
"Gaju, kita mau bikin basecamp dimana?" tanya Tian yang berlari di sebelah Gaju dengan riang.
Yup. Dengan riang, karena Tian menganggap ujian eliminasi ini tak lebih dari jalan-jalan atau piknik di akhir pekan.
Tian seorang strategist, dia dapat dengan mudah mencari seribu satu cara untuk menyelamatkan dirinya di hutan ini. Atau juga menghabisi nyawa kandidat lain jika perlu.
Dan jawabannya sangat sederhana, jebakan dan racun.
Ada banyak tumbuhan dan hewan beracun di dalam hutan. Tian bisa mengumpulkan dan mengolahnya untuk menjadi senjata yang mematikan. Belum lagi, banyak flora dan fauna yang juga menjadi ancaman bagi kandidat lain tanpa perlu bagi Tian untuk melakukan apapun.
Itulah letak kegunaan knowledge dan memory bagi seorang Strategist. Mengenali lingkungan sekitar dan menggunakannya untuk kepentingan kita.
Gaju tersenyum dan melihat ke arah Tian, "jangan bercanda. Kamu kan tahu tempat yang terbaik untuk basecamp kita," jawab Gaju.
Tian membalas senyuman Gaju dan tertawa kecil.
Mereka berdua tahu, tempat terbaik untuk menjadi persembunyian mereka adalah yang dekat sumber air dan letaknya lebih tinggi dari tempat sekitarnya. Dua syarat mutlak untuk pertahanan dan survival.
Tak lama kemudian, mereka tiba di dekat sebuah sungai yang membelah hutan tersebut. Beberapa hewan liar langsung berhamburan ketika melihat dua orang remaja berusia 12 tahun itu.
Gaju berjalan di depan dan melihat ke sekelilingnya.
Sungai itu terlihat berair jernih dan bebatuan terlihat berada di dasarnya. Banyak ikan-ikan air tawar berenang dengan gesit di dalam sungai.
Sumber air dan sumber makanan sudah didapat. Sekarang saatnya mencari tempat untuk berlindung.
Tian hanya mengikuti Gaju dari belakang dengan penuh perhatian. Dia sengaja membiarkan Gaju mengambil semua keputusan. Selama ini di dalam Komplek, Gaju selalu bersikap biasa dan pendiam, tapi saat mereka memasuki hutan tadi, Tian melihat sosok Gaju yang lain. Dan Tian tahu alasannya.
Gaju tak pernah bertindak setengah hati kalau berurusan dengan keselamatan nyawanya.
Gaju dan Tian berlari kecil menyusuri sungai itu ke arah hulu. Mereka sesekali meloncat di atas bebatuan sungai karena pinggiran sungai tertutupi perdu yang lebat.
__ADS_1
Bagi Tian, aktivitas fisik seperti ini bukanlah suatu masalah besar. Dia masih bisa mengimbangi Gaju dengan rileks.
Setelah satu jam menyusuri sungai, akhirnya mereka berdua tiba di sebuah air terjun kecil. Tingginya hanya lima meter, tapi kondisi di sekelilingnya sangat cocok dengan yang Gaju harapkan.
Di dekat air terjun itu, sungai diapit oleh dua buah tebing yang ada di sebelah kiri dan kanannya.
Satu-satunya akses jalan masuk adalah melalui tepi sungai yang Gaju dan Tian lewati tadi.
Gaju berhenti dan melihat ke arah Tian, Tian tahu maksud pandangan mata Gaju, "tempat ini lumayan bagus, ada sumber air, ada sumber makanan dan mudah untuk mensetting pertahanan. Satu-satunya kelemahan adalah apabila ada musuh yang punya kemampuan untuk menyerang dari atas tebing di sekeliling kita maka kita terjebak di dalam."
"Hmmm, menurutmu, seberapa besar peluang bagi seorang musuh dengan kemampuan menyerang jarak jauh dan mematikan akan muncul selama ujian ini?" tanya Gaju.
"0.10% alias hampir mendekati ketidakmungkinan," jawab Tian sambil tertawa kecil.
"Tidak ada kandidat yang memiliki senapan. Apalagi dengan persiapan yang terbatas seperti tadi. Aku memberikan persentase kemungkinan sebesar itu, kalau-kalau Koga sedang gila dan berdiri di atas tebing kemudian melempari kita dengan batu," lanjut Tian sambil tertawa-tawa.
Gaju tersenyum mendengar jawaban Tian. Mereka berdua kemudian bergerak untuk mengenali area di sekeliling mereka. Semakin mereka memahami detail lingkungan mereka, banyak yang akan berguna untuk kedepannya nanti.
"Gaju!!" panggil Tian tiba-tiba.
Gaju mendekati Tian dan gadis itu tersenyum, "kamu harus berterima kasih padaku," kata Tian dengan muka bangga.
Gaju melirik ke arah Tian kemudian melihat ke belakang Tian. Ada sebuah gua yang terletak di belakang air terjun itu. Tapi lubangnya kecil, seorang anak umur 12 tahun seperti Gaju pun tidak bisa masuk dengan berdiri tegak.
"Gua yang bagus untuk basecamp kita. Tapi kurasa terlalu kecil," kata Gaju.
"Humph," Tian mendengus kesal, "masuk dan lihatlah dulu, baru lihat apakah guanya terlalu kecil atau tidak?" lanjut Tian.
Gaju pun masuk ke dalam Gua dengan menundukkan kepalanya. Sesampainya didalam, kondisi yang gelap gulita membuat Gaju memicingkan matanya untuk beberapa saat. Setelah agak terbiasa dengan kondisi pencahayaan di dalam gua, Gaju baru dapat memperhatikan kondisi dalam gua dengan lebih leluasa.
Tidak seperti dugaannya, kondisi di dalam gua lumayan kering dan sama sekali tidak lembab. Memang terasa sedikit susah untuk bernafas karena tak ada ventilasi selain lubang untuk masuk tadi. Tapi secara umum, tempat ini bisa jadi spot yang bagus untuk mereka.
__ADS_1
"Gimana?" tanya Tian setelah Gaju keluar dari gua tadi.
"Lumayan, aku setuju kalau kita pakai gua itu sebagai persembunyian. Tapi aku juga mau membuat basecamp cadangan. Setidaknya, bisa untuk mengecoh perhatian," jawab Gaju.
"Terus mana terimakasihku?" kata Tian sambil membusungkan dadanya yang masih rata.
Gaju melihat ke arah dada Tian dan terlihat mengeluarkan pandangan aneh. Muka Tian langsung memerah ketika melihat Gaju melirik ke dadanya.
"Kamu ngeliatin apa??? Dasar mesum!!" kata Tian sambil meninggalkan Gaju di belakang air terjun itu.
Gaju hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
\=\=\=\=\=
"Dasar Keling!!!"
"Ini semua gara-gara kamu!"
"Kenapa kamu tadi menyuruhku ke arah kanan? Ha? Lihat yang sekarang terjadi!! Aku kehilangan jejak Gaju!!"
Seorang gadis kecil berambut ikal kecoklatan dan warna kulit yang putih merona kemerahan terlihat menghentakkan kakinya berkali-kali ke tanah.
Setiap kali dia melakukan itu, payudaranya yang sudah lumayan ukurannya akan selalu bergetar naik turun. Itulah yang sedari tadi diperhatikan oleh Si Keling, dia sama sekali tidak mendengarkan ocehan Adel.
Ketika Adel menyadari itu, dengan cepat dia mengambil batu di pinggiran sungai dan melemparnya ke si Keling.
Sebenarnya, Keling bisa dengan mudah menghindari serangan Adel tapi dia membiarkan batu itu mengenai kepalanya. Karena Keling adalah salah satu Fighter terkuat, lemparan Adel tak akan mempunyai efek bagi dirinya.
Adel juga tahu kalau Keling bisa menghindari lemparan batunya dengan mudah tapi si Keling dengan sengaja menerimanya. Karena Adel tahu kalau si Keling tidak akan menghindar, Adel tidak melemparnya sekuat tenaga.
Dua orang ini, sudah saling memahami soulmatenya sampai seperti itu.
__ADS_1
Tapi tidak seperti Aju yang memang benar-benar mengharap Adel untuk jadi pasangannya, Adel sama sekali tak punya perasaan untuk Aju.
Dia menganggap Aju tak lebih dari seorang partner atau rekan setim. Berjuang bersama untuk menghadapi musuh mereka.