Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 62 - Dilema


__ADS_3

Gaju terdiam di tempatnya setelah bergumam pelan tadi. Meskipun hanya pelan, tapi Songlan bisa mendengarnya dengan jelas di telinganya.


Inilah sebenarnya yang diinginkan oleh Pulau.


Determinasi dari para Kandidatnya untuk saling membunuh demi mempertahankan diri.


"Songlan, aku memberikanmu kesempatan. Bawa Duma pergi dari sini dan kembali ke Komplek. Hari ini, dua nyawa sudah hilang di tanganku. Aku tak ingin menambahnya lagi," bisik Gaju pelan.


Tubuh Songlan bergetar. Apapun ceritanya, sehebat apapun dia, dia bukanlah predator, dia belum menjadi predator. Kini, Gaju sudah masuk kesana, jauh lebih dulu darinya.


Sekalipun Songlan berusaha meyakinkan dirinya dengan semua logikanya, dia tahu kalau mereka berdua berbeda. Pembunuh yang sudah benar-benar menghabisi nyawa orang dengan seseorang yang hanya pernah berniat membunuh tanpa pernah melakukannya.


Hanya Koga, Gama, Koma dan mungkin Gasa yang sanggup dan cukup memiliki mental untuk menghadapi Gaju saat ini. Sesama pembunuh yang sudah mengotori tangannya dengan darah.


Dan Songlan mengambil keputusan terbaik yang dia ambil saat ini. Mundur dengan selembar nyawanya masih utuh.


Tanpa menjawab pertanyaan Gaju dia berjalan pelan ke arah Duma yang tak sadarkan diri lalu memanggulnya dengan satu tangan. Hal yang sangat mudah untuk dia lakukan dengan kemampuan fisiknya.


Songlan lalu berniat untuk meninggalkan tempat ini ke arah Selatan, menuju Komplek.


Tapi sebuah suara terdengar dan menghentikan langkahnya.


"Songlan, kamu lupa sesuatu?" tanya Gaju.


Songlan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah si Aneh yang sekarang terlihat sangat berbeda dan misterius itu di matanya.


"Apa?" tanya Songlan dengan suara bergetar.


"Poinmu. Kamu pimpinan tim ini, semua poin yang kalian dapat pasti berada di tanganmu kan?" tanya Gaju.


Jangankan poin milik Songlan, Gaju bahkan tak melewatkan satu poin pun dari creature level 5, mungkinkah dia akan melewatkan poin milik tim ini.


"Gaju, jangan kelewatan," jawab Songlan dengan tubuh bergetar menahan emosi.


Dia adalah Vice Leader Tim Koga, tapi apa yang dilakukan oleh Gaju saat ini, bukankah dia sedang merampok Songlan?


Wuuuussshhhhh.


Bayangan Gaju menghilang dan tiba-tiba dia sudah berdiri di sebelah Songlan dengan tangan kanannya teracung dan mengarahkan jarumnya ke leher Songlan.


"Poin," kata Gaju pendek dan datar.


Songlan tercekat.


Dia bahkan tak mampu bereaksi terhadap kecepatan serangan Gaju. Kini dia sadar kalau sedari tadi, Songlan terpengaruh delusinya sendiri bahwa mereka sanggup melawan monster bernama Gaju ini.


Sejak awal, mereka tak pernah punya kesempatan untuk melawan Gaju. Hanya kemampuan serangan jarak jauh Tutu yang bisa membuat mereka imbang tadi. Saat dihadapkan dengan kemungkinan untuk bertarung satu lawan satu dengan Gaju, Songlan tahu kalau dia tak berdaya.


"Huft," Songlan mendenguskan napas kesal untuk menutupi kegugupan dan harga dirinya.

__ADS_1


Tapi tangan kirinya memegang sebuah benda yang tergantung di ikat pinggangnya dan mengangkat benda itu.


"Charity," bisik Songlan pelan.


"Charity System initiated."


"Select Target."


"Tiga Tujuh," bisik Songlan pelan.


"Target confirmed. Tolong konfirmasikan total Poin yang akan dieksekusi."


"Semua," kata Songlan.


"Total poin tersedia 59 poin. Semua poin akan dipindahkan dengan sistem Charity dari Kandidat Kosong Sembilan ke Kandidat Tiga Tujuh. Confirmed?" suara robotic yang datar dan itu kembali terdengar.


"Confirmed," kata Songlan.


"Charity executed. Total 0 poin tersedia."


Tanpa berkata apa-apa lagi, Songlan melesat meninggalkan tempat ini dan kembali menuju Komplek. Mungkin Songlan tak tahu jalan yang benar, tapi dia tahu kalau arah yang dia tuju sudah benar.


Gaju tak mengejar Songlan yang sudah melesat meninggalkan tempat ini bersama Duma. Dia lalu mengalihkan perhatiannya kepada mini komputer di pergelangan tangan kanannya.


303 poin.


"Ha?" Gaju sedikit terkejut.


"Poin accumulation details," perintah Gaju pendek.


Lalu suara robotic yang familier di telinga Gaju kembali terdengar dari mini komputer di tangannya.


"Poin awal 144 poin."


"Tambahan 50 poin, achievement untuk mengeliminasi Kandidat Satu Dua."


"Tambahan 50 poin, achievement untuk mengeliminasi Kandidat Satu Satu."


"Tambahan 59 poin, Charity System dari Kandidat Kosong Sembilan."


"Total 303 poin."


Gaju terdiam.


Dia memang sudah menduga kalau membunuh Kandidat lain akan memberikan poin, tapi ini sangat diluar dugaan bocah itu.


"Details achievement poin untuk masing-masing Kandidat?" tanya Gaju dengan suara bergetar.


Bip.

__ADS_1


"Retrieving data from Main Server."


Gaju menunggu dengan sabar sampai proses yang dilakukan oleh mini komputer selesai.


"Data received."


"Untuk Kandidat dengan skor poin dibawah level official Fighter dan Strategist dengan nilai kumulatif atribut di bawah 5.0, achievement poin senilai 50 poin akan diberikan."


"Untuk Kandidat yang sudah memasuki level official Fighter dan Strategist, detail achievement poin tidak tersedia."


Gaju terdiam.


"Brutal," gumam Gaju pelan.


Informasi yang baru saja diterimanya membuat Gaju kembali berpikir ulang tentang Pulau dan cara mereka memandang Kandidat yang mereka didik.


Gaju sadar kalau bagi Pulau, hanya yang terbaiklah yang akan mereka anggap manusia.


Selain mereka, Kandidat lain hanyalah cannon fodder, tumbal tak berharga yang akan dijadikan batu asahan bagi perkembangan Kandidat terbaik yang ada. Tak lebih dari sekumpulan poin yang dihargai dengan 50 poin atau lima ekor creature level 4.


Gaju melirik ke arah tubuh Tutu dan Sadu yang masih terbaring di tanah dalam keadaan saling berpelukan.


"Maafkan aku. Aku..."


Gaju kehabisan kata-kata. Apapun alasannya, tapi fakta tetaplah fakta, mereka berdua tewas di tangannya.


Raut muka Gaju memperlihatkan wajah sedih lalu dia berjalan pelan ke arah tubuh mereka berdua.


Gaju lalu mengangkat tangannya keatas dan memukulkannya ke tanah tak jauh dari tubuh mereka berdua.


Booommmmmm.


Sebuah suara keras terdengar menggelegar dan memekakkan telinga. Daun beterbangan disertai serpihan tanah yang menyebar ke segala arah.


Gaju menggunakan semua kekuatannya untuk melakukan pukulan tadi.


Sebuah lubang besar yang berdiameter 3 m dan memiliki kedalaman sekitar 1.5 m kini terlihat di tempat dimana Gaju tadi melepaskan pukulannya.


Gaju lalu dengan perlahan dan hati-hati mengangkat tubuh Tutu dan Sadu dan memasukkannya ke dalam lubang itu.


Gaju melepaskan jarum yang menancap di leher Sadu dan memposisikan mereka berdua berbaring bersebelahan. Gaju melakukan semua itu tanpa berkata apa-apa dan dengan hati-hati. Seperti seseorang yang dengan penuh khidmat sedang melakukan upacara pemakaman bagi sahabatnya atau orang terdekatnya.


Gaju tak pernah membaca soal pemakaman sebelumnya, tapi dia tahu, inilah setidaknya yang bisa dia lakukan untuk memberikan penghormatan terkahirnya kepada sesama pejuang dan korban dari kekejian Pulau.


Gaju lalu mengambil dua buah pisau lempar milik Tutu dan sebuah arm protector dari tangan Sadu. Setelah itu dia sedikit demi sedikit menutupkan tanah untuk menutupi kedua tubuh itu.


Setengah jam kemudian, sebuah gundukan makam berbentuk lingkaran telah terbentuk di depan Gaju.


Gaju lalu meletakkan dua pisau lempar Tutu dan arm protector milik Sadu dia atas gundukan makam itu.

__ADS_1


Gaju berdiri terdiam dan melihat ke arah makam sederhana yang dia buat untuk kedua Kandidat itu.


Gaju menghempaskan napas panjang lalu bayangannya menghilang dari tempat itu.


__ADS_2