Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 87 - Intelligence Armor


__ADS_3

Koma terbangun dari pingsannya setelah beberapa jam.


“Ternyata, kalung itu benar-benar mimicry suit idamanku…” gumam Koma sambil menengadahkan kepalanya ke atas.


Dia masih terbaring di tanah dan sama sekali tak berniat untuk berdiri. Dia ingin membiasakan dulu kondisi mentalnya. Koma lalu pelan-pelan mengangkat lengannya keatas dan dia sama sekali tak dapat melihatnya. Sama seperti tadi.


Koma lalu tersenyum dalam hatinya.


“Aku kini seorang Assassin,” gumamnya dalam hati.


Bip.


“Mimicry suit telah diaktifkan.”


“Bonus attribute ditambahkan selama host mengenakan mimicry suit.”


Terdengar suara robotic dari mini computer yang membuat Koma terdiam. Bonus atribut apa yang dia dapatkan?


“Komputer, tampilkan stat PA!” perintah Koma pendek.


Kandidat Kosong Lima


Strength : 1.85


Speed : 1.8


Agility : 1.75


Kumulatif Physical Attribute : 5.4


Item attached: Mimicry Suit, Stealth.


Bonus Attribute \= Strength 1 point, Speed 2 point, Agility 1 point.


Kumulatif Physical Attribute : 9.4 (with Mimicry Suit)


“Ini?” suara Koma terlihat bergetar ketika melihat sederet kata-kata yang ditampilkan oleh mini komputernya.


Saat dia membeli mimicry suitnya, sama sekali tidak disebutkan tentang bonus atribut yang akan dia peroleh saat mengenakan suit itu. Tapi kini, ketika dia benar-benar memakainya, tiba-tiba saja dia mendapatkannya. Ini namanya jackpot.


Tawa dan senyuman tak lepas dari bibir Koma selama beberapa menit setelah itu. Dia juga sudah mulai terbiasa dengan ketidakmampuannya untuk melihat kaki dan tangannya sendiri seperti sekarang ini.


\=\=\=\=\=


Tahap Ketiga, Day 59.


“Selamat Pagi kepada seluruh Kandidat.”

__ADS_1


“Peringkat pertama untuk perolehan poin ditempati oleh Kandidat Tiga Lima dengan total perolehan poin sebanyak 952 poin.”


“Sistem Charity dan Robbery aktif hingga batas waktu yang belum ditentukan.”


“Selamat berjuang!!”


\=\=\=\=\=


Seorang anak yang hanya mengenakan sebuah celana pendek terlihat sedang berkacak pinggang dan menengadah ke atas. Tapi, jika diperhatikan dari samping, ada lelehan air mata yang keluar membasahi pipinya.


Air mata itu lalu turun dan menetes ke kulitnya yang berwarna gelap gulita bagaikan malam tanpa bintang dan tak tertutupi apapun itu.


Gama mengusap sisa air mata bahagia yang membasahi pipinya.


“Tuhan. Penantian lamaku kini telah berakhir. Setelah menunggu dalam kesedihan selama hampir 2 bulan, kini aku bisa mendapatkan armor impianku.”


“Betapa selama ini, aku selalu berusaha untuk menghindari bedebah yang bernama Gaju itu. Aku selalu dicekam kecemasan kalau-kalau dia akan kembali ‘meminjam’ poinku sebelum aku sempat mendapatkan armor impianku.”


“Tapi, aku tahu kalau Kau memang Maha Adil.”


“Aku berhasil melakukannya.”


“Hari ini, adalah hari paling bersejarah dalam hidup Gama sang Genius. Aku akan mengubah segalanya dan berjalan dengan penuh percaya diri dalam siraman cahaya bulan, seperti seorang Ninja.”


Gama lalu mengakhiri monolog-nya yang sama sekali nggak lucu dan membosankan itu. Dengan hanya masih mengenakan celana pendek dan memperlihatkan semua bagian tubuhnya  yang hitam legam berkilau dalam siraman terik mentari pagi ini, Gama memencet-mencet mini komputernya untuk melakukan pembelian item impiannya.


Intelligence Armor Suit.


Mata Gama terbelalak untuk beberapa saat lalu ketika dia menyadari kalau benda hitam itu meluncur cepat ke arahnya, Gama dengan sigap melompat ke belakang.


Booooooommmmmmmm.


Suara yang sangat keras terdengar ketika benda itu menghantam tanah di tempat tadi Gama berdiri. Keringat dingin mengalir membasahi punggung Gama. Lalu dengan penuh rasa benci dia melirik ke arah helicopter yang tadi melemparkan kotak hitam besar itu.


Gama mengacungkan jari tengah tangan kanannya lalu berteriak ke arah Helikopter itu, “Bedebah, kau mau membunuhku ya??” teriak Gama dengan suara kencang dan menggelegar, tak sesuai dengan postur anak-anak seusianya.


Tanpa menjawab atau mempedulikan Gama, benda itu lalu menghilang dari tempat ini. Membiarkan Gama seorang diri sambil memperhatikan benda hitam yang tegak berdiri dan menyerupai peti mati orang dewasa itu.


“Peti mati?” gumam si Negro yang hanya bercelana pendek itu.


Dengan penuh penasaran, dia lalu mendekat ke arah benda tegak berwarna hitam yang bagian bawahnya menancap keatas dengan kokoh itu.


Ketika Gama mencapai jarak 2 meter dari kotak hitam itu suara notifikasi terdengar.


Bip.


“Kandidat Tiga Lima terdeteksi berada di sekitar paket.”

__ADS_1


“Apakah anda ingin membuka paket?”


“Buka!!” jawab Gama dengan raut muka senang.


Psshhhhhhhhh.


Suara angin terdekompressi terdengar dari celah-celah kotak hitam yang mungkin terbuat dari besi itu. Tak lama kemudian, keempat sisi kotak itu turun perlahan-lahan menyerupai sebuah bunga Mawar yang mekar.


Sebuah benda terlihat di dalam kotak hitam yang kini telah terbuka dari keempat sisinya itu.


Sebuah armor yang tegak berdiri dan sedang melihat ke arah Gama. Sebuah armor yang lengkap dari mulai ujung kepala hingga ujung kaki. Sebuah armor yang berwarna merah menyala dan terlihat sangat keren sekali.


Intelligence Armor Suit.


Gama membutuhkan waktu hampir dua bulan dan poin sebanyak 950 poin untuk mendapatkannya. Dan ketika dia berhasil melakukannya, Gama tak berhenti mengagumi dan memandanginya.


Dengan langkah perlahan-lahan, Gama mendekat ke arah armor yang ada di depannya. Lalu dia mulai menyentuhnya perlahan. Ketika Gama merasakan rasa dingin dan halus dari ujung jarinya yang menyentuh bagian coating luar dari armor-nya, Gama tersenyum.


“Halus, dingin, sungguh cantik sekali,” puji Gama dengan mata berkilauan seakan-akan seperti seorang cowok jomblo yang sedang melihat seorang gadis cantik rupawan.


“You’re my precious…” desis Gama mirip sekali dengan Smeagol dalam Lord of The Rings.


Setelah puas mengagumi Intelligence Armor Suit yang kini sudah menjadi miliknya, Gama ingin sekali mencobanya. Dia ingin mengetahui seberapa kuat amplification effect yang akan dia dapatkan dengan mengenakan Armor ini.


Gama lalu berdiri dan menegakkan badannya, lalu dia mulai mencari-cari tombol yang mungkin dipakai untuk mengaktifkan atau membuka armor itu.


Tapi, saat itulah Gama menyadari satu kesalahan fatal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Semua perasaan tak enak yang dia alami saat pertama kali dia melihat benda menyerupai peti mati orang dewasa.


Peti mati orang dewasa.


Orang dewasa.


Dewasa.


Dan Gama belum dewasa. Dia masih anak-anak berusia 12 tahun lebih 59 hari. Tingginya juga masih belum mencapai 150 cm.


Armor di depannya?


“Arrrrrggggghhhhhhhhhhhhh.”


Gama berteriak sekencang-kencangnya setelah itu. Lalu dengan cepat dia membuka mini komputernya dan melihat kearah item description untuk Armor Suitnya. Di sana, di bagian paling bawah sendiri, dengan sebuah tulisan yang sangat kecil dan mudah untuk diabaikan, sebuah keterangan penting tertulis dengan jelas.


Optional:


Pembeli bisa memilih untuk custom ukuran sesuai dengan ukuran badan dari pembeli.


Ketika ukuran Armor tidak dijelaskan saat melakukan pembelian, maka secara default, Armor ukuran dewasa akan dikirimkan.

__ADS_1


Kesalahan ukuran saat melakukan pembelian bukan tanggung jawab Penjual.


Pembeli dianggap telah membaca tulisan ini saat telah melakukan pembayaran.


__ADS_2