
Gaju memang tidak berniat untuk membunuh Ular itu dengan serangan pertamanya. Serangannya tadi hanya bertujuan untuk 'menyakiti' si Ular. Dengan begitu si Ular akan membuka pertahanan dirinya karena rasa sakit itu.
Gaju masih memperhatikan dengan seksama Ular Daun yang berguling-guling di depan mereka. Kali ini Gaju mengincar titik lemah yang mematikan bagi si Ular. Titik lemah yang disebutkan oleh Tian tadi. Ulu hati aka liver.
Si Ular masih berguling-guling diatas tanah, lama kelamaan gerakannya melemah. Gaju tahu kalau stamina si Ular sudah menurun. Kalau manusia, ketika matanya terkena sesuatu masih bisa menggunakan tangannya untuk mengambil benda itu, kalau Ular? Dia hanya bisa merasakan sakit dan menghabiskan tenaganya mencoba menghilangkan rasa sakit itu. Usaha sia-sia.
Gaju butuh si Ular untuk kehabisan tenaganya karena satu alasan. Dia yakin akan akurasi lemparannya, tapi dia belum yakin akan kekuatan lemparan itu.
Jangan-jangan nanti hanya menancap sedikit dan tidak cukup masuk untuk mengenai liver si Ular.
Satu-satunya solusi adalah dengan menusukkan jarum itu dengan tangannya sendiri ke sasaran, bukan dengan lemparan.
Semua itu terpaksa Gaju lakukan untuk mempertahankan image-nya. Karena Tian sudah tahu tentang akupunktur yang dipelajari Gaju, maka dia memilih menggunakannya. Sebenarnya Gaju punya seribu satu cara untuk menghabisi Ular itu. Tapi dia tahu kalau Pengurus mengawasi semua yang terjadi saat ini. Dan Gaju ingin tidak ingin menunjukkan kemampuannya yang sesungguhnya.
Si Ular akhirnya hanya berbaring di depan Gaju, mata kanannya yang tidak terluka menatap Gaju dengan pandangan waspada. Si Ular tahu kalau duel mereka jauh dari kata berakhir.
Wusssss.
Sama seperti tadi, tanpa dapat diduga, tubuh kecil Gaju melesat seperti anak panah lepas dari busurnya ke arah Si Ular. Gaju berlari dengan posisi hampir menunduk. Si Ular menjulurkan lidahnya dengan cepat untuk mengetahui posisi Gaju.
Schwakkkkkk.
Si Ular mengibaskan ekornya ke arah Gaju. Gaju melemparkan jarum di tangan kirinya ke arah sebuah batu besar di depannya.
Ketiga kandidat lain bingung dengan tindakan Gaju. Itu bukan sebuah serangan kan? Kenapa Gaju melempar jarumnya ke batu itu?
Jangan salah, semua Kandidat adalah pesaing. Mereka bertiga juga berusaha sebisa mungkin menangkap dan menganalisa gaya bertarung Gaju. Siapa yang tahu kalau suatu hari mereka akan berduel mempertaruhkan nyawa. Mungkin hanya Tian yang memperhatikan teknik bertarung Gaju. Dia melakukannya untuk mendapatkan informasi yang cukup untuk Analisa-nya kelak.
Ketika ekor Ular tersebut hampir mengenai Gaju, dia meloncat ke atas dengan cepat. Dan saat itu mata kanan Si Ular memancarkan tatapan aneh untuk sesaat.
Tiba-tiba.
Wusssss.
Si Ular menggunakan tubuhnya seperti pegas. Tubuh yang tadi terlihat lemah, meloncat dengan kecepatan penuh dan rahang menganga siap menerkam Gaju.
__ADS_1
Tian dan Adel terlihat panik, sedangkan Aju mengernyitkan dahinya dan sedang mempertimbangkan langkah selanjutnya. Dia tak peduli apakah Gaju hidup atau mati.
Tapi, Gaju justru tersenyum saat itu.
"Kau hanya seekor ular, sejak kapan seekor binatang mengalahkan kecerdikan manusia?" gumam Gaju.
Setelah itu, ketiga rekan Gaju menyaksikan pemandangan yang tak masuk akal di depan mereka.
Tubuh Gaju yang tadi melenting ke atas tiba-tiba berhenti di udara. Kepala si Ular yang seharusnya tepat mengenainya sekarang justru berada di atas Gaju.
Gaju tanpa ragu mengayunkan tangan kanannya dan menusukkan jarum peraknya ke ulu hati si Ular. Gerakan Gaju sangat cepat dan akurat, seolah-olah Si Ular hanya melompat di atas kepala Gaju tanpa mengalami apa-apa. Tapi Ular itu kemudian mendarat di tanah tanpa nyawa.
"Kamu?" tanya Adel kebingungan.
Sesuai kaidah fisika, benda yang melayang di udara seharusnya tidak bisa bermanuver atau berganti arah tanpa pijakan. Tapi Gaju melakukannya.
Tian tersenyum karena dia tahu jawabannya.
Gaju menggunakan benang yang terikat dengan jarum yang dilemparnya ke batu tadi. Di saat si Ular menyerangnya dengan kepala, Gaju menggunakan benang itu untuk menghentikan laju dirinya yang melenting ke atas.
Kini Tian paham metode bertarung Gaju. Jarum di tangan kiri tersambung dengan benang untuk bermanuver. Jarum ditangan kanan untuk senjata dan menyerang.
Tapi semua itu hanyalah alat. Yang terpenting adalah penggunanya. Dan Tian sangat mengagumi insight yang dimiliki Gaju karena dia bisa memprediksi pola serangan Ular tersebut dan mengeksekusinya dengan sempurna.
Kini Tian sadar, Gaju bukan seorang Fighter atau seorang Strategist. Gaju adalah Fighter-Strategist dalam satu tubuh. Monster paling menakutkan di Pulau yang masih tak disadari oleh Kandidat yang lain.
Gaju mengambil jarumnya dari tubuh si Ular dan dari batu yang berada di dekatnya. Dia tidak menjelaskan trik bertarungnya karena itu adalah rahasianya.
Semua kandidat tahu itu.
Gaju kemudian berjalan ke arah ketiga kawannya dan mendekati Tian, "Tian, kamu melihatnya?" tanya Gaju pelan.
Tian menganggukkan kepalanya, "unik, mematikan, fleksibel, potensinya tak terbatas. Aku sudah membayangkan setidaknya puluhan skenario untuk mengembangkan teknikmu," jawab Tian, "tapi aku yakin Gaju pasti sudah lebih dulu memikirkannya daripada aku kan?" lanjut Tian sambil tersenyum manis.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Somewhere else.
Dua orang bocah saling berpelukan di dasar sebuah jurang. Tubuh mereka penuh dengan luka gores dan berdarah. Mereka terperosok ke jurang ini saat sedang mengejar hewan buruan mereka tadi.
Jurang yang tak terlalu dalam tapi bagian atasnya dipenuhi oleh rumput dan pepohonan. Membuat bagian dasar jurang menjadi sedikit gelap karena cahaya matahari yang masuk ke sini sangatlah terbatas.
Kedua bocah itu tiba-tiba mendengar suara desisan dari depan mereka. Desisan pelan yang lama-lama menjadi makin keras dan bersahut-sahutan.
Tak lama kemudian.
Ratusan ekor ular sudah mengerubungi kedua bocah itu sambil menjulurkan lidahnya dan mengeluarkan suara desisan.
Sepasang bocah laki-laki dan perempuan itu terdiam. Mereka tahu kalau mereka tak punya kesempatan. Dan mereka bisa membayangkan seperti apa rasanya ditelan hidup-hidup oleh seekor ular dan merasakan tubuh mereka membusuk sedikit demi sedikit dalam perut ular itu.
Mereka saling bertatapan mata dan mereka tidak ingin merasakan itu.
Si bocah laki-laki kemudian tersenyum dan mengeluarkan pisaunya, "aku akan membuatnya terasa cepat dan tidak sakit," katanya kepada bocah perempuan yang ada dalam pelukannya.
Si bocah perempuan menganggukkan kepalanya. Tidak ada kata sayang diantara mereka. Tapi mereka berdua adalah sahabat sehidup semati. Dan mereka tahu itu.
"See u there," bisik si bocah perempuan sambil memejamkan matanya dan tersenyum.
Si bocah laki-laki menusukkan pisaunya ke dada si bocah perempuan tepat ke jantungnya dan dia meninggal seketika.
Bocah laki-laki itu memeluk erat tubuh si bocah perempuan yang sudah tak bernyawa tapi masih terasa hangat itu, "sekalipun di neraka, kalau aku punya sahabat sepertimu, semuanya akan baik-baik saja. Tunggu aku, Sahabat," bisik si bocah laki-laki itu.
Dia kemudian menusuk jantungnya sendiri dengan pisau yang sama.
Mereka berdua mati dalam posisi berpelukan seperti sepasang kekasih, padahal mereka jauh lebih dekat daripada itu.
Semua adegan itu terekam dan terpantau oleh sebuah drone yang melayang di dalam jurang dalam kegelapan.
Jauh dari tempat ini, Sang Professor menyaksikan adegan mereka berdua ssmbil terdiam.
"Percikan api yang paling terang adalah sesaat sebelum dia padam," gumam sang Professor.
__ADS_1
Dia harus akui, betapa para bocah itu memiliki sisi heroik yang mengagumkan. Tapi semuanya terlihat hanya saat mereka dihadapkan oleh kematian.