Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 103 - Koga vs Gama part 2


__ADS_3

“Apakah dia masih manusia?” gumam Koga sambil mengusap darah di sudut bibirnya.


Dia dan Gama sudah melakukan clash puluhan kali, tapi Gama seolah-olah seperti mesin yang tak mengenal lelah. Memang seiring dengan berjalannya waktu, Koga sadar kalau serangannya lebih kuat daripada Gama, tapi si Negro Hitam itu sangat licik.


Gama menyerang lalu sebelum sempat Koga membalas, dia akan melesat mundur. Maju lagi, menyerang, Koga menangkis atau balas menyerang dan Gama akan kembali mundur.


Dan yang paling buruk dari semuanya adalah…


Si Bedebah yang memakai Armor berwarna merah itu bisa terbang di udara.


Selama setengah jam mereka saling menyerang, Koga merasa kalau Gama hanya melakukan kucing-kucingan saja. Serang, mundur, serang, mundur. Kalau lah Gama mundur tapi masih berada di atas tanah, Koga akan mengejarnya sekuat tenaga dan akan menyerang Gama secara membabi buta, tapi si Hitam itu mundur dengan terbang ke udara.


Bagaimana mungkin Koga akan menyerangnya?


Dan hasilnya? Kini Koga terengah-engah kehabisan napas dan sedikit darah keluar di sudut bibirnya. Pakaian camou tentara berwarna hijau yang dikenakannya terlihat sobek dan compang-camping disana sini. Koga bahkan merasa letih hanya untuk berdiri tegak seperti awal tadi. Dia menumpukan kedua tangannya di kedua lutut dan memandang penuh benci ke arah si Gama yang dengan santainya terbang di udara sambil melipat dada.


“Licik!!” maki Koga.


“Memang,” jawab Gama santai.


“Pengecut!!” lanjut Koga lagi.


“Kamu benar,” jawab Gama.


“Turun sini dan bertarung seperti laki-laki!!” teriak Koga.


“Siapa yang bilang kalau aku banci?” cibir Gama.


“Dasar kantong urin!!” maki Koga saking kesalnya.


“Dasar tumpahan ******,” jawab Gama dengan santai.


“Arrggghhhhhhhhhh,” teriak Koga sambil menegakkan badan dan berteriak sekuat-kuatnya untuk melepaskan semua sesak didadanya.


Mungkin Koga akan terima kalau dia kalah dari Gama setelah bertarung secara jujur dan terbuka, tapi ini?


“Jadi? Kau sudah mengaku kalah kan?” tanya Gama dengan riang.

__ADS_1


“Tak akan!!!” jawab Koga cepat, “Aku tak akan pernah mengaku kalah oleh pengecut sepertimu yang hanya berlindung di balik baju zirah dan terbang ke angkasa untuk menghindari serangan,” teriak Koga sambil menatap marah ke arah Gama yang masih melayang di udara.


“Huft,” Gama membuang napas.


“Koga, otakmu memang hanya berisi pasir dan lendir saja. Aku bertarung dengan cara seperti ini, karena aku tertarik untuk merasakan sensasi menjadi seorang manusia bar-bar sepertimu,” kata Gama.


“Manusia bar-bar yang hanya mengandalkan ototnya tanpa pernah menggunakan otaknya. Makanya aku melayanimu bertarung dalam jarak dekat dan frontal clash seperti tadi,” lanjut Gama, tapi tiba-tiba saja suara Gama yang tadinya riang dan  penuh canda, berubah menjadi serius dan dingin, “Tapi, sejujurnya, dari awal kamu tak pernah punya kesempatan untuk menang melawanku!” kata Gama tegas.


Gama lalu mengacungkan kedua tangannya kedepan.


“Activate full combative mode!” perintah Gama.


“Combat move activated.”


“Initiating rocket launcher…”


“Initiating heat detection missile…”


“Initiating target locking system…”


“Initiating…”


“Initiating…”


Nginnggggggggg.


Semua mata menatap ke arah Gama dengan tatapan tak percaya dan takjub. Beberapa bagian dari Armor yang tadinya menyerupai contour tubuh manusia, tiba-tiba saja terbuka dan mengeluarkan berbagai jenis macam senjata yang sebagian besar adalah long range weapon.


Dan melihat sosok Armor yang digunakan Gama berubah menjadi sangat mengancam dan menyeramkan. Bahkan Koga yang merasa kalau tidak ada yang dia takuti di Pulau sekalipun juga merasakan tubuhnya sedikit bergetar setelah melihat tampilan combat mode Gama.


“Mau coba?” tanya Gama dingin.


Koga terdiam dengan wajah terpana. Jangankan dalam keadaan yang kelelahan dan terluka seperti sekarang ini, sekalipun dia dalam keadaan prima, Koga kan berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk bertarung melawan Gama dengan combat mode-nya.


Koga yang selama ini selalu merasa kalau kekuatan itu berasal sepenuhnya dari dalam diri dan setiap alat bantu yang sifatnya eksternal bukanlah sesuatu yang essensial, kini seperti merasakan sebuah tamparan keras yang membuat wajahnya terasa panas terbakar.


Eksternal item tidak penting?

__ADS_1


Eksternal item akan kalah dengan kekuatan diri sendiri?


Bullshit!!


Lihatlah Gama sekarang, bahkan Koga sendiri pun merasakan sedikit rasa takut menjalar dalam tubuhnya saat berhadapan dengannya, rasa yang lama sekali tak pernah dia rasakan dan sudah dia lupakan.


Ketika kita berlatih bela diri, pada suatu saat kita tidak akan merasa takut lagi kepada musuh yang memegang pisau atau parang di tangan mereka.


Itu benar.


Tapi, sehebat apa pun beladiri kita, disaat kita berada di hadapan seorang prajurit terlatih yang menodongkan senapan AK-47, masihkah kita memiliki pikiran yang sama?


Gama dengan Armornya, sama seperti seorang prajurit dengan senapannya di depan Koga. Sekalipun Koga percaya diri dengan kemampuan fisiknya tapi untuk berhadapan dengan sekian banyak senjata yang sekarang mungkin sedang mengunci dirinya sebagai sasaran?


Koga bukan orang gila. Sekalipun dia bukan orang cerdas, tapi dia tahu kapan harus melangkah mundur demi kelematan nyawanya sendiri.


“Oke. Aku menyerah. Gama, kamu lebih kuat dari aku,” bisik Koga pelan.


Semua anggota Tim Koga yang menyaksikan pertarungan antara Raja mereka dan West Lunatic sangat terkejut. Ini kali pertama mereka melihat Koga mengaku kalah dari seseorang sejak mereka mengenal Koga beberapa tahun lalu.


Songnam, Tien, Em dan semuanya sangat terkejut dan dagu mereka hampir menyentuh lantai karena terpana.


“Itu Koga?” gumam mereka dengan suara bergetar seakan sosok yang sedang berdiri di lapangan berumput itu bukanlah Raja mereka.


“Deactivate combat mode!” perintah Gama pelan.


Semua peralatan serang yang tadi begitu mengancam dan bersiap untuk menembakkan semua senjatanya ke arah Koga dengan cepat menutup dan kembali ke tempatnya masing-masing.


Gama menarik napas panjang, Combat Mode adalah pilihan terakhir yang akan diambilnya saat dia mengalami deadlock dalam sebuah pertarungan. Di saat Gama mengaktifkan mode ini, semua peralatan tempur yang tersedia siap untuk digunakan dan efektifitas bertarung Armor meningkat menjadi hampir dua kali lipat.


Tapi, semua itu bukan tanpa kekurangan, Gama dan Armornya hanya bisa berada dalam Combat Mode dalam waktu yang sangat terbatas. Prinsipnya sangat mirip dengan Berserker Implant yang pernah dipakai Aju. Alasannya sederhana, sumber tenaga yang dibutuhkan agar Armor bisa beroperasi dalam Combat Mode sangat luar biasa.


“Sekarang, karena kamu sendiri sudah mengakui kekalahanmu, kita perlu berdiskusi tentang Ujian Tahap Ketiga,” kata Gama setelah membuka Armor yang menutupi kepalanya.


Raut muka Koga berubah dan tanpa sadar dia melihat ke arah Gedung yang ada di belakangnya. Gedung tempat dimana Timnya sekarang berada.


“Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku bertarung sampai mati dengan Gama atau membiarkan dia membantai anggota Timku sesuka hatinya?” gumam Koga dalam hati, di saat seperti ini, betapa Koga sangat merindukan keberadaan Tia, strategist yang akan selalu mencarikan solusi untuknya.

__ADS_1


__ADS_2