Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 17 - Dada Rata


__ADS_3

"Gaju."


Suara seorang anak perempuan yang terdengar nyaring, membuat kaget Tian yang duduk semeja dengan Gaju.


Seraut wajah cantik khas wanita amerika latin terlihat tak lama kemudian.


Adel.


Tian mencibirkan bibirnya ke arah gadis kecil yang datang dan membawa piringnya itu ke arah meja Gaju dan Tian. Tanpa sungkan dan canggung, Adel langsung duduk di sebelah Gaju.


Tian kesal sekali melihat ulah Adel yang pedenya tidak ketulungan itu. Ini bukan kali pertama dalam sebulan ini, si Gadis berambut ikal yang tubuhnya berkembang lebih cepat dari gadis seumurannya itu 'memaksa' bergabung di meja mereka.


"My princess."


Kali ini suara seorang anak laki-laki terdengar di belakang Tian. Sedetik kemudian, seorang bocah berkulit keling sudah duduk di sebelah Tian. Dan tentu saja, yang dipanggil oleh si Keling barusan adalah Tian.


Tian menggelengkan kepalanya melihat ulah pasangan soulmate yang paling unik ini. Yang cewek dengan berani dan terbuka mengejar Gaju. Sedangkan yang cowok tanpa malu mengejar semua gadis yang dianggapnya cantik.


Dan parahnya, selera si Keling sangat rendah, saking rendahnya, dari dua puluh kandidat perempuan yang ada di Pulau, tak satupun masuk kategori jelek baginya. Itu artinya, dia mengejar siapapun atau apapun asalkan ada embel-embel 'wanita' di benda itu.


Tian bahkan pernah nyeletuk karena jengkelnya, "seandainya meja Canteen ini ditempeli sticker dengan tulisan 'wanita', pasti Si Keling akan menganggapnya cantik," dan si Keling dengan polosnya mengiyakan kata-kata Tian.


Tapi kali ini, batas kesabaran si Genius Tian sudah mencapai batasnya, baik untuk si Adel yang terang-terangan mengejar Gaju, maupun si Aju yang bikin eneg Tian.


"Adel!! Aku tahu kalau kamu selalu ingin berkompetisi denganku, tapi Gaju itu soulmate-ku. Soulmate-KU," kata Tian dengan memberikan penekanan pada kata 'ku' di akhir kalimatnya.


"Bagian mana dari kata 'KU' yang tidak kamu mengerti?" rungut Tian berapi-api ke arah si Gadis Latin itu.


Adel yang sedari tadi asyik melihat ke arah Gaju yang sedang menikmati makan siangnya menoleh ke arah Tian, "hei, gadis kecil yang belum tumbuh payudaranya," kata Adel sambil membusungkan dadanya yang memang sudah ada dan sedikit membukit untuk ukuran anak 10 tahun itu, "dunia tak berputar mengelilingimu, tak semua orang atau semua hal terjadi karena kamu. Aku suka Gaju dan itu sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Kamu duduk disini itu hanya sebuah kebetulan, sekalipun soulmate Gaju bukan dirimu, aku tetap akan duduk disini, disebelah Gaju. Dewasalah!!" balas Adel tak kalah kejam.


Triple Kill.


Tian merasakan tiga kali tusukan pisau dari Adel gara-gara kata-katanya barusan. Dan yang menusuk paling dalam adalah bagian saat Adel memanggilnya 'gadis kecil yang belum tumbuh payudara', sakit bener Tian ngedengernya.


Tapi itu fakta, fakta telak yang membuat Tian tak bisa mengalahkan Adel.

__ADS_1


Gaju yang sudah selesai makan siang bangkit berdiri dan berjalan ke arah  dormitory. Kamar Tian tepatnya, kan mereka sudah tinggal bersama selama lebih dari sebulan.


Tian berdiri dan menepis tangan jahil Aju yang berusaha menahannya.


"My Princess kan belum habis makannya," kata Aju.


Tian sama sekali tak menggubris Si Keling. Matanya masih menatap marah ke arah si Gadis Latin yang masih pamer dada di depannya.


"Biarin aja belum tumbuh. Setidaknya setiap malam, aku tidur bareng Gaju. Kamu? Kelaut aja sana!!" balas Tian sebelum berlari menyusul Gaju.


Kan emang bener Tian sama Gaju tidur sekamar meskipun Tian tidur di kasur dan Gaju tidur di bawah.


Adel terduduk di tempatnya. Emang bener sih kata Tian. Adel menarik napas panjang, aku harus kuat. Demi calon anakku yang bermata sipit dan berambut hitam, bisiknya pelan.


\=\=\=\=\=


"Gaju, berapa sih skor IC dan PAmu?" tanya Tian setelah berhasil menyusul Gaju.


Gaju melirik ke arah Tian dan terdiam, "aku tak pernah menanyaimu tentang itu kan?"


"Anggap aku seorang Fighter dengan kemampuan rata-rata. Cukup kan untuk analisamu?" jawab Gaju.


"Humph," Tian mendengus kesal.


Tian tahu kalau Gaju sedang main-main dengannya. Bukankah seharusnya Gaju punya atribut kecerdasan otak lebih dominan?


\=\=\=\=\=


"Kamu mau kemana?" tanya Tian sore harinya.


"Ke tempat biasa, mau ikut?" tanya Gaju.


Tian menggelengkan kepalanya. Di depannya ada setumpuk buku yang masih harus dia baca. Buku penting. Bukan buku tak jelas dengan tema 'acupuncture' seperti yang dibaca Gaju.


Gaju pun meninggalkan Tian di kamarnya sendirian dan berjalan menuju spot favoritnya yang selama ini dia gunakan untuk latihan.

__ADS_1


Sesampainya di tempat itu, Gaju melihat ke arah sekitarnya dan memastikan kalau tidak ada perubahan dari letak kamera pengawas yang selama dua tahun lebih ini telah tertanam disana.


Gaju lalu mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari sakunya. Gaju membuka bungkusan itu dan mengeluarkan beberapa buah jarum berwarna perak dari sana.


Jarum yang dibuatnya sendiri dari workshop beberapa hari lalu setelah tanpa sengaja Gaju menemukan buku acupuncture itu.


Gaju begitu terpana saat pertama kali membaca buku itu. Ada banyak sekali metode yang terdapat di dalamnya dan membuat Gaju menyadari kalau tubuh manusia sangat misterius dang berbahaya. Karena itu, meskipun Gaju bisa hapal dengan semua buku yang dia lihat, tetapi tadi pagi dia memutuskan untuk membacanya sekali lagi.


Gaju takut dia akan melakukan kesalahan.


Seperti yang dialami semua rekan-rekannya, physical attribute atau PA paling mudah ditingkatkan dengan serum genetis Muscle Enhancement. Tapi Gaju tidak punya fisik yang istimewa. Karena itu dia tidak pernah berhasil masuk ke ranking tiga besar.


Seperti yang dia katakan kepada Tian, atribut fisik Gaju memang hanya di ambang batas rata-rata. Seperti kebanyakan kandidat yang lain. Sekeras apapun berlatih power training, Gaju tidak mendapatkan peningkatan yang berarti.


Samoai akhirnya dia menemukan jalan keluarnya tanpa sengaja. Dari buku aneh yang dia baca beberapa kali dan teknik acupuncture itu.


Gaju menemukan sebuah metode kuno untuk melakukan muscle enhancement dengan teknik acupuncture.


Gaju pun mencoba mempelajari teknik itu dengan lebih mendalam dan mempersiapkan jarumnya di workshop.


Kali ini dia akan mencobanya ke dirinya sendiri. Dia tahu kalau ini beresiko dan bisa membahayakan dirinya. Tapi Gaju tetap memutuskan untuk melakukannya.


Gaju mengingat kembali deskripsi lokasi untuk titik Zu San Li yang disebutkan dalam buku aneh itu dan meraba perutnya untuk memastikan lokasi titik itu.


Setelah itu Gaju menyalakan sebuah lilin dan membakar salah satu ujung jarumnya ke lilin itu untuk mensterilkannya.


Gaju menarik napas panjang dan membulatkan tekadnya, setelah itu dia menusukkan jarum acupuncture itu ke titik Zu San Li atau Stomach 36 yang memang disebutkan untuk muscle enhancement itu.


Setelah Gaju menusukkan jarum itu, selain sedikit rasa sakit akibat tusukan jarum, tak ada rasa apapun yang dia rasakan di tubuhnya.


"Apakah aku salah?" batin Gaju.


Tapi sesaat kemudian, rasa sakit dstang menyerang ke seluruh tubuh Gaju. Otot-ototnya seakan berkonstraksi secara paksa.


Bukan hanya sebagian, tapi seluruhnya. Gaju merasa seolah-olah seluruh tubuhnya dipaksa untuk mengangkat beban yang menggantung di seluruh permukaan tubuhnya. Gaju tiba-tiba mulai kehilangan kesadaran tapi dia tahu kalau dia pingsan dalam keadaan ini. Hanya tubuh tanpa nyawanya yang tersisa.

__ADS_1


Dengan cepat, Gaju mencabut jarum itu dan dia pingsan tak sadarkan diri.


__ADS_2