Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 29 - Tujuan


__ADS_3

Bip bip bip.


Suara notifikasi dari mini komputer di gelang tangan keempat bocah itu berbunyi bersamaan. Gaju, Tian, Aju, dan Adel saling melihat satu sama lain.


"Gaju, punyamu aja ya," bisik Tian pelan.


Gaju tahu maksud Tian. Tian pasti ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk 'merapat' ke Gaju. Tapi, Gaju sebenarnya nggak menolak juga sih.


Gaju mengaktifkan mini komputernya dan pengumuman dari pengurus yang dia terima seperti dua hari sebelumnya muncul disana.


"Hmmm, sudah 14 orang yang meninggal," bisik Tian pelan.


Gaju bisa merasakan hembusan napas Tian di lehernya. Mereka memang masih berumur 12 tahun, tapi mereka bukan bocah polos yang tidak tahu apa-apa. Mereka jauh lebih dewasa dari bocah seusianya.


"Gaju, menurutmu apa tujuan dari ini semua?" tanya Aju dari seberang Gaju dan Tian.


Mereka berempat duduk mengitari api unggun di dekat air terjun yang memiliki goa di baliknya itu. Gaju dan Tian tentu tidak akan membiarkan Adel dan Aju menggunakan goa itu. Karena itu, mereka membuat api unggun di sini. Tentunya juga untuk membakar ikan sebagai makan malam mereka.


Gaju menarik napas dalam, meskipun dia sudah menebak tujuan dari Professor gila membuat Pulau ini, tapi dia selalu menyimpannya untuk dirinya sendiri. Ketika saat ini Aju menanyainya, dia ragu apakah dia harus memberitahu mereka tentang hipotesa yang dia kembangkan.


"Gaju," bisik Tian pelan sambil memegang tangan Gaju.


Adel hanya melirik tingkah Tian dan membuang napas kesal.


Gaju melihat ke arah Tian dan akhirnya menyerah.


"Mungkin, jika aku sendiri yang menanggung beban ini, justru aku yang akan merasakan akibatnya," kata Gaju dalam hati.


"Oke, ini hanya hipotesaku. Jadi kalian bisa analisa sendiri dan memutuskan untuk mempercayainya atau tidak," kata Gaju.


Tian merapatkan tubuhnya ke arah Gaju di bawah tatapan iri Adel yang seolah-olah ingin menelannya bulat-bulat.


"Menurutku, Pulau ini diciptakan untuk melatih pasukan khusus yang sempurna," kata Gaju mulai menjelaskan pendapatnya sendiri dengan pelan.


Ketiga bocah lainnya mendengarkan dengan penuh perhatian.


"Pasukan sempurna yang tak punya hubungan darah dengan siapapun."


"Pasukan sempurna yang tak punya sanak keluarga dan dapat dikirim ke medan manapun tanpa berpikir."


"Kita dilatih dengan berbagai kemampuan dan pengetahuan yang luar biasa. Selain itu, kita juga diberikan serum genetik yang bisa membantu sel tubuh kita berevolusi."

__ADS_1


"Menurut prediksiku, semua fasilitas dan teknologi yang digunakan di Pulau ini membutuhkan biaya yang luar biasa. Siapapun yang berdiri di belakang Professor pastilah seseorang atau organisasi dengan sumber daya yang mengerikan."


"Kenapa organisasi itu mendidik prajurit seperti kita? Dengan sumber daya yang mereka miliki, aku yakin mereka bisa membentuk pasukan dengan jumlah besar dengan dana yang dipakai untuk proyek Pulau ini."


"Satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah mereka ingin kita menjadi prajurit sempurna yang bergerak di bawah radar dan melakukan pekerjaan busuk mereka. Seperti segerombolan Ninja dalam cerita Samurai tempo dulu."


"Ninja? Samurai? Apa itu?" potong Aju.


Adel langsung mendelik, "kamu nggak usah nanya-nanya. Mana sanggup otakmu untuk membaca-baca buku kuno."


Gaju hanya melihat tingkah keduanya sambil tersenyum. Sedangkan Tian, dia masih asyik melihat wajah Gaju.


"Pulau menginginkan kita untuk menjadi prajurit sempurna. Prajurit invidual bukan prajurit kolektif. Pasukan yang hanya terdiri dari satu orang tetapi mempunyai daya rusak jauh lebih besar daripada satu kompi."


"Halangan terbesar untuk menjadi prajurit sempurna adalah emosi."


"Semua ujian, test dan kondisi hidup kita semua di Pulau adalah untuk menghilangkan emosi kita. Agar kita menjadi prajurit sempurna tanpa emosi. Hanya mesin pembunuh yang mendengarkan perintah atasannya dan melaksanakannya dengan efektif dan efisien."


"Karena itu, aku menduga kalau ujian yang sama seperti sekarang ini akan terus dilakukan oleh Pulau untuk mengeliminasi para Kandidat dan menyisakan beberapa orang Prajurit terbaik."


Ketiga orang lainnya membuang napas panjang saat Gaju selesai dengan kata-katanya.


Tapi, ada satu hal yang lupa disampaikan Gaju. Hal yang selama ini menjadi pembatas akhir antara dirinya dengan Tian dan tidak bisa membuatnya mempercayai Tian sepenuhnya.


Gaju tidak tahu apa tujuan dari soulmate.


Pulau telah berusaha dengan susah payah untuk menghapus ingatan para kandidat. Pulau juga 'membesarkan' para Kandidat tanpa konsep kasih sayang orang tua dan sanak keluarga.


Bahkan Gaju merasa kalau konsep 'sayang' dan keterikatan antar individu atau antar sesama manusia tidak diajarkan sama sekali kepada para Kandidat di Pulau.


Terus kenapa mereka menginginkan para Kandidat menjalankan konsep soulmate? Apa tujuannya?


Kepercayaan? Kesetiaan? Kerja sama?


Sampai detik ini, Gaju belum bisa memahami tujuan dari konsep soulmate ini. Karena itu, dia belum bisa menerima sepenuhnya uluran tangan Tian.


"Gaju, sepertinya kamu cerdas, hipotesamu tadi juga akurat. Bahkan aku merasa kalau memang seperti itulah tujuan dari Pulau. Berapa skor IC-mu?" tanya Adel, "apakah kamu juga Strategist?"


"Itu bukan urusanmu," potong Tian, "kita musuh, menurutmu apakah kami akan sebodoh itu membuka rahasia kami kepada musuh?" lanjut Tian dengan nada sengit.


Adel cuma menjulurkan lidahnya, "Tian, ingat! Kamu musuhku, tapi Gaju tidak. Jangan memposisikan Gaju sama seperti dirimu di depanku."

__ADS_1


"Aku tidak akan ragu membunuhmu, tapi aku tidak akan melakukan itu kepada Gaju. Mengerti?" lanjut Adel dan membuat Tian terdiam.


Inilah yang diinginkan oleh Pulau.


Bocah berusia 12 tahun tapi berkata tentang menghabisi nyawa orang lain seolah-olah hanya sama pentingnya dengan makan dan minum. Tanpa ada rasa bersalah ataupun kasihan.


Tian mendengus kesal, "kau pikir aku takut?"


Gaju tersenyum pahit.


\=\=\=\=\=


Di tempat lain.


Sepasang bocah berpegangan tangan dan meringis kesakitan.


Tulang belulang seekor ikan ada di depan mereka. Mereka berdua baru saja memakannya bersama-sama.


"Apakah ikan yang kita tangkap tadi beracun?" tanya si Bocah Perempuan.


Si Bocah Laki-laki menggelengkkan kepalanya, "aku tak tahu."


Mereka berdua adalah pasangan soulmate yang kurang beruntung. Kedua-duanya adalah Fighter. Awalnya mereka merasa kalau sesama Fighter akan memberikan keuntungan lebih bagi kemampuan survival mereka.


Mereka berdua dapat mengatasi ancaman bahaya yang mereka hadapi selama dua hari sebelumnya. Tapi siapa yang menyangka justru mereka sekarang akan tereliminasi oleh sebuah penyebab sepele seperti memakan ikan beracun.


Mereka terus merintih dan mengerang kesakitan di dekat camp api unggun mereka.


Tiba-tiba si Bocah lelaki merasakan sakit yang luar biasa di area dadanya.


"Dadaku?" erangnya perlahan sambil memegang erat tangan soulmatenya.


Sedetik kemudian, si Bocah laki-laki sudah terbujur tanpa nyawa dengan mata masih menatap ke arah soulmatenya.


Si Bocah perempuan menarik napas panjang dan mengatupkan rahangnya kuat-kuat, "giliranku berikutnya," gumamnya pelan.


"Ughhhhh," seperti dugaannya, beberapa saat kemudian, si Bocah Perempuan merasakan sakit di dadanya dan dia menghembuskan napas terakhirnya setelah itu.


Api unggun masih menyala di sebelah dua tubuh yang terbujur kaku tanpa nyawa itu.


Suara kayu yang dimakan api seolah-olah mengantarkan mereka berdua untuk terakhir kalinya melihat dunia ini.

__ADS_1


Satu pasangan tereliminasi setengah jam setelah notifikasi dikirim oleh Pengurus malam itu.


__ADS_2