
Setengah jam setelah Tulan dan Aso melarikan diri dari Komplek, sebuah suara notification terdengar dari mini komputer dari masing-masing Kandidat. Semua Kandidat yang melihat rentetan kejadian yang baru saja terjadi di lapangan rumput yang membatasi Komplek dan Hutan bisa menebak notifikasi apa itu.
“Hari ke-1 Ujian Tahap Ketiga.”
“Selamat kepada pasangan Tiga Lima dan Tiga Enam karena berhasil lolos ke Tahap selanjutnya karena telah mengeliminasi pasangan Satu Sembilan dan Dua Kosong.”
“Selamat berjuang bagi Kandidat yang lain.”
Gama adalah kandidat tercepat yang berhasil lolos ke tahap selanjutnya sejak Ujian Tahap Ketiga dimulai, tentu saja jika Gaju tidak ikut diperhitungkan.
Sampai saat ini, sudah dua pasangan yang lolos ke tahap selanjutnya, Gaju-Tian dan Gama-Tien.
\=\=\=\=\=
Di lantai dua tempat Songnam dan Tien berada.
“Bagaimana rasanya?” tanya Songnam.
“Apa maksudmu?” tanya Tien dengan nada dingin.
“Bagaimana rasanya hanya diam saja dan tak melakukan apa-apa, tapi kau bisa lolos ke tahap selanjutnya. Bahkan di saat kau tak lagi disamping Gama,” tanya Songnam.
“Kau pikir kau berbeda. Koma juga akan melakukan hal yang sama untukmu!!” teriak Tien.
“Aku tak akan membiarkannya melakukan itu,” jawab Songnam pendek lalu dia meninggalkan ruangan ini.
\=\=\=\=\=
Songlan berdiri dan melipat kedua tangannya di depan dada. Sama seperti Koma, dia melihat semuanya tadi. Sejak Gama menunjukkan diri, bertarung melawan Koga dan akhirnya mengejar pasangan Tulan-Aso.
Tak seperti Gama, Koma, atau bahkan Adel yang datang kesini tanpa tujuan yang jelas untuk buruannya, Songlan lain. Dia sudah membunuh Duma, dia hanya tinggal menghabisi Aen saja untuk lolos ke tahap selanjutnya. Dan itulah yang akan dia lakukan.
Aen adalah seorang Kandidat yang bisa dibilang rata-rata. Satu-satunya fitur yang mungkin membuat dia mencolok dari yang lainnya adalah dia keturunan Timur Tengah.
Tak seperti Kandidat lain yang mungkin bisa berbaur dengan mudah karena kesamaan fisik, Aen sering terkucilkan, sekalipun secara fisik, dia cantik dan unik.
Ada beberapa Kandidat lain yang memiliki nasib sama seperti Aen, contohnya Adel yang keturunan Latin dan juga Gama yang keturunan Negro. Mereka berdua juga one of a kind di Pulau. Tak ada orang lain dengan ciri genetis yang sama dengan mereka berdua.
__ADS_1
Tapi berbeda dengan Aen yang memiliki kemampuan rata-rata, mereka berdua adalah kandidat yang extra ordinary. Mereka berhasil menduduki ranking tiga besar saat Tahap Kesatu dan bahkan mendapat julukan Kandidat Monster bersama Koga dan yang lainnya.
Sedangkan Aen sendiri? Dengan bakat alaminya yang hanya rata-rata, tak ada Kandidat lain yang memperhatikan dia. Bahkan Aen sempat merasa kalau dia dianggap tak ada oleh Kandidat yang lainnya.
Sampai akhirnya datanglah Adel mengulurkan tangan kepadanya.
Ya, Adel. Kalaulah ada satu orang yang bisa dianggap sebagai sahabat Aen di Pulau, dia adalah Adel. Mereka berdua sangat dekat saat Tahap Kesatu. Dan semua itu berakhir ketika program Soulmate diperkenalkan.
Pasangan Aen adalah Duma. Duma sendiri memiliki keberuntungan yang kurang lebih sama dengan Aen. Karena merasa senasib dan sependeritaan, Aen dan Duma dengan mudah menjalin rasa dan benar-benar jatuh cinta.
Adel juga bertemu dengan Aju. Pasangan yang dijuluki sebagai pasangan terkuat di Pulau karena kemampuan individu mereka berdua.
Seiring berjalannya waktu, hubungan Adel dan Aen makin merenggang. Aen mengikuti kekasihnya untuk bergabung dengan Tim Koga, sedangkan Aju dan Adel mengejar mimpi semu dalam Hutan.
Tapi, kebahagiaan Aen berhenti ketika Duma meninggalkan Komplek dan melakukan misi untuk memburu Gaju karena iming-iming bonus poin yang membuat Koga menjadi serakah. Itulah kesempatan terakhir kalinya bagi Aen untuk melihat Koga.
Setelah bertahun-tahun tak ada kabar, Aen tahu kalau Duma tak akan kembali.
Pelan tapi pasti, kepribadian Aen berubah. Dia menjadi raga tanpa jiwa dan wadah tanpa isi, sampai detik ini.
Komplek kembali dicekam kesunyian kembali.
Koma masih dengan sabar menunggu dalam kegelapan.
Adel melipat tangannya di depan dada dan berdiri di sebelah Tsa yang sedari tadi asyik menikmati makanannya.
Koga bersembunyi dalam singgasananya yang ada di salah satu ruangan di lantai satu Gedung, sambil menyembuhkan lukanya.
Gasa dan Tia masih memperhatikan semuanya dari kejauhan, seperti seorang pemancing yang ingin mendapatkan tangkapan ketika air menjadi keruh dan semua orang lengah.
Semuanya hening.
Tiba-tiba, keheningan itu dipecahkan oleh suara teriakan keras membahana yang berasal dari Hutan. Sebuah teriakan yang lebih menyerupai raungan seekor binatang buas.
“Roaaaaaaarrrrrrr.”
Sebuah bayangan lalu melesat keluar dari Hutan dan dengan cepat berdiri di tengah lapangan rumput sambil berkacak pinggang. Seorang remaja laki-laki dengan fitur Chinese dan rambut terlihat acak-acakan kini terlihat berada di sana.
__ADS_1
“Koga. Aku datang kesini bukan untuk cari masalah denganmu. Aku hanya ingin dua orang saja, soulmateku dan Aen,” Songlan berhenti sebentar dan menunggu reaksi Koga.
Sako yang berdiri bersama Aen dan Em melihat ke arah Songlan dengan tubuh bergetar. Dia tak bisa menebak apa tujuan Songlan meminta dirinya dan Aen.
Aen yang sedari tadi terlihat menatap hampa tiba-tiba terperanjat kaget ketika mendengar suara Songlan yang keras menggelegar tadi. Dengan cepat Aen melihat ke arah Songlan dan sebuah nama keluar dari mulutnya.
“Duma…”
Tanpa mempertimbangkan keselamatan dirinya atau apapun, Aen tiba-tiba meloncat ke depan dan menabrak kaca jendela Gedung yang berada di lantai 1 ini. Secepat kilat, Aen melesat menuju ke arah Songlan yang berada di tengah lapangan rumput dan berdiri dengan arogan itu.
Ketika Aen sampai didepan Songlan, dia langsung memegangi baju Songlan dan dengan tangan dan tubuh bergetar Aen menatap Songlan penuh harap, “Songlan, kamu selamat setelah bertahun-tahun. Bagaimana dengan Duma? Dimana dia?”
Songlan terlihat kaget untuk sesaat lalu dengan cepat dia berhasil menguasai dirinya kembali. Songlan lalu tersenyum sinis ke arah Aen yang berada di depannya.
Songlan membungkukkan kepalanya ke depan dan berkata, “Aku yang membunuh Duma.”
Aen bagaikan terkena sambaran petir saat mendengar kata-kata Songlan. Dia langsung terduduk lemas di tanah dan pandangan matanya kembali kosong tanpa sinar kehidupan lagi. Harapan yang sempat muncul tadi ketika melihat Songlan datang, kini hancur sudah tak bersisa.
“Itulah alasannya aku memintamu untuk ikut denganku. Aku sudah membunuh Duma, setelah aku membunuhmu, bukankah itu artinya aku akan lolos ke tahap selanjutnya?” kata Songlan lantang disertai tawa yang keras dan mengguncang tempat ini.
Aen seakan tak peduli lagi dengan semua kata-kata Songlan. Dia hanya terduduk dan termangu di atas tanah. Sama sekali tak ada keinginan untuk hidup terlihat di matanya.
“Kelihatannya, kau sudah menyerah. Aku akan membantumu mengakhiri ini dengan cepat,” gumam Songlan sambil mengangkat tangannya.
Sesaat kemudian, tangan itu bergerak turun dan mengarah ke kepala Aen. Dengan kemampuan fisik Songlan, kepala Aen pasti akan pecah seketika seperti sebuah semangka yang dipukul dengan batu bata.
Tangan Songlan bergerak dengan cepat sekali dan hanya tinggal beberapa cm lagi akan mengenai kepala Aen ketika tiba-tiba suara berdesis yang sangat nyaring dan memekakkan telinga terdengar keras dan menuju ke arah Songlan.
Bzzzzzzzzzzzzzzzzztttttttt.
Bahaya!!
Hanya satu kata itu yang terlintas dalam tubuh Songlan. Tubuhnya berteriak memperingatkan akan adanya bahaya yang datang tiba-tiba, cepat dan mengancam nyawanya. Tanpa berpikir panjang Songlan langsung meloncat kebelakang dan tak mempedulikan Aen, karena nyawanya lebih penting.
Sebuah benda melesat dengan sangat cepat dan bahkan karena saking cepatnya, Songlan sama sekali tak dapat melihat dengan jelas wujud dari benda itu. Hanya kilatan putih saja yang melesat beberapa cm dari tempat dia berdiri tadi.
“Apa tadi?” gumam Songlan yang tiba-tiba saja merasakan tetesan keringat dingin mengalir di punggungnya.
__ADS_1