Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 101 - Ujian Dimulai


__ADS_3

Tahap Ketiga, Day 1260, Ujian Tahap Ketiga.


Burung-burung tiba-tiba terbang tak tentu arah dari pucuk pepohonan karena kaget akan sesuatu. Binatang kecil juga saling berhamburan karena ketakutan dan berusaha menyembunyikan dirinya.


Koga berdiri dengan muka serius dan sedikit tegang di atas Gedung yang dulunya menjadi tempat semua Kandidat belajar dan menuntut ilmu saat mereka masih kecil dan berada pada Tahap Kesatu. Masa-masa yang menyenangkan dimana Koga sudah mendominasi rekan-rekannya dan menjadi Kandidat terkuat.


Tapi, waktu berlalu dengan cepat, Tak terasa, hampir 10 tahun masa itu sudah terlewati. Kini Koga berdiri disini, dengan kedua tangan terlipat didada, sambil melihat ke arah Hutan. Tempat dimana, Kandidat lainnya sedang mengasah cakar dan taringnya sebelum mereka menyerbu kesini.


Koga melihat kearah sebelah Barat pulau dimana burung-burung kecil tadi terbang ketakutan dengan tiba-tiba. Dari sekian Kandidat Monster yang ada, hanya satu orang yang akan datang tanpa menutupi kehadirannya seperti ini dan Koga juga yakin kalau dia adalah musuhnya yang akan pertama kali menggedor pintunya.


Gama.


Sesuai dugaan Koga, sosok pertama yang muncul dari rimbunnya pepohonan adalah seorang remaja laki-laki berkulit gelap yang dengan santainya sedang menikmati sebuah apel ditangannya sambil berjalan pelan keluar dari celah-celah pepohonan.


Dua orang terlihat di belakangnya. Yang pertama adalah sosok wanita berambut kemerahan dan mempunyai tubuh super seksi. Bagaikan sebuah gitar klasik yang aduhai lengkungannya. Sebuah busur panah yang berukuran lumayan besar terlihat diikat di belakang punggungnya. Ditambah lagi, beberapa crossbow kecil dengan berbagai ukuran yang tertata rapi di pinggang dan tangannya.


Koga tahu siapa gadis itu, Adel.


Sosok kedua yang menemai Gama sedikit membuat Koga terperanjat. Karena Koga langsung tahu setelah melihatnya sekali saja, kalau sosok itu bukanlah dari ras manusia. Koga dan semua anggota timnya tahu, bahwa manusia bukanlah satu-satunya ras yang memiliki kecerdasan di dunia. Mereka juga sudah beberapa kali bertemu dan bertarung dengan ras Beastmen dan ras Elf yang ada di Pulau, jadi Koga bisa mengenali sosok itu dengan segera.


Tapi, sesuatu yang membuat Koga kaget adalah, dia sama sekali tak mengenali Beastmen betina yang memiliki garis keturunan Harimau ini.

__ADS_1


Siapa dia?


Gama seolah tak peduli dengan tatapan Koga yang melihatnya dengan sengit dari atas gedung. Sekalipun jarak antara keduanya masih ratusan meter, tapi dengan kemampuan masing-masing, Koga dan Gama bisa melihat dengan jelas ekspresi lawannya.


Di lantai dua gedung, ada dua sosok wanita yang berdiri bersampingan tapi tidak saling bicara. Mereka adalah Tien dan Songnam. Tien adalah soulmate dari Gama, sedangkan Songnam adalah soulmate dari Koma.


Tien memiliki kecantikan khas china sedangkan Songnam memiliki darah Korea. Keduanya mempunyai ciri khas oriental yang sangat diidolakan oleh Koga. Apalagi Tien yang memiliki kemiripan wajah dan ciri fisik dengan Tian. Koga sangat menyukainya.


Tapi, mengandalkan kelebihan fisik dibandingkan kecerdasan otak dalam berebut pengaruh adalah sebuah kesalahan fatal. Songnam jauh lebih cerdas dibandingkan Tien. Songnam memiliki IC 2.95 sedangkan Tien hanya 2.35, Tien menjadi sasaran tipu muslihat Songnam bahkan sejak pertama kali dia memutuskan meninggalkan sisi Gama setelah pertarungan di Workshop waktu itu.


Songnam membiarkan saja Tien menjadi wanita kesayangan Koga, tapi dengan pengaruh liciknya, dia justru mendapatkan keuntungan dari semua itu. Keuntungan yang memberikannya satu set Enhancement Serum dan membuatnya menjadi Kandidat terkuat kedua yang ada dalam Tim Koga.


Sejak kegagalan tim Songlan dan keluarnya pasangan Tia-Gasa, Tim Koga memang hanya terdiri dari 8 orang saja. 2 orang laki-laki dan 6 orang perempuan termasuk Koga sendiri. Dari kedelapan anggota Tim itu, hanya Koga dan Songnam yang memiliki kemampuan bertarung diatas rata-rata, Kandidat lain hanyalah beban bagi mereka berdua.


Di lantai pertama, Em berdiri menyendiri dan terlihat sama sekali tak peduli dengan apapun, sedangkan keempat Kandidat lainnya berdiri dan melihat cemas kearah pagar yang mengelilingi Komplek dan mengarah ke Hutan.


Sako yang merupakan pasangan Songlan, melihat dengan cemas keluar jendela, dia tahu kalau hari ini atau setidaknya dalam waktu dekat, soulmatenya akan datang kesini dan dia tak tahu reaksi apa yang akan dia berikan.


Tulan memegang erat tangan Aso yang menjadi soulmatenya. Mereka adalah pasangan lemah yang selama ini selalu berlindung di balik pengaruh Koga tapi berhasil survive hingga sekarang. Ketika mereka mulai merasa nyaman dengan kehidupan mereka yang aman selama beberapa tahun ini, pengumuman yang diberikan oleh Pulau tiga hari lalu seperti menghapus mimpi mereka berdua dan kembali mengembalikan mereka ke alam nyata.


Alam nyata yang selama ini mereka coba hindari dan takuti.

__ADS_1


Aen menatap ke arah luar Gedung dengan tatapan kosong. Sejak Duma berangkat bersama Songlan dan Tim Attack yang dipimpin oleh Tutu kemudian tak pernah kembali lagi, Aen seperti sebuah gelas hampa tanpa isi. Dia bergerak kesana kemari sesuai dengan siapa pun yang menariknya.


Dia tak peduli lagi dengan sekitarnya dan tak peduli lagi dengan semuanya. Aen hanya menjadi sebuah cangkang, sebuah raga tanpa jiwa.


Di suatu tempat, di dekat Komplek, sebuah sosok yang tak terlihat oleh mata, sosok transparan yang terkadang membuat nyamuk dan beberapa binatang kecil lain tanpa sengaja menabraknya dan terjatuh ke tanah sambil memaki-maki karena tak tahu benda apa yang menghalangi jalannya, duduk dengan tenang di atas sebuah dahan.


Matanya tak berhenti memandang ke arah lantai dua Gedung tempat Koga berdiri di atapnya.


Ke arah soulmate-nya, ke arah Songnam, yang dengan penuh percaya diri melipat kedua tangannya di depan dada, meskipun buah dadanya berukuran tak seberapa.


“Songnam…” gumam Koma pelan.


Memang dia tak pernah punya rasa untuk soulmate-nya, tapi apapun ceritanya, Songnam seharusnya menjadi seseorang yang terdekat dengannya. Apalagi setelah sekian tahun hidup menyendiri dan hanya ditemani oleh kesunyian di malam hari, Koma mulai merasa sepi. Betapa dia mulai merasakan kesedihan saat menjadi seorang jomblo.


Sekalipun dia tinggal di sebuah tempat yang bisa dikatakan surga dunia, sekalipun dia punya kekuatan yang dapat mengalahkan musuhnya dalam sekejap mata, sekalipun dia punya wajah tampan yang menawan hati para wanita, tetap saja Koma adalah seorang jomblo menderita.


Koma meraih belatinya. Sebuah belati yang berwarna hitam gelap dan memberikan kesan misterius. Belati yang bernama Shadow Blade.


Matanya langsung bergerak menuruni gedung dan dia melihat kelima orang yang sedang berada di dalam sana. Lalu, tanpa berpikir, Koma menentukan targetnya secepat kilat.


“Tulan, Aso, maafkan aku, kalian hanya akan menjadi tumbal bagiku,” gumam Koma pelan.

__ADS_1


__ADS_2