
Tahap Ketiga, Day 26.
“Selamat pagi kepada seluruh Kandidat.”
“Peringkat pertama untuk perolehan poin ditempati oleh Kandidat Tiga Tujuh dengan total perolehan poin sebanyak 757 poin.”
“Sistem Charity dan Robbery aktif hingga batas waktu yang belum ditentukan.”
“Reward 1000 poin untuk Kandidat yang berhasil mengeliminasi Kandidat Tiga Tujuh, aktif hingga batas waktu yang belum ditentukan.”
“Selamat berjuang!!”
\=\=\=\=\=
Aju terdiam setelah membuka notifikasi rutin dari mini komputernya yang sudah menyerupai sarapan pagi itu. Bagaimana tidak, setiap pagi, setiap hari, notifikasi yang sama selalu diterimanya. Dan semuanya selalu menyebut satu nama Kandidat yang berhasil menduduki peringkat perolehan pertama.
Gaju.
Tapi setelah sekian lama, Aju akhirnya menyadari satu hal. Sampai saat ini, Gaju terlihat sama sekali tidak menggunakan poinnya untuk membeli item apapun. Karena poinnya masih utuh dan selalu menduduki peringkat pertama.
Aju sangat penasaran sekali, bahkan rasa penasaran yang dia miliki, mengalahkan rasa senangnya. Rasa senang yang seharusnya dia rasakan hari ini karena poin yang mereka miliki sudah cukup untuk mendapatkan Berserker Implant yang Aju impikan.
“Adel, dilihat dari perolehan poin Gaju, kelihatannya dia sama sekali tidak menggunakan poin miliknya untuk membeli item apa pun. Kamu tahu alasannya?” tanya Aju pagi itu.
Adel justru menarik napas panjang saat mendengar pertanyaan Aju.
“Aju, kamu tak perlu memperdulikan poin Gaju. Apapun ceritanya, poin yang sekarang dia kumpulkan susah payah, tak akan bisa membantunya untuk menjadi lebih kuat,” jawab Adel.
Aju terlihat memasang wajah terkejut, kepalanya menggeleng-geleng kebingungan. Meskipun semua orang tahu, apapun alasannya, kepalanya tetap akan menggeleng-geleng ke kiri dan kanan.
“Kenapa?” tanya Aju.
Adel melihat ke arah Aju, setelah berpikir selama beberapa saat, Adel memutuskan untuk memberitahu Aju tentang pertarungan hari itu.
“Aju, saat kamu dan Gaju melawan Griffin hari itu, kamu terluka dan tak sadarkan diri kan? Kamu pasti selalu berpikir bagaimana mungkin kita semua bisa selamat? Bukankah musuh kita adalah binatang buas level 3?” tanya Adel.
Aju hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ingat! Bagi si Keling, geleng-geleng kepala bisa berarti iya.
“Saat kamu tak sadarkan diri, Gaju memasang badannya untuk melindungimu. Tapi mungkin justru di luar dugaan Gaju, Tian melakukan hal yang sama untuk Gaju. Tian mengalami luka fatal saat itu,” lanjut Adel.
__ADS_1
“Saat itulah, Gaju baru menunjukkan sosoknya yang sebenarnya. Gaju... Cowok yang paling tampan di seluruh Pulau itu...” Adel menghentikan kata-katanya dan terlihat menerawang dengan tatapan ngehalu.
Pletakk.
Aju melempar sebuah kerikil kecil ke kepala Adel dan membuat si Latin Seksi kembali tersadar.
“Apa sih?” sungut Adel yang merasa khayalannya terganggu.
“Mau cerita apa mau mimpi di siang bolong?” protes si Keling.
“Iya, iya,” jawab Adel sambil mengelus-elus kepalanya.
“Gaju itu monster. Dia bisa bertarung satu lawan satu dengan imbang saat melawan Griffin. Aku sampai kehilangan kata-kata saat melihatnya bertarung seperti itu. Gaju memang benar-benar lelaki sempurna untukku...” tatapan Adel mulai ngeblank lagi dan terlihat mau memasuki mode halu-nya.
Aju makin geram dan meraih kerikil lagi di dekatnya, tapi Adel langsung berteriak ke arahnya, “Letakkan kerikil itu!!”
“Makanya... Fokus!!” protes Aju.
“Huft,” dengus Adel, “Intinya, untuk menyelamatkan Tian, Gaju membuat perjanjian dengan Professor. Dia harus menerima syarat yang diajukan oleh Professor. Syaratnya ada dua, membayar 1000 poin untuk perlakuan medis kepada Tian dan menjadi target seluruh Kandidat di Pulau.”
“Sekarang kamu tahu kenapa kita tak perlu pusing soal perolehan poin Gaju kan? Pada akhirnya, saat poinnya mencapai seribu, dia harus memberikan poin itu kepada Professor tanpa bisa menggunakannya. Meskipun aku tak tahu kalau reward 1000 poin yang disematkan kepada Gaju akan dihapus juga,” pungkas Adel.
“Tapi... Apa yang mereka berdua lakukan adalah hal paling romantis yang aku tahu. Tian mengorbankan nyawanya demi Gaju dan Gaju melakukan segalanya untuk menyelamatkan Tian,” gumam Adel dengan nada sedih.
“Jadi? Kamu sudah menyerah kan?” tanya Aju dengan raut muka ceria.
Emang jahat bener si Keling, soulmatenya patah hati malah dia kelihatan gembira sekali.
“Nggak. Tak ada dalam kamusnya Adel kata-kata ‘menyerah’. Aku akan tetap mengejar Gaju. Demi bayi-bayi mungilku yang bermata sipit dan berambut hitam,” geram Adel dengan penuh determinasi.
“Iya.. Iya.. Sudah lupakan saja topik Gaju,” potong Aju, “Berapa poin yang kita punya sekarang?” tanya si Keling itu.
Adel melirik ke arah mini komputernya dan tersenyum beberapa saat kemudian, “257 poin.”
“Yesss,” teriak Aju, “Sekarang, kita bisa beli Berserker Implant untukku kan?” tanyanya.
Adel tersenyum lalu dia pun melakukan pembelian item itu untuk Aju. Karena ini bukan kali pertamanya Adel melakukan pembelian item, dia melakukannya dengan lebih cepat dan familier daripada sebelumnya.
Setengah jam kemudian, sebuah benda berbentuk segi lima dan terbuat dari sebuah benda yang transparan terlihat dipegang oleh Adel.
__ADS_1
"Menurut petunjuk teknis yang diberikan tadi, untuk memakai Implant ini, kamu hanya harus meletakkannya ke dada sebelah kiri dimana jantungmu berada," kata Adel pelan.
"Kamu yakin?" tanya Aju.
"Iya. Seperti itulah caranya menggunakan berserker implant," jawab Adel.
"Oke, berikan padaku," kata Aju sambil mengulurkan tangannya ke arah Adel.
Adel lalu memberikan implant itu kepada Aju yang sekarang sudah membuka baju camounya dan memperlihatkan dada kirinya.
Aju menarik napas dalam dan terlihat membulatkan tekadnya. Lalu dia mendekatkan benda segi lima transparan itu ke dadanya.
Tak ada reaksi apa-apa saat Aju mendekatkan benda itu ke tubuhnya dengan perlahan-lahan, bahkan saat benda itu menempel di dada Aju, sama sekali tak ada reaksi apa-apa yang Aju rasakan.
"Adel, tak ada yang terjadi? Apakah caranya sudah benar?" tanya Aju.
Adel juga kebingungan, tapi belum sempat dia menjawab sepatah kata pun, implant itu tiba-tiba bereaksi.
Dari keujung segi limanya muncul tonjolan yang kecil dan tajam menyerupai duri. Lalu duri itu menusuk ke dada Aju dan membuatnya merintih kesakitan.
"Aduhhhh," teriak Aju.
Lalu, dari kelima ujung duri itu, cairan merah yang kelihatannya adalah darah Aju merembes pelan dan berkumpul di tengah-tengah implant yang berbentuk segi lima itu.
Tak butuh waktu lama bagi implant itu untuk berubah warna dari transparan menjadi merah darah. Aju juga tahu kalau benda itu telah menancap dengan kuat ke dalam dadanya.
Bip.
Suara notifikasi terdengar dari mini komputer Aju.
"Parasyte implant terdeteksi pada tubuh host."
"Analysing..."
"Berserker Implant telah terasimilasi dengan sempurna dengan tubuh host."
"Implant dapat diaktifkan dengan mini komputer oleh host dan akan berhenti bekerja secara otomatis setelah durasi 30 menit."
Ketika Aju mendengar notifikasi itu, dia mengepalkan tangannya ke atas dan berteriak sekencang-kencangnya.
__ADS_1
"Aku seorang Berserker sekarang!!"