan kelapanya paham jika Doni saat ini tak sedang berkata jujur.
" heran banget sama nih anak, susah banget di baca isi hatinya, kadang terlalu tertutup, buka-buka masalah pribadinya juga cuman seipet, hemm semoga aja lo selalu bahagia ya Ngi sama Aldo " gumam Doni dalam hati sambil tersenyum.
" Don lo itu jangan pandangin Pelangi diem-diem, tar ada yang cemburu loh kalo lo diem-diem suka sama Pelangi, lagian lo kan udah punya cewe " saut salah satu pasukan dalmas.
" anji*r sapa juga yang suka sama Pelangi, dia mah udah gue anggep kaya ade gue sendiri, lagian mana berani sih gue nyelip Pelangi kan Pelangi nya belum tentu mau ama gue, cieehhh hahahhaa " kata Doni sambil bercanda.
" hahahahahaha, jelas lah lo mah gak ada apa-apanya " celetuk anggota lainnya.
" bang Al senyum-senyum aja tuh, cieeeehhhh " kata yang lainnya lagi.
Pelangi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, bukan sekali dua kali ia bahkan sering kali ia dijadikan bahan bersama Aldo seperti ini.
Aldo hanya mampu tersenyum tatkala menjadi bahan ejekan seperti ini, sebenarnya Aldo juga sudah sangat ingin melamar Pelangi hanya tinggal menunggu orangtuanya yang akan datang bulan depan ke rumahnya.
Saat orangtuanya datang ia akan langsung membicarakan masalah niat baiknya yang ingin mempersunting gadis yang ia sukai tersebut untuk menjadi istrinya.
Ia berharap Allah akan mempermudah jalannya untuk menjadikan Pelangi sebagai istrinya karena setiap niat baik pasti akan dipermudah oleh Allah.
Doni tersenyum senang melihat keduanya tersenyum malu-malu, nampak jelas benih-benih cinta yang tersirat dari mata Aldo pada Pelangi.
Entah sebucin apa saat ini Aldo pada Pelangi pikir Doni sehingga hanya mampu tersenyum seperti itu saja tanpa bisa berkata-kata.
Meskipun saat ini Pelangi masih nampak terlihat biasa saja tapi ia yakin jika sebenarnya Pelangi juga menyimpan rasa dengan Aldo pikir Doni.
Adzan Dzuhur pun berkumandang samar-samar di telinga karena kantor tempat ia bekerja lumayan jauh dari masjid, mereka segera membubarkan diri untuk menunaikan ibadah sholat Dzuhur nya.
Drtttttt......drtttttt.....
Ponsel miliknya terasa bergetar disaku celananya, ia segera merogoh sakunya untuk mengambil ponsel miliknya.
Notifikasi panggilan masuk dari Zarow 2 kali tak terjawab, cukup kaget melihat notifikasi tersebut pasalnya sedari tadi ia tak merasa ponsel miliknya bergetar.
Drrttttt......drrrtttttt......
Sekali lagi ponsel miliknya bergetar, segera ia menjawab panggilan dari Zarow khawatir jika ada sesuatu yang akan di sampaikan mengenai persiapan pernikahan mereka.
" hallo, assalamualaikum mas " jawab Pelangi memberi salam.
" wa'allaikumsalam salam, hufftt....kamu dari ngapain aja sih?, kok aku telpon gak diangakat " cecar Zarow dari sebrang sana.
" oh anu mas tadi lagi ngomongin kerjaan, masalahnya aku gak denger hp geter tadi, maaf ya " kata Pelangi menjelaskan sambil tersenyum meskipun Zarow tak melihat senyum manisnya kali ini, " oh iya kenapa mas nelpon aku? " tanya Pelangi.
Mendengar suara Zarow tadi sepertinya memang Zarow ingin menyampaikan sesuatu, mengingat adzan sudah berkumandang tadi ia langsung to the poin pada Zarow untuk mempersingkat waktu.
" emang gak boleh aku nelpon kamu?, pake tanya ke gitu segala kamu " jawab Zarow agak bete dari sebrang sana, " aku cuman mau ngingetin kamu, ini kan sudah adzan, jangan lupa sholat ya, doain aku calon imam mu supaya bisa terus ada ditempat yang bener dijalan yang bener, Istikomah, bisa jadi calon imam yang bener, aku juga bakal doain kamu untuk yang terbaik, jangan lupa doain kita supaya bisa dipersatukan secara lancar " lanjut Zarow lembut.
__ADS_1
Pelangi terdiam mendengar kata-kata Zarow, pria kaku tersebut nampak sangat tulus berkata seperti itu membuatnya terharu mengingatkan ia untuk sholat & menyuruhnya untuk mendoakannya agar senantiasa berada dijalan yang benar.
" subhanallah, iya mas, aamiin, ia aku doain nanti ya, ini aku udah mau siap-siap pergi sholat, kamu juga jangan lupa sholat ya mas " jawab Pelangi.