
Gama berlari sekuat tenaga.
Dia terus berlari dan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk meninggalkan tempat itu secepatnya dan kembali ke sisi Barat Pulau.
Lebih baik mengumpulkan poin sedikit demi sedikit hingga dia memperoleh poin yang cukup untuk menebus item impiannya daripada meregang nyawa saat melawan Gaju.
Gama terus berlari dan tanpa menolehkan kepalanya sekalipun.
Setelah dia merasa berada dalam jarak yang cukup jauh dari tempat tadi. Gama berhenti dan mengatur napasnya.
Jangan lupa, Gama hanyalah seorang petarung dengan fisik yang biasa saja, kelebihan utamanya ada pada kecerdasannya. Wajar jika dia terengah-engah setelah melarikan diri tadi.
"Lama sekali. Kamu butuh waktu 17 detik untuk menempuh jarak 1.3 km?" terdengar suara seseorang yang berbicara di dekat Gama.
"Aaaaaaaaaaa," jerit Gama saking kagetnya.
Gama melihat sosok Gaju yang sedang berdiri bersandar di batang sebuah pohon
"Sepertinya, armormu tidak memberikan effect kepada speedmu, hanya kepada defense dan attack. Kamu butuh waktu 17 detik untuk sampai kesini. Itu artinya, kecepatanmu hanya 80m/s," lanjut Gaju.
"Kamu... Kamu..." Gama kehilangan kata-kata dan hanya bisa menunjuk ke arah Gaju dengan tangan bergetar.
Gaju tersenyum kecil lalu berdiri tegak dan berjalan ke arah Gama yang masih mematung di tempatnya.
"Gama... Mmmm... Aku hanya butuh waktu 5 detik untuk mengejarmu. Itu artinya kecepatanku 3 kali kecepatanmu. Kamu tahu artinya kan?" kata Gaju sambil berjalan pelan dan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya satu sama lain.
Tubuh Gama makin bergetar ketakutan ketika melihat tingkah Gaju dengan kedua tangannya. Seolah-olah, si Aneh di depannya ini sedang mempersiapkan tangannya untuk melakukan sesuatu.
Sesuatu yang sangat menakutkan dan tidak ingin Gama rasakan untuk yang kedua kalinya.
"Gaju... Temanku... Sahabatku... Yang baik hati dan tampan rupawan, kamu tahu kan kalau semua bisa didiskusikan dan tak perlu diselesaikan dengan kekerasan?" kata Gama dengan muka memelas.
"Hmmm..." Gaju terlihat berpura-pura berpikir dan menghentikan langkahnya, tapi kedua tangannya kini mulai mengepal-ngepal dan membentuk kepalan tangan, "Kurasa kamu benar, kita tak punya dendam yang mendalam sebelumnya..." lanjutnya.
"Ya... Ya... Itu benar sekali. Aku tak pernah menyinggungmu sama sekali. Bahkan, aku adalah salah satu Kandidat yang tak setuju saat anak-anak yang lain menyebutmu si Aneh. Panggilan macam apa itu. Sama sekali tak sesuai denganmu. Benar kan?" jawab Gama cepat dengan muka menjilat ke arah Gaju, sama sekali tak sesuai dengan image si Negro Genius yang dia punya.
__ADS_1
"Benar sekali. Berani sekali mereka mengataiku si Aneh. Humph. Lihat saja nanti. Aku akan menghajar mereka semua," jawab Gaju, seolah-olah ikut terpancing permainan Gama.
Gama menganggukkan kepalanya dengan cepat berkali-kali, seperti burung pelatuk yang sedang melubangi pohon, tanpa suara.
"Gama... Temanku yang baik. Aku punya masalah akhir-akhir ini. Sebagai seorang teman, kita harus saling membantu ya kan?" tanya Gaju ke arah Gama.
"Tentu saja, sebagai seorang teman, kita harus saling membantu. Aku Gama akan melakukan apa saja demi kawanku. Gaju, jangan kuatir soal itu," jawab Gama cepat sambil menepuk dadanya, "Sekarang, katakan padaku, apa masalahmu, kita akan hadapi sama-sama," lanjutnya lagi dengan ekspresi patriotik dan setia kawan yang jelas terlihat di mukanya.
Gaju tersenyum lebar, "Gama, kamu memang benar-benar setia kawan. Oke. Aku tak akan segan-segan lagi padamu."
"Begini, aku butuh poin. Poin yang sangat banyak. Jadi, bisakah aku meminjam poinmu?" tanya Gaju.
Raut muka Gama langsung berubah seketika.
"Sial!! Sial!! Sial!! Gaju, kamu memang bedebah, kalau memang kamu mengincar poinku, katakan terus terang dari awal, dasar Bedebah!!" Gama hanya bisa memaki-maki dalam hati dan menangisi nasibnya.
Gaju melihat ke arah Gama dengan senyuman jahil tersungging di bibirnya.
"Jadi?" tanya Gaju pelan tapi kedua tangannya sekarang terlihat saling mengunci dan melakukan pemanasan.
Serahkan poinmu atau aku akan menghajarmu!!
"Ini namanya perampokan, sialan!!" teriak Gama dalam hati.
Tapi, Gama tentu saja tak berani menunjukkan kekesalannya sama sekali di raut wajahnya. Itu sama saja cari penyakit ya kan?
"Gaju, kamu tenang saja. Aku temanmu, tentu saja aku akan meminjamkan poinku. Meskipun tak banyak, tapi setidaknya bisa membantumu ya kan?" jawab Gama dengan raut muka seperti sedang menelan bangkai tikus di mulutnya.
"Berapa banyak poin yang kamu butuhkan?" tanya Gama yang masih menyimpan sedikit harapan kalau dia bisa selamat dari perampokan terhalus yang pernah dia alami ini.
"Mmm..." Gaju terlihat ragu-ragu dan berpikir keras, padahal dalam hatinya dia tertawa terbahak-bahak dan menikmati drama yang sedang dia lakukan dengan si Genius ini.
Ini menyenangkan dan mungkin Gaju akan ketagihan melakukannya.
"Jangan sungkan! Katakan saja berapa," kata Gama sambil mengatupkan rahangnya dengan keras menahan emosi yang terpendam dan tangisan tanpa air mata.
__ADS_1
"Semuanya," jawab Gaju pendek dan pelan tapi bagaikan bunyi halilintar di telinga Gama.
"You... You piece of shits!!!" maki Gama dalam hati dengan mata berkaca-kaca meratapi nasibnya.
Tak lama kemudian, Gaju tersenyum lebar saat melihat deretan angka yang menunjukkan poin yang ada di mini komputernya.
439 poin.
Jumlah yang fantastis dan jauh dari perkiraan Gaju beberapa hari lalu. Ini hari ke delapan dan dia sudah berhasil mengumpulkan hampir separuh dari hutangnya.
Poin awal Gaju pagi ini sebesar 303 poin. Dia mendapatkan tambahan sebesar 5 poin pagi ini, hasil yang mengecewakan sekali.
Tapi, Si Negro Genius ini memberikan poin kejutan sebesar 131 poin.
Kejutan istimewa yang sama sekali tak disangka-sangka oleh Gaju. Tapi sesaat kemudian dia tersadar. Apapun ceritanya, Gama adalah seorang Genius. Dengan armor yang dimilikinya, mengumpulkan poin hanyalah masalah waktu dan keberuntungan bagi si Genius.
Asalkan dia punya cukup waktu dan keberuntungan untuk bertemu dengan binatang buas yang ada di sekitarnya, poin akan terkumpul dengan cepat dan dengan sendirinya.
131 poin.
Bukankah itu artinya, poin yang diberikan Gama bahkan lebih besar dari poin yang akan dia dapat dibandingkan jika Gaju bisa membantai binatang buas level 3 seperti Griffin sekalipun yang hanya akan memberikan poin sebesar 100 poin.
Kalau seperti itu, dibandingkan dengan poin yang dia dapat ketika menghabisi Kandidat lain, ada cara yang jauh lebih efektif. Gaju akan membiarkan mereka hidup lalu memanen poin yang dikumpulkan oleh para Kandidat itu.
Lalu dia akan melepas mereka lagi, setelah beberapa waktu, dia akan kembali memanen poin mereka.
Gaju tersenyum menyeringai ketika menyadari metode barunya yang super kejam itu.
"Gama, kamu memang benar-benar setia kawan. Next time, aku akan meminta bantuanmu lagi," kata Gaju sambil menepuk-nepuk pundak Gama layaknya seorang sahabat lama.
"Iya," jawab Gama dengan tangisan tanpa air mata di wajahnya dan bulu kuduk merinding saat melihat seringai serigala di bibir si Aneh.
Saat itu, Gama berjanji dalam hati, apa pun ceritanya, dia tak akan pernah mendekati Gaju lagi dalam jarak kurang dari 10 km.
Selamanya.
__ADS_1