Gaju - Satu

Gaju - Satu
Chapter 115 - The End part 4


__ADS_3

"Gaju, kamu semalam berjanji kan?" tanya Tian di sela-sela tangisannya.


Gaju tak menjawab dan hanya terdiam dengan rahang yang mengatup menahan amarah.


"Sejak dulu. Sejak di gua malam itu. Aku rela melakukan apa pun untukmu. Bahkan jika aku harus menyayat dagingku dan menyerahkan nyawaku untukmu," lanjut Tian sambil berjalan pelan menuju meja di dekat mereka.


Tian lalu mengambil salah satu pisau yang ada di meja itu dan kembali berjalan mendekati Gaju.


Tangisan Tian makin keras tapi Gaju sama sekali tak mengeluarkan suara apa pun.


Tian menundukkan kepalanya saat dia sudah berada di depan Gaju dan hanya berjarak beberapa cm saja.


"Gaju. Aku sayang kamu. Melebihi apapun di dunia ini. Ambil pisau ini. Survive dan teruslah hidup. Aku akan bahagia dan menunggumu dengan setia setelah ini. Dimanapun tempatnya setelah aku pergi," bisik Tian sambil mengulurkan pisau yang dipegang dengan kedua tangannya ke arah Gaju.


Gaju seolah seperti seseorang yang linglung dan kehilangan kesadaran diri. Dia menerima pisau yang diulurkan oleh Tian tanpa berkata-kata.


Tian tersenyum. Sebuah senyuman yang sangat indah, melebihi semua senyuman yang pernah Tian berikan untuk Gaju.


Tian lalu menuntun tangan Gaju dan menempatkan ujung pisau itu ke dadanya sendiri. Tian lalu menarik tangan Gaju perlahan-lahan dan pisau itu mulai menancap di dada kiri Tian tempat jantungnya berada.


Tian merasakan sakit yang luar biasa tapi tetap mencoba untuk tersenyum. Dia ingin agar kenangan terakhir yang dimiliki oleh Gaju adalah sosok Tian yang paling cantik, bukan sosok seorang gadis yang meringis kesakitan.


Pisau itu menancap perlahan-lahan dan membuat seluruh tubuh Tian bergetar karena menahan sakit yang luar biasa. Kedua tangan Tian yang memegang tangan Gaju juga bergetar hebat karena rasa sakit itu.


Saat itulah, Gaju yang sedari tadi seperti seorang manusia yang kehilangan akal sehatnya dan seolah-olah setengah sadar dengan apa yang dia lakukan seperti mendapatkan sengatan listrik di seluruh tubuhnya.


Gaju melihat ke arah gadis cantik yang tersenyum manis di depannya dengan tubuh yang bergetar.


Pandangan mata Gaju lalu turun ke bawah dan melihat apa yang sedang dia lakukan. Tubuh Gaju bergetar hebat ketika dia menyadari apa yang terjadi.


Apalagi ketika Gaju melihat bekas luka mengerikan di dada Tian. Luka yang selalu mengingatkan Gaju kalau Tian pernah memberikan nyawanya untuk Gaju.


Tanpa berpikir panjang Gaju langsung menarik pisau itu sekuat tenaga dan tanpa memberikan kesempatan kepada Tian, Gaju membalikkan pisau itu dan menancapkannya ke dadanya sendiri. Tepat dimana jantungnya berada.


Pegangan tangan Tian terlepas seketika. Tian sama sekali tak menyangka kalau Gaju akan melakukan itu.


"Tidaakkkkkk!!!" teriak Tian sekeras-kerasnya.


Gadis itu lalu dengan cepat memeluk tubuh Gaju dan berusaha mencabut pisau di dada Gaju.


Tapi semua usahanya sia-sia. Pisau itu menancap dengan sempurna dan sekalipun Tian bereaksi dengan cepat, dia tak mampu mencegah pisau itu menusuk jantung Gaju.


"Kenapaaaaa?" teriak Tian histeris sambil memeluk tubuh soulmatenya yang bersimbah darah.


"Kenapaaaaa???"


Gaju hanya tersenyum manis dalam pelukan Tian.


"Aku pernah berhutang nyawa denganmu dan aku belum sempat membayarnya. Aku tak akan sanggup jika harus menerimanya lagi," gumam Gaju pelan.

__ADS_1


"Karena aku sayang Tian. Melebihi apa pun. Survive tanpa Tian disisiku, adalah siksaan terberat yang tak akan sanggup aku jalani," lanjutnya.


"Tersenyumlah dan live on."


"Senyummu adalah hal terindah dalam hidupku," kata Gaju.


Tubuh Gaju lalu terjatuh ke bawah dan Tian menangkapnya lalu memeluk Gaju.


"Kamu egois!!" teriak Tian.


"Kamu jahat!!"


"Kamu tega meninggalkan aku!!"


Tian berteriak-teriak histeris dan menangis sejadi-jadinya.


Gaju tersenyum dan tangannya berusaha keras untuk meraih kepala Tian lalu dia membelai rambut gadis itu.


"Maafkan aku. Aku kini baru sadar, aku menyayangimu, lebih dari diriku sendiri," bisik Gaju parau lalu tangannya terkulai lemas.


Gaju menghembuskan nafas terakhirnya dengan sebuah senyuman di bibirnya dan tatapan mesra yang dia berikan untuk Tian.


"Aaaarrggghhhhhh," Tian meraung keras dan memeluk erat tubuh Gaju yang berangsur-angsur menjadi dingin.


Tian menjadi Kandidat terakhir yang lolos dari tahap ini.


\=\=\=\=\=


Tubuh Gaju, Aen, Tien, Em dan Koma kemudian dibawa oleh sosok-sosok itu.


Tak lama kemudian, kelima ruangan kecil itu bergetar pelan dan tiba-tiba seperti terbenam ke bawah. Semua kandidat bisa merasakan kalau ruangan itu bergerak dengan cepat dan menuju ke suatu tempat.


Hanya dalam hitungan menit, getaran halus yang mereka rasakan berhenti. Lalu pintu masing-masing ruangan terbuka dengan sendirinya.


Ada sebuah koridor panjang yang kini terlihat di depan masing-masing pintu ruangan yang tadi dipakai oleh mereka.


"Keluar dari pintu itu dan ikuti koridor panjang yang kalian lihat!" terdengar suara perintah dari Sang Professor.


Para Kandidat mengikuti perintah Professor yang baru saja dia berikan termasuk Adel yang masih menangis dan Tian yang sekarang seperti seseorang yang tanpa nyawa dengan tatapan kosong.


Setelah mereka semua berjalan mengikuti koridor yang tak seberapa panjang itu, mereka sampai ke sebuah panggung yang terbuat dari lantai beton yang berbentuk lingkaran.


Kelima Kandidat itu melihat ke arah sekeliling mereka yang diliputi kegelapan. Lalu mereka kembali melihat sosok sang Professor yang berdiri di tengah panggung.


Professor lalu melambaikan tangannya ke arah kelima Kandidat yang sebagian dari mereka masih bersimbah darah dengan penampilan yang mengerikan.


"Sini, aku akan mengenalkan kalian kepada Dunia," panggil sang Professor.


Kelima Kandidat berjalan mendekati sang Professor dan berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Ini Gama. Dia seorang Mechanic, tapi tak pernah menyadarinya. Dia akan menjadi Jenderal untuk pasukan dari West District," kata Sang Professor sambil menunjuk ke arah Gama.


Gama terlihat kebingungan tapi tetap melangkah maju dan berdiri di sebelah Professor.


"Ini Songnam. Dia seorang Poison Master dan akan menjadi Jenderal untuk East District," kata sang Professor sambil menunjuk ke arah Songnam.


Songnam mengikuti Gama dan berdiri di sampingnya.


"Ini Tian. Dia seorang Psychic, sama sepertiku. Dia akan menjadi Jenderal untuk North District," kata Professor sambil menunjuk ke arah Tian.


Tian hanya menatap Professor dengan tatapan penuh kebencian dan sama sekali tak bergeming di tempatnya.


Professor hanya tersenyum dan melambaikan tangannya untuk memanggil Tian.


Tian masih tak mengalihkan pandangan matanya dan berjalan ke sebelah Songnam.


"Ini Koga. Dia seorang Warrior. Dia akan menjadi Jenderal untuk South District," kata Professor sambil menunjuk ke arah Koga.


Koga membusungkan dadanya dan dengan percaya diri berjalan ke sebelah Tian.


"Yang terakhir. Adel. Seorang Archer. Dia akan menjadi Jenderal untuk Central District," kata Professor sambil menunjuk ke arah Adel.


Adel yang masih kebingungan karena tak menemukan Gaju dan melihat dengan kecewa ke arah Tian berjalan tanpa melihat sekalipun ke sebelah Koga.


"Beri salam untuk Jenderal kalian!!" perintah Professor kemudian ke arah kegelapan yang menyelimuti panggung lingkaran itu.


"Greeting Generals!!"


Booommmmm.


Tempat ini yang sebelumnya dipenuhi oleh kegelapan tiba-tiba menyala terang.


Di depan panggung, ratusan ribu bahkan jutaan orang berdiri dan melihat ke arah panggung yang berisi keenam orang itu.


Ada lima kelompok yang berdiri paling dekat ke panggung dengan baju prajurit dan berbaris dengan rapi. Setiap kelompok terdiri dari puluhan ribu prajurit yang menatap tak berkedip ke arah Tian dan kawan-kawannya.


Mereka adalah pasukan yang akan dipimpin oleh kelima orang Jenderal yang baru saja dikenalkan oleh Professor.


Di belakang barisan prajurit itu, jutaan orang yang terdiri dari anak-anak, remaja, orang dewasa melihat ke arah panggung sambil bercakap-cakap dan saling berbisik satu sama lain. Mereka adalah para penghuni Dunia Bawah ini.


Tapi, semua orang kini memiliki pikiran yang sama. Mereka ingin melihat lebih dekat dan mengenali para Jenderal baru yang akan memimpin pasukan Dunia Bawah di bawah komando sang Professor Gila, sang Professor yang bernama MoMu dan memiliki posisi sangat tinggi di Dunia Bawah, Supreme Commander MoMu.


"Let's take back our territory!!!" teriak MoMu sambil mengepalkan tangannya keatas.


"Oooooohhhhhhhhhhh."


Teriakan Professor disambut dengan sahutan yang menggelegar dari jutaan orang yang berdiri di depan panggung itu.


Petualangan baru pun menunggu bagi para Kandidat yang menjadi survivors dari program gila sang Professor.

__ADS_1


Pertarungan di Permukaan melawan ras lainnya.


Selesai.


__ADS_2