
Adel sudah menduga kalau mereka telah berhasil menemukan persembunyian Gaju dan Tian tanpa sengaja. Karena itu dia memasang wajah cuek dan menikmati buah yang ada di dalam keranjang tanpa peduli ke Aju yang merintih kesakitan.
Tepat seperti dugaannya. Tak sampai satu menit dari saat mereka jatuh dua buah bayangan mendekati mereka dengan lincah.
Adel tahu siapa mereka.
"Hei, kalian sudah memasuki area persembunyian kami. Tinggalkan tempat ini! Atau kami akan menganggap kalian musuh," teriak Tian.
"Hei Dada Rata, kita sudah jadi musuh bahkan sebelum ujian eliminasi ini dimulai," cibir Adel.
Ughhhhh.
Emosi Tian langsung meluap. Dia akui kalau hal satu itu adalah kelemahan terbesarnya, tapi Adel selalu menggunakan hal yang sama dan berulang-ulang untuk membully-nya selama dua tahun ini.
Payudara Tian yang memang belum tumbuh.
"Dasar kulit merah!!" teriak Tian sambil mengambil posisi kuda-kuda menyerang.
Gaju memegangi tangan Tian, "Adel, apa yang mengejarmu?" tanya Gaju ke arah Adel.
Muka Adel bersemu merah, ini kali pertama Gaju mengajak ngobrol dirinya terlebih dahulu.
"Hei!! Jawab!! Kenapa mukamu seperti itu? Sinting!!" teriak Tian.
Adel kembali tersadar, dia melirik keji ke arah Tian, "memang Dada Rata satu ini harus dimusnahkan dari muka bumi jika aku ingin bersama Gaju," bisiknya pelan.
Tapi sesaat kemudian, Adel tersenyum manis ke arah Gaju, "kami dikejar Ular Daun dewasa," cepet banget dia ganti dari muka sadis ke senyuman manis.
Gaju melirik ke arah Tian, "Tian, Analisa, titik lemah Ular Daun dewasa."
Mata Tian tiba-tiba seperti menatap kosong dan kehilangan fokus, ini namanya proses memory recall. Kemampuan Strategist untuk menggali memory dan knowledge, kemudian menggunakannya untuk Analisa.
Kemampuan Gaju sendiri yang disebut photographic memory jauh tingkatannya diatas memory recall yang dimiliki para Strategist.
Setelah dua detik, mata Tian kembali seperti semula, "Letak ulu hati dan organ dalam Ular Daun ada dua jengkal di bawah leher terakhir rahangnya. Sisi terlemah ada di bagian bawah perut. Sisik bagian atas sangat keras dan tidak bisa dilukai dengan senjata tajam dari logam biasa."
__ADS_1
"Ukuran tubuh?" tanya Gaju, dia berencana menggunakan jarumnya untuk menusuk ulu hati si Ular kalau memang memungkinkan.
Tapi panjang jarum akupunktur Gaju cuma 10cm kalau ukuran si Ular 30 cm atau lebih, peluangnya untuk mengenai titik vital tersebut akan menipis drastis.
"Ular Daun dewasa berdiameter 8 - 10 cm. Tapi rahangnya memiliki panjang 20cm, Ular Daun dewasa yang berdiameter 10 cm dapat menelan mangsa dengan diameter 2 kali rahangnya," jawab Tian.
"Ukuran badan cuma 10cm bisa menelan korban 40cm. Mahluk istimewa dalam bertahan hidup," kata Gaju pelan.
"Kalian sebaiknya menyingkir dari sana. Aku sudah menebarkan feces Harimau Pohon dua hari lalu, itulah yang membuat Ular Daun tersebut sedikit berhati-hati dan tidak langsung mengejar kalian. Tapi kurasa sebentar lagi dia akan berubah pikiran," kata Gaju pelan.
Adel dan Aju yang mendengarkan kata-kata Gaju langsung bangkit berdiri dan berlari ke arah Gaju dan Tian.
Anehnya Adel justru berlari ke arah Gaju dan bersembunyi di belakangnya. Itu artinya, Adel di sebelah Tian sekarang.
Aju berdiri di samping Gaju. Dia hanya mengambil kuda-kuda bertahan, beberapa bagian tubuhnya masih terasa nyeri karena jatuh dari pohon tadi.
"Tian, tetap di belakangku," kata Gaju pelan yang disambut oleh senyuman oleh soulmatenya.
Tian kemudian melirik ke arah Adel di sampingnya dan mengangkat mukanya, seolah-olah memberitahu Adel, kalau Gaju lebih memperhatikan keselamatan Tian dibanding Adel.
Sebuah suara keras dedaunan yang ditabrak sesuatu terdengar. Dari batang pohon tempat Adel dan Aju jatuh, sebuah kepala Ular menyembul diantara dedaunan.
Kalau tidak diperhatikan dengan seksama, orang akan sangat mudah untuk melewatkan ular berwarna hijau yang menyerupai hijau daun itu.
Si Ular Daun menjulurkan lidahnya ke arah mereka berempat. Mereka tahu ular itu tidak sedang mengejek mereka. Si Ular menggunakan lidahnya yang bercabang dua untuk memetakan posisi mangsanya.
Gaju, Tian dan Adel, mereka bertiga tahu bagaimana caranya si Ular bisa memetakan lokasi mangsanya. Ular punya sistem indra yang disebut Indra Jacobson, letaknya ada di rongga mulut bagian atas. Saat si Ular menjulurkan lidahnya, dia sedang menangkap jejak bau di sekitarnya kemudian ketika dia menariknya kedalam, dia akan menempelkan lidah itu ke indra khususnya dan Ular dapat memetakan posisi mangsanya dengan jelas.
"Tian, bau atau panas?" tanya Gaju.
"Bau," jawab Tian, memang Si Ular Daun di depan mereka ini melakukan pemetaan dengan bau, bukan dengan panas tubuh, sebagian ular lain menggunakan inderanya untuk mendeteksi panas tubuh, mereka jauh lebih berbahaya.
Gaju sudah menduganya, kalau Ular Daun berburu dengan panas tubuh, feces Harimau Pohon yang dia sebar tak akan berguna.
Si Ular Daun menurunkan tubuhnya pelan-pelan dan membelit ranting horizontal yang ada di pohon itu.
__ADS_1
Gaju mengeluarkan 6 buah jarum akupunktur yang dipegangnya dengan kedua tangan. 3 di tangan kiri dan 3 di tangan kanan. Gaju menjepitkan 3 jarum itu di sela-sela jarinya. Kalau dilihat sekilas, mirip dengan adamantium claw punya Wolverine di seri X-Man.
Gaju menundukkan tubuhnya dan bersiap-siap untuk menyerang. Si Ular juga mulai merasakan ancaman bahaya yang datang dari Gaju dan terlihat memgambil posisi siaga.
Wuuusssssssss.
Tiba-tiba tanpa dikomando, tubuh Gaju melenting ke atas dan dia melemparkan jarum peraknya ke arah si Ular yang masih di tempatnya.
Lemparan pertama yang mengarah ke mata kiri si Ular, Gaju memilih menyerang matanya karena posisi ulu hati si Ular masih tersembunyi.
Meskipun Tian tidak menyebutkannya tadi, Gaju tahu kalau bagi semua mahluk hidup, mata adalah titik lemah. Termasuk juga si Ular Daun.
Si Ular tidak menyadari sebuah benda kecil dan berwarna perak terbang ke arah matanya. Kurang dari sedetik kemudian. Suara desisan keras terdengar dari si Ular.
Ssssssssshhhhhhhssssssss.
Ular Daun tersebut terjatuh ke tanah dan tubuhnya bergeliat kesakitan. Dia berguling-guling di tanah dan berdesis tanpa henti.
Tak lama kemudian, dia menyabetkan ekornya ke segala arah dan merusak semua yang ada di sekitarnya.
Gaju dan ketiga kandidat yang lain mundur dan menjaga jarak dari Ular yang sedang mengamuk di tanah itu.
"Gaju, apa yang kamu lakukan ke ular itu?" tanya Adel ke arah Gaju.
"Aku menusuk mata kirinya dengan ini," kata Gaju pelan sambil menunjukkan dua buah jarum di tangan kanannya.
Ketiga kandidat yang lain bergidik ngeri membayangkan bagaimana rasanya jarum sepanjang 10 cm itu menusuk mata mereka.
"Mmmm, kalau begitu, kapan dia akan tewas?" tanya Tian.
Gaju melirik ke arah Tian dengan pandangan kebingungan, "tewas? Nggak pernah ada cerita orang meninggal dunia karena matanya terluka kan? Yang ada dia hanya akan menjadi buta."
Mereka bertiga kemudian melirik ke arah Ular Daun yang masih menggeliat kesakitan diatas tanah itu. Dan entah kenapa mereka bertiga merasa kasihan kepada si Ular, karena mereka kini sadar. Luka menyakitkan yang diterima sang Ular karena tusukan jarum Gaju ke mata kirinya, entah kapan rasa sakit itu berakhir dan Si Ular tak akan tewas karena luka itu.
Mereka serentak melirik ke arah Gaju dan jarum perak di tangannya, "kalau si Gaju nancepin jarum itu ke tubuhku?" dan mereka bergidik ngeri membayangkannya.
__ADS_1