Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 22 - Satu untuk Satu


__ADS_3

Di dekat Komplek tempat mereka menerima briefing dari Professor.


Dua tubuh anak kecil tergeletak di tanah. Tubuh mereka membiru di beberapa bagian. Semua orang yang ada disini pasti tahu kalau mereka berdua sudah meninggal dunia.


Mereka adalah pasangan Kandidat naas yang tewas di tangan Gama. Ketika Koga ragu untuk menghabisi musuhnya. Gama tanpa ragu mengusulkan dirinya kepada Professor dan Gama menjadi orang pertama yang lolos ke Tahap Tiga.


Gama melirik ke arah Tien, "kau lihat, seperti itukah orang yang kau idolakan? Lemah dan sama sekali tidak berpendirian," kata Gama pelan.


"Perasaan adalah sesuatu yang tidak dibutuhkan untuk bertahan hidup. Hanya ada 'aku' dan hanya 'aku' untuk urusan survival."


"Seandainya hanya ada dirimu dan Koga di pulau terpencil dan kalian hanya bisa bertahan hidup dengan memakan satu sama lain, apa yang akan kamu lakukan?"


"Pasrah dan membiarkan Koga memakanmu? Hanya demi 'perasaan' atau 'cinta'? Sebuah konsep absurd yang timbul karena keterbatasan otak kita dalam menerjemahkan sinyal-sinyal elektrik dalam tubuh kita."


"Aku genius."


"Perasaan, cinta dan emosi, sama sekali tidak mempengaruhiku dalam mengambil keputusan. Aku akan membunuh tanpa ragu jika itu memang tindakan yang paling logis untuk dilakukan."


"Seperti sekarang ini," kata Gama kepada soulmatenya Tien.


Tapi keempat pasang soulmate yang tersisa bergidik ngeri mendengar kata-kata si Night Stalker. Saat itu, bahkan Koga dan Koma memutuskan dalam hati untuk tidak cari masalah dengan si Genius.


"Professor, aku dan soulmateku sudah tak perlu ke hutan lagi kan?" tanya Gama ke arah Hollogram Professor.


"Tentu tidak. Aku selalu menepati janjiku. Silakan kembali ke dormitory kalian dan tunggu hasil Ujian Eliminasi ini," jawab sang Professor sambil tertawa kecil.


Gama tertawa dan berjalan kembali menuju Komplek.


Tien langsung menyusul Gama dan sama sekali tidak menoleh ke Koga yang menjadi pujaan hatinya selama lebih dari dua tahun belakangan ini.


Saat mereka sudah menjauh dari tempat itu dan Gama merasa kalau kamera pengawas di tempat tersebut tidak terlalu banyak. Gama menghembuskan napas panjang.


Mukanya yang berkulit hitam tampak seperti menahan muntah.


Ini kali pertama dia membunuh orang dan dia kenal dengan mereka. Gama bukan pendiam dan penyendiri seperti Gaju. Dia supel dan pandai bergaul. Gama juga suka bercanda.


Dan hanya dia yang tahu kalau sosok Kandidat Genius Gila adalah sesuatu yang sengaja dia ciptakan untuk mengintimidasi Kandidat lain. Terutama physic-based Kandidat seperti Koga, Koma atau Aju.

__ADS_1


Betapa sebenarnya Gama adalah seorang yang berhati lembut dan sama sekali tak bisa menyakiti mahluk lain.


Karena dengan kecerdasan yang dia miliki, hal pertama yang membuat dirinya takjub adalah kehidupan. Bagaimana mahluk hidup itu tercipta? Dimana letaknya nyawa? Apakah yang membuat sesuatu menjadi 'hidup' dan membedakan mereka dari benda mati?


Untuk seseorang yang sangat menghargai 'kehidupan' seperti Gama, bisa dibayangkan betapa terpuruknya dia saat tadi menghabisi nyawa kedua rekannya.


Tien yang melihat Gama dari belakang dan merasa ada yang sedikit aneh dari bocah berkulit hitam itu bertanya pelan, "Gama, kamu tidak apa-apa?"


Gama menggelengkan kepalanya dan berjalan kembali ke arah dormitory. Hanya ada dua bayangan bocah kecil yang terlihat di dalam Komplek yang luas sore itu.


\=\=\=\=\=


Tinggal empat pasang Kandidat di lapangan ini. Koga dan Koma serta dua pasang Kandidat lemah yang nasibnya kini ada di tangan mereka berdua.


"Koga, Koma. Waktu terus berjalan. Beri keputusan cepat," kata sang Professor.


"Kalian juga, kalian ingin tetap disini atau ingin masuk ke dalam hutan?" tanya sang Professor kepada dua pasang Kandidat yang badannya gemetar karena ketakutan.


"Kami ingin masuk ke Hutan, Professor," jawab salah satu laki-laki dari mereka.


"Oke, silakan!" jawab sang Professor.


Mereka memang memiliki kemampuan dibawah rata-rata menurut ukuran Pulau. Tapi menurut standard dunia luar, mereka seharusnya masuk kategori cerdas di atas rata-rata.


Jangankan orang cerdas, orang bodoh pun tahu kalau disuruh memilih antara 100% pasti mati di tangan Koga/Koma atau 50% kemungkinan bertahan hidup di Hutan, tentu mereka akan memilih opsi kedua.


Karena itu mereka berempat bergerak cepat ke arah Hutan dan setengah berlari. Berharap mereka dapat mempunyai jarak sejauh-jauhnya dari Koga ataupun Koma.


Tapi harapan tinggallah harapan.


Sekelebat bayangan tiba-tiba muncul di depan mereka. Kandidat tercepat di Pulau. Koma.


"Maafkan aku, tapi aku harus melakukan ini," kata Koma pelan dengan wajah sedih.


Detik berikutnya dua buah tubuh sudah terbujur kaku dengan kepala terpisah dari badannya. Darah mengalir dari leher mereka yang tanpa kepala.


Koga, Songnam dan Em terperanjat.

__ADS_1


"Apa itu tadi?" bisik Songnam pelan.


Dari dulu, Songnam suka Koga dan sampai detik ini, dia masih mempunyai perasaan yang sama. Sehebat apapun Koma. Tapi dia belum pernah melihat Koma beraksi sebelumnya. Tidak dalam kondisi pertarungan yang melibatkan nyawa seperti barusan.


Gerakan Koma sangat cepat hingga Kandidat lain tak bisa melihatnya.


Yang mereka lihat cuma Koma menghilang dan tiba-tiba dia sudah berdiri menghadang empat orang itu.


Kemudian Koma mengucapkam sesuatu yang pelan, mungkin permintaan maaf?


Lalu, Koma melambaikan tangannya ke arah kedua orang itu dan detik berikutnya, kepala mereka terpisah dari tubuhnya. Dan yang lebih mengerikan, tatapan mata orang yang melayang bersama kepalanya itu tidak menunjukkan sama sekali ekspresi kesakitan. Yang ada justru kebingungan dengan apa yang terjadi.


Professor tersenyum puas pada Kandidat yang memang dia kagumi itu. Dia pernah memujinya dua tahun lalu dan mengakui kalau dirinya menganggap Koma lebih berpotensi daripada Koga. Dan Koma membuktikan kalau tebakannya benar.


Mungkin dari sekian banyak orang yang ada disini, cuma Professor yang tahu dari rahasia serangan Koma. Dan rahasia itu didapatnya setelah memperlambat video rekaman serangan Koma barusan. Tentu saja di ruang kantornya.


Karena itu, untuk sekian detik tadi, hollogram Professor sempat freeze tanpa sepengetahuan para Kandidat yang sibuk memperhatikan Koma.


"Selamat Koma, kamu dan soulmatemu menjadi pasangan kedua yang melaju ke Tahap Tiga," kata Professor.


Koma kemudian berjalan dari hadapan pasangan Kandidat lemah yang tersisa dan meninggalkan tempat itu. Dia sama sekali tak peduli dengan Songnam. Kekasih Koga.


Songnam terlihat ragu-ragu, tapi akhirnya dia mendekati Koga dan Em, "Koga, aku duluan. Aku akan menunggumu," katanya pelan.


Koga menganggukkan kepalanya dan dia berlari ke arah pasangan yang tersisa.


Mereka berdua melihat ketakutan ke arah Koga dan tanpa berpikir langsung berlari ke arah hutan. Tapi sesaat sebelum mereka masuk ke rimbunnya pepohonan, sebuah bayangan berkelebat di belakang mereka.


Kepala si Kandidat pria tiba-tiba meledak dengan campuran cairan putih dan merah berhamburan kemana-mana dan menempel ke semua penjuru.


Koga terlihat berdiri di belakangnya dengan pose masih memukul. Di ujung kepalan tangannya bahkan terlihat sedikit sisa rambut berwarna pirang dari bocah malang tadi.


"Kumohon, ampuni aku. Kami tak melakukan kesalahan apapun," si wanita yang tersisa hanya bisa duduk bersimpuh ditanah dan menangis sejadi-jadinya.


"Maafkan aku. Satu untuk satu. Soulmate untuk soulmate," kata Koga pelan.


Detik berikutnya, percikan merah dan putih kembali bercipratan ke pohon-pohon disekitar mereka.

__ADS_1


Hari Pertama Ujian Eliminasi.


3 pasang lolos, 3 pasang terliminasi.


__ADS_2