Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 54 - Perpisahan


__ADS_3

Adel membangunkan Aju dan merawat luka-lukanya. Gaju sedang mengumpulkan kembali jarum-jarumnya.


Setelah beberapa menit, mereka bertiga berkumpul kembali di bawah pepohonan yang tumbang dan area yang luluh lantak karena pertarungan tadi.


"Gaju, apa rencanamu?" tanya Adel.


"Dimana Tian?" tanya Aju dalam waktu yang hampir bersamaan.


Gaju tersenyum pahit, "Aku harus jawab yang mana dulu?" tanya Gaju.


"Sebaiknya kita pindah ke tempat aman dulu," usul Adel, "Siapa tahu, mahluk itu akan kembali," imbuhnya sambil melirik cemas ke sekelilingnya.


Gaju setuju dengan usul Adel, lalu mereka bergerak pelan menuruni lereng Gunung yang lebat dan ditemani pepohonan.


Aju yang terluka dan Gaju yang kelelahan, membuat mereka bertiga hanya bisa berjalan pelan dan hati-hati. Sampai akhirnya mereka menemukan sebuah sungai kecil berbatu yang terlihat jernih dan tak terlalu dalam.


Sungai kecil ini bukan sungai landai yang memanjang, tapi lebih mirip dengan tumpukan air terjun kecil yang menuruni bebatuan dan sela-sela pepohonan karena kondisi lereng gunung yang agak curam.


Airnya jernih dan percikannya yang jatuh dari atas membasahi lumut kehijauan yang menempel di bebatuan. Suara gemericik air yang pelan dan kontinyu menciptakan sebuah irama yang terdengar ritmik dan natural.


"Kita istirahat dulu di sini sambil makan siang," kata Gaju pelan.


Aju dan Adel mengikuti saran Gaju dan mencari tempat yang agak teduh di pinggir aliran sungai lalu mereka bertiga memeriksa sekeliling mereka dan membersihkan area tersebut.


Terkadang, tempat indah yang terlihat sepi seperti ini menyimpan bahaya yang tersembunyi.


Contohnya, sungai kecil yang berbatu, teduh, dan lembab ini adalah spot favorit bagi Laba-Laba Api, karena itu mereka harus memeriksanya terlebih dahulu.


Setelah memeriksa selama beberapa saat, Adel menyelinap ke semak-semak di depan mereka selama beberapa menit lalu dia kembali lagi. Gaju dan Aju tak bertanya apapun ke Adel, apapun yang gadis seksi itu lakukan, tentunya demi keselematan mereka. Atau setidaknya demi keselamatan dirinya sendiri.


Mereka bertiga lalu mengeluarkan makanan ransum yang mereka simpan. Mereka tak punya cukup tenaga atau waktu untuk berburu makan siang mereka.


Setelah beberapa menit menyantap makanan tanpa suara, Gaju berdiri dan mengambil air minum dari sungai yang jernih dengan menggunakan gelasnya.

__ADS_1


"Oke. Tolong, bisakah seseorang menceritakan padaku apa yang terjadi setelah aku pingsan?" tanya Aju.


Adel melihat ke arah Gaju dan Gaju menganggukkan kepalanya lalu memberikan isyarat kepada jarum yang tersembunyi di tangannya. Adel tersenyum, dia paham maksud Gaju. Gaju memintanya untuk menutupi rahasia tentang kekuatan miliknya yang bahkan Tian pun mungkin tak mengetahuinya.


Adel lalu melihat ke arah Aju dan mulai menceritakan semuanya, kecuali bagian tentang Gaju yang berubah menjadi monster yang memiliki kekuatan fisik sebanding dengan Griffin.


Adel juga menceritakan tentang Professor dan Tian, termasuk tentang poin minus milik Gaju dan reward yang diberikan oleh Pulau untuk Kandidat yang bisa mengeliminasi Gaju.


Mata Aju sempat bersinar sesaat lalu redup kembali. Adel dan Gaju tahu apa itu, greed, keserakahan, salah satu tujuh dosa yang melekat pada mahluk yang bernama manusia.


"Setelah ini, kamu akan menjadi target buruan bagi semua Kandidat di Pulau, terutama Koga. Dia tak akan melepaskanmu begitu saja. Aku tahu sifatnya," kata Aju.


"Aku mungkin akan melepaskanmu saat ini. Tapi aku tak tahu kapan akan kembali tergoda untuk memakanmu," kata Aju pelan dengan senyuman tipis di bibirnya.


Sebuah senyuman yang terlihat sedikit aneh.


"Kita semua adalah kompetitor. Aku tak menyalahkanmu. Memang seperti itulah tujuan mereka. Tapi, satu hal yang harus kalian tahu. Aku selalu siap menghadapi siapapun yang datang untuk mengambil nyawaku. Aku punya hak untuk mempertahankan diri," jawab Gaju pelan.


Suasana canggung tercipta antara mereka bertiga.


Kata-kata Gaju barusan tentu saja membangkitkan jiwa fighter Aju yang merasa tertantang untuk bertarung melawan Gaju.


"Aju. Kamu tak punya otak. Akui itu. Saranku, cobalah untuk berusaha berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan apa pun. Atau minta pendapat Adel sebelum bertindak. Itu saran terakhirku sebagai kawan untukmu," kata Gaju pelan sambil mengemasi barang-barangnya.


Aju jelas naik pitam mendengar kata-kata Gaju, sebodohnya-bodohnya dia, pasti paham kalau Gaju baru saja mengatainya sebagai orang bodoh.


"Kau!!" Aju langsung berdiri dan berniat meloncat ke arah Gaju.


"Keling!!" teriak Adel.


Aju menahan gerakan tubuhnya dan melirik ke arah Adel dengan tatapan penuh tanya.


"Kamu bukan lawan Gaju. Jangan melawannya," kata Adel pelan.

__ADS_1


Aju terdiam dan menganggukkan kepalanya. Tapi si Keling salah sangka dengan kata-kata Adel. Aju menyangka kalau dia bukan lawan Gaju sekarang karena luka-luka ditubuhnya. Dan itu memang benar, Aju hanya bisa mengekuarkan tak lebih dari separuh kekuatan yang sesungguhnya karena semua luka itu.


Adel menarik napas lega setelah melihat Aju kembali tenang. Dia lalu melihat ke arah Gaju yang masih mengemasi barangnya dalam diam.


"Gaju, apa rencanamu?" tanya Adel.


"Tentu saja mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Aku punya hutang yang menjerat leherku. Kalian tahu kan?" jawab Gaju sambil tertawa kecil.


"Jadi, kamu akan?" tanya Adel ragu-ragu.


"Ya. Aku akan tetap tinggal di hutan dan berburu binatang buas. Sedikit demi sedikit mengumpulkan poin dan mencoba melunasi poin minusku," jawab Gaju.


"Aku tak mau ikut denganmu. Kau itu bom waktu yang berdetak tanpa kontrol. Saat Tim Koga atau Kandidat lain memburumu, aku tak mau terlibat dalam pertarungan kalian," kata Aju cepat.


Gaju tertawa kecil.


"Aku tak pernah meminta kalian membantuku. Aku justru menginginkan kalian berdua pergi sejauh mungkin dariku. Kalian hanya akan menghambatku," kata Gaju.


"Kau..." sungut Aju sambil menahan amarah yang kembali meledak.


Adel mendengus marah ke arah Si Keling dan membuat dia terdiam.


"Gaju, kamu serius?" tanya Adel.


"Aku serius. Ini hutangku dan ini pertarunganku. Kalian tak perlu terlibat di dalamnya," jawab Gaju.


"Mmmm..." Adel terlihat ragu dan melirik ke arah Aju.


"Adel. Jangan bimbang. Pergi bersama Aju. Kalian soulmate. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kau seharusnya tahu itu," kata Gaju.


"Tapi..." Adel masih terlihat lagi.


"Pulau ini tak sebesar itu. Kita pasti bertemu lagi," kata Gaju sambil tertawa dan mulai berjalan ke arah pepohonan.

__ADS_1


Aju hanya terdiam dan tak menyela percakapan antara Gaju dan Adel.


Beberapa saat kemudian, bayangan Gaju sudah menghilang ditelan rimbunnya pepohonan. Aju dan Adel masih terdiam di tempatnya tanpa suara. Hanya suara gemericik air dari sungai kecil di sebelah mereka yang menemani mereka berdua.


__ADS_2