Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 49 - Bayangan


__ADS_3

Gaju dan Griffin saling berpandangan.


Kedua mahluk berbeda spesies itu kembali berusaha untuk mengintimidasi musuhnya. Tapi hal itu hanya berlangsung sebentar. Griffin yang memang terlihat lebih beringas sejak mencium bau darah dari Tian tadi dengan cepat kembali mengepakkan sayapnya dan meloncat ke arah Gaju.


Gerakannya lebih tepat jika disebut glide dibandingkan dengan terbang. Seperti seseorang yang bemain gantole atau paralayang, Griffin membentangkan sayapnya dan menggunakan tenaga dari tolakan kakinya tadi untuk meluncur ke arah Gaju dengan cepat.


Gaju melompat ke atas, dia ingin beraksi seperti dalam imajinasi seorang reader yang memintanya untuk melompat ke atas punggung Griffin lalu berpegangan erat kepada leher sang mahluk buas itu. Mungkin setelah itu dia akan mempunyai kesempatan untuk menancapkan jarumnya di mata sang Griffin.


Tapi,


Di saat Gaju sedang meloncat di udara dan sudah separuh jalan bergerak ke arah punggung Griffin yang sedang meluncur ke arahnya, kepala Rajawali sang Griffin tiba-tiba mengayun ke samping dan paruhnya menusuk lurus ke arahnya. Lebih tepatnya bersiap mencabik tubuhnya, karena bentuknya yang melengkung ke bawah.


Sreeettttttt.


Booommm.


Gaju terpelanting ke samping kanan Griffin. Tubuhnya terhempas keras diatas tanah dan membuat debu dan daun berterbangan.


"Urghhhh," Gaju kembali memuntahkan darah dari mulutnya.


Rencananya tadi terlihat cukup brilian, tapi Gaju lupa kalau dia tak seperti Griffin. Dia juga belum melakukan persiapan yang cukup untuk melakukan manouver di udara dengan menancapkan jarum yang bertali ke tanah atau pohon sebagai poros bagi manouvernya.


Itu artinya, saat dia melompat ke atas tadi, Gaju adalah sasaran empuk bagi sang Griffin. Gaju meloncat dan tidak bisa menghindar. Akibatnya, serangan paruh dari Griffin yang tak secepat serangan kaki dan cakarnya, tidak dapat dia hindari.


Gaju juga tak menyadari betapa flexible dan mengerikannya leher Rajawali sang Griffin. Sama seperti leher ayam, bebek, angsa atau unggas yang lain, leher Griffin juga mampu bermanouver dengan sempurna dalam arah tak terbatas dan sangat cepat.


Karena dua faktor itulah tadi Gaju akhirnya menerima serangan fatal pertamanya dalam pertarungan ini.


"Gaju, kamu tidak apa-apa?" teriak Adel dengan nada kuatir melihat kondisi Gaju yang terdesak hebat.


Gaju hanya diam dan tak menyahut, dia tak punya waktu untuk memikirkan yang lain.


"Apa lagi?" gumam Gaju sambil berpikir keras, luka sobek di dadanya tak begitu dia hiraukan, karena luka itu tak separah yang terlihat.


Wuuussshhhhhh.


Gaju melenting ke samping menghindari sabetan cakar depan Griffin. Gaju belum menginjak tanah kembali ketika serangan kedua datang dengan kecepatan yang sama. Kali ini sabetan sayap Griffin dengan bulunya yang tebal dan kuat.


Buuuaaaaakkkkkkkk.


Gaju kembali terpelanting ke belakang. Tak ada luka signifikan. Dia berhasil menangkisnya tadi. Stamina Gaju juga mulai terasa melemah, tapi daya juang mahluk itu, sang Griffin justru terlihat makin beringas dan menguat.

__ADS_1


Buakkkkk. Buakkkkkk. Buuuuukkkkkkk.


Beberapa saat kemudian, Gaju seperti bola di tangan Griffin yang menggunakan kedua cakar depannya untuk menendang dan menampar tubuh Gaju kesana kemari. Tapi, Gaju tak menerima luka separah yang terlihat. Dia hanya mengikuti saja kemauan sang Griffin untuk sementara sambil memikirkan bagaimana caranya untuk membuat sang Griffin cidera.


Bukan hanya sekedar cidera yang membuat dia tambah murka. Tapi cidera yang akan selalu membuat dia ingat kalau Gaju bukanlah mangsa.


Buukkkkkk. Buakkkkkkkkkkkkkk.


Gaju melesat kebelakang setelah menerima serangan terakhir dari Griffin.


"Aaaaaaaaakkkkkkkkkkkk."


Teriakan Griffin terdengar keras membelah angkasa dengan nada murka. Bagaimana tidak? Mahluk kecil dan lemah di depannya ini sama sekali tak terpengaruh oleh pertarungan mereka. Dia masih tetap berdiri dan menatap dirinya dengan tatapan tak menyerah dan tak pernah mengaku kalah.


Griffin membenci itu, sebagai penguasa baru yang bertahta di dalam Hutan, dia tak akan mentoleransi keberadaan rival yang mengancam dirinya sendiri.


Gaju masih bernafas dengan terengah-engah dan berusaha mengembalikan staminanya. Di awal-awal tadi, Gaju sempat merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan tubuhnya pada kondisi normal seperti sekarang ini. Tapi setelah bertarung melawan Griffin, semua rasa aneh dan janggal yang dia rasakan pelan-pelan menghilang.


Gaju merasa, inilah dia yang sesungguhnya, kepercayaan diri yang dia miliki saat menerima serangan dari Griffin dan keyakinan penuh kalau dia akan survive di bawah ancaman mahluk itu.


Gaju yakin itu.


"Humph, Griffin, aku tak lagi takut padamu. Kita lihat saja," gumam Gaju sambil kembali melesat ke arah Griffin.


"Sial!! Dasar binatang," rutuk Gaju sambil melihat ke arah Griffin dengan cemas.


Adel yang melihat sang mahluk mengerikan melesat ke arahnya terlihat kaget. Dia tahu kalau dirinya tak seperti Gaju yang bisa melawan mahluk itu satu lawan satu.


Wuusssssshhhhhh.


Griffin mengayunkan cakar kanannya ke arah Adel yang berdiri membelakangi kedua rekannya. Adel berpikir keras dan kebingungan. Kalau dia menghindar, nasib kedua rekannya bisa dibayangkan.


Adel lalu memutuskan untuk pasrah dan menerima nasibnya. Dia memejamkan matanya dan bersiap menerima serangan Griffin.


Buuuuuaaaaaaakkkkkk.


Adel masih memejamkan matanya ketika mendengar suara keras itu tapi dia tak merasakan rasa sakit yang dia harapkan. Pelan-pelan dia membuka matanya dan melihat ke arah depan.


Bayangan punggung seorang pemuda yang berdiri membelakanginya terlihat menutupi sosok mengerikan dari mahluk yang bernama Griffin itu.


"Gaju..." gumam Adel dengan suara bergetar.

__ADS_1


Gaju menangkis kaki kanan Griffin yang tadi diayunkan ke arah Adel.


"Musuhmu itu aku. Kenapa kau mengalihkan seranganmu?" kata Gaju sambil menyeringai.


"Sekali binatang tetap binatang," teriak Gaju sambil mengayunkan pukulan tangan kanannya ke depan.


Buaaakkkk.


"Aaaggggkkkkkk," Griffin mengeluarkan suara teriakan ketika pukulan itu mengenai kepala Rajawali-nya.


Gaju lalu meloncat ke depan dan Griffin dengan cepat mundur ke belakang. Kedua sayapnya terbentang dan kaki depannya terangkat. Bersiap untuk menyerang Gaju dan bertarung dengan musuh yang sangat dibencinya ini.


Gaju melihat ke arah Griffin dan tersenyum dalam hati.


Dia tahu kalau mahluk itu sekarang benar-benar murka. Kecerdasan yang hanya secuil itu kini tertutupi oleh emosi dan sorot mata sang Griffin yang kini murni menyerupai sorot mata binatang buas biasa.


Gaju tahu kesempatannya telah datang.


Jarum berwarna putih keperakan yang selama ini tersembunyi di tangan kanannya menunjukkan diri.


Griffin menyerang Gaju dengan kedua kaki depannya yang terangkat ke atas dan sayap yang terbentang kesamping.


Gaju lalu meloncat sekuat tenaga dan menggunakan kaki depan kanan sang Griffin yang terangkat untuk pijakan, lalu dia melenting ke arah kepala Rajawali sang Griffin.


Griffin tak melihat dan tak peduli dengan tangan kanan Gaju yang terayun ke arah kepalanya.


Dia justru berniat bertukar serangan dengan mengayunkan kaki depan kirinya ke atas.


Berniat untuk menyarangkan serangannya dengan harga menerima pukulan tangan kanan Gaju.


"Rasakan ini, binatang!!" teriak Gaju.


Crasssssssss.


Buakkkkkkk.


Booooommmm.


Tubuh Gaju terhempas ke tanah dan membuat debu dan dedaunan kembali berterbangan, tapi dengan cepat dia menelan kembali darah yang tadi hampir keluar dari mulutnya.


Jarum di tangan kanannya kini menghilang.

__ADS_1


Benda itu tertancap dengan sukses di mata kanan Griffin.


__ADS_2