
Day-1441.
Sehari setelah empat tahun Kandidat berada di Pulau.
Keempat puluh kandidat itu berada di belakang Komplek dan sedang berhadapan dengan hutan belantara yang ada di depan mereka.
Mereka tahu kalau hari ini saatnya ujian eliminasi, tapi mereka tidak menyangka kalau mereka akan diajak ke bagian belakang Komplek oleh Pengurus.
Banyak terlihat Penjaga juga berjaga di sekeliling para Kandidat yang terlihat berpasang-pasangan itu. Selain para Penjaga, para Pelatih juga terlihat di sekitar mereka.
Tak lama kemudian, seorang Penjaga meletakkan sebuah benda berbentuk piringan di depan para Kandidat yang berkumpul itu.
Suara berdengung terdengar dari piringan itu sebelum akhirnya sebuah hollogram terlihat mengambang di atasnya.
Hollogram sang Professor.
"Selamat pagi semuanya."
"Selamat, karena kalian sudah berhasil melewati Tahap Kedua dengan sukses."
"Dan kini kita akan masuk ke Tahap Ketiga," kata Sang Professor sambil bertepuk tangan dan terlihat senang sekali.
Tapi para Kandidat dan Pengurus yang berada di depan hollogram itu tidak ada yang terlihat gembira.
"Kalian kenapa? Tidak suka ya?" tanya sang Professor.
"Oke. Oke. Aku tahu. Sebelum kalian masuk ke Tahap Tiga, kalian harus mengikuti semacam upacara seremonial dulu."
"Tahap Satu, kalian bagaikan anak-anak, perlu disuapi, perlu dijaga dan perlu disediakan makanan. Suatu hal yang wajar."
"Tahap Dua, kalian bagaikan remaja, diberi kebebasan, mulai mengenal pasangan dan teman, membangun hubungan dan mengasah kemampuan."
"Tahap Tiga, kalian akan menjadi manusia dewasa. Bertanggung jawab sepenuhnya terhadap diri kalian. Merasakan akibat dari pilihan yang kalian buat sendiri. Merasakan cinta dan pengkhianatan. Ooooohhhh," kata Sang Professor dengan gaya super lebay yang lucu tapi sama sekali tidak membuat orang ketawa.
Karena mereka semua tahu, betapa gilanya sang Professor.
"Tapi."
"Sebelum kalian menjadi manusia dewasa. Kalian harus mengalami upacara pendewasaan. Inisiasi. Seperti suku-suku Indian jaman kuno yang harus berburu dengan tangannya sendiri."
"Kalian juga harus mengalami inisiasi."
__ADS_1
Professor kemudian diam dan raut mukanya yang tadi terlihat riang dan gembira kini berubah menjadi dingin dan datar.
"Aku mau kalian bertahan hidup di hutan yang ada di depan kalian ini."
"Satu untuk satu. Soulmate untuk soulmate."
"Di akhir Ujian Eliminasi ini, aku mau kandidat yang tersisa berjumlah 20 orang. Pasangan soulmate harus survive. Untuk Kandidat yang kehilangan soulmatenya, kalian akan dieksekusi oleh Penjaga."
"Medan pertempuran adalah hutan belantara dan gunung di belakangku."
"Durasi satu minggu. Dimulai dari sekarang dan kalian harus kembali lagi seminggu lagi ditempat ini di waktu yang sama."
"Tak ada waktu persiapan apa pun. Apa pun yang menempel di tubuh kalian itulah persiapan kalian."
"Selamat berjuang dan live on!!"
Hollogram sang Professor menghilang dengan tiba-tiba dan menyisakan sebagian besar para Kandidat yang terlihat kebingungan. Tapi untuk para Strategist selevel Tian dan rekan-rekannya, mereka dapat dengan mudah mencerna kata-kata sang Professor.
"Ayo," kata Gaju sambil mengulurkan tangannya ke arah Tian.
Tian terlihat ragu sesaat kemudian dengan yakin dia menyambut tangan Gaju dan tersenyum.
Gaju dan Tian memang menjadi pasangan pertama yang tanpa berkomentar apapun langsung masuk ke hutan untuk melakukan ujian eliminasi mereka.
Mereka berdua tahu kalau di tengah hutan, posisi menentukan segalanya. Makin cepat mereka masuk ke dalam dan menemukan spot terbaik untuk mendirikan base camp mereka, peluang mereka untuk survive semakin besar.
Koga melihat ke pasangan Gaju dan Tian yang sudah duluan masuk ke dalam hutan.
"Tian, seharusnya kau bersamaku," bisik Koga pelan.
Koga yakin dengan kemampuannya, dia tidak peduli dengan strategi atau apapun itu. Apapun yang merintangi jalannya, dia akan menghancurkan semua dengan kepalan tangannya.
Sederhana, persis sesuai dengan isi otaknya.
Adel bergerak cepat disusul oleh Aju.
"Tunggu aku Del," teriak si Keling.
Adel sama sekali tidak menggubris kata-kata si Keling. Dia tidak mau kehilangan jejak Gaju. Adel tak bisa kehilangan Gaju. Tidak bisa, sebelum dia mendapatkan anak-anak bermata sipit dan berambut hitam dari Gaju.
Karena itu, Adel tanpa ragu masuk dan berlari ke dalam hutan, mengejar Gaju dan berencana membentuk tim bersamanya. Professor tak melarang hal itu. Dia hanya ingin tersisa 20 kandidat saja setelah Eliminasi ini selesai kan?
__ADS_1
Jadi, Adel akan bergabung dengan Gaju dan melakukan gencatan senjata untuk sementara dengan si Dada Rata Tian. Demi Gaju.
Beberapa pasang soulmate kemudian menyusul kedua pasangan itu dan tanpa ragu masuk ke dalam hutan. Beberapa pasang soulmate lainnya yang mungkin merasa peluang mereka terlalu kecil untuk bertahan hidup dalam hutan, memilih bertahan di lokasi ini.
Lima belas menit setelah Eliminasi ini dimulai, tinggal 6 pasang kandidat saja di tempat ini.
Koga, Koma dan Gama bersama soulmate mereka, ditambah dengan 3 pasang kandidat yang terlalu pengecut untuk masuk ke dalam hutan.
Tiba-tiba, sebuah hollogram muncul kembali di atas piringan tempat tadi hollogram Professor muncul.
"Hai," kata sang Professor.
"Kalian tidak berpikir kalau aku benar-benar pergi kan?" lanjutnya sambil tertawa jahil.
Keenam pasang kandidat itu hanya tertawa pahit mendengar candaan sang Professor.
Sang Professor kemudian melirik ke arah Koga yang berdiri bersama Em, "Koga, maukah kau kutunjukkan jalan cepat agar tak perlu masuk ke hutan tapi bisa langsung ke Tahap Tiga?" tanya sang Professor ke arah Koga.
Koga menganggukkan kepala dan tersenyum dengan sopan. Dia tahu siapa laki-laki di depannya. Semua orang tahu. Dan mereka harus menurutinya.
Sang Professor tertawa senang dan menganggukkan kepalanya ke arah Koga dan Em, "caranya mudah sekali, bunuh mereka," kata sang Professor datar sambil menunjuk ke arah 3 pasang Kandidat yang tidak berani masuk ke hutan, "satu untuk satu. soulmate untuk soulmate."
"Kalau kau bunuh sepasang kandidat dengan kedua tanganmu. Kau dan soulmatemu langsung otomatis lolos ke Tahap Tiga. Mudah kan?" kata Professor dengan nada datar seolah-olah mereka sedang membicarakan nyawa seekor ayam.
Koga terlihat ragu, sedangkan Em melihat ke arah tiga pasang kandidat yang berada di dekat mereka dengan pandangan mata iba. Mereka sama sekali tidak akan sanggup menang melawan Koga.
Saat Koga masih ragu, terdengar suara seorang anak dengan nada riang memecah suasana tegang di tempat itu.
"Apakah tawaran itu berlaku juga untukku Professor?" tanya Gama, si Genius.
Professor melirik ke arah Gama dan tertawa kecil, "Gama, kamu tahu kan kenapa aku tidak menawarimu terlebih dahulu?" tanya Professor.
Gama tertawa mendengar kata-kata Professor, "karena sesama genius selalu berpikiran serupa. Dan Professor tahu kalau aku akan membunuh mereka tanpa ragu. Jadi Professor tidak mau menawariku terlebih dahulu karena itu akan sangat membosankan. Betul kan Professor?"
"Hahahaha," Professor tertawa keras sekali mendengar jawaban Gama.
Setelah itu Professor dan Gama saling berpandangan dan mereka berdua mengucapkan, "aku genius," sambil membusungkan dada mereka secara bersamaan.
Semua kandidat yang ada di tempat itu merasakan bulu kuduk mereka merinding saat melihat kedua orang itu.
Satu Professor gila sudah cukup untuk membuat sebuah Pulau seperti ini. Bagaimana kalau ada tambahan satu lagi calon Professor yang sama gilanya?
__ADS_1