Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 80 - Break Even


__ADS_3

Tahap Ketiga, Day 39.


Seekor binatang buas berlari dengan cepat dari kejaran sesuatu.


Binatang itu berlari kencang tanpa menoleh ke belakang dengan lincah di sela-sela semak belukar yang tak terlalu lebat.


Ini adalah area pinggiran Hutan di sebelah selatan yang berdekatan dengan Komplek.


Sebuah bayangan lain bergerak mengejar sang binatang buas. Bayangan itu terdiri dari dua orang. Seseorang sedang menggendong piggy back orang lainnya di belakang. Mereka sesekali tertawa dan bercanda, seolah-olah sedang tidak mengejar buruan mereka melainkan sedang berpiknik di sebuah Hutan dan mengejar seekor kupu-kupu untuk bersenang-senang.


"Ke sebelah kanan," kata Tian sambil menarik telinga kanan Gaju yang sedang menggendongnya.


"Tian, hentikan!" protes Gaju yang sama sekali tak didengar oleh Tian yang masih asyik tertawa.


"Kan aku sudah menemukan cara genius untuk memberitahu arah lari binatang buruan kita?" jawab Tian di sela-sela tawanya.


"Cara genius apaan?" sungut Gaju dalam hati.


Memang benar batin Gaju, cara genius yang dimaksud oleh solmatenya adalah dengan menggunakan telinga Gaju layaknya kemudi mobil.


Saat buruan mereka lari ke arah kanan, Tian akan menarik telinga kanan Gaju, begitu juga sebaliknya, saat buruan mereka berlari ke arah kiri, Tian akan menarik telinga Gaju.


Tak ada kejeniusan sama sekali dari metode Tian.


Tiba-tiba, Tian menggunakan kedua tangannya untuk menarik telinga kanan dan kiri Gaju bersamaan.


"Maksudnya apa?" tanya Gaju cepat sambil menoleh ke belakang, dia kebingungan dengan ulah Tian barusan.


"Nggak ada, aku hanya suka melakukannya," jawab Tian sambil tersenyum jahil.


Gaju hanya bisa memaki-maki dalam hati tanpa suara. Nggak usah dituliskan makian Gaju disini.


Nggak layak konsumsi dan tak akan lulus sensor LSWI, Lembaga Sensor Wattpad Indonesia.


Setelah beberapa menit mereka melakukan pengejaran, akhirnya binatang buas itu kelelahan.


Dia hanya berdiri dengan tubuh gemetar dan menatap ketakutan ke arah pasangan Gaju dan Tian.


Binatang buas itu hanya seekor Cheetah biasa. Masuk dalam kategori binatang buas level 5 dan hanya akan memberikan satu poin saja untuk Gaju, tapi Gaju tetap juga memburunya.


Bukan karena dia kejam dan tak berperasaan.


Oke, Gaju memang kejam.


Tapi, alasannya bukan itu. Alasannya adalah, poin Gaju saat ini adalah 999 poin. Itu artinya, satu poin dari sang Cheetah akan menggenapi poin Gaju menjadi 1000 poin.


Dan setelah ini, dia akan bisa membayar hutangnya. Hutang kepada sang Professor untuk menyelamatkan Tian.


Cheetah, binatang yang dijuluki sebagai mahluk tercepat yang berjalan di permukaan Bumi, bahkan tak bisa melarikan diri dari Gaju yang menggendong Tian di punggungnya.


"Maafkan aku. Bukan berarti aku mempunyai dendam kesumat denganmu sehingga memburumu seperti ini. Tapi, keadaan yang memaksaku," gumam Gaju pelan setelah menurunkan Tian dari punggungnya.


Wisshhhh.

__ADS_1


Sebuah benda kecil berkilat yang melesat dengan kecepatan luar biasa, mengenai kepala sang Cheetah yang langsung tersungkur ke tanah meregang nyawa.


"Gaju, kenapa kamu tak melemparkan jarummu sedari tadi dan malah mengejar Cheetah itu selama lebih dari 10 menit?" tanya Tian dari belakang Gaju.


Gaju tersenyum.


"Kita sudah terlalu dekat dengan Komplek," jawab Gaju.


"Kalau aku melemparnya tadi, aku takut meleset atau jika sekalipun jarumku kena, aku tak yakin bisa mengenai titik vitalnya yang akan langsung membuatnya tersungkur seperti ini," lanjut Gaju.


"Aku tak ingin membuat para Kandidat di Komplek menjadi waspada," kata Gaju mengakhiri penjelasannya sambil berjalan mendekati bangkai sang Cheetah.


Bip.


Sebuah bunyi notifikasi terdengar dari mini komputer Gaju saat dia berada kurang dari 1 m dari mayat sang Cheetah.


Gaju tersenyum lebar dan dengan cepat melihat ke arah mini komputer di pergelangan tangan kirinya.


1000 poin.


"Akhirnya!!" teriak Gajub sambil mengepalkan tangannya ke atas.


Tian tersenyum bahagia saat dia melihat wajah ceria Gaju. Selama ini, Tian selalu dihantui rasa bersalahnya. Karena Gaju mengalami semua ini demi menyelamatkan dirinya.


Karena itu, selama ini Tian tak pernah mengeluh dalam kondisi apapun kepada soulmate-nya. Tian juga tak pernah membahas sedikit pun tentang rencana advancement mereka.


Semua karena hutang 1000 poin yang ditanggung oleh Gaju demi dirinya.


Tapi, sekarang?


Membahas rencana mereka kedepan dan berjuang untuk meraihnya.


Tapi tiba-tiba, senyuman Tian meredup.


Masa depan?


Tak ada masa depan bagi mereka. Tian yang tahu rencana keji sang Professor hanya bisa menutupi kesedihan dalam dirinya dengan tetap tersenyum untuk Gaju. Dia berjanji akan memanfaatkan waktu tersisa yang dia punya untuk menikmati masa-masa ini.


Hingga nanti saat mereka dihadapkan pada pilihan yang akan diberikan oleh sang Professor dan Tian sudah tahu dengan yakin pilihan yang akan dia buat saat itu.


"Tian, kenapa kamu terlihat sedih? Kita berhasil," kata Gaju.


"Aku akan melunasi hutang kita, lalu mengumpulkan poin untukmu," lanjut Gaju lagi.


"Tidak. Kita akan mengumpulkan poin dan menggunakannya untuk advancement-mu," potong Tian cepat.


Gaju terlihat kebingungan, tapi sesaat kemudian dia tersenyum, "Kupikir kamu tak ingin menjadi beban lagi bagiku?" tanya Gaju.


"Kamu merasa terbebani?" Tian balik bertanya ke arah Gaju.


"Tidak sama sekali," jawab Gaju tegas.


"Oke, begini aja, setelah ini, aku yang akan memanage poin kita, oke?" tanya Gaju setelah mereka terdiam selama beberapa saat.

__ADS_1


Tian menganggukkan kepalanya dengan cepat sebagai jawaban.


"Tapi sebelum itu, kita harus melakukan sesuatu," kata Gaju pelan dengan muka serius.


Dia mengangkat tangan kirinya agar mini komputernya lebih dekat ke arah kepalanya.


"Contact Professor!" kata Gaju datar.


Tian sedikit kaget. Dia sama sekali tak tahu kalau mini komputer bisa digunakan untuk alat komunikasi.


"Aku cuma membuat asumsi saja, untuk item secanggih mini komputer ini, feature sederhana seperti location tracker dan comnunication device bukanlah sesuatu hal yang istimewa kan?" gumam Gaju ke arah Tian.


Bip.


Terdengar suara kecil dari mini komputer Gaju. Tak lama kemudian, suara robotic yang sangat familier terdengar dari benda itu.


"Connecting..."


"Waiting for authorization..."


Tak sampai hitungan 10 detik sebuah notifikasi terdengar lagi.


"Connected."


Gaju dan Tian terdiam dengan raut muka tegang.


"Yooooooo. My boy..."


Suara seseorang yang terdengar tak asing lagi terdengar dari mini komputer Gaju.


Sang Professor.


"Professor..." gumam Gaju pelan.


"Okay, ada apa? Kamu tahu kan kalau fitur komunikasi belum aktif sampai tahap ini? Tapi khusus untukmu Gaju, aku membuat pengecualian," jawab Sang Professor sambil tertawa kecil.


"Hentikan omong kosong ini. Kamu tahu alasannya kenapa aku menghubungimu," jawab Gaju dingin.


"Hahahahahaha..." Professor tertawa keras di seberang sana.


"Dingin dan ketus seperti biasanya. Kamu selalu seperti itu denganku, Gaju? Mana keramahanmu yang kamu tunjukkan seperti saat berbicara dengan Tian?" tanya sang Professor dengan nada bercanda dan sama sekali tak menanggapi nada ketus Gaju.


Gaju terdiam dan tak melayani kata-kata sang Professor.


"Oke. Oke. Hutangmu lunas," kata Sang Professor tak lama kemudian setelah Gaju terdiam dan tak menanggapinya.


"Bounty?" tanya Gaju.


"Bounty annuled," jawab Sang Professor datar.


"Itu saja?" tanya Gaju.


"Ya. Itu saja. Kenapa? Kamu terkejut?" tanya Sang Professor kembali dengan nada riang.

__ADS_1


"Bedebah! Tak mungkin manusia yang lebih licik dari serigala sepertimu akan membiarkan buruanmu lepas begitu saja," maki Gaju dalam hati.


__ADS_2